Gereja Paroki Roh Kudus Halilulik Menuju Usia 100 Tahun (3)

Penulis; Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Rabu, 28 November 2012

Situasi Gereja Paroki Roh Kudus pada jam 05.30 pagi dapat saya gambarkan sebagai berikut: Lonceng gereja paroki berbunyi panjang dan nyaring sehingga seluruh penduduk Halilulik tersadar dari mimpinya masing-masing. Tidak berapa lama kemudian yakni sekitar 5 menit setelah bunyi lonceng gereja, para peserta misa memasuki kompleks gedung gereja lalu terus ke dalam gedung dan selanjutnya mempersiapkan dirinya untuk mengikuti perayaan misa yang akan dipimpin oleh salah seorang pastor projo Keuskupan Atambua yang ditugaskan di paroki Halilulik.

Awal misa dimulai dengan doa Anggelus bersama yang dipimpin oleh seorang petugas yang disiapkan sebelumnya. Para peserta misa pagi itu terdiri atas para biarawati SSpS yang terdiri atas beberapa suster misionaris SSpS asal Eropa, suster-suster senior asal Indonesia, suster-suster junior SSpS, para calon biarawati SSpS yakni postulan dan aspiran yang berpakaian putih biru, para peserta Kursus Rumah Tangga (KRT) Halilulik, anak-anak asrama susteran Halilulik, anak-anak asrama puteri paroki dan anak-anak asrama putera paroki, beberapa anak asrama dari asrama di sekitar Halilulik, umat yang ingin hadir serta putera dan puteri para peserta kursus Suluh Labur bersama kedua pembimbing mereka yakni Br. Beatus Schoendroff, SVD dan Br. Donatus Thewes, SVD.

Sejak pagi-pagi, kedua bruder pembimbing kursus Labur itu sudah masuk ke dalam gereja. Jarak antara lokasi kursus Labur dengan gedung gereja Roh Kudus Halilulik ini sekitar 8 km. Mereka datang dari Labur dengan menggunakan kendaraan Truk yang dikemudikan oleh salah seorang bruder SVD. Br Beatus adalah misionaris, biarawan dan bruder SVD asal Nederland sedangkan Br Donatus Thewes adalah misionaris, biarawan dan bruder SVD asal Jerman. Keduanya nampak sudah beruban karena sudah cukup lama menghayati kehidupan kaul-kaul mereka.

Bruder-bruder Biarawan SVD dan para suster biarawati SSpS bagi paroki Roh Kudus Halilulik telah menjadi nafas hidup dan jantung kehidupan paroki sejak paroki ini berdiri pada tahun 1918 hingga sekarang. Mereka menjadi sumber kehidupan bagi umat Allah. Mereka bukan saja bergiat dalam bidang rohani namun juga bergiat dalam urusan-urusan jasmanih umat Allah sendiri. Maka baiklah kalau kita banyak berbicara tentang kedua institusi SSpS dan SVD bila kita berbicara tentang paroki Halilulik. Boleh dikatakan sejak datangnya kedua Serikat ini di wilayah Halilulik, warna dan irama masyarakat Halilulik menjadi ramai dan semangat.

Hal ini memperkuat keyakinan kita bahwa kedatangan para biarawati dan biarawan yang membawa serta iman akan Kristus ini telah membuat sejarah Halilulik menjadi lebih berwarna indah. Kehidupan rohani iman umat makin dipertinggi. Pembinaan rohani umat basis makin terasa, pendidikan dan kesehatan umat juga makin diperhatikan.

Meskipun konsekuensinya bahwa biaya pendidikan dan kesehatan masyarakat yang diselenggarakan oleh para biarawan/i ini lebih tinggi dari instansi swasta lainnya dan instansi negeri. Kehidupan pendidikan dan kesehatan yang diselenggarakan oleh Serikat SSpS dan SVD lebih bernuansa elite dibandingkan dengan misi lainnya.

Ketika kita memasuki wilayah paroki Roh Kudus Halilulik segera kita menangkap kesan yang kuat sekali bahwa misi Katolik memegang peranan yang sentral selama periode awal penyebaran iman Kristen hingga kini. Selain misi membawa penyebaran warta keselamatan Kristus bagi umat beriman, misi juga memberikan dampak lain bagi kegiatan iman itu sendiri yakni bertumbuhnya banyak lapangan kerja di tengah masyarakat Halilulik. Dengan adanya lapangan kerja itu, aktivitas ekonomi yang menggunakan uang makin nampak ke permukaan.

Sistem kekerabatan masyarakat mulai perlahan-lahan mulailonggar akibat pertimbangan uang ini. Lembaga rohani, pendidikan, kesehatan yang bertumbuh pesat telah berhasil merekrut banyak tenaga kerja dari masyarakat wilayah paroki Halilulik maupun masyarakat wilayah NTT lainnya. Interaksi antar manusiapun semakin luas dan kaya. Bila dahulu interaksi masyarakat Halilulik hanya terbatas pada wilayah kampungnya, kini semakin luas mendunia, teristimewa akibat kemajuan sarana transportasi, informasi dan komunikasi di dalam masyarakat.

