Lalian: Tungku Masak Kuno di Situs Lo’okeu-Fatumea

Penulis: Blasius Mengkaka

Posted: Senin, 4 November 2013

          

Foto Lali’an kuno sebagai salah satu wujud peradaban subbangsa tetum 

Kurang lebih 20 meter jaraknya dari pohon Beringin (Hali) dari arah jalan masuk ke pohon Beringin sebagai tempat di mana kami bermalam, melakukan musyawarah adat dan makan bersama, saya menemukan sebuah tungku kuno orang tetum yang disebut Lali’an. Lali’an merupakan tungku masak kuno bagi orang tetum yang tersusun dari 3 batu alam kokoh. Di atas ketiga bongkah batu kokoh itu, orang tetum melakukan aktivitas masak-memasak. Lali’an kuno yang tersusun dari 3 batuan kokoh ini lebih kuat dan bertahan lama dari pada Lali’an yang terbuat dari bongkahan batu bata, 2 tonggak kayu tegak atau Lali’an yang digali dalam tanah. Dengan adanya penemuan Lali’an yang tersusun dari 3 bongkah batu kokoh ini dapat diperkirakan bahwa peradaban Lali’an ini merupakan hasil asimilasi antara peradaban tetum berupa sastera, hukum dan tata organisasi dengan peradaban Hindu-Budha di mana sejak masa ini kebiasaan melakukan ritual adat-spritual orang tetum selalu dibarengi dengan acara makan bersama.

Acara makan bersama disuguhkan oleh para lelaki pembawa acara adat untuk masyarakat suku atau pengikutnya. Makan bersama bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan demi kelangsungan hidup manusia melainkan makan bersama demi keharmonisan relasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Dewata. Lali’an yang saya temukan ini berada terpisah dari Lali’an-Lali’an yang didirikan di dalam naungan pohon Beringin. Hal ini menimbulkan penafsiran bahwa markas aktivitas adat di Situs Lo’okeu-Fatumea rupanya mengambil tempat yang berbeda-beda.Peradaban besar subbangsa Tetum sebenarnya bermula dari peradaban membuat dan beraktivitas di Lali’an.

Lali’an merupakan sumber dari mana masyarakat tetum mendapatkan energi untuk memenuhi kebutuhannya akan makan dan minum yang dimasak dengan perapian. Peradaban mendirikan Lali’an menunjukkan kemajuan peradaban beberapa langkah lebih maju dari peradaban manusia sebelumnya yang menghuni kawasan yang sekarang ini didiami oleh orang tetum dan terus berlangsung selama berabad-abad bahkan hingga saat ini sebab di sekitar tungku kuno ini biasanya dibentangkan tikar sebagai tempat orang tetum bermusyawarah, mengambil keputusan, makan bersama dan merajut ikatan kekeluargaan yang kokoh. Menurut penelitian bahwa sebelum orang Tetum tiba, telah lebih dahulu tinggal masyarakat atoni yang kemudian terdesak ke arah bagian barat pulau Timor.

Oleh kemajuan peradaban orang tetum, Masyarakat tetum lalu mengambil alih daerah tetum yang sekarang ini, mendirikan tata pemerintahan yang meliputi wilayah seluruh Timor dan menganggap bahwa wilayah yang membentang dari daerah tetum Belu Selatan dan wilayah Tetum Tasifeto merupakan tanah air, tanah hak ulayat dan tanah terjanjian yang diberikan Dewata bagi orang tetum. Pendirian Lalian dibarengi dengan mulainya seni pembuatan alat-alat dapur yang terbuat dari tanah liat, kerajinan membuat logam tuangan. Singkatnya aktivitas masak-memasak menuntut orang tetum harus bekerja untuk membuat peralatan memasak baik dari tanah liat maupun dari logam.

Realitas pendirian Lali’an menunjukkan rasa kebanggaan orang tetum sebagai penemu api untuk kehidupannya. Api didapatkan melalui gesekan batu-batu api yang diperoleh manusia di sekitar Situs, juga melalui hasil gesekan 2 buah ruas bambu yang menghasilkan api untuk kebutuhan masak-memasak.Lali’an boleh dianggap merupakan pusat kehidupan masyarakat tetum, bukan hanya untuk kebutuhan hidup, kebutuhan berorganisasi, bertemu dan menjalin kekeluargaan namun merupakan pusat religi-spritual orang tetum baik dengan sesamanya, dengan alam dan dengan Sang Dewata Yang Maha Agung.

              ________________________________________________

Orang Yang Berbudi Luhur Akan Dikenang

Meneliti, mengikuti dan menyaksikan setiap pesta adat di Belu, saya mengambil kesimpulan bahwa pesta adat membawa nilai yang sangat patut dimiliki oleh generasi bangsa Indonesia zaman kini yakni upaya memupuk dan meningkatkan nilai-nilai luhur, berbudi mulia, rela berkorban dan murah hati. Setiap kali saya turun ke kampung sebagai pengamat dan peneliti budaya yang aktif, saya memiliki keyakinan bahwa di balik Situs-Situs adat yang telah didirikan telah membawa kehormatan bagi para pemimpin klan yang telah bermurah hati untuk mengorbankan sedemikian banyak hewan dan makanan selama pesta adat berlangsung berhari-hari. Mereka memiliki sikap murah hati dan berhati mulia. Oleh sikap murah hati, berhati mulia, suka membantu dan mencintai kehidupan manusia, para leluhur orang tetum selalu dikenang oleh anak cucunya.

