16195057_1766394833679852_5180203748658394913_n

Merekonstruksi ulang Peradaban Pendidikan Indonesia

     Ia baru tiba dari perjalanan jauh melewati puluhan ribu kilo meter jaraknya dari kampung halamannya. Pada pintu masuk rumah orang tuanya, Kesa disambut recikan air adat oleh salah seorang sepupunya lalu menyusul ciuman mama-nya. Ayahnya pun melakukan hal yang sama: mencium keningnya. Kesa disambut bagai tamu agung. Setelah sama-sama duduk di kursi dalam rumah pun, Kesa tidak perlu menceriterakan seluruh keadaannya selama bertahun-tahun kuliah sebab ibunya sudah tahu keadaan dan perjuangannya meraih pendidikan di luar pulau lewat pancaran hubungan bathin.

     Sebagai orang desa, keluarga Kesa selalu memberikan peringatan kepadanya agar dia hati-hati bila melakukan banyak aktivitas di desa dan di tempat rantauan. Utamanya dalam hal berbicara, makan-minum, berbuat dan berpikir. Uniknya, orang tuanya mengajarkan dia melalui perantaraan mithos-mithos dan kebiasaan adat suku bangsanya. Mithos dan adat bukan saja membatasi gerak pikiran dan perbuatan keluarganya bertahun-tahun, tetapi mithos dan adat telah mengatur semua kehidupannya, termasuk agamanya.

     Selama Kesa berceritera tentang berbagai aktivitas kemahasiswaanya, tiba-tiba cicak berbunyi, sontak pamannya menegur agar Agus Kesa berhenti sejenak dari berbicara sebab ada unsur kekuatan gaib sedang memperingati keluarga terhadap sebuah musibah di masa depan. Setelah makan malam mereka beristirahat namun tak lama kemudian anjing menggonggong nyaring sendirian di kekelaman malam. Anjing itu meraung-raung selama sekitar 30 menit. Mendengar itu, ayahnya membangunkan seluruh keluarga lalu menceriterakan kemungkinan kejadian yang akan terjadi di masa depan dalam keluarganya. Bagi sang ayah, asu sou artinya pertanda akan ada terjadi sebuah kejadian amat menyedihkan dalam keluarga. Benar saja, 2 hari berikutnya, seorang sepupunya meninggal dunia terjatuh dari pohon enau saat dia sedang menurunkan bambu berisi minuman arak.

     Itu adalah gambaran realitas budaya dalam mayoritas desa-desa di mana mithos dan adat memainkan peranan sentral setelah agama. Umumnya semua orang desa percaya mithos selain beriman kepada Allah. Ceritera mithos melahirkan berbagai ritual adat yang lebih memusatkan perhatian pada hal-hal adi kodrati yakni hal-hal di luar kodrat. Ceritera mithos sering diambil dari berbagai kejadian hewan-hewan dan tumbuhan di alam yang dianggap aneh dan melenceng dari hal-hal normal. Kejadian-kejadian alam, hewan dan tumbuhan merupakan tanda dan titik tolak kepercayaan manusia terhadap Tuhan.

     Mithos dan legenda banyak ditemukan dan menjadi santapan sehari-hari terlebih dalam ritual tata cara pertanian. Tikus, anjing, ayam, ular, dll ialah hewan-hewan totem yang melahirkan mithos asal muasal kehidupan manusia suku. Mithos dan adat menguatkan jati diri manusia melalui ceritera-ceritera ajaib kesaktian tokoh-tokoh dengan berbagai perlengkapan adatnya. “Ritus adat istiadat amat berwarna adikodrati yang mempengaruhi watak manusia  dari wilayah sekitar kebudayaannya (nilai-nilai, adat istiadat dan benda-benda kebudayaan sekitarnya) dan juga alam rohani sub-sadar individu tersebut)”, tulis antropolog Clyde Kluckhohn dalam bukunya Culture and Personality, A Conceptual Scheme (1941) ,.