Setelah kemerdekaan RI, aktivitas pemerintahanpun sejalan dengan misi para misionaris awal ini. Aktivitas pemerintah bukan berjalan sendiri, namun aktivitas pemerintah berjalan bersama, beriringan dan selalu menyesuaikan dirinya dengan aktivitas kaum rohaniwan dan adat istiadat daerah. Gereja Halilulik merupakan pusat kekuatan pemerintah RI itu sendiri. Pemerintah bertumbuh, berasal dan lahir dari gereja dan sejarah-sejarah yang berasal dari masyarakat dan gereja sendiri.

Misi Katolik di NTT khususnya di wilayah Flores dan Timor, seperti juga keadaan di Eropa pada masa abad pertengahan dan memasuki awal masa modern yang dilakoni oleh kaum biarawan/i telah menunjukan jati dirinya sebagai penguasa dalam masyarakat. Segala kegiatan baik rohani maupun jasmani dikuasai oleh kaum biarawan/i. Mereka menjadi lebih berkuasa dari para penguasa lainnya yang saat itu memerintah sehingga berhadapan dengan kaum biarawan/i, orang perlu membungkukan badannya dan mencium cincin salib yang melekat dijari seorang biarawan/i.

Sejak kedatangannya ke daerah-daerah misi di seluruh dunia, kaum biarawan/i Katolik ini sudah menegaskan bahwa mereka memerlukan lahan yang luas dengan persediaan sumber air, daerah peternakan dan kebun-kebun yang bagus agar mereka bisa melaksanakan kegiatan misi bagi pertobatan orang yang belum percaya kepada Kristus dengan aman, lancar dan tertib. Pada awal tahun 1918, Pemerintahan penjajahan di Batavia telah dimintakan pertolongannya untuk menyediakan lahan dan penunjang bagi kegiatan misi Katolik di Atambua, wilayah Timor-Nederland.

Alhasil banyak masyarakat merasa seolah lahan leluhurnya “dirampas” untuk selanjutnya dijadikan tempat bagi pusat kegiatan misi di Timor. Beberapa tahun belakangan ini gereja paroki juga sering berurusan dengan para anggota gereja sendiri yang tinggal di sekitar wilayah Halilulik. Mereka merasa bahwa tanahnya telah dicaplok oleh misi. Urusan-urusan yang dibuat oleh DPP Paroki membuahkan kesepakatan agar paroki menyiapkan sedikit dana untuk menggantikan kerugian yang diderita oleh para penggugat itu seperti yang dialami oleh Bp Agustinus Koli dari lingkungan Halibaurenes.

Selama berapa tahun Agustinus Koli terlibat polemik dengan pihak gereja terkait masalah tapal batas tanah di sekitar gua St. Maria pusat paroki Halilulik yang diklaim milik orang tuanya. Urusan berakhir dengan kesepakatan agar pihak gereja memberikan insentif bagi ganti rugi berjumlah sekitar Rp 2.000.000 bagi keluarga Agustinus Koli yang menggugat tersebut. Namun sayang setahun setelah menerima dana insentif dari paroki Roh Kudus Halilulik, Agustinus Koli telah meninggal dunia. Dia meninggal dunia di tempat tinggalnya yang sedang disengketakan oleh dirinya dan gereja.

Dua jam sebelum meninggal dunia Agustinus Koli baru menerima sakramen pernikahan dengan isterinya Luzia da Silva yang telah memberinya 7 anak putera dan puteri. Setelah meninggal dunia, praktis tidak ada umat Allah yang menggugat tanah milik gereja tersebut sebab hampir semua umat teristimewa DPP Paroki, ketua lingkungan dan staff telah menyatakan setuju dengan batas tanah milik gereja sesuai hibaan dari Don Bisenti da Costa dan sebuah wasiat pribadi dari Raja Baltasar Siri, Raja Naitimu pengganti Raja Fransiskus Manek.

Menginjak usianya yang ke-94 tahun, gereja Katolik Halilulik terus menampakan wajah baru yang lebih manusiawi. Ia terus merangkak maju menggapai masa depan. Tangan Tuhan selalu membimbing gerejaNya dalam ziarah iman sepanjang sejarah. Sesuai dengan namanya, umat Halilulik percaya bahwa Roh Kudus selalu dan akan terus membimbing gerejaNya dalam saat-saat suka dan duka. Roh Kudus akan selalu menghibur dan memberkati gerejaNya dengan tujuh karuniaNya demi keselamatan dan kebebasan anak-anak Allah. Syukur kepada Allah dan terima kasih bagi semua penjasa, penderma, para ‘rasul’ awam dan biarawan/i SSpS/SVD, juga rohaniwan projo KA. Dirgahayu Paroki Roh Kudus Halilulik ke-94. Ad Multos Annos..