Continue reading Orang Yang Berbudi Luhur Akan Dikenang

Santap Adat Bersama

Puncak acara adat klan tetum Lo’okeu di Fatumea ialah jamuan makan bersama. Makan bersama ala klan tetum Lo’okeu ini terasa unik karena dilakukan di bawah naungan pohon Beringin di kota tua (Altstadt). Tujuannya selain untuk bisa bertahan hidup, namun lebih dari itu ialah untuk meningkatkan persaudaraan, keutuhan, keakraban dan kebersamaan sesama anggota klan tetum Lo’okeu yang menghadiri acara adat. Para pria mempunyai tugas utama menyiapkan hidangan daging babi sedang ibu-ibu atau wanita menyiapkan hidangan nasi yang langsung disiapkan di dalam piring plastik. Uniknya para pelayan yang menghantar hidangan ke hadapan para tamu semuanya merupakan para pemuda tanggung. Para tamu duduk di dalam tikar atau langsung pada lantai tanah dalam formasi melingkar dan rapat.

Setiap orang mendapatkan jatah sepiring nasi dengan daging babi dan daging ayam rebus yang telah dipotong pendek, kuah daging babi atau ayam rebus, sepiring nasi tambahan dan garam-lombok. Setelah melalui tegur sapa adat maka acara makanpun dimulai. Sapaan tegur sapa adat sebelum makan ialah: “He’i…. mane merik no feto merik sia, ami hahuluk oanan eee” kontan para pelayan akan menjawab, “Heheheee….”, Artinya: “Wahai para pria dan wanita pelayan, kami minta ijin untuk mulai santap” lalu para pelayan menjawab, “Yaaaa, silahkan”.

Demikianpun setelah selesai makan perlu dilakukan sapaan adat yang menandakan bahwa acara makan selesai. Oleh karena jumlah peserta untuk acara makan lumayan banyak, maka perlu dibuatkan sekitar 4 kali rombongan makan. Rombongan pertama dan kedua ialah pria-pria. Rombongan ketiga ialah pria-pria penyiap daging hidangan yang disebut ema rasan sia. Sedangkan rombongan terakhir biasanya wanita-wanita. Setelah selesai acara makan, setiap orang yang ikut acara adat mendapatkan seikat daging babi yang telah dimasak untuk dibawa pulang ke rumah atau keluarganya. Penulispun mendapatkan seikat daging babi rebus kecil yang disebut na’an tatuk untuk dibawa pulang ke rumah. Oleh karena rasa lapar yang membuatku sedikit kepayahan maka hidangan ini terasa begitu nikmat untuk disantap hingga tandas.

Ibu-ibu dan para wanita muda menyiapkan nasi dalam piring-piring plastik

Ibu-ibu dan wanita muda menyiapkan hidangan nasi di dalam piring-piring

Para pria sedang memotong-motong daging mentah untuk direbus. Babi-babi yang dikorbankan adalah 26 ekor babi dan sekitar 18 ekor ayam dalam acara adat di Situs Lo’okeu-Fatumea

Para pria sedang memotong daging yang telah dimasak menjadi bagian kecil-kecil

Duduk melingkar untuk makan bersama menggalang persaudaraan klan

Makan bersama

Makan bersama

                                      _________________________

Adat: Harmonisasi Kehidupan

Penulis: Blasius Mengkaka

Posted: Selasa, 22 Oktober 2013

Ritus adat tetum merefleksikan kepada kita tentang upaya untuk membangun kembali keharmonisan antara manusia dengan alam, Dewata dan leluhur juga dengan sesamanya. Di tengah-tengah kemajuan ilmu dan teknologi yang kian pesat melanda dunia, manusia dihadapkan pada persoalan kerusakan alam, pengingkaran terhadap keberadaan Tuhan, pengingkaran terhadap keberadaan norma adat dan adanya permusuhan antara manusia. Justeru ritus adat mengingatkan kita untuk kembali ke akar peradaban manusia sendiri. Kembali ke akar peradaban berarti melihat kembali upaya manusia untuk menjaga keutuhan ciptaan Tuhan, memulihkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, leluhur dan sesamanya.Cinta yang dibangun dalam persaudaraan adat merupakan cinta yang memandang manusia sebagai sama saudara dalam iklim solidaritas. Solidaritas berarti memandang sesama sebagai saudara untuk saling menopang dan mendukung dalam suasana cinta persaudaraan itu sendiri sebab dalam ritus adat Timur di manapun, orang dituntut untuk tampil asli tanpa kepalsuan, orang perlu tampil mengejar nilai-nilai sambil memancarkan kebaikan dan keharmonisan yang dibangun dalam suasana keterbukaan dan kehangatan.

