Inm. Bapak Mathias Thomas Meko (1927-2002)

 Pengantar 

Sebagai anak-anaknya, pada 9 Mei 2013 yang lalu, kami memperingati dalam hati kami kepergian ayah kami yang terkasih Bapak Mathias Thomas Meko yang ke-11 tahun. Pada kesempatan seperti ini, kami: saya, mama, saudariku Yustina Meko, ke-3 putera saudara saya Fransiskus Pitang Meko berziarah dan hening di hadapan pusara ayah yang dibaringkan di atas sebuah bukit yang bernama bukit Kalvari, yang dahulu merupakan tempat perhentian terakhir jalan salib paroki Roh Kudus Halilulik. Kami mohon agar ayahku tetap bersama kami melalui doa-doanya di hadapan Allah di surga bagi kedamaian, keselamatan dan kebaikan kami semua keluarga yang ditinggalkannya. Selalu ada rasa kedamaian bathin bila berada di dekat pusara ayahku. Kami semua merelakan kepergian ayah tercinta dengan pasrah. Tuhan telah menghendaki hal terbaik buat ayah kami.

Bulan Juni 2013, seorang sepupuku Halehebing, kampung asal ayahku. Beliau datang untuk menghantar Frengki yang ingin melanjutkan sekolah di SMA HTM Halilulik. Terasa ada kedamaian bathin juga setiap kali keluarga ayahku berkunjung ke rumah kami, terlebih saudara sepupuku se-ayah di Halahebing, seorang guru. Beliau selau memberikan perhatian terhadap keluarga kami sepeningggalnya ayah sejak 9 Mei 2002. Tulisan ini hanya ingin mengetengahkan riwayat hidup ayah dan karya-karyanya di bumi Flores dan Timor. Semoga lewat tulisan ini, nama ayahku tetap terkenang dalam hati kami, sebagai prasasti yang abadi.

Riwayat Hidup dan Pendidikan

Ayahku lahir pada tahun 1927, sesuai dengan yang tertulis dalam KTP seumur hidupnya. Ia lahir di Hebing-Sikka-Flores-NTT. Ia merupakan anak ke-lima dan putera ke-2 dari alm. Moang Bapa Botha da Iry dan alm. Ina Dua Gokung Bully. Keduanya berasal dari Pedat, Hebing. Menurut bapakku, ayahnya, alm. Moang Bapa Botha da Iry pada masa itu berperanan sebagai seorang Pemangku Tuan Tanah Besar Hale-hebing, 2 kampung yang saat ini telah menjadi 2 desa. Sebagai Tuan Tanah Besar Halehebing, otomatis kakekku Alm. Moang Bapa Botha da Iry memiliki kekayaan besar pada masanya dan dianggap sebagai kepala adat. Pada masa itu, wilayah Halehebing masih masuk dalam wilayah Hindia-Belanda (wilayah jajahan kolonial Belanda). Sebagai pemuda terpandang, ayahku diperbolehkan mengecapi pendidikan, yang orang lain sulit dapatkan ketika itu. Dalam umur 12 tahun beliau masuk Vervolksschool di Watubaler dan berhasil menamatkannya dengan predikat juara pertama. Oleh karena kecerdasannya itu pula, ia dipilih bersama kerabatnya Andreas untuk melanjutkan ke Standardschool Lela-Sikka.  Iapun berangkat ke Lela dengan mengendarai kuda dan mulai belajar di sekolah itu hingga tahun 1942. Di Standardschool Lela. Ia belajar tentang matematika, membaca dan menulis, agama, dan perkebunan/pertanian.

Ia memperoleh pendidikan agama Katolik yang cukup bagus antara lain lewat penerimaan sakramen krisma oleh YM Mgr Heinricus Leven. Maka sejak saat itu, namanyapun ditambahkan Thomas, hingga lengkapnya Mathias Thomas Meko. Nama Thomas adalah nama yang diambil dari Bapa Krismanya yakni raja Don Thomas Ximenes da Silva yang saat itu sebagai raja Sikka. Namun dalam KTP di Belu, dia lebih suka namanya hanya Mathias Meko, tanpa Thomas. Nama Thomas baru saya tambahkan belakangan untuk mengenang sejarah penerimaan sakramen Krisma di Maumere yang diterimanya.

