Mithos dan Mantra Tetum, Analisis Atas 10 Karya Sastera Popular Tetum Timor-NTT

images (49)Berbekalkan 10 ceritera rakyat tetum yang beredar dalam lingkungan rumah adat tetum, saya melakukan kajian tentang mithos dan mantra Tetum. Terdapat begitu banyak ceritera lisan yang diceriterakan dalam kalangan masyarakat tetum sendiri yang memiliki makna religius. Tentu saja ceritera-ceritera lisan itu direkam secara baik oleh para pendengarnya yang mayoritas merupakan anak-anak atau remaja di sekitar rumah adat dalam bahasa tetum. Penggunaan bahasa Tetum sebagai bahasa ibu sendiri meliputi wilayah-wilayah bekas 2 kerajaan besar masa lampau yakni kerajaan Wesei-Wehali di Belu Selatan dan kerajaan Fialaran di Belu Utara. Sekarang ini, wilayah bekas kedua kerajaan besar itu meliputi 2 Kabupaten yakni Kabupaten Malaka dan lebih dari ¾ wilayah Kabupaten Belu.

Continue reading Mithos dan Mantra Tetum, Analisis Atas 10 Karya Sastera Popular Tetum Timor-NTT

Kerja Seperti Hamba, Makan Seperti Raja

Pada waktu saya duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar Katolik (SDK) Halilulik, saya mendengar kalimat ini sering dikeluarkan oleh para guru saya saat itu. Bahkan kalimat ini berulang-ulang saya dengar saat para guru menasihati kami. “Bekerjalah seperti hamba, makanlah seperti raja”. Saat itu saya belum terlalu mengerti dengan kalimat itu, namun bayangan saya tentang hamba dan raja ialah 2 jabatan yang sangat bertolak belakang. Hamba itu seperti barang hak milik, pemiliknya ialah tuannya. Raja adalah pemimpin para tuan, raja berkuasa sangat mutlak.

Continue reading Kerja Seperti Hamba, Makan Seperti Raja

Guru, Seni dan Oase Kehidupan

Empatpuluh dua (42) tahun lalu, tepatnya tahun 1974, psikoanalis dan humanis terkenal Erich Fromm menerbitkan buku berjudul The Art of Loving. Dalam buku itu, Erich Fromm pertama-tama menguraikan tentang fenomena indifferent dalam intersubjektivitas manusia. Menurut Erich Fromm, fenomena indifferent selalu terjadi dalam intersubjektivitas manusia modern. Manusia modern cenderung mengalami relasi secara interfungsional. Dalam dunia modern yang dipenuhi agenda kapitalisme dunia, manusia telah kehilangan esensinya karena proyek-proyek kapitalisme lebih menekankan ‘apa yang manusia miliki’. Manusia telah menjadi sebuah mesin dan telah kehilangan sifat kemanusiaannya yang hakiki.

Continue reading Guru, Seni dan Oase Kehidupan

Patung Klasik Para Tokoh Belus: Para Tokoh Lulik dan Keramat

PICT0148

Lukisan salah satu tokoh pemimpin Belus di istana Fialaran (Foto: manuamanlakaan.over-blog.com)

Sebuah karya lukis tentang tokoh hendak mengungkapkan kisah perjalanan hidup dan tindakan sang tokoh ketika masih hidup. Dalam masyarakat Belu, tokoh-tokoh itu biasanya hadir dalam tradisi lisan dalam klan. Maksud penceriteraan kembali ialah agar jiwa-jiwa para tokoh itu tetap hidup dalam masyarakat klan.

Boleh dikatakan, para tokoh dalam klan yang dilukiskan dalam seni ukir maupun seni tari memiliki maksud yakni penceriteraan dan pencitraan, selain tentunya untuk hiburan yang utama. Seringkali tokoh-tokoh itu hadir dalam mithos, untuk mengungkapkan fakta bahwa pemimpin itu keramat, suci dan baik karena kehendak Tuhan melalui rakyat maupun karena berbagai tindakan nyata dalam kehidupan setiap hari. Di Belu, tokoh-tokoh pemimpin biasanya hidup dalam lingkungan rumah adat, oleh karena itu dia memiliki rumah adat dan memimpin berbagai ritus religius dalam rumah adat.