Dewasa ini kehadiran agama-agama teristimewa agama kristen dan muslim memberi tempat bagi adanya ritus adat. Adat melengkapi apa yang kurang pada agama dan juga pemerintah sebab orientasi adat adalah persaudaraan dan kekeluargaan. Justeru di dalam persaudaraan dan kekekeluargaan ini, Tuhan hadir dan menyapa manusia, juga pemerintah hadir untuk mendatangkan kesejahteraan. Keluarga atau kekeluargaan merupakan kesatuan masyarakat yang merupakan basis bagi agama dan pemerintah. Bila keluarga atau kekeluargaan kuat maka agama dan pemerintah akan kuat pula. Di dalam iklim kekeluargaan itu, kehendak Allah harus memancar secara merata dan sama, baik di dunia ini maupun juga di surga kelak. Bila kehidupan di surga dimengerti sebagai sebuah persukutuan yang di dalamnya ada persaudaraan, kekeluargaan dan solidaritas, demikianpun kehidupan di bumi harus juga menciptakan persekutuan antara manusia sendiri. Di dalam persekutuan antara manusia itu, kehendak Allah tinggal dan memancar penuh keadilan.

Di dalam norma adat, manusia harus kembali tertegun untuk mengingat kembali sejarah kehidupan leluhurnya sebab manusia adalah makluk yang dilahirkan dalam sejarah dan dalam silsilah sama seperti Kristus yang lahir dalam sejarah dan silsilah. Dengan demikian ia mengetahui dan menemukan siapakah sesungguhnya dirinya dan bagaimana dia dapat menempatkan dirinya di dunia (alam), bagaimana ia membangun relasinya dengan Dewata dan sesamanya.Dengan membangun keharmonisan dengan alam, sesama dan Dewata ekistensi manusia tetum terarah ke arah masa depan. Keasilan dan keharmonisan membawa manusia ke masa depan sebab dalam keaslian dan keharmonisan kehidupan akan muncul dan berlalu silih berganti dari generasi ke generasi. Di sana, Tuhan akan memandang mereka sebagai umatNya dan mereka akan memandang Tuhan sebagai Tuhan mereka

Acara adat hanaran ba beis sia sebelum berangkat menuju Situs (gambar 1)

Acara adat hanaran ba bei sia sebelum ke lokasi Situs (gambar 2)

_______________________________________________

Ritus Adat Utama di Ailor-Aito’os

Penulis: Blasius Mengkaka

Posted: Minggu, 20 Oktober 2013

Tua-tua adat sepakat bahwa bangunan tiang berukir yang nampak agung ini merupakan Situs utama Lo’okeu di Fatumea. Inilah bangunan Situs utama yang menjadi buah bibir dan titik perhatian klan Lo’okeu yang menghadiri ritus adat ini. Menurut penuturan para tetua adat Lo’okeu, bangunan kayu berukir ini menjadi tiang utama dan menyimpan jejak-jejak suku tetum dari klan Lo’okeu. Di tempat di mana bangunan Situs ini berdiri telah dikorbankan ribuan hewan termasuk kerbau selama bertahun-tahun. Oleh karena sebagai tiang utama Situs, para anggota klan selain melakukan ritus adat memohonkan berkat Dewata, juga sebagai upaya untuk mendapatkan kekuatan magis tetum berupa pengambilan aikakaluk. Tampak dalam gambar, pohon terkelupas akibat kulit pohon diambil untuk aikalaluk, demikian juga dedaunan, akar-akar tetumbuhan di sekitar bangunan Situs utama. Fungsinya sebagai kekuatan magis dalam menolak bala atau untuk membantu kehendak dan cita-cita masyarakat klan tetum.

Bangunan kayu berukir ini terletak pada sebuah ketinggian yang agak sulit dicapai karena melewati jalan tikus dan berbatu-batu. Dengan susah payah saya berusaha untuk mencapai lokasi ini, namun sekitar 100 m dari lokasi situs saya merasakan sebuah pengaruh hebat akibat pancaran daya magis dari Situs. Oleh karena merasa tak mampu melangkah ke depan, sayapun berhenti untuk beristirahat sejenak lalu memutuskan turun kembali ke markas besar, di mana duduk para tetua adat dan semua anggota klan Lo’okeu. Semua merasa heran manakala saya kembali dan duduk di bawah naungan Beringin untuk berbaur kembali dengan para anggota klan yang lain.

Sayapun dengan diplomatis mengemukakan alasan ialah bawah saya tak cukup kuat untuk berjalan hingga ke lokasi Situs. Sebelumnya saya telah meminta Melikior Tefa Moruk, yang saya panggil kakek dari satu leluhur yang bernama Bei Ote untuk dia bisa mengambil foto-foto dari jarak dekat. Memang akhirnya beliau dan pembantunya telah berhasil dalam merekam semua aktivitas di Situs bersejarah tersebut. Kita patut berterima kasih kepada beliau dan pembantunya karena hasil jepretan mereka telah membuahkan foto-foto yang menjadi dokumentasi acara ritus adat di Umalor-Aitoos, di mana Ailor-Aitoos diyakini sebagai Situs utama tetum Lo’okeu di Fatumea.