Pada tahun 1942, Standardschool Lela menghentikan kegiatan persekolahannya karena terjadi perang dunia ke-II. Jerman menyerbu Belanda dan tak lama kemudian Jepang menyerbu Hindia Belanda. Semua aktivitas sekolah di Hindia Belanda menjadi terhenti-total. Para misionaris asal Belanda diinternir oleh tentara Jerman dan Jepang. Pada masa perang dunia ke-2, Jerman dan Jepang dalam posisi melawan tentara sekutu. Belanda berpihak pada sekutu. Wilayah Flores dan sekitarnya juga menjadi sasaran serbuan imperialisme Jepang. Gereja Sikka, gereja Maumere, gedung Standardschool, Seminari Tinggi Ledalero juga diserbu dan dikuasai oleh tentara Jepang. Semua rakyat dipaksa untuk bekerja untuk Jepang demi memenangkan perang Asia Timur Raya. Ketika penyerbuan Jepang ke Flores khususnya wilayah Sikka sekarang ini, ayahku memutuskan untuk kembali ke Hebing, Flores untuk menghindari kerja samanya dengan Jepang. Ia tinggal di Hebing. Di Hebing, ia mengajar umat tentang pelajaran agama Katolik, doa-doa dan pelajaran lainnya. Semua itu dilakukannya karena ketiadaan para imam yang melayani umat karena diinterinir oleh Jepang. Ia bergiat demikian hingga masa akhir perang dunia ke-2 yakni ketika Hiroshima dan Nagasaki di bom atomi oleh sekutu pada bulan Agustus 1945. Akibat bom atom itu, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu.

Setelah semua tentara Jepang ditarik dari wilayah Flores, para misionaris SVD yang diinternir oleh tentara Jepang dan tentara Jerman kembali ke Paroki dan Seminari Tinggi Ledalero untuk bekerja seperti biasanya. Ayahkupun dimintakan untuk kembali bersekolah di Standardschool Lela. Semua pelajar Standardschool dimintakan untuk kembali belajar seperti biasa. Detik-detik itu memang sangat menegangkan karena Ir Soekarno dan Drs Mohamamd Hatta baru saja memproklamasikan kemerdekaan RI. Di Jakarta, kota-kota besar di Jawa, Bali dan Sumatra berita-berita tentang Proklamasi RI cepat tersiar.

Namun di NTT, khususnya di Flores berita proklamasi RI sangat lamban tiba karena sistem-sistem informasi dan komunikasi di wilayah Resident Timor een Oderhoorigedehen, khususnya di Flores ditutup oleh Belanda. Akibatnya banyak penguasa pribumi Flores ada yang masih bekerja sama dengan Belanda. Mereka mengira bahwa Indonesia belum merdeka. Hal itu terjadi oleh sebab kesulitan dan keterlambatan informasi tentang Proklamasi RI. Komunikasi pada masa itu memang sangat sulit dan terbatas sekali. Mungkin karena komunikasi kurang bagus pada masa itu sehingga pergerakkan kemerdekaan untuk mendukung RI mula-mula memang masih lamban. Namun akhirnya menjadi gegap gempita juga. Para pemuda mulai menghidupkan semangat Republik dalam seluruh aspek kehidupannya termasuk cara berpakaian ala Republik atau ala Soekarno. Mereka selain bergelora oleh semangat Proklamasi RI, juga mereka menirukan tokoh-tokoh pergerakan semisal, Bung Karno dan Bung Hatta yang tampil begitu ganteng dan menarik. Para pemimpin RI pada masa itu menjadi publik figur, dan tokoh panutan dalam berbicara, bersikap dan berbusana.

Pada awal tahun 1945- hingga tahun 1950, sekolah-sekolah dengan sistem Belanda masih tetap dijalankan di Sikka dan Maumere. Ayah dan kawan-kawan tetap bersekolah dalam sistem Belanda dengan pengawasan dari para imam misionaris Eropa. Pendidikan Standardschool Lela yang sedianya hanya 4 tahun, namun akhirnya ditambah 1 tahun lagi khusus untuk sekolah pertanian. Jadinya pendidikan Standardschool Lela yang menurut ayahku lamanya menjadi 5 tahun. Ayah berhasil tamat atau lulus Stadardschool 5 tahun Lela dengan hasil yang bagus.