Tokoh-tokoh itu menjadi figur sentral. Ia bukan hanya memimpin rakyat mencapai kesejahteraan namun ia juga memimpin perang perebutan eksistensi klan. Di Belu, hal ini terekam dalam kisah persaingan antara kaum Belus dan kaum Melus. Kaum Belus dikisahkan sebagai kelompok pendatang, beradab, memiliki bahasa, berbudaya perunggu, besi, emas dan perak. Sedangkan tokoh-tokoh Melus digambarkan sebagai penduduk asli, pribumi, kurang beradab, kurang berbahasa, berbudaya batu dan kayu.

Continue reading Patung Klasik Para Tokoh Belus: Para Tokoh Lulik dan Keramat

Jalan Tengah untuk Ujian Nasional

Boleh dikatakan kelompok yang pro Ujian Nasional dan kelompok kontra Ujian Nasional berada pada posisi berimbang. Oleh karena itu perlu dipikirkan solusi jalan tengah. Kelompok yang kontra memberikan banyak alasan, 2 di antaranya ialah membebankan anggaran negara dan munculnya berbagai persoalan hukum terkait pelanggaran Ujian Nasional. Kelompok yang pro Ujian Nasional memberikan alasan terkait perbedaan kondisi dan situasi pendidikan yang berbeda di tanah air. Ada berbagai daerah dengan status terpencil dan daerah konflik. Oleh karena itu Ujian Nasional masih penting demi mengukur kadar kualitas secara nasional. 

Continue reading Jalan Tengah untuk Ujian Nasional

Enaknya Cendawan Timor

Menjelang panen Jagung di Timor-NTT, sekitar bulan Pebruari setiap tahun tumbuh sejenis cendawan di hutan-hutan atau kebun di wilayah Timor-NTT. Cendawan yang indah itu, muncul sendiri dari dalam tanah, mengembang lalu dipanen warga.

Panenan cendawan amat laku terjual di pasar-pasar tradisional. Cendawan dijual pada setiap pagi oleh para pedagang tradisional. Pada siang hari sudah habis dipesan atau dibeli untuk konsumsi para warga. Rasa cendawan Timor amat gurih dan enak. Sudah bertahun-tahun cendawan itu menjadi sayuran lezat dalam hidangan siang dan malam.

Continue reading Enaknya Cendawan Timor

Sepotong Ceritera Tentang Kebun, Desa dan Ladang Jagung

ikat-jagung-800x500_c-e1479693335347

Saya lahir dan besar di sebuah desa yang boleh dibilang strategis di persimpangan jalan raya negara trans Kupang-Atambua. Desa Naitimu, namanya. Desa ini memiliki sejarah panjang terkait sejarah kerajaan, kolonialisme Belanda dan Jepang, sejarah pendidikan dan sejarah gereja Katolik Timor-Belanda. Saya lahir, besar, bersekolah dan tinggal di rumah orang tua yang terletak sekitar pusat lingkungan kerajaan Naitimu yakni Halilulik. Halilulik ialah tempat di mana terdapat istana raja Naitimu dari beberapa generasi. Juga terdapat biara susteran SSpS provinsi Timor. Susteran SSpS juga memiliki kebun di sampingnya. Mereka juga menanam jagung dan sayuran serta beternak ayam, babi, kambing dan sapi.

Continue reading Sepotong Ceritera Tentang Kebun, Desa dan Ladang Jagung

Mungkinkah Ada Ancaman Konservatisme Dalam Ruang Publik dan Digital Media?

Salah satu kemajuan yang menggembirakan dalam zaman digital ini ialah bertumbuh suburnya ruang-ruang publik dalam masyarakat. Dalam ruang-ruang publik itu masyarakat dapat berdiskusi dengan topik yang tak terbatas, teristimewa berdiskusi tentang keluhan-keluhan dan kesulitan-kesulitan mereka.

Jutaan grup Facebook yang di dalamnya berisi berbagai diskusi seru tentang kehidupan demokrasi saat ini telah menimbulkan kekuatan baru. Kritisisme masyarakat makin tinggi ketika lebih dari 150 juta penduduk Indonesia sudah bisa langsung  terkoneksi oleh Internet. Boleh dikatakan dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, hanya 100 juta yang belum terkoneksi dengan lebih banyak dari mereka ialah anak-anak dan para remaja serta para orang tua.