Jalannya acara adat di Situs utama tersebut sama dengan acara pada Situs yang lainnya. Bahan-bahan persembahan ialah daun sirih segar dan pinang yang ditaruh di dalam kasui atau tasak. Pemimpin ritus mengucapkan doa-doa mohon perlindungan, berkat dari Dewata bagi karya dan usaha anggota klan lalu menyembelih babi, di mana darah babi kemudian diteteskan ke permukaan bahan persembahan dan tiang Situs. Setelah babi berhasil dibunuh maka rombongan kembali ke naungan pohon Beringin untuk melanjutkan acara pemotongan hewan korban. Di Situs utama ini selain persembahan dan pengorbanan hewan kurban juga dilaksanakan pengambilan aikakaluk untuk kepentingan cita-cita dan usaha masyarakat klan Lo’okeu.

Ritus adat di Situs utama Ailor-Aitoos. Ailor-Aitoos merupakan tiang berukir yang menjadi buah bibir masyarakat klan Lo’okeu

                    

          Pengambilan aikakaluk di Situs utama Ailor-Aitoos

____________________________________________________

Ritus Adat Krau Natar

Penulis: Blasius Mengkaka

Posted: Minggu, 20 Oktober 2013

Ritus adat krau natar ialah ritus adat untuk memohonkan berkat, perlindungan dan kelimpahan hasil ternak, utamanya ternak sapi. Ternak sapi merupakan ternak piaraan utama bagi orang tetum sejak zaman dahulu. Mula-mula yang diternak ialah jenis kerbau hitam yang bertanduk melengkung. Kerbau Timor jenis ini senang berkubang di sungai atau kali. Akibat perubahan cuaca dan musim, maka kerbau Timor akhirnya menjadi berkurang. Hal ini disebabkan perkembangbiakan kerbau Timor lebih lamban dalam berkembang biak. Oleh karena lamban berkembang biak maka keberadaan kerbau Timor semakin tergeser oleh keberadaan sapi-sapi berkulit kemerahan yang didatangkan kemudian.

Meskipun demikian untuk acara adat, penyembelihan kerbau hitam Timor yang bertanduk memiliki prestise lebih besar dari pada sapi-sapi sebab harga seekor kerbau Timor lebih mahal dari seekor sapi kemerahan. Selain yang disebutkan di atas, populasi kerbau Timor semakin menipis disebabkan pemanasan global sebab kerbau Timor suka berkubang di lumpur atau sungai, padahal sungai yang berlumpur semakin tidak ada. Lagi pula perkembangbiakan sapi-sapi berwarna kemerahan yang relatif lebih cepat dan subur karena perkembangan ilmu dan teknologi peternakan modern.

Bagi seorang tetum, memiliki banyak sapi merupakan prestise sosial. Seringkali kedudukan sosial seseorang ditentukan oleh karena kekayaan jumlah sapi yang dimilikinya. Semakin banyak sapi, seorang suku tetum akan semakin dihargai. Sapi memegang peranan penting sebagai benda untuk belis atau masa kawin, untuk pesta adat, biaya kebutuhan hidup seperti untuk untuk membangun rumah dan juga untuk membiayai anak-anak bersekolah. Pada umumnya setiap keluarga tetum memiliki sapi-sapi baik yang dipelihara dalam kandang maupun yang diikat atau diparon. Sapi yang dikandangkan terdiri atas sejumlah sapi jantan, betina dan anak-anak sapi. Kandang sapi biasanya dibuat di depan, di samping atau di belakang rumah berbentuk pagar kayu bulat atau melingkar tertutup di mana pada salah satu sisi kandang dibuatkan pintu kandang yang dapat dibuka atau ditutup oleh pemiliknya .

Seorang bapak keluarga tetum pada umumnya menjadi petani sekaligus peternak sapi-sapi. Bila sapi diternakkan dengan cara dikandangkan maka sapi-sapi itu dikeluarkan sejak pagi menuju ke lapangan rumput untuk merumput hingga siang hari. Pada siang hari, penggembala akan menuntun sapinya menuju sungai untuk minum air. Selanjutnya sapi-sapi dikembalikan ke lapangan untuk merumput hingga senja. Pada senja hari, sapi-sapi di bawah pulang ke kandangnya. Para pengembala biasanya membawa makanan sejak pagi bila mengembalakan sapi-sapi. Bila mereka tidak membawa makanan, maka pengembala akan memasak makanannya sendiri di kebun.

Ritus adat krau natar secara esensial dilakukan untuk memohon perlindungan, berkat dan hasil melimpah untuk ternak sapi sebab sapi-sapi yang diternakan sering terancam wabah penyakit, sulit berkmbang biak, pencurian, kehilangan, memasuki kebun orang secara tidak terkontrol. Bahaya-bahaya seperti ini bisa dielakan melalui ritus adat krau natar. Selanjutnya melalui ritus adat ini Yang Maha Kuasa akan memberikan berkatnya untuk kelimpahan hasil ternak demi kesejahteraan orang tetum.