Tamat Standardschool Lela merupakan sebuah prestasi besar pada masanya. Pada masa itu, orang bisa langsung menjadi guru sekolah rakyat 3 tahun. Namun ayahku tidak memilih langsung bekerja setelah tamat Standardschool Lela. Ia bersama kerabatnya Andreas memilih untuk tetap melanjutkan sekolah. Andreas memilih untuk menjadi guru dan berangkat ke Ndona-Ende untuk bersekolah pada sekolah guru, Schacelschool (Sekolah guru) di Ndona. Ia kemudian menjadi seorang guru di Hebing hingga masa pensiunnya dan juga ia telah berpulang bertahun-tahun sebelum ayahku berpulang. Al. Bapa Guru Andreas memiliki seorang puteri yang saat ini sebagai bidan/perawat di Hebing. Ibu bidan, puteri alm. Moat guru Andreas menikah dengan guru Bernadus Baba, BA, Kepsek SMPK PGRI Lerohae, Halehebing sekarang ini.

Setelah tamat Standardschool Lela 1946, ayah memilih masuk sekolah pertukangan di Maumere. Ini adalah sebuah sekolah pertukangan yang didirikan sejak masa Hindia Belanda, namanya Ambachtschool. Ayah melanjutkan studynya di Ambachtschool Maumere pada tahun 1949. Selama 3 tahun, beliau masih berada di kampung halamannya Hebing. Beliau masih bekerja di Hebing sebagai guru agama dan mengajar umat untuk berdoa bersama. Ia masuk Ambachtschool pada tahun 1949 hingga tahun 1952. Pendidikan Ambachtschool hanya diselesaikannya 3 tahun dari 5 tahun masa pendidikan. Menurut kepala sekolah Ambachtschool, ayahku diluluskan lebih awal karena kecerdasannya dan juga karena kebutuhan mendesak. Ia tamat Ambachtschool 3 tahun lebih awal. Namun Ijazah Ambachtschoolnya belum langsung diberikan kepadanya. Ia hanya diberikan sebuah catatan dari Kepala Sekolah Ambachtschool Maumere yang mengatakan bahwa ia boleh diperlakukan dan menerima gaji seperti tamatan Amabachtschool lainnya dan akan diberikan ijazah setelah 2 tahun bekerja di Misi Timor-Atambua.

Pada tahun 1952, atas permintaan YM Vikaris Apostolik Atambua, Mgr Jackobus Passers, SVD, tamatan tukang-tukang Ambachtschool Maumere dimintakan untuk datang dan membangun misi di Timor yakni gereja dan biara-biara SVD di Atambua, Timor. Pimpinan Ambachtschoolpun menetapkan 4 orang tamatan Ambachtschool Maumere untuk berangkat ke Atambua. Mereka ialah alm. Thomas Tety, Alm. Paulus Deong, Alm. Mathias Meko, Alm. Herman Sadipun. Keempat tukang ini disebut tukang inti atau tenaga trampil atau tukang halus. Sementara itu ikut juga bersama dengan ke-4 tukang inti itu banyak tukang gergaji, tukang batu, tukang cat, tukang las, dll yang bukan tamat Ambactschool Maumere namun mereka berasal dari masyarakat di wilayah Maumere timur. Tukang-tukang yang bukan inti ini bertugas mendukung dan membantu tukang-tukang trampil tamatan Ambachtschool Maumere, hal inilah yang menyebabkan gaji ayahku lebih banyak dari tukang-tukang bantu. ia memperoleh gaji yang cukup besar yakni sekitar 25 Gulden, sementara tukang-tukang bantu hanya sekitar 5 Gulden saja. Pada awal kemerdekaan, di Timor, mata uang Belanda Gulden masih terpakai baik untuk gaji mapun untuk perdagangan, adat dan perhiasan, sebelum digantikan dengan uang rupiah.