              __________________________________________________

Gereja Paroki Roh Kudus Halilulik Menuju Usia 100 Tahun (2)

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Selasa, 27 November 2012

Pasca berakhirnya masa kolonialisasi di bumi Indonesia, perkembangan hidup umat Katolik paroki Roh Kudus Halilulik menunjukan perkembangan yang luar biasa. Pembangunan menuju kualitas hidup umat terus digalakkan dan telah menunjukan perkembangan menggembirakan dan pesat. Pembangunan tidak saja berwujud fisik berupa pendidikan, ekonomi, gedung-gedung yang permanen dan tata administrasi parokial yang mulai modern namun juga berupa kehidupan rohani dan liturgial gereja semakin menanjak cepat.

Para guru Sekolah Dasar tamatan SPG dan SPGA menjadi pioner dalam pertumbuhan liturgial gereja hingga ke stasi-stasi yang memiliki medan yang masih sulit. Guru-guru SD Katolik dapat dianggap sebagai pelopor perkembangan iman umat yang luar biasa. Koor dalam liturgial gereja dari pusat paroki hingga ke stasi-stasi mulai diiringi dengan musik dan tarian. Musik suling bambu dan tarian likurai menjadi andalan umat basis. Umat katolik di pusat paroki juga mempertontonkan tarian-tarian modern yang khusuk.

Perayaan liturgial gereja dalam upacara misa Hari Raya Natal dan Hari Raya Paskah selalu berlangsung meriah dan menampakan pesta rohani umat yang gegap gempita. Periode tahun 1960 hingga awal tahun 1985 merupakan periode yang ditandai kebebasan berekspresi dalam semua segi kehidupan rohani umat.

Pada tahun-tahun 1960 hingga tahun 1985, kedua stasi besar paroki Halilulik yakni stasi Laktutus dan stasi Webora masih bergabung dalam lingkungan paroki Roh Kudus Halilulik. Maka setiap kali perayaan liturgial gereja yakni HR Natal dan HR Paskah, umat berduyun-duyun datang untuk menginap dipusat paroki dalam rangka mempersiapkan diri untuk menyongsong perayaan Natal dan Paskah.

Ribuan umat membawa serta bekal makanan dan tinggal di sekolah-sekolah dan tetangga selama persiapan dan perayaan liturgi berlangsung. Kompleks SDK Halilulik dan SMP HTM Halilulik dan aula Paroki Halilulik menjadi Wisma sementara bagi umat beriman selama beberapa hari.

Sesuatu yang sangat mengesankan saya hingga hari ini ialah musik Orkes Suling Bambu yang merdu dalam liturgi gereja selama HR Natal dan HR Paskah telah ditampilkan secara meriah dan merdu. Hampir semua Sekolah Dasar di paroki Halilulik memiliki grup Orkes suling bambu yang merdu itu.

Dalam kesempatan HR Natal dan HR Paskah, grup-grup suling bambu dari Sekolah-Sekolah Dasar, kecuali SDK Halilulik dan SDN Nusikun selalu tampil luar biasa. Saya dapat menyebut beberapa SD yang memiliki grup suling bambu yang bagus yakni SDK Webora, SDK Laktutus, SDK Weklalenok, SDK Tulatudik, SDK Amahatan, SDK Knabu, SDK Buitasik, SDK Welilan, dll.

Secara geografis, ketika berdiri paroki Roh Kudus Halilulik memiliki wilayah yang meliputi wilayah-wilayah yang termasuk kerajaan Naitimu dan Kerajaan Mandeu-Raimanus. De facto bahwa hampir semua Sekolah Dasar (SD) yang berdiri di kedua wilayah bekas kerajaan ini memiliki grup musik suling Bambu yang bagus.

Tanggungan lagu komunio menjadi kesempatan para kelompok koor dan musik berlomba-lomba memberikan penampilan terbaik. Musik Suling Bambu menjadi alternatif musik paling populer yang utama diperdengarkan kepada umat dalam suasana liturgi yang khusuk. Umat yang menghadiri ekaristipun terkagum-kagum terhadap “pertunjukan” musik suling Bambu di dalam suasana khusuk ibadat teristimewa saat komunio kudus dibagikan kepada umat beriman.

Kadang-kadang pembagian komunio kudus membutuhkan waktu berjam-jam. Hal itu disebabkan umat dari semua wilayah paroki diwajibkan untuk masuk misa di pusat paroki untuk sambut komunio.

