Tulisan Indah di Notes Saudaraku

     14315022091743339705

     Catatan harianku sendiri dalam buku Notes pribadi tahun 1996

     Sewaktu masih SMP, diam-diam aku suka membaca Notes saudaraku yang berwarna biru tua. Notes tebal itu berisi catatan tentang pemikirannya yang dikutip atau dibuatnya sendiri ketika sedang menulis di bangku pendidikan SPGK dan di kamar belajar. Ia menulis catatan di Notes itu sejak bangku Pendidikan terakhir SPGK (Sekolah Pendidikan Guru Katolik). Ketika beliau pergi mengajar di sekolah yang tak jauh dari rumah kami, Notes itu ditinggalkan sendirian di atas meja belajarnya. Maka jadilah aku lebih leluasa membolak-balik Notes itu untuk membaca isinya yang menurutku sangat menarik karena ditulis dengan tangan sendiri namun dengan huruf yang indah. Maklumlah, dahulu, sejak SD, para guru mengajarkan kami tentang hal Menulis Indah dengan tangan.

     Notes biru tua itu memang luar biasa, selain catatan harian, dia juga menulis tentang renungan rohani yang didengar atau direfleksikannya ketika membaca Injil. Ketika membolak-balik di tengah catatan itu, aku menemukan sebuah kalimat indah yang ditulisnya dengan tinta hitam. Kalimat itu entah dibuatnya sendiri ataukah dikutipnya dari sebuah sumber berbunyi, “Aku tidak takut hari esok sebab aku telah melihat hari ini dan mencintai hari kemarin”. Terselip di sini kebahagiaannya meraih ijazah pendidikan guru. Masa itu, Ijazah tamat pendidikan SPGK sangat laris dan ikut membuat seseorang gampang diangkat menjadi guru negeri.

Continue reading Tulisan Indah di Notes Saudaraku

Duka-ku di “Musim Gugur” 2015

     Dua guru baru itu menjawab sapaanku di sebuah Angkutan Kota ketika tanpa sengaja kami duduk berhadap-hadapan di dalam mobil itu. Aku menyapa mereka lebih dahulu dengan menyebut di tempat manakah mereka turun? “Di sebelah tugu selamat datang”, kata keduanya beriringan. Lalu percakapan kamipun mengalir lancar. Dari situ aku baru tahu bahwa keduanya merupakan guru-guru tidak tetap yang ditugaskan di Belu oleh pemerintah pusat. Saat itu memang akhir bulan Agustus 2015, saat dedaunan gugur ke bumi di kiri kanan jalan raya tempat di mana berkali-kali saya lalu lalang menuju tempat karyaku sebagai guru.

     Kataku kepada mereka, “Andaikan para peneliti musim lebih cerdas, mereka pasti akan tahu bahwa di Timor-NTT sebenarnya sudah ada 3 musim selama bertahun-tahun, yakni musim kemarau, “musim gugur” dan musim hujan”, dan kulihat salah seorang guru itu menatapku tajam. Ia berasal dari Melayu namun tinggal di Kalimantan. “Justeru di Kalimantan sana, kami tak seenak menikmati lamanya musim kemarau sepertimu di sini apalagi “musim gugur”, dahulu hanya ada hujan-dan hujan sepanjang tahun. Musim-musim bagi kami hanyalah hujan dan hujan”, katanya.

Continue reading Duka-ku di “Musim Gugur” 2015

Dan Akupun Dicaci Maki Karena Menulis….

     Tulisan memang memiliki spirit. Di dalam kata-kata, kalimat dan akhirnya wacana ada pesan-pesan khusus. Seribu satu perasaan berkecamuk dalam nubari ketika orang membaca sebuah tulisan. Saya tidak perlu melukiskan daya hujam sebuah tulisan dibandingkan dengan daya hujam sebuah serangan topan.  Daya hujan serangan topan yang dasyat memang merusak dan membunuh dari luar, namun daya tulisan bekerja dari dalam yakni dari akal, hati dan perasaan.

Continue reading Dan Akupun Dicaci Maki Karena Menulis….

Menyambut Terbitnya Buku: Pendidikan, Keindonesiaan dan Potensi Domestik

Buku berjudul: Pendidikan, Keindonesiaan dan Potensi Domestik sebentar lagi akan terbit. Menurut Penerbit Herya Media, buku setebal 450 halaman ini merupakan salah satu buku yang menjadi prioritas utama Perpustakaan Nasional RI untuk segera disetujui  ISBN dari sejumlah besar permohonan ISBN buku-buku yang masuk Perpustakaan Nasional Indonesia di akhir tahun 2015 ini. Itu berarti tidak lama lagi buku ini juga akan masuk koleksi Perpustakaan Nasional RI.