Jalannya acara adat ialah, mulai tahap persiapan bahan persembahan berupa daun sirih segar dan pinang kering/mantah. Bahan-bahan persembahan ini diletakkan di dalam koba atau tenasak. Selanjutnya tua-tua adat mendoakannya dalam bahasa tetum. Sirih-pinang dalam tanasak mewakli ujud-ujud dan leluhur-leluhur serta juga para penunggu tanah adat. Kesemuanya pada akhirnya menunjukkan kepada Sang Maha Kuasa atau Sang Dewata yang disebut sebagai Lolo Liman Lato’o Bi’i Ain La Dais dan Nai Maromak yakni Sang Maha Terang. Setelah persiapan persembahan dan doa singkat selesai, para pelaksana ritus adat membawa semua persembahan ke atas altar batu yang khusus untuk adat krau natar.

Melalui doa-doa singkat oleh tua-tua adat selanjutnya hewan korban babi disembelih. Darahnya diperciki ke atas bahan-bahan persembahan dan altar batu. Selanjutnya darah yang lain ditampung ke dalam sebuah wadah. Setelah babi mati, maka selanjutnya ialah menguliti daging babi tersebut. Setelah itu masih ada cara lain yang disebut acara adat hamis. Hamis artinya memberi makan. Bahannya ialah potongan daging hati, isi, dll yang sudah dimasak dicampurkan dengan nasi lalu ditaburkan ke atas altar persembahan. Setelah semuanya beres maka selanjutnya ialah acara makan bersama dan selesai.

Ritus adat tetum krau natar di salah satu Situs Lo’okeu-Fatumea

Foto ritus adat tetum krau natar dalam posisi lain

                 ___________________________________________________

Ritus Adat Hola We Lulik

Penulis: Blasius Mengkaka

Posted: Sabtu, 19 Oktober 2013

Salah satu ritus adat utama yang dilakukan pada Situs Lo’okeu di Fatumea ialah ritus adat hola we lulik. Secara etimologis, hola we lulik berarti mengambil air suci. Kesucian air yang dimaksudkan ialah kesucian dalam arti realistis yang artinya terletak di tempat yang tidak bisa dijangkaui dan dicemarkan oleh zat-zat, hewan-hewan dan manusia. Selain itu kesucian air yang dimaksudkan juga ialah kesucian sebagai akibat dari permohonan kepada Dewata melalui ritus adat. Maka we lulik secara realistis ialah air alam yang diyakini suci atau bersih secara alamiah dan merupakan pemberian Dewata bagi manusia tetum untuk menyucikan manusia tetum. Dengan kesucian realistis ini, maka kemudian dilanjutkan dengan kesucian secara ritus adat melalui acara persembahan adat kepada Dewata berupa daun sirih segar dan pinang dalam wadah tanasak anyaman kemudian sapaan adat mendahului ritus pengurbanan hewan berupa babi atau kerbau.

Acara adat hola we lulik ini dilakukan pada jam 18.45 Wita, saat mana matahari telah tenggelam. Para tetua adat membawa segala macam perlengkapan menuju ke sumber air suci yang terletak sangat rahasia di balik hutan dan semak-semak. Di sana terdapat sebuah mata air yang diyakini merupakan pemberitan Dewata bagi orang tetum. Terdapat sebuah Situs altar batu di dekat sumber air suci tersebut. Di atas altar batu itulah dilaksanakan ritus adat kepada Dewata sebagai tanda peresmian secara adat bahwa air yang telah melewati ritus adat itu dianggap suci dan pantas digunakan sebagai sarana berkat bagi anggota suku. Itu berarti setelah pengresmian air suci, air yang dianggab suci itu memiliki makna kesucian dalam dirinya sendiri dan kemudian oleh keyakinan maka daya kesuciannya kemudian menyebar ke atas dunia dan manusia sebagai berkat untuk perlindungan, kesejahteraan, kemakmuran, kesegaran bahkan demi kelangsungan kehidupan manusia sendiri.

Oleh karena di sekitar sumber air suci itu terdapat sebuah altar batu sebagai tempat persembahan kepada Dewata dan acara penyembelihan hewan kurban maka dapat diduga bahwa umur acara adat ini sudah diperkirakan telah berlangsung lama dari generasi ke generasi orang tetum. Para tetua adat tetum dan para pemuda putera dari tetua adat tetum membawa juga wadah berupa botol-botol, tabung bambu, jerigen atau ember untuk membawa pulang air suci itu ke rumah suku masing-masing atau ke rumah keluarga besarnya. Air suci yang dibawa pulang itu nantinya akan digunakan sesuai keperluan masing-masing orang, pada umumnya untuk kepentingan perlindungan, berkat, kesegaran, kesucian dan kemakmuran orang tetum.

