mt1-3-203

Ubi Caritas et Amor, Deus Ibi Est

     Hymne lagu gereja Katolik dalam misa hari kamis putih sejak abad IV M ialah: Ubi Caritas et Amor, Deus Ibi Est, artinya: di mana ada cinta dan pengasihan, di situ Tuhan hadir. Tema misa hari kamis putih hari ini ialah tentang cinta kasih. Tema ini menunjukkan Tuhan selalu dan tetap menyertai gereja hingga kapanpun. Gereja merefleksikan tentang perbuatan dan tindakan kasih yang menyata dalam hidup harian dengan saling melayani. Yesus dalam bacaan Injil memberikan contoh tentang perbuatan kasih. Ia melayani para rasulNya dengan tindakan membasuh kaki para rasul pada perjamuan terakhir. Tindakan Yesus melepaskan jubahnya, mengikat kain pembasuh, membungkuk, membasuh kaki para rasul, lalu menyeka dengan kain merupakan pertanda pelayanan yang luar biasa.

    Yesus memberikan teladan bahwa cinta haruslah berbentuk pelayanan. Setiap orang harus menanggalkan status apapun yang melekat dalam dirinya untuk melayani sesamanya. Hal ini bisa ditafsirkan bahwa jabatan dan status sosial haruslah bersifat pelayanan terhadap kemanusiaan. Jabatan sosial ialah kesempatan bagi manusia melayani sesamanya secara lebih baik. Pelayanan bagi sesama harus dilakukan tanpa pamrih. Tindakan pelayanan merupakan bukti bahwa cinta harus memberikan diri bagi orang lain dengan tulus hati. Dalam pelayanan orang dituntut untuk saling memberi dan menerima dan saling berkorban bagi sesama. Cinta barang tentu membutuhkan pengorbanan. Cinta tidak egois namun cinta harus terarah kepada sesama yang membutuhkan bantuan.

      Liturgi gereja katolik memberikan warna cinta kasih dalam seluruh bagian perayaan, utamanya nyanyian liturgial. Gereja berusaha untuk menampilkan warna cinta kasih di sini untuk menegaskan bahwa “di mana ada cinta kasih, di situ Tuhan Allah hadir”. Bagaimana manusia beriman mewujudkan kehidupan yang penuh cinta kasih, merupakan pergulatan dan usaha amat kompleks yang melibatkan berbagai komponen. Begitu sulitnya manusia mewujudkan cinta kasih karena manusia lebih banyak terbelenggu oleh dosa kesombongan dan keangkuhan. Hari kamis putih, gereja menyerukan agar manusia melepaskan keangkuhan diri untuk terus mengamalkan cinta kasih dalam seluruh sikap, pemikiran dan tindakannya dalam hidup. Cinta kasih bukan hal yang abstrak namun cinta kasih itu menyata. Cinta kasih kasih itu rela berbagi, rela memberi dan tak harap kembali. Cinta kasih itu ialah bagian dari penyerahan diri manusia seutuhnya kepada kehendak dan rencana Allah.

     St. Paulus mengatakan bahwa cinta kasih adalah buah Roh Kudus. Umat kristen yang hidup dalam Roh Kudus akan menghasilkan perbuatan-perbuatan kasih yakni kasih terhadap Allah dengan segenap hati dan kasih terhadap sesama manusia, kasih terhadap diri dan kasih terhadap alam. Roh Kudus diutus kepada para rasul Kristus dalam peristiwa Pentekosta dalam bentuk lidah-lidah seperti nyala api. Lidah-lidah seperti nyala api itu turun dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah di mana mereka duduk dan hinggap pada para para rasul Kristus yang sedang duduk bersama sambil berdoa (Kis.2:1-13).

