Di Bawah Naungan Savana (1)

Penulis: Blasius Mengkaka     Diposkan pada 5 April 2014

Siang yang terik dengan Mentari yang memancarkan sinar penuh, saya baru saja menyelesaikan beberapa artikel dalam Media Online pribadiku. Saya melompat keluar dari kamarku, menjemput siang. Kepanasan dan  kehausan menyengat kerongkongan. Satu-satunya kerinduanku ialah ingin memuaskan dahagaku dengan air kepala muda nan segar. Segera kustarter motorku lalu aku berjalan menyelusuri jalanan beraspal. Tujuanku ialah daerah sekitar Motamaro-Belu tempat di mana saya sering menemukan orang menjual puluhan kelapa muda yang segar. Tak berapa menit kemudian, saya menyelusuri jalan lurus, jalan beraspal licin.

     Pada pinggir jalanan itu, saya menemukan tumpukan kelapa muda. Motorku berhenti pada salah satu tumpukan kelapa. Saya membunyikan klakson beberapa kali. Dan tak lama kemudian, pemilik jualan kelapa-kelapa muda itu keluar menemuiku. Sayapun mengutarakan maksudku untuk membeli 2 buah kelapa muda segar.

     Dua buah kelapa muda terbaik berhasil aku pilih dari tumpukan puluhan kelapa muda di jalanan Motamaro. Sayapun bertanya jumlah uang yang harus saya bayarkan untuk harga 2 buah kelapa muda segar sebelum mengikatkannya di bagasi sepeda motorku. “Sepuluh ribu rupiah”, kata si penjual. Sang penjual ialah seorang perempuan muda yang tampak seperti seorang gadis remaja usia duapuluh tahunan. Sayapun menyodorkan uang limapuluh ribu perak. Dia tersenyum dan masuk ke dalam rumahnya yang terbuat dari alang-alang, yang tampak sudah mulai reot termakan usia. Rumah alang-alang yang terbuat dari rerumputan sabana memang begitu. Kalau sudah berumur, tampaknya seperti rerumputan kering yang cepat berguguran di tiup angin.

     Rumah beratap ilalang merupakan rumah penduduk di desa-desa pada wilayah Timor Barat, desa leluhurku. Ketika aku kecil, aku juga tingga dalam rumah ilalang, di rumahku dan rumah nenek serta kerabatku yang lain. Rumah beratap seng hanya beberapa di desa-desaku ketika itu. Rumah tembok beratap seng hanya terdapat pada sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, kantor pemerintah, rumah PNS dan rumah-rumah petani yang cukup berada. Untuk urusan bangunan seperti itu merupakan keahlian khusus keluargaku sebab aku terlahir dalam keluarga di mana aku memiliki seorang Ayah yang merupakan seorang tukang Ambachschool yang tahu seluk beluk bangunan. Ia tahu mengerjakan konstruksi bangunan. Ia merupakan tukang trampil pada masa itu dengan gaji yang tergolong bagus pada masanya.

     Wanita itu menatapku dengan pandangan yang memancarkan kegalauan hati. Saya membuntutinya dari belakang menuju rumah alang-alangnya. Ini memang sesautu yang mengherankanku. Tak disangka peringaiku begitu berubah terhadap wanita ini. Saya menangkap sebuah kesan kekecewaaan dari panorama mukanya. Sayapun duduk di depan rumahnya, pada tepi sebuah bangku panjang berwarna papan asli yang mulai menghitam, menunggu si wanita menyembalikan uang kembalian belanja 2 buah kepala muda. Namun si wanita tidak juga beranjak ke dalam rumah. Ini membuat saya segan sebab seumur-umur saya belum pernah sendirian bersama seorang gadis. Tabu, menurut tata cara adat kebiasaan desa.

     “Maaf, siapa namamu?” tanyaku

     “Shanty Banusu” jawab si wanita

     Nama yang indah. Nama ini merupakan nama dari karakter Timor barat yang hebat. Aku membathin. Ia kembali masuk ke dalam rumah alang-alangnya, berdinding batang pelepah dan berlantai tanah. Di dalam rumah itu, hanya ada 3 buah kursi kayu malas dan sebuah meja kecil, tempat penghuni rumah itu meletakkan sirih pinang untuk melayani tetamu. Ah, betapa hospitalismenya penghuni rumah ini. Dalam kesederhanaan mereka masih memikirkan bagaimana menerima tetamu. Kesederhanaan ternyata telah membuat karakter sosial orang Timor Barat tetap tinggi, setinggi awan gemawan yang tengah berarak di luar. Aku kecut sendiri. Sepuluh tahun aku menjadi pengajar dan pendidik profesional di kota, jauh dari desa, dengan aksi induvidualitas yang tinggi oleh orang kota.

    Aku tidak menemukan ruangan tamu yang sederhana di mana ada koba dan sirih pinang di dalamnya, untuk siap disuguhkan bagi para tetamu. Dalam rumah beratap ialalng ini justeru aku menemukan keakraban dan kesederhanaan desa yang luar biasa. Suasana khas desa leluhurku pada masa ketika aku kecil, ketika belum ada banyak rumah beratap genting atau seng dan berdinding tembok, berlantai keramik seperti sekarang ini.