Oleh karena medan di mana pelaksanaan acara adat hola we lulik ini terbilang berat, maka saya tidak bisa menghadiri acara adat hola we lulik ini, melainkan saya memberikan tustelku untuk Melkior Tefa Moruk, putera dari Bei Rafu yang adalah adik dari nenek buyutku Bei Rosina Aek. Dia berhasil mengambil beberapa foto langsung dari jarak dekat selama ritus adat hola we lulik dan beberapa ritus adat lainnya dilaksanakan. Namun gambaran tentang prosesi adat hola we lulik ini diarahkan melalui markas besar acara adat di bawah pohon Beringin, di mana hadir juga Bapak Hironimus Tita, putera nai Lookeu yang terakhir. Selama ritus adat ini, beliau mengarahkan dari bawah pohon Beringin dan saya selalu meminta beberapa tanggapan dari beliau.

Sumber air suci yang akan diambil itu berupa sebuah sumber air khusus yang diyakini secara bersama oleh orang tetum di mana air suci itu harus mengalir asli dari dalam tanah. Setiap suku dari subbangsa tetum memiliki air sucinya masing-masing. Air suci dari suku bangsa tetum-Lo’okeu berasal dari tanah kemudian air suci itu dipasangi sebuah bambu menjadi sebuah pancuran kecil. Mungkin debit air itu pada awalnya memang besar, namun memasuki musim kemarau, apalagi umur air itu diperkirakan sudah lama maka debitnya menjadi kecil. Melkianus Tefa Moruk berhasil mengambil foto pancuran air kecil yang diyakini sebagai sumber air suci pemberian dan berkat dari Dewata bagi orang tetum melalui ritus adat hola we lulik. Saya akan memposting foto itu juga di artikel ini.

Altar batu tempat melaksanakan persembahan kepada Dewata dan air yang telah diambil dalam wadah diletakkan di sekitar altar batu

Mengambil air suci dari pancuran yang dialirkan dari mata air suci

Ritus adat penyembelihan korban babi di altar batu untuk pengambilan air suci

__________________________________________

Bermalam dan Sarapan Pagi di Hutan Fatumea

Penulis: Blasius Mengkaka

Posted: Jumat, 18 Oktober 2013

Pada tanggal 14 Oktober 2013, saya bermalam bersama rombongan peserta dan orang yang menyaksikan acara adat di bawah pohon Beringin. Kami tidur tanpa alas tikar. Beruntung bahwa mamaku membawa juga sebuah kain adat Kusa, dengan kain adat Kusa itu, sayapun terlelap di tengah malam yang gulita di bawah pohon Beringin. Pada sekitar jam 19.00 Wita, datang hujan yang cukup deras namun hanya berlangsung sekitar 10 menit saja. Namun akibat hujan yang singkat itu telah membawa kedinginan juga. Saya melewati malam itu sambil berdiang di perapian atau menonton para pemotong daging kurban sedang bekerja. Mereka memotong-motong daging kurban itu atas bagian-bagian kecil untuk santap siang esok harinya dan untuk di bawah pulang ke rumah.

Malam itu sayapun sempat berbincang-bincang lama dengan beberapa guru dan tetua adat tetum yang tinggal di Fatumea. Para guru SD dan SMP di Fatumea itu berceritera bahwa anak-anak sekolah di Timorleste saat ini sedang berlibur 3 bulan penuh. Selama berlibur 3 bulan ini, para gurunya sedang mengikuti pelatihan para guru di Suai. Di seluruh Distrik Suai hanya didirikan sebuah SMA, sementara di setiap desa didirikan beberapa SD, hanya ada beberapa SMP di kota kecamatan. Sementara Merin Aman menceriterakan tentang aktivitasnya sebagai penjaga tempat Situs Lo’okeu. Ia membuka kebun juga di sekitar lokasi Situs sambil mengawasi orang-orang agar tidak boleh mendekati Situs ini.

Tidur bersama di malam yang sunyi membuat saya gampang tertidur meskipun tanpa alas alias langsung di tanah saja namun kenyamanannya luar biasa. Saya langsung nyenyak hanya beberapa menit berbaring. Tak terasa hari sudah menjelang pagi. Suara Palmeru de Fatima alias Merin Aman terdengar nyaring. Ia meneriakkan anak-anak remaja yang masih tidur supaya segera bangun untuk mengambil air di pancuran dan memungut kayu kering. Air dan kayu bakar sangat penting untuk memasak. Kami harus makan siang sebelum berangkat pulang kembali ke rumah kami masing-masing.

Pada 15 Oktober 2013, pukul 06.00 Wita, saya melangkah keluar ke arah hutan kayu putih di sekitar tempat kami bermalam. Beberapa anak lelaki dan wanita sedang memungut kayu kering, beberapa sedang menimbah air. Saya menegur mereka sambil berlalu. Tujuan saya ke hutan ini ialah saya ingin memotret matahari terbit. Namun tidak lama kemudian mamaku mengirimkan saya kopi yang ditaruh di dalam sebuah botol Aqua. Empat orang anggota keluarga dari satu leluhur mengantarkan minuman itu kepada saya. Saya meminta diberikan 3 gelas agar kami dapat minum kopi bersama-sama pada pagi yang dingin pada tengah hutan kayu putih. Senang dan sedap rasanya minum kopi di tengah hutan. Terasa begitu alamiah. Saya nikmati saja kopi hitam itu sambil berpikir untuk kembali sebentar siang nantinya. Namun sebelum kembali, kami masih harus makan siang lagi. Setelah makan siang barulah kami bergegas pulang sambil memikul barang-barang yang lumayan berat.