Pada waktu itu sangat ketat aturan untuk kelima perintah gereja yakni sambut tubuh Tuhan waktu Paskah. Maka HR Paskah sungguh menjadi pesta umat yang meriah. Ribuan umat mengalir ke gereja hingga penuh. Bahkan perayaan misa perlu dibuat 2 kali yakni “Misa Kiik” dan “Misa Bot” yaitu Misa pertama dan Misa kedua. Misa pertama disebut misa kecil diperuntukan bagi anggota keluarga yang menunggu di rumah. Sedangkan misa kedua merupakan misa utama dan berlangsung meriah.

Akibat membludaknya umat beriman maka perlu dibangun tenda-tenda besar disamping gereja. Tenda-tenda itu dihiasi dengan lampu warna-warni. Kemampuan Geng Set pastoran Katolik Halilulik untuk memberikan suplay listrik cukup besar. Listrik membuat suasana malam menjadi penuh kilatan lampu yang berwarna-warni pada waktu Natal.

Perayaan misa HR Natal dan Paskah setiap tahun selalu dimeriahkan dengan ataraksi hiburan dari seluruh umat. Setelah perayaan Natal atau Paskah selalu diikuti dengan ataraksi hiburan yang dapat berlangsung hingga jam 19.00 Wita. Para penonton dan penyumbang acara berasal dari seluruh umat beriman paroki.

Ataraksi budaya berupa tarian dan nyanyian baik perorang maupun pergrup. Permainan musik suling bambu, musik orkes, drama dan sastra juga telah berlangsung meriah. Para pembawa acara sungguh menampilkan ataraksi acara yang menarik dan bermutu. Protokol acara sibuk mencatat daftar acara yang terkadang memakan waktu berjam-jam.

Beberapa pastor paroki setelah periode tahun 1990 ke atas terpaksa menghilangkan acara hiburan panggung ini. Hal ini disebabkan karena orang mulai tidak jujur dan sering berkedok pura-pura. Acara hiburan yang semula bertujuan positif telah perlahan-lahan dimasuki unsur hedonisme, mabuk-mabukan dan sikap hura-hura yang dilakukan oleh beberapa oknum umat beriman.

Hal ini menjadi alasan para pastor paroki kemudian menghilangkan acara hiburan panggung selama HR Natal dan HR Paskah. Adapun alasannya ialah untuk menghindari kegiatan gereja sebagai ajang terjadinya kekacauan di tengah umat. Padahal urusan gereja adalah iman umat. Namun toh gereja juga harus terlibat di tengah umat yang sedang dilanda persoalan dalam hidupnya.

Tentu saja setelah kejadian hura-hura antara sesama penonton dan pembawa acara terjadi. Hal yang sama terjadi lagi ketika pastor paroki Halilulik mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan pertandingan bola voley antara sekolah dan antar lingkungan dalam rangka pesta gereja. Hura-hura dan kekacauanpun terjadi berulang-ulang.

Para pendukung masing-masing grup olah raga yang bertanding saling berkelahi baik dengan fisik maupun dengan kata-kata. Maka sejak saat kejadian itu, polisi Sektor Halilulik mengambil alih keamanan. Maka oleh pertimbangan keamanan hingga akhirnya acara panggung hiburan dan pertandingan olah raga dalam rangka pesta gereja dihentikan sampai sekarang.

                                                (Bersambung)

                               ________________________________

� prev
top
next �

Menulis Demi Nilai Hidup

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Senin, 26 November 2012

Bila sedang mengingat dan sedang menulis sesuatu tema di Web ini, saya selalu teringat akan masa-masa indah ketika sedang mengikuti pedidikan Novis di Novisiat SVD Nenuk, Timor dari tahun 1994 hingga tahun 1996. Ketika itu saya baru saja tamat SMA Seminari Lalian. Memang waktu itu sudah lama berlalu. Kalau saya menghitung kembali masa itu maka sudah 18 tahun yang lampau.

Namun pengalaman semasa pendidikan Novisiat SVD Nenuk itu sangat berkesan terhadap saya. Hal yang sangat berkesan dari pembinaan itu ialah mengenai tradisi menulis Lectio Brevis dan Persiapan Meditasi tertulis setiap malam. Kami harus menulis 2 lembar kertas dalam buku tulis kami renungan tentang bacaan-bacaan yang kami pilih sendiri dalam Alkitab, biasanya bacaan yang akan dibacakan pada keesokan harinya di gereja atau dalam ekaristi.

Pertanyaannya ialah apakah manfaat menulis renungan tentang Alkitab setiap hari? Tentu ini sebuah pertanyaan menarik. Bagi kami ketika itu.Aktivitas menulis merupakan sebuah aktivitas pokok dalam hubungan dengan renungan Alkitab.

Hal itu disebabkan paraturan Novisiat mewajibkan kami harus menulis renungan pribadi setiap hari. Lewat menulis kami dapat berpikir jernih dan hasil tulisan itu dapat kami baca kembali beberapa tahun kemudian. Apabila kami membutuhkan sesuatu dalam hubungan dengan renungan dalam ibadat, maka renungan secara tertulis yang kami buat itu merupakan hal yang sangat berarti sekali bagi kami.