     Berkali-kali kita mengikuti ritual adat, kita seperti sedang terbawa untuk percaya dan berjuang untuk berjumpa dengan Sang Pencipta. Bedanya dalam agama yang membuka secara sempurna adanya Tuhan, dalam mithos dan ritual adat, manusia menekankan kebersatuan dengan alam, perlu pentafsiran yang dimiliki secara ekslusif oleh kaum tua yang ber orientasi pada warisan leluhur dan sebagai anggota dari samasaudara sebagai asal mula keberakaran peradaban agama-agama.

                                                                    ***

    Dalam banyak masyarakat adat, mithos diceriterakan ulang dalam bentuk lukisan-lukisan gambar kain tenunan. Peradaban menenun telah cukup mengkolaborasikan pesan-pesan bermakna melalui upaya menggambar mithos, mewujudkan imaginasi, lalu untuk bisnis adat. Dalam rumah adat, pakaian adat dan makanan adat memiliki makna ungkapan akar peradaban kekeluargaan yang kental. Artinya siapa yang memakai pakaian adat, tinggal di rumah adat dan memakan makanan adat, ia merupakan pemilik dan penggerak keluarga besar. Pakaian adat, rumah adat dan makanan adat merupakan ungkapan terdalam terhadap kehidupan, keramahan, penghormatan terhadap martabat suku bangsa.

     Dalam hubungan dengan bisnis, hasil tenunan, rumah dan bangunan adat serta makanan adat telah menjadi komuditas perdagangan adat selama berabad-abad dalam lingkungan desa dan kampung, bahkan telah menglobal. Tenunan dan bangunan rumah adat merupakan wujud-wujud bagaimana manusia mengkolaborasi semua dimensi kehidupan yakni olah cipta, karya origional, adat, mithos dan bisnis. Dalam lingkungan domestik, kain adat ialah wujud dari bisnis adat paling utama.

    Tenunan dan rumah adat ialah akar berbagai perwujudan karya cipta yang penting dalam suatu suku. Namun masyarakat harus terbuka pada perwujudan yang lebih terbuka dan gampang dimengerti yakni kata dan gambar yang ditoreh pada kain dan kertas. Agaknya selama berabad-abad, tradisi tulisan dalam kertas dan kain, yang mengguratkan kata dan gambar dengan memberikan pesan-pesan yang cepat dan modern belum terlalu berakar di sini. Meskipun orang-orang kita secara tradisi sudah memiliki akar-akar perwujudan yang tua dalam bentuk olah cipta dalam suatu tenunan dan berbagai bangunan rumah dan berbagai wujud adat.

     Realitas pendidikan kita agaknya masih berada jauh dari berbagai perwujudannya yang dinamis dan modern karena orientasi kita masih sebatas pada bekerja dan bukan untuk mengerti, untuk berkomunikasi, untuk memahami dan untuk berkuasa. Rasionalisasi melemah. Padahal dengan rasionalisasi, tulisan dalam kertas dan kain yang mengguratkan kata, kalimat dan gambar lebih memberikan pesan-pesan yang memiliki nilai bisnis jauh lebih besar dan cepat dari tenunan kain. Namun kita memiliki dasar budaya yang paling penting melalui budaya menenun, yang telah memberikan kesempatan orang untuk mengoreskan pesan-pesan tertentu, mungkin dari mithos-mithos atau peradaban yang sedang terjadi di sekitarnya atau berupa garis-garis berwarna yang memberikan pesan keragaman budaya dan bahasa yang mengitarinya.

     Padahal seharusnya melalui pendidikan manusia telah sadar bahwa dunia modern membutuhkan pesan-pesan secara langsung, terbuka, tidak bertele-tele dan mengandung pengetahuan melalui akitivas membaca kata, kalimat serta kemampuan menganalisis kalimat-kalimat dan gambar-gambar yang kaya imaginasi dan pesan-pesan peradaban yang maju dan beradab.

