SAM_3366

Semalam Kepepet di Terminal Kota

       Terminal harus terasa nyaman agar perjalanan nyaman. Sebaiknya terminal didesain untuk memberikan peluang kepada para penumpang yang kepepet bisa berbaring sejenak. Sekarang ini layanan terminal-terminal masih terasa amburadul dan belum terlalu nyaman. Paling tidak itulah kesan saya, setelah saya merasakan sendiri merasa kepepet di malam dini hari pada suatu perjalanan saya ke Kupang.

     Pada bulan Mei 2016, Dinas PPO kab. Belu menugaskan saya bersama beberapa orang guru SMA di Atambua untuk mengikuti kegiatan Bimtek Kurikulum SMA tingkat propinsi NTT tahun 2016 selama 4 hari di hotel cendana Kupang. Saya diminta untuk check in di hotel cendana dari jam 08.00 Wita hingga 14.00 Wita keesokan harinya. Setelah mendapatkan SK penugasan dari dinas pendidikan kabupaten Belu, saya pergi ke bendahara sekolah untuk mengambil uang transport sekaligus akomodasi untuk 1 orang.

     Malam itu, segera saya berangkat ke Kupang, namun tidak menggunakan tiket bus malam. Seperti biasa, saya tunggu bus malam di cabang Salore-Halilulik lalu menumpang salah satu bus malam yang lewat itu untuk kemudian saya berangkat. Malam itu para penumpang tidak tampak penuh dalam bus. Saya meminta ijin kepada sopir untuk bisa duduk di depan, dekat sopir. Ternyata sopir memperbolehkan saya duduk di depan seorang diri bersama sopir bus.

    Malam itu perjalanan dengan amat lancar berlangsung. Seperti biasa, kami turun di sebuah rumah makan langganan bus Kupang-Atambua di Niki-Niki untuk santap malam, lalu terus berangkat ke kota Kupang. Di rumah makan itu, saya merenungi perjalanan saya selama tahun-tahun saya kuliah di Flores pada tahun 1996-2002 di mana saya selalu melewati terminal pemberhentian Niki-Niki untuk santap malam. Juga kalau saya pulang ke Belu, saya selalu singgah di terminal ini untuk makan.

     Dalam kedinginan malam itu, saya memilih menu nasi campur dengan rendang dengan sambal cabe pedas di tambah teh hangat. Menu itu tampaknya seperti obat dalam kedinginan malam itu. Saya makan dengan “lahap” karena merasa perut keroncong. Saat keluar dari rumah tadi, saya belum sempat makan karena terburu-buru. Setelah itu saya membeli pulsa paket data lalu sesudah itu saya memperhatikan orang-orang di sekitar rumah makan.

     Tak lama kemudian, perjalanan kami lanjutkan malam itu. Tak beberapa lama meninggalkan terminal Niki-Niki turun kabut tebal memenuhi kota jalanan. Sorot lampu bus hanya mampu menembusi sekitar 3 meter ke depan. Bus malam itu merayap perlahan-lahan sebelum akhirnya kami tiba juga ke Kupang sekitar jam 24. 45 Wita. Sopir bertanya kepada kami, untuk menyebutkan nama-nama tempat yang kami tuju, “Pak turun di mana?”, tanya pak sopir kepadaku. Saya masih berpikir. Karena saya belum memberikan jawaban, sopir bertanya namun kali ini dengan suara cukup keras sampai saya tersadar, “Turun di mana pak?”

     Saat itu saya sedang dilema: memilih untuk turun di Hotel namun belum bisa check in karena aturan check in jam 08.00 Wita sesuai SK penugasan yang saya pegang. Maka saya jawab pada sopir Gemilang itu, “Turunkan saya di terminal bus kota Kupang”, kataku dalam gelap. Tapi sopir menjawab, “Pak turun di sini saja, lalu pak jalan kaki menuju belokan itu. Di ujung jalan itu adalah lokasi gedung terminal bus kota. Saya ingin lanjutkan perjalanan”, kata sopir bus Atambua-Kupang itu.

     Sayapun turun dari bus itu dengan hati-hati lalu sambil saya memikul tas berat karena di dalamnya ada Notebook. Saya berjalan dalam kegelapan malam menuju gedung terminal bus kota. Cabang-lorong itu memang tidak diterangi lampu sehingga tampak terlihat gelap. Kulihat di ujung sana ada cahaya lampu, ”Itu mungkin gedung terminal bus kota”, kataku. Suasana dingin malam terasa menusuk kulit. Kulirik waktu di HP saya. Ternyata waktu di HP saya menunjukkan jam 01.00 Wita dini hari. Tidak tampak orang berkeliaran di sekitar terminal. Semua orang telah tertidur lelap, termasuk para penjaga kios di terminal bus kota. Mereka telah menutup kios kecilnya lalu terlelap dalam tidur.