Melalui menulis tentang sebuah tema di Web ini, saya merasa seperti saya sedang dilahirkan kembali dalam dunia yang telah lama saya tinggalkan yakni dunia Novisiat SVD Nenuk. Ketika itu, menulis renungan setiap hari membuatku semakin menghayati dan semakin mampu merenungkan makna kehidupanku sendiri dan makna panggilan menjadi imam.

Kini saya bukanlah seorang Pastor Katolik namun saya menghayati kehidupanku sebagai seorang guru. Panggilan menjadi guru, hampir sama dengan panggilan sebagai seorang pastor. Seorang imam Katolik sebenarnya adalah seorang guru. Malahan dalam Teologi juga diajarkan bahwa seorang yang telah menerima karunia Roh Kudus dalam Sakramen Krisma memiliki panggilan sebagai Nabi, Raja dan Imam.

Melalui penghayatan hidup menjadi guru, seseorang dapat menghayati hidup kekeristenannya secara penuh. seperti Yesus yang datang ke dunia sebagai seorang Allah dan manusia, Dia menghayati hidupnya di muka bumi selama 3 tahun penuh sebagai seorang Rabbi atau Guru bagi bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain.

Ia memilih menjadi guru karena bagi Yesus menjadi guru adalah cara hidup di mana orang harus memberikan teladan menuju kepada kebenaran baik dengan perkataan, pikiran maupun dengan teladan hidupnya. Seorang guru bertugas mengajarkan, mendidik, mengarahkan para anak didiknya agar anak didiknya mencapai pencerahan dan mampu menghidupi kehidupannya dengan ilmu pengetahuan.

Pada masa itu, guru dianggap sebagai orang yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi. Maka orang berlomba-lomba datang kepada guru untuk mendengarkan guru berbicara dan mengajarkan mereka tentang ilmu dan cara hidup menuju keselamatan dan kebenaran. Guru merupakan sumber ilmu pengetahuan, iman dan kebenaran serta kesejahteraan.

Tanpa guru kehidupan manusia sulit untuk digambarkan. Guru telah ada ribuan tahun sebelum Kristus lahir. Para nabi PL merupakan guru dan nabi serta juga imam. Namun dengan kedatangan Kristus ke dunia, maka Almasih yang dijanjikan itu telah datang dan tergenapi. Jesus Kristus merupakan Almasih. Dia datang menghayati kehidupannya dengan menjadi guru sebab Dia sadar bahwa guru merupakan cara hidup yang paling utama dan karena paling mendapat tempat di hati banyak pengikutNya.

Maka menjadi guru sebenarnya merupakan sebuah pekerjaan mulia dan luar biasa. Seperti Yesus sendiriyang memandang guru sebagai sebuah cara hidup yang menuntut pengosongan diri malahan guru harus menuntut dirinya sendiri untuk memberi segala yang dipunyainya baik harta, baik ilmu dan bahkan seluruhcara hidupnya bagi sesamanya teristimewa bagi para pengikutNya. Yesus telah menyerahkan segala-gala yang dimilikiNya bahkan Ia menyerahkan nyawaNya sendiri.

Menulis Renungan/Kotbah tentang sebuah tema dalam Alkitab setiap hari setidaknya memberikan kami beberapa nilai penting. Berikut ini saya menuliskan kembali nilai-nilai yang dapat kita timbah melalui menulis Renungan/Kothbah tentang sebuah Thema dalam Alkitab sebagai berikut:

Pertama, menulis dapat ,mengasah kejujuran dan keterus-terangan seseorang. Bila seseorang terus terang dalam berpikir dan mengungkapkan dirinya maka dia akan memiliki jiwa yang suci dan murni. Seseorang yang memiliki jiwa yang suci murni akan terlihat tembus pandang.

Ia tidak penuh kepalsuan. Ia tidak pernah akan berkata tidak benar. Ia akan berjuang menjadi orang yang baik dalam sikap-sikapnya, dalam tutur katanya dan dalam pikirannya.

Kedua, menulis membuat pribadi seseorang dapat bertumbuh secara lebih bermakna. Ia mampu secara jeli mengamati realitas yang terjadi dalam dirinya, dunianya, relasi sosialnya, relasi pribadinya dengan sesama, dengan Tuhan, dengan alam lingkungan di mana dia berada.

Setelah dia mengamati semuanya itu, diaakan berjuang untuk memaknainya secara baru sesuai dengan penghayatannya terhadap nilai-nilai kehidupannya yang tinggi. Seseorang yang menulis secara jujur akan mendapatkan berkat dan rahmat yang berlimpah dari Allah.

