jalan-salib-perhentian-3

Cinta Yesus di Via Dolorosa

     images (7)

Foto salah satu lokasi dilakukan Via Dolorosa oleh Yesus di Jerusalem (Foto oleh Michal Piec di www.123rf.com)

     Liturgi gereja katolik hari ini dimulai dengan upacara jalan salib pada pagi hari, lalu sekitar jam 03.00 sore dimulai upacara liturgi misa jumat agung. Makna upacara jalan salib Tuhan Yesus dapat terlihat dalam 14 perhentian:

Perhentian I: Yesus dijatuhi hukuman mati

Perhentian II: Yesus memanggul salib

Perhentian III: Yesus jatuh untuk pertama kali

Perhentian IV : Yesus berjumpa dengan ibu-Nya

Perhentian V : Yesus ditolong Simon dari Kirene

Perhentian VI : Wajah Yesus diusap oleh Veronika

Perhentian VII: Yesus jatuh untuk kedua kalinya

Perhentian VIII : Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangisi-Nya

Perhentian IX : Yesus jatuh untuk ketiga kalinya

Perhentian X : Pakaian Yesus ditanggalkan

Perhentian XI : Yesus disalibkan

Perhentian XII: Yesus wafat di salib

Perhentian XIII: Yesus diturunkan dari salib

Perhentian XIV: Yesus dimakamkan

     Melalui 14 perhentian ini umat diajak untuk meresapi sengsara Yesus mulai saat Ia dihukum mati, hingga Ia dimakamkan. Umat menyelami betapa Ia dalam penderitaanNya tetap teguh dan taat penuh penyerahan diri kepada kehendak BapaNya. Dalam penderitaan, Ia tidak pernah mengeluh, tak pernah menjerit dan tidak protes. Di sini Yesus menerima jalan penderitaan sebagai bentuk cinta, penyerahan diri dan ketaatan mutlak kepada kehendak BapaNya untuk menebus dosa-dosa dunia. Selain mengenang sengsara Yesus, umat diajak untuk bergembira karena dosa-dosa dunia telah ditebus oleh sengsara Yesus melalui penderitaan dan darah hingga wafat di atas kayu salib.

     Dalam kehidupan sehari-hari, umat sering menemui jalan penderitaan: kemiskinan, kesulitan dan tantangan-tantangan selalu datang silih berganti. Dalam menghadapi semua kesulitan dan penderitaan itu, umat tidak boleh melarikan diri atau menghindar namun harus menghadapinya dengan penuh iman dan kesabaran seperti Yesus. Para pelajar/mahasiswa, para kepala keluarga: ayah, ibu dan anak-anak, para pejabat, rakyat, dll perlu menghadapi jalan penderitaan dengan penuh iman dan pasrah kepada kehendak dan rencana Allah dengan tidak mengeluh dan tidak protes.

     Liturgi misa sore, biasanya memulai dengan bacaan-bacaan, menyusul penyembahan salib, lalu ratapan untuk mengenangi wafat Yesus Sang Almasih, lalu menyusul liturgi ekaristi. Umat maju satu demi satu untuk menyembah salib demi menghormati salib sebagai lambang penebusan dosa-dosa dunia oleh Yesus melalui jalan penderitaan atau Via Dolorosa, selanjutnya ialah liturgi ekaristi.

     Dalam sejarah, kita mengetahui bahwa ada banyak tokoh-tokoh yang telah sukses dalam jalan hidupnya melalui jalan penderitaan. Para orang sukses muncul melalui jalan penderitaan. Para orang sukses muncul dari pengalaman masa lalu yang penuh derita. Mereka telah memulai dari dasar. Demikianpun para tokoh gereja dan para orang kudus memulai kehidupan mereka sering dengan jalan penderitaan yang hebat. Namun menghadapi jalan penderitaan itu, mereka telah tabah dan tetap kuat pada imannya akan Allah. Mereka akhirnya sukses meraih kemenangan.

      Penderitaan dan kesulitan tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini sepanjang sejarah. Namun dalam penderitaan telah muncul banyak orang sukses baik tokoh-tokoh rohani maupun tokoh-tokoh sekular atau jasmanih. Mereka menjadi saksi-saksi yang mengajarkan kepada kita bagaimana umat manusia harus menghadapi penderitaan dan kesulitan dalam hidupnya dengan ketabahan, penuh iman dan penyerahan diri kepada kehendak Allah. Iman dalam jalan penderitaan membutuhkan kesaksian hidup nyata. Yesus telah memberikan kesaksian melalui Via Dolorosa. Lalu bagaimana umat manusia menanggapi penderitaan dalam kesaksian hidup? Sejarah mencatat bahwa di dunia telah, sedang dan akan muncul begitu banyak tokoh teladan, seperti: individu-individu, meliputi umat kristen, biarawan/i, tokoh-tokoh gereja, juga bangsa-bangsa telah berhasil dalam melewati jalan penderitaan yang besar dalam perjuangan hidupnya hingga sampai kepada jalan keselamatan.

     Banyak dari antara umat manusia salah melihat penderitaan yang dihadapi mereka. Bahkan mereka pesimis dan kehilangan harapan untuk maju. Penderitaan sering ditanggapi sebagai kutukan dari Tuhan. Sebagai kutukan Tuhan, penderitaan ditanggapi sebagai hukuman yang tak pernah diampuni. Justeru pemahaman seperti ini terbukti keliru. Iman kristen mengajarkan bahwa Allah Maha Berbelaskasih, Allah Maha Sabar, Allah selalu memanggil dan menantikan anak-anakNya untuk bertobat. Allah selalu memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbenah diri untuk melakukan perbuatan yang baik menuju masa depan yang baru. Jadi yang terpenting ialah niat dan tekad untuk tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Apabila Tuhan masih memberikan kesempatan kepada manusia yang pernah jatuh dalam kesalahan agar mau bangkit dan berubah maka Tuhan menuntut komitmen, niat dan tekad untuk membaharui diri dan mau mengambil jalan lain yakni jalan kebaikan menuju keselamatan.

     Jadi dalam iman,  umat manusia harus menyadari bahwa jalan penderitaan bukan merupakan jalan kutukan, namun merupakan jalan Tuhan, jalan di mana iman manusia terus dimurnikan untuk mendapatkan kesempatan dalam merefleksikan diri agar sadar dan mau bertobat dan mengambil niat baru ke jalan yang benar. Melalui jalan penderitaan, Tuhan sedang memukul manusia agar manusia sadar akan dosa, kerapuhan dan kelemahannya lalu berbalik dan mengambil niat baru  untuk pulang kembali ke jalan Tuhan sendiri.