     “Aku adalah seorang mahasiswi Undana Kupang. Aku tamat STM Nenuk, Belu tahun 2012. Setelah itu aku melanjutkan kuliah pada Universitas Nusa Cendana Kupang. Dua tahun aku kuliah di sana……” Wanita itu terdiam dan tersenyum sendiri. Sehingga potongan isi pembicaraannya sama sekali aku tak paham. Mengapa ia jadi terdiam? Tanyaku dalam hati.

     “Seharusnya bulan-bulan begini, anda harus berada di tempat kuliah di Kupang. Mengapa anda berada di tempat ini?” kataku sekenanya. Aku heran bahwa bulan Januari begini, masih ada mahasiswi yang ada rumahnya, tidak kuliah. “Mengapa anda tidak berada di tempat kuliah?” tanyaku.

     “Tahun 2013 aku berhenti kuliah ketika kuliahku menginjak tahun kedua. Aku pulang kembali ke rumah ini. Semua barang-barangku aku tinggalkan. Pakaian dan buku-buku. Aku hanya menbawa Laptop dan mesin print”. kata Shanty.

     Setengah jam berbicara berdua dengan Santy berlalu. Waktu berjalan begitu cepat dan datar. Tiba-tiba ayah dan bunda Sherly tiba di rumahnya. Mereka mengendong seorang ocah kecil. Mungkin adik dari Shanty, pikirku. Kedua orang tua Shanty mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah alang-alang mereka. Mula-mula aku menolak, namun akhirnya aku setuju juga. Aku masuk ke dalam rumah tua itu dan duduk di sebuah kursi malas yang berwarna tua. Kesegaran rumah kuno dengan atap alang-alang membuat rasa lelahku sirna juga membuat rasa kegerahan dan kepanasan akibat tidak tidur sepanjang malam menjadi sirna, ah rumah yang sejuk. Rumah yang betul-betul orang merasakan dialog bathin penuh keramahtamahan dan kesejukan hati. Andaikan tidak ada rumah beratap seng pasti rumah ini tetap eksis. Meskipun segar, namun tentunya rumah ini harus dibongkar cepat atau lambat.

     Siang yang terik ketika saya menstrater motorku untuk pulang. Saya melihat shanty menatap dan melambaikan tangan dengan tersenyum galau. Aku tersenyum sembari mengingatkan bahwa kalau aku butuh pasti aku akan datang kembali untuk membeli kelapa-kelapa muda milik keluarganya lagi.

     Sepeda Motorku terus kupacu, menyelusuri jalanan beraspal licin menuju rumah keluargaku yang berjarak sekitar 9 km dari lokasi Motamaro, tempat di mana orang menemukan berpuluh-puluh kelapa segar ditumpuk di sisi jalanan negara tentu saja untuk dijual bagi orang yang ingin memuaskan dahaganya di tengah kepanasan, di tengah angin panas dan di tengah mentari panas yang sedang menyinari kalbu….

                                                                                  (Bersambung)

37 thoughts on “Di Bawah Naungan Savana (1)”

  1. Paul Colinwood should just suck it up and move on. I have a feeling if the shoe was on the other foot, we would not have heard any whining for the England camp.and Erdem design Pudsey bears for Children in Need Pudsey is one of the most beloved bears in the UK after Winnie the Poo, but many will struggle to recognise him in his trendy new guises. The yellow teddy with an eye patch who is the mascot of the Children in Need telethon has been given a makeover by some of the biggest names in fashion. Erdem, Mulberry, Louis Vuitton and Giles Deacon, are just a few of the coveted designers who created a new identity for Pudsey, and the designs range from leather, through florals and checks to ontrend metallic material. Fashion conscious: Pudsey bears designed by, from left Jonathan Saunders, PPQ, Mulberry, Giles Deacon, Kate Hillier, Liberty, Henry Holland, Patrick Grant and Erdem Paws for thought: Mulberry (left), Liberty (centre) and Jonathan Saunders’ designs are all being auctioned on eBay. They have a reserve price of 200 but are expected to fetch much more Katie Hillier said: ‘
    Cheap Louis Vuitton Bags http://skeistinc.com/about.htm

  2. i just LUV my own 8264.pink2.net!!! when i bring in them all the time!!! i purchased typically the timeless sand colouring in addition to that memorable short we have coffee plus the particular cardy relating to black colored i get some within the unclear flipflops!! commitment about the subject occurs when i put on orange hairy sweatpants in addition to but let them grasp during my personal 8264.pink2.net and many blotches spun glowing blue!! but the a valuable thing takes place when i really rinsed these people the cleanser these arrived with the regular coloration!! i LUV my 8264.pink2.net!! <333

  3. My spouse and i absolutely love my very own 26484.pink2.net! We’ve 8-10 pairs which are the sole thing we generate the wintertime.. nothing else, both my personal house shoes or the 26484.pink2.net! These are the the majority of very good 26484.pink2.net ever<Several

Leave a Reply