Ketiga, menulis merupakan sarana pewarta bagi dunia.Melalui menulis orang dapat mewartakan iman dan harapan yang dianuinya secarabagus bagi sesama manusia. Pewartaan melalui menulis telah mampu membuat banyak orang telah bertobat dan kembali kepada jalannya yang benar.

Bila dahuludia seorang pemabuk, sukaberjudi, suka wanita, dll, maka lewat menulis dia akan kembali sadar dan berjuang untuk menjadi lebihbaik dari saat ke saat.Demikianpun melalui menulis seorang penulis bisa menjadi seperti seorang nabi yang mewartakan terang, iman, kegembiraan, harapan, bagi sesamanya.

Keempat, menulis menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai yang dipelajari dan didapatnya sedemikian tinggi. Internalisasi nilai-nilai itu membuatnya semakin menemukan titik terang terhadap semua persoalan yang dihadapinya secara pribadi, sesama, lingkungan hidup, dll.

Kelima, menulis merupakan sebuah aktivitas keilmuan yang penting. Melalui menulis manusia dapat menuangkan segala penemuan ilmu pengetahuan yang di temukannya demi kesejahteraan manusia seluruhnya. Sebagai orang katolik, saya menyadari bahwa sejak ribuan tahun hingga kini, agama katolik merupakan institusi yang telah lama menjadi sumber ilmu pengetahuan yakni Filsafat dan agama (teologi).

Kedua ilmu itu bermula dari agama katolik yang di dalam tulisan yang masih tersimpan orang masih teguh menerima ide dan gagasan dari para bapa gereja dari masa ke masa dan para pujangga gereja dari masa ke masa sebagai sumber ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan manusia.

Selama ribuan tahun hingga kini, kekristenan telah menyatukkan banyak bangsa dan bahasa yang telah meliputi seluruh dunia. Hal itu terjadi karena perkembangan ilmu dan baik filsafat dan teologi sungguh bersifat universal dan berakar dari adat istiadat dan kebudayaan setempat.

Keenam, menulis berarti membagikan sesautu yang kita ketahui kepada orang yang membaca tulisan kita (pembaca). Membagi (sharing) merupakan sebuah tindakan kebajikan yang paling disukai sekarang ini. Sebab dengan saling membagi, termasuk membagi apa-apa saja yang kita alami dan kita ketahui, kita mampu hidup bersama orang lain dan dapat berkembang dan maju secara bersama-sama.

Ketujuh, kegiatan menulis bagi seorang ilmuwan merupakan aktivitas utama dan pertama. Menulis dan kemudian mempublikasikan tulisan melalui Web merupakan sebuah tindakan rasional dari seorang ilmuwan. Melalui sarana Web ini, jangkauan pemikiran seorang ilmuwan dapat menjelajahi seluruh dunia.

Melalui Web pemikiran yang origional dari seorang ilmuwan menjadi lebih bersifat universal. Orang dari seluruh penjuru dunia dapat membaca ide-idedan gagasan si penulis. Pengaruh dari si penulis menjadi begitu kuat, luasdandapat menjangkauiseluruh dunia.

Parapembaca Web dapat membacasemua tulisan para penulis dalam bahasa nasionalnyamasing-masing. Dengan mengenal ide dan gagasan penulis, maka si penulis makin dikenal dan dicintai dimanapun.

Meskipun tanpa kehadiran fisik yang nyata, namun melalui Blog/Web seorang penulis seolah-olah hadir di depan pembaca.Dia sendiri langsung menyampaikan pesan dan gagasan melalui ide-ideyang disampaikan lewat tulisan secara bagus, jujurdan benar.

Demikianlah beberapa pandangan yang dapat saya tampilkan dalam opini tentang aktivitas menulis dalam kehidupan manusia setiap hari. Melalui ketujuh aspek sebagaimana yang dikemukakan dalam tulisan ini, saya yakin manusia akan menemukan kehidupannya yang bermakna dan akhirnya akan membawa dirinya lebih dicintai oleh manusia dan Tuhannya. Itulah rahasia kesahajaan hidup yang diperoleh lewat refleksi tertulis atas momentum-momentum dalam kehidupannya baik berasal dari dalam dirinya sendiri, keluarganya, sesamanya dan Tuhan sendiri. Selamat menulis…!

                _________________________________________________

� prev
top
next �

Mengejar Kualitas Ujian Semester SMA/SMK

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Kamis, 22 November 2012

Menurut rencana SMA Kristen Atambua, NTT akan menyelenggarakan ujian Semester ganjil yang akan dimulai pada hari Selasa, 4 Desember 2012 yang akan datang. Ujian Semester bagipara siswa kelihatannya kurang menakutkan. Apalagi bila itu adalah ujian semester ganjil. Pemikiran parasiswa ialah bahwa ujian semester ganjil kurang menentukan kenaikan kelas parasiswa.