Continue reading Mungkinkah Ada Ancaman Konservatisme Dalam Ruang Publik dan Digital Media?

Momok HIV/AIDS di NTT

Lagi 6 hari, umat manusia akan memperingati Word AIDS Day December 1. Saya teringat kira-kira sebulan yang lalu. Mobil Angkot yang saya tumpangi berjalan perlahan di sebuah tikungan dekat terminal Wekabu-Belu-NTT. Di pinggir jalan, terpasang bunga Bougenville berwarna merah yang mulai layu. Sementara itu beberapa lelaki tampak sibuk menyelesaikan tenda mete. Di dalam tenda itu, kursi-kursi tersusun rapi. Namun tak seperti kematian lainnya di rumah-rumah penduduk. Di rumah itu, tak ada pancaran kesedihan. Wajah orang-orang tampak jelas memancarkan ketakutan. Malahan beberapa warga menyingkir dan melihat dari dalam pagar rumah mereka. Sebuah ekspresi tak wajar menghadapi kematian. Melewati terminal Wekabu, Rius, sang sopir Angkot mengatakan kepada saya bahwa seorang ibu keluarga baru saja meninggal dunia karena HIV/AIDS. Beberapa minggu sebelumnya kepala rumah tangga telah meninggal dunia karena penyakit yang sama. Satu bulan yang lalu, 2 anak mereka beruntun meninggal dalam waktu bersamaan. Penyebabnya HIV/AIDS.

Continue reading Momok HIV/AIDS di NTT

Pitch Black Darwin, Ajang Adu Jet Tempur Multinasional 2 Tahunan

Pitch Black ialah ajang latihan Jet tempur multinasional 2 tahunan di Darwin, Australia. Pada tahun 2012 Pitch Black melibatkan 6 negara yakni Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, Singapura, Thailand dan Indonesia. Sejak tahun 2012, Armada penempur Su-27/30 Flanker TNI AU dapat merasakan medan latihan tempur multinasional dalam Exercise Pitch Black 2012 atau Pitch Black 12. Skadron Udara 11, Lanud Sultan Hasanuddin yang ditunjuk, mengirimkan dua Su-27SKM dan dua Su-30MK2 berikut 54 personel dengan satu Kolat (Komando Latihan) serta tiga C-130 Hercules membawa 78 kru pendukung.

Sukhoi_PitchBlack (1)

 

Dua Jet tempur Super Hornet Australia menyambut 4 Jet tempur Flanker Sukhoy Indonesia tahun 2012 di atas Darwin (Foto:militerindonesiamy.blogspot.co.id)

Kurikulum latihan pada Red Flag menjadi acuan dalam latihan gabungan angkatan udara Pitch Black 2012 yaitu  air lift, air to air combat, surface attack, deep interdiction, close air support, airborne early warning and control, air to air refuelling, tactical air transport.

Teknologi tempur Sukhoi 27 SKM dari pabriknya Knaapo di  Rusia  sangat menggentarkan karena mampu membawa rudal udara ke udara RVV-AE active radar homing, rudal udara ke permukaan KH- 29T(TE), KH-29L, KH-31P, KH-31A dan bom pintar jenis KAB 500Kr dan KAB-1500Kr. Sukhoi SU 27SKM dan SU30 MK2 telah dilengkapi dengan instrumen isi ulang BBM di udara sehingga kemampuan jelajah tempurnya semakin jauh. 

Cantelan beragam persenjataan Sukhoi mampu menggotong sampai 12 jenis senjata mulai dari rudal udara ke udara, rudal udara ke darat, roket dan bom.  Selain kemampuan serang darat yang dimiliki Sukhoi SU30 MK2 perbedaan lain yang membedakan keduanya adalah SU27 SKM memiliki 1 kursi pilot sedangkan SU30 MK2 memiliki 2 kursi pilot.  Kecanggihan teknologi Sukhoi tentu mampu menyetarakan kemampuan pilot TNI AU dengan pilot jet tempur canggih lainnya seperti F15 SG Singapura dan Super Hornet Australia.

Continue reading Pitch Black Darwin, Ajang Adu Jet Tempur Multinasional 2 Tahunan