     Saat saya masuk dalam gedung terminal bus, tak kulihat seorang manusiapun dalam terminal bus, kosong. Saya melepaskan tasku di bangku terminal bus yang berlantai keramik putih yang dingin lalu berusaha untuk berbaring. Saya berharap tidur beberapa jam menjelang pagi sebelum check in di hotel jam 08.00 Wita pagi. Dasar penulis, sedang berbaring, muncul inspirasi menulis. Saya membuka Notebook saya lalu menulis satu artikel di Kompasiana tentang lingkungan hidup. Setelah itu saya berbaring lagi tapi mata tidak bisa terpejam.

     Tiba-tiba, datang beberapa orang lelaki kekar masuk terminal bus itu. Mereka membawa tas berisi peralatan menukang. Meskipun sorot mata mereka tajam, namun mereka mengucapkan selamat malam kepada saya. Saya bertanya asal mereka dan mereka bilang bahwa mereka baru turun dari pulau Kisar dengan feri. Sesudah itu, saya mendengar mereka berbicara bahasa daerah mereka. Tampaknya mereka adalah para pekerja yang mau kerja pada sebuah bangunan di kota Kupang ini. Sekitar 2 jam kemudian, seseorang datang dan menjemput mereka lalu menghilang dalam kegelapan malam. Malam itu datang lagi sekelompok lelaki. Mereka juga adalah para tukang bangunan. Tapi mereka berasal dari salah satu tempat di Soe-TTS. Ini saya tahu dari bahasa dawan yang terdengar dari mulut mereka.

     Setelah mereka semua pergi, tinggallah saya sendiri dalam terminal. Sambil saya berbaring, saya mengunyah permen yang saya beli di Niki-Niki. Notebookku saya masukkan ke dalam tas dan saya meletakkannya saja di samping bangku beralas keramik putih yang dingin. Malam itu saya tidak dapat tidur dengan nyenyak. Sekitar 3-4 jam kemudian, penjaga terminal bangun dari tidur. Ternyata penjaga itu seorang pria yang sudah berumur dari Jawa. Dia tinggal sambil menjaga wc dan kamar mandi terminal bersama 1 orang isteri dan 2 anaknya mereka membuka warung makanan.

     Masih terlalu pagi, ketika selera makan saya muncul setelah saya mencium aroma pisang goreng dalam kuali. Langsung saya memesan segelas susu dan 4 buah pisang goreng berukuran cukup besar lalu menikmati hangat dan manisnya kopi susu dan makan pisang goreng di dalam terminal bus.

     Hangatnya kopi susu dan gurihnya pisang goreng mengusir rasa kantuk yang masih tampak dalam wajahku pagi itu di terminal Kupang. Setelah minum, saya masuk ke dalam kamar mandi terminal itu untuk mandi pagi, sikat gigi dan wc. Saya cukup puas menikmati mandi dalam kebersihan kamar mandi dan wc yang lumayan. Dengan membayar sekitar Rp 2500 saja, saya sudah bisa mandi bersih dan berganti pakaian untuk menyiapkan diri menghadapi pertemuan penting dengan kepala PPO propinsi NTT sesaat kemudian. Selanjutnya saya menyaksikan wc dan kamar mandi umum terminal itu setiap jam selalu digunakan oleh para penumpang atau para sopir yang sedang singgah sebelum melanjutkan perjalanan di berbagai kota di Timor.

     Apapun yang terjadi, dalam keadaan terdesak, orang perlu berbaring seperti gelandangan dalam terminal merupakan satu hal tak terhindari. Pengalaman ini membuka wajah terminal bus di perkotaan: apakah cukup nyaman menyediakan berbagai fasilitas hidup untuk orang-orang yang sedang kepepet seperti saya? Fasilitas seperti warung makan, wc dan kamar mandi dan kios pulsa serta jaminan keamanan di terminal merupakan kebutuhan yang mendesak di setiap terminal kota tampaknya tidak dipandang sebelah mata.  Meskipun gedung terminal itu tampak seperti tak terawat secara baik oleh Pemkot, saya menyampaikan aplaus atas fasilitas di terminal bus itu.

     Para pegawai LLAJR yang bekerja dalam ruang terminal itu juga tampak ramah-ramah dan bisa diajak untuk berbicara. Situasi ini berbeda dengan situasi di suatu terminal pesawat di dalam suatu kota kabupaten, di mana wajah para pramugari di koridor terminal tampak cantik dengan gerak-gerik gemulai namun kalau diajak untuk bicara, malah mereka marah-marah dengan muka masam. 

     Mudah-mudahan kenyamanan terminal akan terus meningkat di masa depan. Saya pikir, sudah saatnya Pemkot dan Pemkab perlu paling pertama memperhatikan kenyamanan di semua lini kehidupan yang memiliki akumulasi banyaknya kumpulan jumlah manusia. Selain terminal, utamanya ialah perhatian terhadap kenyamanan kerja di sekolah-sekolah. Sekolah merupakan tempat berkumpulnya banyak manusia, berjumlah ribuan malahan. Pemkot, Pemkab dan pengelola sekolah harus mengutamakan kenyamanan lokasi dan situasi kerja baik bagi para pelajar, para guru dan para pegawainya. Kenyamanan yang tinggi, kota-kota kita dan sekolah-sekolah akan semakin disukai dan tentu akan mempertinggi investasi demi meningkatnya roda pembangunan..