Ayah Menikah Dengan Ibuku

Ayahku menikah setelah kawan-kawan tukang inti dari Ambachtschool Maumere menikah. Jadi ia tergolong terlambat menikah. Hal itu disebabkan karena ayahku dan ibuku lama terikat dalam masa pertunangan. Selama bekerja di Misi Halilulik dan Besikama, ia berkenalan dengan mamaku. Mamaku pada waktu itu baru saja menginjak kelas 5 di Sekolah Dasar Kakuun, Kusa. Menurut ceritera ayah bahwa mamaku tinggal bersama kakek buyut kami alm. Stanislaus Mali, seorang Vetor Besar Nurobo. Ia tinggal bersama nenek buyut Rosina Aek di rumah adat Mamulak Slakwain Nurobo sekarang ini. Ketika itu, ayah setia mengunjung nenek buyut Rosina Aek pada setiap hari sabtu. Hingga sebelum tamat SD, ayah dan ibu telah terikat pertunanganan. Maka oleh karena umur ibu yang masih muda dan belum tamat SD, keluarga mamaku dan ayah sepakat untuk membiarkan mama melanjutkan sekolah SD di SD Atambua dan KRT Atambua. Selama 5 tahun bersekolah di KPR Atambua, ayah dan mama telah menjadi tunangan. Ini sebuah masa pertunangan yang lama. Setelah tamat KRT Atambua dan dianggap dewasa oleh para suster Eropa dan pastor Eropa barulah ayah dan mamaku melangsungkan perkawinan Katolik di Nurobo.

Pada masa itu bertindak sebagai orang tua dekat dari pasangan ayah/mamaku ialah alm. Bapak Thomas Tety dan alm. Mama Florentina Lin. Diperoleh informasi bahwa alm. Mama Florentina Lin merupakan puteri raja Silawan, dari raja Aloysius Besin Manek. Raja Aloysius sendiri merupakan putera dari raja Silawan pertama raja Datuk Mauk yang dilantik kolonial Belanda menjadi raja Silawan pada tahun 1900. Ayahku menceriterakan kepada kami bahwa beliau sendiri – dengan gaji-gajinya yang cukup besar pada masa itu – berusaha melunasi tuntutan adat yang dituntut pihak keluarga mamaku. Ia berjuang mencari uang dari hasil gajinya untuk membayar biaya mas kawin yang tergolong besar pada masa itu, sesuai tuntutan feodalistis, sisa-sisa  warisan kolonial Belanda. Ia berhasil menuntaskan tuntutan adat, sehingga keluarga kami bisa diboyong untuk tinggal di Halilulik bersama keluarga Bapa Thomas Tety yang seterusnya biasa saya panggil bapa bot dan mama bot (bapak besar dan mama besar). Namun demikian kakek dan nenek kami di Nurobo selalu memperhatikkan kebutuhan mama mulai dari hal kecil hingga besar. Keluarga mama selalu mengunjungi kami di Halilulik.

Ketika  tinggal di Halilulik, mama membawa serta seorang bayi laki-laki yang bernama Ignatius Nana, saudara mama yang baru saja lahir. Itulah sebabnya Om Igantius Nana kami anggap sebagai kakak sulung kami hingga hari ini. Tahun 1967, saudari sulung saya Veronika Nurak Meko lahir. Ayah dan ibuku amat senang. Namun 3 tahun kemudian saudariku itu meninggal dunia. Ia dimakamkan di perkuburan di belakang gereja Halilulik. Anak kedua ialah Antonius Kasang Meko, kakak Anton lahir pada tahun 1967, namun ia meninggal dunia pada tahun 1977, beberapa bulan setelah saudariku Yustina Meko lahir. Kakak Anton meninggal sebelum ia menerima komunio pertama. Ia dimakamkan di pekuburan Katolik di samping kuburan biara para suster SSpS Timor.

Daftar lengkap nama-nama anak-anak kandung Bapak Mathias Meko dan Mama Yuliana Funan ialah sebagai berikut:

