Panggilan Savana (3)

Oleh: Blasius Mengkaka, S.Fil

Savana yang rimbun, hijau, bergoyang ditiup semilir angin, hujan, lumpur dan kedinginan serasa pas bagi dunia Yossy. Bau pesing air kencing sapi, kuda dan ternak bercampur lumpur dan kotoran ternak di alam memang terlalu amburadul untuk dihidupi. Namun itulah kehidupan Yossy kini. Ia bukan type orang yang inginkan hidup terkurung di kamar rumahnya namun ia mau berjuang untuk menghasilkan produksi daging sapi yang bagus di tengah derasnya tuntutan manusia sedaerahnya akan kebutuhan daging sapi.

Continue reading Panggilan Savana (3)

Setelah Kematian, Ada Kehidupan

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Sabtu, 25 Januari 2014

     Jumat malam, 24 Januari 2014, saya mengikuti misa requiem bagi alm. Ibu Maria Ignasia Mbabo, S.Pd di rumah duka Halilulik. Ibu Ina adalah sapaan akrab guru yang baru saja meninggal dunia ini. Sehari-hari Ibu Ina adalah guru BP pada SMAN Kimbana, Belu, NTT. Rumah kami bertetangga dengan rumah ibu Ina. Malam itu, dalam rasa duka saya berkunjung untuk memberikan penghormatan terakhir di depan jenasahnya. Kulantunkan untaian doa Bapak Kami dan Salam Maria dalam kalbuku untuk peristirahatan kekal jiwa almarhumah. Dari tepi peti jenazahnya, kulihat, Ibu Ina berbaring tenang dan damai. Semoga Tuhan mengampuni dosanya dan menganugerahkan hidup kekal kepada beliau, doaku dalam hati. Setelah memberikan penghormatan, sayapun keluar dan berbaur dengan para pengunjung yang terbanyak ialah kaum keluarga, handai taulan dan rekan-rekan gurunya. Selang beberapa saat kemudian, keluarga mengumumkan bahwa beberapa menit lagi akan diselanggarakan misa requiem. Wah..bahagia rasanya mengikuti misa requiem.

     Beberapa saat kemudian misa requiempun dimulai. Pemimpin misa ialah seorang Imam Fransiskan yang pernah bertugas di paroki Cilincing Jakarta. Ia kini mengabdi di Keuskupan Atambua bagian pastoral Legio Mariae. Rupanya Ibu Ina semasa hidupnya ialah seorang aktivis Legio Mariae. Malam itu, saya sibuk untuk mengingat kotbah dan ayat Injil yang dibacakan oleh sang imam pengkotbah. Nas Injil diambil dari Yoh. 6: 25-40 tentang roti hidup. Saya tertarik dengan ayat di mana Yesus mengatakan bahwa “Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepadaKu ia tidak akan lapar lagi dan barang siapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi…”. Pater menjelaskan perikop ini dengan pemahaman yang bagus dan mudah dimengerti umat melalui sebuah ceritera. Ia berkata, “Saya ingin mensharingkan sebuah pengalaman pastoral saya yang membuat saya hingga saat ini menjadi percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian”, kata sang pengkotbah malam itu.

     “Ada 2 saudara-saudari kandung di sebuah tempat di Jakarta. Sang puteri memilih masuk biara dan menjadi suster, dan seorang lagi hidup dalam kesesatan yang luar biasa. Akibat cara hidupnya yang sesat maka hingga kematiannya ia dalam posisi tersesat. Mendengar peristiwa ini sang saudari yang merupakan suster menjadi sedih. Suster itupun selalu mendoakan keselamatan arwah si tersesat yang adalah saudara kandungnya lalu pergi ke rumah mereka untuk melayat. Pada suatu malam, dalam biara suster di mana saudarinya hidup sebagai biarawati, berkumpullah para biarawati di kapela. Mereka masing-masing berdoa kepada Tuhan Yesus. Seorang suster, sahabat saudari si tersesat itu berdoa bagi keselamatan jiwa orang yang mati itu. Tiba-tiba ia merasa bahwa ada tangan yang mengkorek-korek perutnya seraya berbisik, “Doakanlah saya terus ya? Jalan saya sedang gelap..” kata jiwa dalam alam gaib berbisik kepada suster itu. Doapun selesai dan mereka berkumpul di ruang makan biara.

     Sementara makan, jiwa orang mati itu masuk ke dalam diri suster. Seluruh penghuni biarapun tekejut. Suster itupun di bopong ke dalam kamar tidurnya. Tiba di kamar tidur, jiwa orang mati itu berbicara melalui suara suster. Ia meminta untuk bertemu dengan seorang imam. Para susterpun meminta saya datang menemui suster yang keserupan itu. Tiba di depannya jiwa orang mati yang masuk ke dalam diri suster itu meminta agar dirinya memperoleh sakramen orang sakit, pengakuan dosa dan komunio. Jiwa itu bahkan memberi nomer HP dari saudarinya yang merupakan suster di biara itu. Setelah dicek ternyata no. HP itu benar. Maka sebagai seorang imam, sayapun mengikuti apa yang diminta oleh jiwa itu. Saya memberi sakramen orang sakit, mendengarkan pengakuannya dan memberinya komunio. Setelah semua beres, jiwa orang itupun berkata, “Sekarang jalan saya sudah terang”. Setelah itu sayapun menyuruh jiwa itu pulang dan tak berapa lama kemudian suster itu menjadi normal kembali”.

     Imam, sang pemimpin perayaan misa itu menandaskan bahwa berdasarkan pengalaman itu ia yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian. “Dalam peristiwa kematian, kehidupan bukannya berakhir namun kehidupan masih berlanjut dalam transformasi baru. Jiwa-jiwa kaum beriman tetap bersama kita. Mereka menanti doa-doa kita dan apabila mereka telah berada di surga akibat doa-doa kita maka mereka akan menjadi pendoa kita juga. Jadi ada semacam hubungan timbal balik, kita mendoakan mereka untuk selamat lalu mereka setelah selamat akan mendoakan kita supaya selamat seperti mereka. Pengalaman ini menyadarkan saya untuk selalu berdoa kepada arwah sanak keluargaku setiap hari. Setiap kali saya selesai mendoakan mereka, hati saya jadi tenteram dan saya dapat menjalankan tugas pastoral dengan aman. Sangat penting bagi kita yang masih hidup untuk mendoakan jiwa orang yang telah meninggal dunia, terlebih keluarga kita. Dengan mendoakan arwah, kita akan hidup baik dan benar. Nilai hidup bagi kita ialah terletak pada kebaikan dan kebenaran. Kebaikan dan kebenaran ialah nilai yang paling tinggi dalam kehidupan ini dan bertahan abadi”, kata Pastor pemimpin perayaan itu dengan suara tegas.

     Saya beryukur bisa mendapatkan ilmu baru dalam kesempatan misa reqiem rekan guru SMA ini. Kotbah ini tentu menyadarkan saya untuk percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Bahwa kita harus terus mendoakan arwah orang beriman yang meninggal dunia terlebih arwah keluarga kita. Mereka tetap bersama kita dan mendoakan kita. Terlebih bahwa kita harus terus mengejar dan mempraktekkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran selama hidup ini sebab nilai-nilai itu akan bertahan selama hidup di dunia ini dan tetap bertahan dalam kehidupan di dunia sana. Dalam kesempatan makan malam sebelum berpisah ke rumah kami masing-masing, saya sempat berbisik kepada Pater bahwa ilustrasi dan kotbah tadi merupakan ilustrasi dan kotbah yang bagus. Saya belajar dari semuanya untuk kehidupanku.

                                 ________________________________