Continue reading Menyambut Terbitnya Buku: Pendidikan, Keindonesiaan dan Potensi Domestik

Saatnya Allah Turun Tangan

     Hari ini, 25 Desember 2015 adalah Hari Raya Natal bagi umat Katolik. Pagi-pagi saya sudah terbangun lalu mandi. Selanjutnya saya langsung ke gereja Katolik dekat rumahku. Saat itu pagi-pagi sekali. Gereja Katolik yang dibangun pada tahun 1918 ini masih sunyi namun semua perlengkapan untuk perayaan sudah tertata rapih, kursi-kursi sudah tersusun rapih, namun tak satu umatpun berada dalam gereja itu, memang masih amat pagi. Sayapun masuk lalu khusuk berdoa, membaca mazmur dan Injil lalu bermeditasi pribadi untuk menyiapkan bathin menyongsong perayaan HR Natal. Berdoa dan bermeditasi pribadi pada pagi hari seperti ini terasa damai di hati. sekitar 1,5 jam kemudian barulah umat mulai berdatangan masuk kedalam gereja.

     Tapi ada yang menarik dari perayaan HR Natal yakni salah satunya ialah pada bacaan dan renungan yang dibawakan oleh Rm pastor paroki ini. Bacaan Injil diambil dari Injil Yoh. 1:1-18 berbicara tentang Firman yang menjadi manusia. Selanjutnya ialah kotbah yang menurut saya sederhana namun berkesan.

Continue reading Saatnya Allah Turun Tangan

Pendidikan Membuat Kita Selalu Berkelas

     Kemanusiaan kita memang satu namun menyimpan misteri. Misteri karena tiap individu manusia itu unik karena secitra dengan Allah sendiri, tak dapat direduksi meskipun dalam kebudayaan manusia. Setidaknya ini yang dapat saya pahami dengan menyimak perjalanan hidup saya. Saya terlahir dari darah campuran antara beberapa subbangsa asli di NTT. Ayahku seorang bermarga da Iry Moang Bapa, salah satu subsuku berbahasa Sikka di Halehebing-Sikka-Flores-NTT. Bahasa ibu ayahku ialah bahasa Sikka. Pendidikannya mulai Volksschule, Standardschule di Sikka-Lela, lalu selesai di Ambachonderwijs. Semuanya ialah sekolah zaman Belanda. Boleh dibilang pendidikan ayahku terpandang untuk orang-orang se-subsukunya pada zaman kolonial Belanda yang masih sederhana karena zaman penjajahan Belanda, antara lain karena ayahnya seorang pemangku tuan tanah besar saat itu.

     Tiga tahun setelah pengakuan kemerdekaan RI oleh Belanda, pada tahun 1952, ayah tiba bersama 3  orang tamatan Ambachonderwijs Maumere untuk pembangunan misi Katolik di Timor.

Continue reading Pendidikan Membuat Kita Selalu Berkelas

Rakyat Indonesia Mestinya Harus Menolak AFTA, Mengapa?

     Setidaknya kita bisa belajar dari para demonstran Jerman yang secara terang-terangan menolak TTIP/FTA. Saat negosiasi terjadi antara para pemimpin Uni Eropa dan AS, negosiasipun dihadang 150 000 demonstran Jerman. TTIP/FTA  kepanjangannya Transatlantic Trade and Investment Partnership/FTA=Free Trade Agreement, yakni perdagangan bebas AS dan Eropa. Dengan TTIP/FTA maka zona kawasan perdagangan terbesar di dunia akan muncul. TTIP/FTA akan menyatukan ekonomi AS dan Eropa. Bulan Oktober 2015, ketika para pemimpin Eropa dan AS bertemu untuk negosiasi bagi pendirian TTIP/FTA, 150.000 demonstran berdemostrasi di kota Berlin untuk menentang perjanjian itu. Mereka melihatnya sebagai bahaya besar bila TTIP/FTA benar-benar terwujud.

Continue reading Rakyat Indonesia Mestinya Harus Menolak AFTA, Mengapa?

Dari Keadaan Sekolah Sampai Lahan-Lahan Kosong di Timor-NTT

Boleh dibilang saat ini tak satupun SMA/SMK/MA masuk kategori taraf internasional di NTT. Namun selalu ada hal yang menggembirakan ialah pertama bahwa hanya bermodalkan ketekunan dan kerja keras maka setiap tahun mutu sekolah-sekolah mulai merata di sini. Lalu kedua, di sini jumlah para siswa/i dan para gurunya melimpah. Jadi SMA/SMK/MA di sini berprospek untuk jadi sekolah berkaliber bila ditata dan diorganisasi secara baik.

Continue reading Dari Keadaan Sekolah Sampai Lahan-Lahan Kosong di Timor-NTT

Balada Sang Gembala-Pemenang (Mengenang Alm. P. Drs. Nikolaus Seran, SVD,MA)

Kira-kira 1 bulan yang lalu, mobil Angkutan Kota yang saya kendarai berhenti di depan biara SVD Nenuk-Belu-NTT, seorang penumpang yang wajahnya masih saya kenal, P. Nikolaus Seran, SVD naik Angkot itu. Saat itu, Pater Niko ditemani oleh salah seorang wanita-keponakannya dari Waiwiku-Malaka. Wajah yang saya lihat ketika itu masih tetap yang saya kenal ketika saya hidup sebagai siswa SMA Seminari Lalian antara tahun 1990 hingga 1994. Saat itu, Pater Niko Seran, SVD sebagai imam SVD yang masih mudah, energik dan lincah menjadi Pendidik dan Pembina para siswa SMA Seminari Lalian.

Continue reading Balada Sang Gembala-Pemenang (Mengenang Alm. P. Drs. Nikolaus Seran, SVD,MA)