wpid-christ_1

Memiliki Cinta dari Sang Maha Cinta

      Hari ini adalah hari sabtu suci, hari terakhir dalam pekan suci menuju minggu paskah esok hari. Kuingat, kemarin, aku memasuki halaman gereja katolik Halilulik lalu mengambil air berkat dan terus ke dalam gereja, berlutut dan berdoa. Jumat sore yang disebut jumat agung itu memiliki warna liturgi penderitaan dan wafat Yesus. Aku tak bisa menduga apa pemikiran yang ada dalam alam kepala umat di sekitarku, apa refleksi mereka dan pandangan iman mereka tentang jumat agung? Hanya bentangan kain di tembok belakang Tabernakel yang berisi tulisan mengusir rasa ingin tahuku dari alam pikiran manusia seiman di sekitarku: Agar hidup lebih hidup.

     Sempat kupikir tema yang tertulis dalam spanduk menjadi tema perayaan ekaristi. Namun dalam kotbah, aku hanya menemukan beberapa kalimat dalam cuplikan korbah sang imam tentang tema ini. Kemarin dahulu, tema misa tentang cinta kasih, hari ini sudah berubah drastis: meskipun tema tertulis: agar hidup lebih hidup namun semua bacaan dan liturgi berbicara tentang wafat dan penderitaan Yesus. Pesan ini jelas, bahwa cinta kasih harus membutuhkan pengorbanan. Cinta membutuhkan bukti-bukti karena cinta menyata.

     Dalam pertikaian besar ini, kita yakin bahwa Yesus pasti menjadi pemenang yang jaya sebab di tengah-tengah tudingan dan intervensi secara massal kepada diriNya, Dia hanya diam saja penuh penyerahan diri kepada kehendak Allah BapaNya. Malahan Yesus berdoa untuk memohon pengampunan dosa kepada para penganiaya dan para pembunuhNya sendiri. Cinta Yesus menembusi semua dimensi kehidupan, Ia sendiri telah membuktikan bahwa Ia mencintai musuh-musuhNya sendiri dan mendoakan mereka, amat luar biasa. Ia menjadi sangat kuat, bukan karena menunjukkan kekuatan militerNya, namun Ia menunjukkan kelemahanNya sendiri sebagai manusia dan kekuatanNya sebagai Allah. Kalau kalian lemah, kalian akan menjadi kuat!

     Di gereja-gereja katolik di wilayah Keuskupan Atambua, sebuah keuskupan yang memiliki mayoritas umat katolik di 3 Kabupaten yakni Belu, Malaka dan TTU, setiap hari jumat agung sore ada ratapan yang dibawakan oleh ibu-ibu. Beberapa pria dengan kidmat mengusung peti mati lalu meletakkan di depan altar diiringi ibu-ibu berkerudung hitam. Tak berapa lama mereka menangis seperti koor. Ratapan ialah ekspresi kedukaan yang mendalam atas kematian seorang raja, seorang pemimpin terkenal dan amat dikasihi masyarakat. Hanya saya tidak terbawa irama kedukaan yang diciptakan oleh ibu-ibu peratap. Saya memahami dari sisi cinta, demi cinta kepada dunia maka putera Allah rela menanggung derita demi tertebusnya dosa-dosa dunia. Penderitaan dan wafat Yesus sudah diramalkan oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama.

     Yesus sudah dihukum mati, bukan negara yang amat berperanan dalam hukuman mati itu, namun atas desakan massa rakyat yang dipelopori imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Negara justeru berpendapat bahwa Yesus tidak bersalah karena bukti-bukti dan saksi-saksi kurang meyakinkan. Negara menghadapi dilema amat berat. Pilatus yang berperanan sebagai wali negeri sampai mencuci tangan sebagai tanda tidak bertanggung jawab lalu memberi 2 opsi: Yesus mau dibebaskan ataukah Barabas? Orang banyak berteriak, “Bebaskan Barabas!”. Pilatus masih terus bertanya, “Haruskah aku menghukum mati rajamu?”, seterusnya, Pilatus membebaskan Barabas sesuai tuntutan massa rakyat. Tampaknya Pilatus ingin agar negara tidak disalahkan. Peranan negara menjadi sempurna! Lalu siapa disalahkan? Jawabannya kita semua disalahkan. Kita manusia semua memiliki dosa, baik dosa asal maupun dosa pribadi. Kita semua telah ditebus Yesus melalui Permandian. Sekarang ini, mungkin kita tak bisa mencaci maki negara dan penduduk Yerusalem. Kita umat manusia dalam segala zaman patut disalahkan. Semuanya diakibatkan dosa-dosa manusia, sehingga Yesus rela dihukum mati.

    Cinta Yesus amat sangat luar biasa. Ia adalah Sang Maha Cinta. Meskipun dalam kodrat manusianya terbatas, namun sebagai Tuhan, Yesus memiliki Cinta Sang Maha Kuasa. Sebagai manusia, kita patut merasa kecil, lemah dan tak berdaya di hadapan Allah. Kita tak mampu menyelami rahasia cinta Yesus. Cinta Yesus tak terbatas. Cinta Yesus menembusi ruang dan waktu, baik waktu masa lampau, saat ini maupun masa depan.

    Yesus menjadi Almasih, selanjutnya setelah kebangkitanNya Ia disebut Kristus. Kristus ialah pemenang atas maut. Namun Sang Pemenang itu tetap mencintai manusia, utamanya para rasul dan para pengikutNya. Ia telah berjanji untuk mengutus Roh Kudus dengan 7 karuniaNya pertama-tama untuk para rasulNya namun kemudian untuk semua kaum beriman.