1. Veronika Nurak Meko (1965-1968)

2. Antonius Kasang Meko (1967-1977)

3. Bonifasius Moang Bapa Meko (1968- sekarang)

4. Fransiskus Pitang Meko (1971- sekarang)

5. Blasius Moang Kaka Meko (1973- sekarang)

6. Maria Yustina Meko (1977- sekarang)

Cucu-cucu: Even Pitang Meko, Roger Pitang Meko, Vinsensius Pitang Meko

Anak angkat: Ignatius Nana, dll

Beberapa Aktivitasnya

Sejak masa Ambachtschool, ayah merupakan pemain musik orkes yang handal. Ia menjadi anggota grup musik Fanfare Ambachtschool Maumere yang sering unjuk kebolehan dalam bermusik. Ia memiliki kelihaian bermusik seperti Okulele, gitar, harmonika dan alat-alat musik tiup. Ia juga memiliki kemampuan bernyanyi dengan suara yang bagus. Oleh karenanya ia terpilih menjadi anggota Coral gereja. Para anggota penyanyi Coral gereja merupakan penyanyi inti dalam liturgi gereja sebelum Konsili Vatikan II. Penyanyi Coral bertugas menyanyikan mazmur tanggapan dan jawaban nyanyian liturgis gereja selama perayaan ekaristi pada zaman gereja sebelum Konsili Vatikan II. Bakat musik seperti ini, terus ia bawaserta dalam pergaulan dan sosialisasi di Belu-Timor. Pada pesta perkawinan, ia bertugas dalam bidang musik untuk mengiringi acara dansa. Ia juga piawai dalam menari dansa. Keahlian ini, dia tularkan kepada para pemuda Belu pada masa itu. Bersama Pak Guru Mikhael Lopez, ia juga termasuk dalam grup pemusik yang sangat digemari.

Pada Pemilihan umum pertama di RI ini yakni tahun 1955, Bapak terpilih menjadi ketua TPS di sebuah kampung terpencil di wilayah Kenaian Naitimu. Dia merupakan pendukung Partai Kontas atau Partai Katolik yang menghadirkan sosok Drs Fransiskus Sedha. Ia berjuang agar Partai Kontas memenangkan Pemilu di Belu pada masa itu. Pemilu tahun 1955 memang berhasil memenangkan Partai Katolik di wilayah Belu. Dengan kemenangan Partai Katolik itu, maka otomatis pemimpin Partai Katolik, Drs Frans Sedha semakin kuat posisinya di tingkat pemerintahan pusat. Drs Frans Sedhapun terpilih menjadi menteri semasa Presiden Soekarno. Terpilihnya Drs Fransiskus Sedha sebagai Menteri dari Partai Katolik sangat membanggakan diri ayah. Maka dia menamakan salah seorang saudaraku bernama Fransiskus Pitang Meko. Nama Fransiskus konon diberikan kepada saudaraku, pada saat kunjungan Menteri Frans Sedha ke Flores pada tahun 1971, pada saat saudaraku itu lahir.

Pada tahun 1975, ketika pergolakan ke Timor-Timur, beliau dilatih menjadi TBO (Tentara Bantuan Operasi) oleh TNI. Ia menjadi pemimpin regu di kelompoknya. Tugas TBO ialah memberikan bantuan oprerasi tempur kepada TNI bila dalam masa kritis. TBO adalah salah satu unsur Pertahanan Sipil demi pembelaan negara. Meskipun menjadi anggota TBO namun beliau sendiri tidak dilibatkan di garis depan dalam pertempuran tersebut. Dan memang beliau belum pernah menginjakkan kakinya di bumi Lorosae sepanjang hidupnya hingga ajal menjemputnya pada 9 Mei 2002 yang lalu. Latihan militer ini memungkinkan ia terlihat berbicara tegas dan gertak. Ia cukup menjadi petugas jaga dalam ronda kampung saja. Itu sudah cukup baginya untuk berjaga-jaga hingga pagi bersama sahabat-sahabatnya di kampung Halibaurenes.

Sebuah pengalaman yang cukup berkesan baginya ketika beliau dipercayakan menjadi pembangun istana raja Insana di Oelolok. Desain koseng, pintu, jendela dan rumah itu dikerjakannya sendiri atas petunjuk raja Laurentius Taolin. Ia berceritera bahwa Ia dan raja Laurentius terlihat akrab, bahkan tidur sekamar dengan raja di Istana Oelolok ketika pembangunan istana raja Insana.

Selain itu, pembangunan desain lata seng gereja Halilulik yang rumit itu dikerjakannya sendiri. Ia ditunjuk oleh seorang bruder Jerman untuk sendiri mengerjakan lata seng dengan lengkungan yang rumit itu, seperti yang sekarang ini terlihat di gereja Halilulik. Untuk pemasangan lata seng dengan lengkungan yang rumit tersebut, beliau harus memanjat dan bergantungan pada ketinggian gedung yang membahayakan jiwanya bila tidak hati-hati. Kenyataan seperti itu merupakan sebuah kebanggaan yang dia ceriterakan kepada kami berkali-kali. Desain rumah murni yang sampai saat ini masih terlihat utuh dan masih dipakai dengan baik bisa terlihat dalam desain rumah pribadi kakek dan nenek Alexander Lalus Taekap di Nurobo. Rumah tersebut hampir desain dan pengerjaan lata seng, pintu jendela, dll dikerjakannya sendiri dengan tangannya.

