jual-karangan-krans-bunga-dukacita-standing-jakarta-utara-rumah-duka-2

Air Mata Duka untuk Guru Kanis Nule, S.Pd

     Sangat mengharukan juga bahwa selama bertahun-tahun, sistem pendidikan nonformal dan formal kita telah mengikuti sistem pendidikan model Eropa yang menekankan pendidikan dengan wawasan dan keterlibatan sosial yang besar. Sistem pendidikan dengan warna sosial ini juga merambah sistem pasar di mana model ekonomi pasar-pasar juga memberi warna pada sistem sosial yang lebih besar.

Photo0088

Para guru SMA Kristen Atambua melayat jenasah alm. Kanisius Nule, BA, S.Pd di rumah duka di desa Napan, kecamatan Bikomi, TTU (Foto:Dokpri)

     Saya melihat pada rumah-rumah di mana ada kedukaan, tanpa diundang begitu banyak tetangga telah berkumpul untuk memberikan bantuan ala kadarnya dengan membersihkan rumah, menyiapkan tenda kedukaan dengan kursi-kursi, membantu urusan dapur, dll. Semua tenaga dan urusan dalam peristiwa kedukaan dengan situasi keterlibatan sosial membuat semua urusan begitu lancar. Pengeluaran biaya diperkecil sedemikian sehingga tidak sampai merugikan keluarga yang berdukacita. Bahkan perkumpulan kedukaan para tetangga siap dengan sumbangan telah ikut meringankan penderitaan keluarga yang berduka. Kenyataan ini harus terus dipertahankan bahkan terus ditingkatkan untuk masa depan.

     Sekarang ini sistem pendidikan dengan warna sosial mulai hilang dan meredup. Hal ini terutama diakibatkan sistem penyewaan barang-barang dan perlengkapan tenda dan tenaga untuk pengadaan peti mati dan penguburan. Para pengusaha tertentu di Belu, Malaka, TTU, TTS dan Kupang menyiapkan semua pelengkapan itu bagi keluarga berduka dengan sistem bayar setelah penguburan selesai.

     Para pengusaha itu sadar bahwa biaya pembayaran itu didapatkan dari uang sumbangan para pelayat. Selesai penguburan semua biaya dibayarkan kembali sebagai akibat penyediaan berbagai sarana selama kedukaan berlangsung. Salah satu sisi bahwa segalanya begitu efektif namun telah mengurangi rasa keterlibatan sosial masyarakat.

     Agaknya keterlibatan sosial yang semula begitu tinggi perlahan-lahan mulai memudar akibat sistem sewa berbagai perlengkapan kedukaan. Setelah selesai pemakamanan, keluarga berduka harus membayar dan menanggung begitu besar biaya akibat pemakaian berbagai sarana seperti pinjam kursi dan tenda, peti mati, dll. Padahal dahulu, untuk tenda dan biaya pengadaan kursi cukup meminjam dari para tetangga sekitar. Semakin hari, biaya-biaya selama hari-hari kedukaan semakin meninggi. Selain keluarga menanggung biaya sewa fasilitas seperti tenda dan kursi, alat-alat makan, keluarga juga harus menanggung segala ongkos perjamuan selama hari-hari kedukaan. Tentu ini membutuhkan banyak biaya juga, utamanya belanja lauk pauk dan daging. Makanan perlu disiapkan selama 3 kali sehari.

     Seruan gereja untuk mengurangi anggaran selama acara mete agaknya mulai terbentur pada sistem ekonomi baru yakni sewa-sewaan dan ‘utang lebih dahulu’ nanti baru dibayarkan setelah selesai penguburan. Untuk membantu biaya kedukaan biasanya para pelayat wajib memberikan sumbangan saat melayat ke rumah duka. Hal ini telah dilakukan selama bertahun-tahun. Untuk hal ini pemerintah harus melindungi sistem keterlibatan sosial dan persaudaraan warga agar warga terus mempraktekkan kegiatan sosial ini tanpa merasa tertekan.

    Sejak dahulu, semua sekolah-sekolah dari SD hingga SMA/SMK terus mempraktekkan kebiasaan melayat dan kebiasaan memberikan sumbangan ala kadarnya kepada keluarga teman-temannya yang terkena kedukaan. Dengan solidaritas ini mereka diajarkan untuk terlibat dalam akitivitas sosial bagi masyarakatnya dengan penuh kesadaran diri. Hal ini saya melihat saat mangkatnya salah seorang staff pengajar SMP-SMA Kristen Atambua. Puluhan atau bahkan ratusan para pelayat telah berjuang dengan kesadaran diri untuk pergi melayat jenazah ke desa Napan, kecamatan Bikomi di rumah di mana jenazah sang guru disemayamkan. Padahal jarak perjalanan dari Atambua menuju ke desa Napan amat jauh dengan menempuh perjalanan puluhan kilometer jaraknya dari kota Atambua. Namun para pelayat telah berjuang untuk mencapai rumah layatan dengan tanpa pamrih sampai dengan proses pemakaman selesai bahkan akan dilanjutkan acara berjaga-jaga di rumah pribadi almarhum di Atambua.

     Dalam beranda Facebookku saya sesaat setelah melayat, saya menulis, “Alm. Kanisius Nule menamatkan pendidikan SMA Seminari Lalian, Novisiat SVD Ledalero, lalu mengikrarkan kaul sementara dalam SVD, namun mengundurkan diri. Beliau berhasil menamatkan pendidikan BA Filsafat/Teologi STFK Ledalero lalu lama mengabdi sebaga guru PNS pada SMP-SMA Colegio Maliana-Timor-Timur hingga tahun 1999. Mulai tahun 1999 sampai akhir hayatnya beliau berprofesi sebagai guru bahasa Inggris di SMA Kristen Atambua dan SMP Kristen Atambua. Alm, sempat menyelesaikan S1 pada FKIP Universitas Timor sekitar tahun 2012. Selamat jalan sahabat, rekan kerja dan pendidik bangsa, semoga bahagia di sisiNya”. Pendidikan harus memupuk rasa keterlibatan sosial yang tinggi terhadap peserta didik dan para pendidiknya. Keterlibatan sosial yang tinggi merupakan buah-buah pendidikan itu sendiri yang paling menampak, dilihat dan dirasakan.

     Pendidikan harus memacu rasa kepedulian dan keterlibatan sosial yang tinggi terhadap peserta didik dan para pendidik dalam semua aspek. Itulah salah satu tujuan utama digiatkan pendidikan di Indonesia. Keterlibatan sosial harus dintegrasikan dalam semua segi kehidupan manusia sampai sedalam-dalamnya kepada seluruh sanubari manusia demi menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan sosial. Marilah kita terus meningkatkan kunjungan dan keterlibatan sosial terhadap kedukaan di sekitar kita. Semoga Tuhan memberkati kita selalu, Amin.

 Artikel lainnya baca: Pesona Pantura Timor-NTT di Balik Rasa Duka