     Bersandar pada realitas, dewasa ini, kita melihat di sini tampaknya kehidupan iman umat kristiani masih belum sepadan dengan tingkat pengetahuan manusia universal. Masih banyak terjadi ketimpangan. Kalau di sini, di mana-mana, para penduduk tertentu masih menggadaikan kebebasan pribadinya demi bertahan hidup. Banyak orang menjadi korban traficking di luar negeri. Banyak  orang juga menjadi buruh di luar pulau. Tingkat kepandaian dan keahlian bekerja belum meningkat secara maksimal.

     Sejarah Nusa Tenggara mencatat adanya pengalaman perdagangan perbudakan pada masa lalu mungkin masih membekas dalam bentuk perdagangan manusia, hal mana telah menimbulkan ketakutan manusia dalam mengungkapkan dan mengekspresikan diri dalam berbagai segi, seperti: kebudayaan, media, religius, kesenian, politik, kesehatan, ekonomi-perdagangan, sosial dan pendidikan.

     Selama hampir 500 tahun penginjilan (1522-sekarang) mula-mula oleh padre-padre dari Dominikan yang didukung oleh pemerintahan kolonial Portugis, hingga kini jutaan penduduk Nusa Tenggara telah ditebus oleh darah Kristus yang tersalib melalui permandian. Pada awalnya, penginjilan berjalan secara berbarengan dengan penjajahan atas umat Nusa Tenggara oleh kaum kolonial. Mengenang proses penginjilan masa kolonial ialah mengenang saat-saat penghancuran wujud-wujud budaya asli baik wujud tampak maupun tidak tampak. Masa kolonial, masyarakat asli dalam posisi disalahkan dan dikalahkan, sedang masyarakat barat ialah pemegang dan pemilik martabat manusia.

     Membaca arus dalam sejarah kristianisasi dari barat, patut kita akui bahwa sekarang ini kita kaum Nusa Tenggara telah dibebaskan dalam semua segi, termasuk pembebasan dari kolonialisme tahun 1950 dengan adanya proklamasi NKRI dalam alam kemerdekaan. Sebelumnya tahun 1811-1816, Nusa Tenggara telah dibebaskan dari perdagangan perbudakan. Munculnya perdagangan budak masa lalu disebabkan sistem ketatanegaraan kerajaan-kerajaan dengan pertahanan militer-nya baik darat maupun laut amat lemah akibat ketiadaan basis-basis pertahanan seperti benteng-benteng yang tangguh dan modern. Selain itu akibat ketidakmampuan para penguasa Nusa Tenggara abad 12 dan 15 menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi militer barat saat itu. Ketidakbersatuan unit-unit intern berbagai kerajaan dalam mengkover intervensi bangsa asing menjadi penyebab pemungkas dalam proses kolonialisasi bangsa asing masa lampau terhadap orang Nusa Tenggara.

     Perayaan liturgial Natal dan Paskah di wilayah Timor-NTT menyisahkan bias-bias sejarah masa lampau yang telah dilupakan akibat ketidakmampuan intelektual para pendahulu dalam mengkover lajunya ilmu dan teknologi dunia yang dipelopori bangsa-bangsa Eropa. Bias-bias negatif situasi kemasyarakatan  masa lampau akan berakhir bila umat terus meningkatkan keterbukaan dan kemampuan untuk mengungkapkan diri mereka dalam semua segi kehidupan bermasyarakat, utamanya kegiatan keagamaan. Kita harus mengungkapkan bahwa akan menginjak 500 tahun penginjilan nanti bagi orang Timor-NTT, yang tersisa ialah puing-puing kehancuran budaya dan politik yang sedang kembali ditata ulang dalam zaman pembangunan ini. Meskipun orang berjalan jatuh dan bangun akibat ancaman KKN, terorisme, traficking, kemiskinan, terbengkalainya pendidikan dan bahaya narkoba.

    Iman, harap dan cinta ialah 3 keutamaan kristiani yang kadar keberadaan pribadiah berbeda dari orang perorang kristiani. Selama lebih dari 500 tahun penginjilan di Timor-NTT, mungkin kadar keberadaan 3 keutamaan ini dalam hidup keimanan umat hanya bisa terlihat dalam citra manusia dan bagaimana manusia mengungkapkan diri melalui kesenian, busana, arsitektur, adat istiadat, bahasa dan literatur-literatur.

     Ya, kita masih berharap bahwa dalam mengais-ngais sejarah masa lampau tentang sejarah kekristenan di sini, kita masih menemukan sisa-sisa tinggalan berupa perasaan cinta di sana, lalu kita ambil untuk menata hari esok agar menjadi jauh lebih baik. Semoga cinta masih tersisa di sana, untuk kita ambil buat modal menggapai dan menyusun rencana di masa depan. Ilmu yang sesat akan berakhir. Ilmu yang sempurna harus datang dari Roh Kudus sebagai Roh Ilmu Pengetahuan yang diutus Kristus setelah kenaikanNya ke surga. Jadi harapan kita ialah Yesus Kristus, Sang Pencinta Abadi yang memberi arti bagi cinta antar sesama manusia dan cinta antara manusia dengan alam .

     Cinta yang bertahan abadi ialah cinta yang sempurna, dan itu dapat kita temui dalam diri Yesus Kristus, Tuhan atas sejarah yang amat mencintai kita dengan cinta yang sempurna! Dengan cinta yang sempurna dalam diri Yesus Kristus, kita menembusi dan menjemput dunia untuk sama-sama meraih masa depan dalam waktu yang terus mengalir-pergi. Kita belum menyelesaikan tugas kita. Selamat merayakan Hari Raya Paskah 2017!