Maka ketika diumumkan bahwa sesuai dengan jadual SMA Kristen Atambua, ujian semester ganjil akan dimulai pada Selasa, 4 Desember 2012, para siswa/i kita kurang antusias. Mereka nampak biasa-biasa saja. Justeru yang paling mereka takutkan ialah tentang biaya-biaya yang harus dilunasi oleh para siswa/i menjelang ujian semester.

Para siswa SMA Kristen Atambua dari angkatan ke angkatan sangat paham betul kebijakkan sekolah yang tidak main-main dengan soal uang sekolah ini. Mereka tentu ingat betul, bagaimana, ketika sudah duduk di depan lembaran soal yang baru saja dibagikan guru pengawas, tiba-tiba bendahara sekolah masuk kelas dan beliau mengumumkan nama-nama para siswa yang belum melunasi keuangan sekolah.

Setelah mendengar namanya disebut, maka para siswa itu langsung dipersilahkan meninggalkan kelasnya untuk berurusan dengan orang tua atau walimurid hingga keuangan sekolah bisa dilunasi. Setelah para siswa itu melunasi uang sekolah, tentu muncul persoalan baru yakni: Mereka harus berurusan dengan guru bidang study yang mata pelajarannya tidak mereka ikuti karena mereka dikeluarkan dari kelas oleh bendahara sekolah. Bila nama para siswa tidak disebutkan sebagai siswa penunggak uang sekolah maka siswa/i yang bersangkutan tetap tenang dan berhak mengikuti ujian semester hingga selesai.

Para siswa/i yang mengikuti ujian semester dengan tertib dan tekun akan menampakkan kualitas kepribadiannya yang tinggi. Mereka menjadi pribadi yang sopan, beradab dan cerdas. Bila para siswa/i taat pada aturan sekolah, maka aturan sekolah akan melindungi mereka. Pernyataan ini serasa cocok bagi para siswa yang mengikuti ujian semester dengan aman, lancara dan tertib. Meskipun hasilnya jauh di bawah standard kelulusan, namun mereka dalam satu segi patut mendapat aplaus.

Sebagai salah satu guru pengawas ujian semester, saya dapat memahami kegelisahan para siswaku. Sering saya membaca sendiri jumlah tunggakan keuangan sekolah yang bisa mencapai satu juta rupiah setiap orang. Jumlah demikian tergolong sedikit, namun dari segi nilai, keterlambatan pembayaran keuangan sekolah bisa membuat mandek proses belajar mengajar di sekolah. Semua kebutuhan sekolah memerlukan uang sebagai alat pembayaran yang sah.

Uang menjadi faktor penyebab meningkatnya kualitas sekolah, namun tanpa didukung oleh faktor manusia, uang menjadi sesuatu yang tidak terlalu digubris. Maka uang dan manusia yang bermoral dan berkualitas merupakan faktor-faktor penting dalam peningkatan kualitas sekolah. Manusia yang berkualitas dapat memicu pembelanjaan uang yang berkualitas. Demikianpun sebaliknya.

Uang yang berkualitas akan memacu faktor manusia yang berkualitas pula. Maka jumlah uang yang banyak belum tentu menjamin kualitas uang itu menjadi tinggi. Sekolah yang memiliki jumlah uang uang banyak juga belum tentu mampu meningkatkan kualitas sekolahnya. Jadi Kualitas sekolah mestinya tercapai dengan melibatkan semua faktor-faktor yang ada yakni: faktor manusia, faktor biaya, dst.

Ketika ujian semester tiba, banyak orang tua siswa berdatangan ke sekolah untuk mengurus persoalan keuangan sekolah bagi putera/puterinya. Beberapa orang tua murid telah mengeluh kepada saya bahwafaktor biaya sebagai penyebab absentnya para siswa di kelas setiap kali proses belajar mengajar. Mereka mengatakan bahwa biaya hidup di kota sangat tinggi.

Perlu dana cukup besar untuk mengikuti aktivitas belajar-mengajar. Apalagi mayoritas para siswa SMA Kristen Atambua berasal dari golongan yang kurang mampu secara ekonomis. Mereka merupakan putera-puteri guru/PNS/swasta namun karena kurang pandai mengatur keuangan, maka para siswa/i mengalami kesulitan juga.

Pelaksanaan ujian semester menunjukan upaya peningkatan kualitas sekolah semakin tinggi dari tahun ke tahun. Ujian semester merupakan sebuah keharusan yang penting, agar para siswa kita semakin mampu menguasai ilmu pengetahuan yang merupakan misi paling utama dalam proses belajar mengajar di kelas. Ilmu pengetahuan yang diperoleh harus melalui tahapan-tahaban pengakuan formal. Ujian semester merupakan aktivitas formal yang harus dilaksanakan oleh semua sekolah sebagai lembaga pendidikan formal.