Bermalam di bawah pohon Beringin

Tidur seadanya melewati malam tanpa selimut, tikar dan bantal. Hanya bersandar pada akar pohon Beringin

Sarapan pagi bersama dengan minum kopi di tengah hutan, nikmat…

Hutan kayu putih di Fatumea-Timorleste di depan kami minum kopi

Matahari terbit di Fatumea, tak seindah dulu namun tidak terlalu buruk untuk difoto

__________________________________________

Lokasi Situs Yang Penuh Larangan

Penulis: Blasius Mengkaka

Posted: Jumat, 18 Oktober 2013

Selain melaksanakan pengorbanan hewan korban babi di Situs, para peserta rituspun mendapatkan kesempatan untuk memungut dedaunan, kulit kayu atau akar yang diyakini memiliki kekuatan untuk hidup (Foto: Dokpri)

Ritual adat pada Situs kerajaan Lo’okeu di Fatumea membawa sedikit nuansa arkhais. Itulah sisi lain yang ikut berperanan di dalam ritus adat tetum ini. Dengan melakukan ritus adat demikian maka daya magis manusia tetum menjadi meningkat. Salah satunya dengan pengambilan Aikakaluk sebagai sarana meningkatkan daya magic manusia tetum. Mereka yakin bahwa dengan daya magis yang dimilikinya, manusia tetum dapat memperoleh kekuatan untuk mengatasi persoalan dalam hidupnya padahal dengan daya magis yang dimilikinya seringkali orang tetum bertindak dan berpikir dengan sangat irasional. Oleh karena salah satu orientasi dari acara adat itu ialah usaha untuk mendapatkan daya magis maka saya tidak bisa mendekati lokasi acara adat pengorbanan hewan korban babi di empat tempat lokasi Situs tersebut secara langsung melainkan saya cukup memberikan tustel saya untuk Melichior Tefa Moruk yang sampai di lokasi itu untuk mengambil foto-foto.

Dalam foto-foto tersebut bisa dilihat bahwa selain melakukan pembunuhan hewan korban, para peserta rituspun sedang memungut akar, kayuan dan dedaunan yang diyakini membawa berkah melimpah untuk kehidupan mereka. Lokasi pertama merupakan lokasi di mana terdapat sebuah tugu kayu berukir yang disebut Aitoos merupakan salah satu bangunan utama dari Situs kerajaan Lo’okeu. Menurut penuturan beberapa tua adat Lo’okeu yang berbicara dengan saya di bawah pohon Beringin, di tugu kayu itu telah dikorbankan ribuan babi dan kerbau selama bertahun-tahun hingga kini. Selain acara ritus penyembelihan korban babi dan kerbau, tugu Aito’os telah menjadi tempat utama pengambilan Aikakaluk sebagai daya magis untuk kepentingan ketahanan dalam hidup orang tetum.

Beberapa larangan adat untuk sampai ke lokasi itu ialah: tidak boleh bersiul, kaki tidak boleh terantuk pada batu, tidak boleh memotong kayu di lokasi Situs, tidak boleh berbicara keras, tidak boleh menipu, tidak boleh memarahi orang, dll. Dengan larangan itu, maka manusia dapat dengan hati murni dapat sampai ke lokasi ritus adat dan kemudian mendapatkan kekuatan magis untuk kehidupannya. Bila orang tetum melanggar larangan ini maka ia tidak akan mendapat daya magis, ia akan mendapat hukuman secara magis bahkan bisa mendatangkan kematian pada dirinya.

Banyak tua-tua di kampung tetum secara umum tahu tentang kekuatan magis pada benda-benda teristimewa pada akar-akar, kulit dan dedaunan tertentu di sekitar Aitoos yang merupakan Situs kerajaan di wilayah Tasifeto. Bila orang mendapatkan kesulitan dalam hidup, karier atau pekerjaannya, benda-benda itu diyakini memiliki daya untuk mengatasi persoalannya.

Keyakinan terhadap daya magis dari benda-benda tersebut dapat menjadi lelucon bagi masyarakat terpelajar yang biasanya menggunakan kemampuan intelektual atau rasionya seperti saya. Namun, saya tetap terdorong untuk memiliki rasa ingin tahu yang mendalam tentang ritual adat ini, teristimewa kekayaan antropologi budaya yang dikandung setiap acara adat tetum. Dengan melakukan penelitian dan pengamatan, kita dapat memiliki pemahaman yang menyeluruh demi membangun suatu sikap yang lebih human dan pemahaman yang lebih ilmiah terhadap setiap ritus adat di Belu. Semoga saya lebih banyak memiliki kesempatan untuk menghadiri dan mengamati dari dekat setiap ritus adat dalam wilayah Tasifeto di Kabupaten Belu-NTT-Indonesia.