     Ketika lidah-lidah seperti nyala api itu turun dan hinggap kepada mereka masing-masing, maka para rasul Kristus penuh dengan Roh Kudus dan mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Orang-orang banyak di Yerusalem dari pelbagai bangsa dan bahasa datang dan berkerumun ketika mereka mendengar turun bunyi itu lalu mendengar bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah di mana para rasul duduk. Mereka merasa bingung, tercengang dan heran karena para rasul berbicara dalam bahasa mereka sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.

     Perbuatan ajaib yang luar biasa dialami para rasul dalam peristiwa Pentekosta. Melalui doa-doa dan persiapan yang matang, para rasul menerima anugerah Roh Kudus yang datang berupa lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Roh Kudus datang berupa lidah-lidah api  yang memberikan kepada para rasul Kristus semangat yang berkobar-kobar untuk menjadi saksi Kristus. Roh Kudus memampukan mereka untuk menjadi para saksi Kristus. Roh Kudus membakar semangat mereka untuk menjadi saksi Kristus.

     Roh Kudus menganugerahkan 7 karuniaNya kepada para rasul dan para pengikut Kristus setelah melalui doa dan persiapan bathin cukup lama. Sekarang penerimaan Roh Kudus diberikan pada kesempatan penerimaan sakramen Krisma pada umat katolik yang memenuhi syarat dan berlangsung sekali seumur hidup oleh uskup keuskupan setempat, tentu setelah mereka dipersiapkan secara lama dan matang oleh para pembimbing. Dalam sakramen Krisma, umat Allah menerima 7 karuniaNya, lalu mereka menjelma menjadi gereja dewasa yang ditugaskan gereja untuk melaksanakan tugas perutusan umum gereja sebagai ‘imam, nabi dan raja’.

     Roh kudus ialah pembaharu dunia. Roh Kudus ialah Allah-Penghibur yang telah dijanjikan Kristus setelah kebangkitanNya. Dalam Yoh 14:15-31, Yesus menjanjikan Penghibur, syaratnya bila para rasul dan para pengikutNya mengasihiNya atau mencintaiNya. Ia mengatakan dalam Yoh.14:15-17.25, “Jikalau kamu menghasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadaMu seorang Penolong yang lain supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak menerima Dia sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Tetapi Penghibur yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kutakan kepadamu…”

      Dalam Yoh.16;4b-15, Yesus menjabarkan pekerjaan Penghibur yakni Roh Kudus yang akan diutus kepada para rasul, seperti berikut, “Kalau Ia  datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Akan dosa karena mereka akan tetap tidak percaya kepadaKu, akan kebenaran karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat aku lagi, akan penghakiman karena penguasa dunia itu telah dihukum. Apabila Dia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu kepada seluruh kebenaran. Ia akan memuliakan Aku sebab Ia akan memberitakan apa yang diterimaNya dari padaKu..”.

     Saya teringat tulisan St. Paulus yang mengatakan bahwa nubuat akan berakhir dan pengetahuan akan berakhir namun cinta tidak akan berakhir. Bila kita menghitung sejak Yesus dilahirkan hingga kini, maka cinta telah menjadi hukum utama selama lebih dari 2000 tahun lamanya. Cinta tetap bertahan di tengah berbagai pergantian ilmu dan teknologi serta nubuat-nubuat para nabi yang telah berakhir, namun cinta tetap ada.

     Cinta Allah tetap lestari dan mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus yang lahir dalam rupa seorang manusia, namun Dia adalah putera Allah juga. Roh Kudus ialah Roh Cinta menjadi Penghibur para murid Kristus setelah kenaikan Yesus Kristus ke sorga. Roh Kudus ialah Roh Cinta Bapa dan Putera tetap bersama manusia dalam sakramen Krisma masa kini. Cinta telah, sekarang ini dan akan terus menjadi hukum utama dalam agama katolik. Tetapi bagi orang beriman, hal mempraktekkan cinta kasih sangat penting agar Tuhan tetap hadir dan menyertai gereja sepanjang masa. Ubi Caritas et Amor, Deus Ibi Est!