     Di sini, minat manusia terhadap peradaban menulis dan menggambar agaknya masih cukup jauh. Produksi buku dan minat manusia mengkonsumsi ilmu-ilmu up to date baik lokal, level kabupaten, propinsi, nasional, regional dan dunia masih berada di jalan wadas, belum berada di jalan tol. Berbagai pengungkapan budaya kita masih begitu tertinggal pemaknaannya sehingga nilai bisnisnya juga lebih murah. Hal ini menyebabkan negara-negara Timur masih miskin, dibandingkan dengan pengungkapan manusia barat dalam kata dan gambar, yang memiliki nilai bisnis amat mahal.

     Filsuf Wittgenstein dalam Tractatus Logico-Philosophicus mengatakan bahwa kata dan gambar ialah sumber inspirasi manusia modern dalam hal analisis antara pernyataan yang bermakna dengan pernyataan yang tidak bermakna. Dia menjelaskan ini melalui teori pemaknaan yang dikenal sebagai teori gambar. Dalam karyanya Philosphical Investigations, dia mengoreksi pandangan awalnya dalam Tractatus dan lebih menekankan pendekatan holistik-praktis dalam pendekatan terhadap persoalan bahasa. Jadi bagi Wittgenstein, kata dan gambar dalam kertas dan kain memiliki makna yang tinggi dan dapat dimengerti secara cepat, langsung dan berlaku umum. Karena itu kata dan gambar memiliki nilai bisnis lebih tinggi karena mampu menggerakkan dan menghidupkan. Kita dapat melihat contohnya dalam logo-logo pada berbagai perusahaan konsumsi, energi dan lembaga-lembaga baik swasta dan negara paling populer zaman kini. Logo-logo itu menjadi sangat hidup dan mampu menjiwai, membuat orang histeris dan tertarik selama berabad-abad.

     Jelas bahwa pemaknaan berbagai ungkapan budaya kita telah kehilangan maknanya akibat kesulitan mengungkapkan dalam kata dan gambar. Jadi orang-orang timur bekerja, sedangkan kaum intelektual mengerti dan menganalisis lalu memberikan makna tinggi bagi suatu pekerjaan. Analisis dan pengertian berhubungan dengan komunikasi, penaklukan dan kekuasaan demi mencapai sesuatu. Jurgen Habermas mengatakan bahwa pekerjaan merupakan tindakan instrumental yakni tindakan yang bertujuan untuk mencapai sesuatu. Sedangkan komunikasi adalah tindakan saling pengertian. Dalam tradisi Mazhab Frankfurt, teori dan praksis tidak dapat dipisahkan. Praksis dilandasi kesadaran rasional, rasio tidak hanya tampak dalam kegiatan-kegiatan yang bekerja melulu, melainkan interaksi dengan orang lain menggunakan bahasa sehari-hari dalam berbagai bentuk komunikasi.

     Tonggak sejarah pentingnya kata dan gambar telah ditulis oleh Comeneus (1630) bapak pendidikan modern dalam bukunya The Visible World. Buku itu ialah sebuah buku panduan membaca untuk anak-anak yang dilengkapi gambar. Seperti dikutip dari Wikipedia, Ellwood Cubberley, seorang pakar pendidikan pada abad ke-20, mengatakan bahwa buku itu “tidak ada tandingannya di Eropa selama seratus lima belas tahun; dan digunakan sebagai buku pelajaran selama hampir dua ratus tahun”. Malahan, banyak buku pelajaran bergambar sekarang ini masih mengikuti format umum dari karya Comenius, menggunakan gambar sebagai alat bantu pengajaran.

     Comeneus berpendapat bahwa kesadaran terhadap pentingnya goresan kata dan  gambar harus dipupuk dalam diri peserta didik Eropa. Hasilnya lebih dari 300 kemudian,  bangsa-bangsa Eropa dan AS telah menjelma menjadi bangsa-bangsa paling maju di dunia karena kata dan gambar. Bagaimana kita mengaplikasikan kondisi ini dengan keadaan riil Indonesia? Marilah membenahi pendidikan kita mulai dari sekarang..