             __________________________________________

Bertemu Komandante Santos

Penulis: Blasius Mengkaka

Posted: Kamis, 17 Oktober 2013

Setelah sekitar 2 jam menyelusuri mota Merak kami harus berjalan melalui tanjakan curam di tengah hutan yang sunyi. Kami telah memasuki wilayah Timorleste. Dengan susah payah saya harus mendaki dan berjalan tertatih-tatih. Maklumlah saya belum pernah berjalan dalam sebuah medan penuh onak dan duri di tengah hutan belantara seperti ini. Saya masih beruntung bahwa 2 orang suami isteri sedang mengikuti saya dari belakang. Mereka menjadi sahabat perjalanan saya di tengah hutan Fatumea. Dengan mereka saya berbicara akrab untuk mengusir kepenatan dalam perjalanan yang sangat melelahkan oleh kehausan, 3 jam perjalanan yang melelahkan.

Ketika memasuki hutan belantara Fatumea, segera tercium aroma hutan tanpa tuan dengan sisa-sia kenyataan sejarah di masa lampau yang pernah penuh dengan perselisihan berdarah antara sama saudara sendiri. Negeri yang pernah merupakan negeri penuh konflik ini seolah-olah sedang menjadi sedikit nyata dalam benakku bukan saya rasakan di perkotaan besar Dili dan kota-kota lainnya di Timorleste yang kini sedang sibuk membangun namun di tengah hutan belukar ini. Rasanya seperti saya sedang berada di sebuah tanah tanpa tuan, tanah khaos yang pernah penuh dengan perselisihan demi agama, politik dan idiologi, bukan demi pembangunan kemanusiaan yang penuh cinta kasih.Namun di tengah-tengah persoalan yang menerpa wilayah Timorleste, rahmat Tuhan tetap menyertai orang Timorleste dan keturunannya. Tanah dan penduduk Timorleste juga kaum keturunannya nampaknya masih akan terus ada di dalam naungan Bunda Tuhan dan Kristus sendiri.

Siang yang terik ketika saya tiba di sebuah rimbunan pohon Beringin yang teduh. Di sana sudah menanti rombongan yang sudah tiba lebih dahulu. Mereka sudah mulai membersihkan dedaunan yang berserakan, menggelar tikar dan mulai menyusun rencana acara adat. Beberapa anggota suku Lo’okeu yang tinggal di Fatumea mulai berdatangan ke lokasi. Dalam rimbunan hutan, saya melihat seorang lelaki paruh bayah muncul lalu ia menyalami kami di bawah naungan pohon Beringin. Dia adalah Palmeru de Fatima alias Merin Aman. Dia merupakan malun Lo’okeu yang ditugaskan untuk merawat lokasi Situs Fatumea, seorang kerabat raja Lo’okeu yang ditugaskan untuk mengawasi dan merawat area Situs Lo’okeu di Fatumea.

Palmeru de Fatima memerintahkan mulai menggelar tikar untuk kami semua lelaki. Kamipun duduk melingkar dalam suasana persaudaraan yang tulus. Beberapa saat kemudian muncul juga Komandante Santos. Dia merupakan kepala pos PNTL Fatumea. Pos PNTL terletak kira-kira 3 km dari lokasi kami tinggal. Lokasi kami tinggal merupakan sebuah kompleks kota tua tanpa rumah. Kami sendiri tinggal di bawah naungan sebuah pohon Beringin raksasa berusia ratusan tahun di tengah hutan belantara Fatumea. Inilah Situs kerajaan Lo’okeu yang kebetulan daerahnya sedikit menjorok ke daerah Fatumea-Timorleste.

Saya segera berjabatan tangan dengan Komandante Santos yang berseragam PNTL lengkap dengan sepucuk pistol di samping kirinya. Dia masih mudah, energik, nampak ramah, tersenyum dan serta tenang. Ia duduk juga di tikar yang kami pasang. Ia nampak sopan. Dia mengepalai beberapa anggota PNTL di pos PNTL terdekat. “Yah..yang namanya acara adat, di mana-mana tetap sama,” kata Komandante Santos dalam bahasa Indonesia sambil tersenyum. Sepanjang pertemuan di atas tikar itu, dia hanya tersenyum dan mendengar percakapan dengan tenang.

Selama kami berada di area Situs Lo’okeu, Komandante Santos tampak selalu bersama kami. Ia duduk di tikar dan selalu mengawasi aktivitas kami dan bahkan ia juga terlibat dalam aktivitas adat. Ia seperti telah menjadi salah satu bagian dari kami. Komandante Santos ikut bersama kami di area lokasi dan kami sempat berfoto bersama pada saat akan kembali ke lokasi kami masing-masing.

Menggelar tikar di bawah naungan pohon Beringin. Saya berkalung kain adat duduk disamping Hironimus Tita, putera nai Lo’okeu yang terakhir.

Saya berkalung kain adat sedang berbicara sementara Komandante Santos (kanan) serius memperhatikan kami.

Saya (berkalung kain adat) foto bersama Komandante Santos di bawah naungan pohon Beringin.

Saya (berkalung kain adat) berfoto bersama Komandante PNTL Santos sebelum kembali ke Belu

             ___________________________________________________