Ayahku Menjadi Tiang Pokok Keluarga dan Teladan Bagi Kami 

Riwayat pekerjaan ayah sebagai tenaga pembangun terdidik tamatan Ambachtschool Maumere selalu melekat dengan masa-masa kerjanya di Misi Maumere sebagai tenaga pembangunan yang menangani bagian halus. Ia bekerja membangun pastoran, paroki, kapela dan sekolah misi. Ia bekerja membangun perabot-perabot rumah tangga seperti meja,kursi, lemari pakaian, pintu, jendela, membangun rumah tinggal, dll. Baik sebagai seorang pembangun yang digaji misi semenjak ia bergabuing sebagai tenaga pembangun misi Katolik hingga beliau berhenti dari misi pada tahun 1982. Ia berhenti dari misi demi perhatiannya pada keluarga. Sebagai gaji terakhir ia mendapat gaji selama 5 bulan.

Selanjutnya sejak tahun 1982, beliau terlibat aktif dalam pembangunan rumah-rumah penduduk, perabot-perabor rumah penduduk di sekitar Halilulik hingga TTU. Ia juga terlibat dalam pekerjaan pembangunan sekolah-sekolah dasar di Belu. Mungkin ratusan rumah atau ribuan rumah telah dibangunnya baik di Flores, maupun di Timor bersama tukang-tukang lainnya.

Ia bekerja hingga masa pensiunnya. Selain bekerja sebagai pembangun, ia juga bekerja sebagai petani. Ia memiliki 2 bidang lahan yang diolahnya. Ia menanam jagung, kacang-kacangan, dll. Dengan bekerja demikian ia telah menghidupi kami anak-anaknya. Ia menjadi tiang pokok keluarga kami. Ia seorang yang sangat sabar, setia dan sangat dekat dengan kami semua. Ia bukan seorang pemabuk, bukan seorang penjudi, bukan seorang peminum. Ia telah menjadi teladan bagi keluarga yang luar biasa.

Ia selalu menasihati kami untuk bersikap sabar, jujur, lurus dan bekerja tanpa pamrih. Ini adalah teladan hidup yang diwariskannya kepada kami. Selain itu, ia juga seorang pendoa. Ia seorang yang setia pada imannya dan setia pada janji perkawinannya sampai ajal menjemputnya dengan sangat tenag dan damai pada 9 Mei 2002 ditemani mama dan adik Yus. Kini kami yakin bahwa ayah telah berbahagia di surga. Ayah telah menemukan rumah abadinya. Ayah telah beristirahat dalam damai setelah berjuang di bumi fana ini.

Penutup

Pada 9 Mei 2013 yang lalu, kami mengenangkan kepergian ayah ke hadirat Allah yang ke-11 tahun. Pada kesempatan seperti itu, perayaan misa menjadi sarana yang mempersatukan kami semua, baik kami yang masih berada di dunia fana ini maupun alm. bapa yang telah berada di surga. Teladan ayah semasa hidup telahmenjadi kekuatan bagi kami. Ayah menjadi tiang pokok keluarga baik di dunia ini maupun ketika dia meninggal. Kami percaya bahwa kami memiliki seorang pendoa di surga, dia adalah ayah kami. Kami juga selalu mendoakannya dan selalu berziarah di makamnya. Tuhan selalu mempertemukan kami lewat doa-doa. Kami masih tetap merasa satu dalam doa. Namun sebagai anak-anaknya, kami merasa masih memiliki hutang budi kepada ayah kami. Itulah hutang yang tak terbayarkan kepada ayah. Peribahasa mengatakan bahwa ‘hutang emas bisa dibayar namun hutang budi biarlah dibawah sampai mati’. Kami tetap berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan memberikan kami seorang ayah yang baik dan setiawan. Semoga Tuhan tetap memberkati, mengampuni dan menerima doa-doa ayah kami. Amin      

Foto Alm. Bapak Mathias Thomas Meko

  Foto Alm. Bapak Mathias Thomas Meko(Foto: Dokumen Keluarga Al. Mathias Meko)