Ujian semester merupakan bentuk usaha menujupengakuan sekolah atas kompetensi dan hasil kelulusannya nanti. Dalam arti bahwa hanya para siswa yang mengikuti ujian semester yang diperbolehkan mengikuti tahapan pendidikan selanjutnya termasuk mengikuti UAS/UAN demimendapatkan ijzah formal bagi kelulusannya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita dapat mempertinggi kualitas kelulusan dalam ujian semester yakni:

Pertama, ujian semester merupakan sebuah kegiatan formal sekolah untuk mengukur kemampuan kognitif para siswa setiap semester yakni waktu belajar selama sekitar 6 bulan pelajaran. Maka manajement sekolah harus bekerja transparan, tertib , disiplin, jujur dan memiliki komitment kuat untuk menegakkan aturan dalam pelaksanaan ujian semester itu sebagai sebuah kegiatan formal sekolah yang bersangkutan. Maka sekolah perlumengontrol kondisi keuangan yang merupakan kewajiban para siswa/i sebelum pelaksanaan ujian, sehingga para siswa tidak sibuk ke sana ke mari pada saat ujian semester berlangsung.

Kedua, model ujian semester yang bagus harus mengikuti sistem UAS/UAN yang biasa dilaksanakan setiap tahun. Para siswa duduk dalam kursi masing-masing lalu diawasi oleh guru pengawas setelah memanggil para peserta dengan nama masing-masing. Diperlukan komitment yang kuat baik bagi para siswa/i maupun para pendidiknya. Komitment kuat dari semua pihak untuk menyelenggarakan sebuah ujian semester yang berkualitas merupakan faktor penentu keberhasilan ujian semester.

Ketiga, ujian semester juga harus mendukung kemandirian para siswa untuk memutuskan sendiri hal-hal yang berhubungan dengan masa depannya. Ujian semester tidak boleh melemahkan kemandirian dan merusak kemampuan siswa untuk meningkatkan kreativitas pendidikannya. Pendidikan justeru harus memberikan kesempatan besar dan ruang yang memungkinkan para siswa untuk memupuk kemandirian, kreativitas, keterampilan berdasarkan pemahamannya akan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Maka ujian semester bukan merupakan satu-satunya kriteria bagi kenaikan kelas nanti. Namun merupakan serangkaian proses yang padu dan utuh yang melibatkan semua sistem penilaian dalam banyak aspek menuju tujuan sesungguhnya dari pendidikan sesuai dengan visi dan misi pendidikan Indonesia yakni menjadi manusia susila dan seutuhnya berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

Keempat, perlu kesadaran bahwa pendidikan pada jenjang Pendidikan Menengah Atas (SMA) bertujuan untuk mempersiapkan seorang siswa untuk melanjutkan pendidikan pada tahab pendidikan selanjutnya. Jenjang pendidikan berikut yang akan ditempuh seorang siswa/i SMA adalah universitas. Pendidikan SMA salah satunya bertujuan mempersiapakan seorang siswa/i ke arah pendidikan selanjutnya yakni Pendidikan Tinggi. Maka ujian semester harus didesain untuk mempersiapkan para siswa/i ke arah pendidikan tinggi itu.

Kelima, kata “mengejar” kualitas ujian semester menunjukkan bahwa selama ini pelaksanaan ujian semester kita masih jauh dari harapan kita semua. Dalam Ujian Akhir Nasional (UAN) dan Ujian Akhir Sekolah (UAS) saja orang masih berkolaborasi untuk mendongkrak nilai demi kelulusan, apalagi pada ujian semester.

Bahkan ada kepsek atau guru yang sama sekali kurang mengakui interaksi guru dan siswa/i di kelas selama semester berlangsung. Para Kepsek di Indonesia ini ada yang seenaknya memasukan para siswa ke kelas begitu saja, padahal para siswa baru itu tidak memiliki bukti tatap muka selama bulan-bulan terdahulu.

Hal Ini menunjukkan bahwa ujian semester masih sangat kurang mendapat tempat bagi penentuan kelulusan siswa/i. Orang baru merasa ujian yang sesungguhnya bila menghadapi UAS/UAN. Alasannya karena penentuan kelulusan UAS/UAN adalah wewenang pusat.

Sedangkan penentuan kelulusan Ujian semester adalah wewenang sekolah. Maka terhadap ujian semester orang masih mengatakan “No way”. Ada oknum Kepsek di Indonesia ini yangtelah dipaksa untuk mengubah nilai-nilai raport semester para siswa/i tertentuagar para siswa/i hasil out put sekolahnya dapat diterima di pendidikan pilihan seperti STPDN atau Akademi militer lainnya.

Keenam, biarlah ujian semester ganjil/genap SMA berlangsung jujur, aman, adil, merata, tertib sesuai dengan tata aturan yang berlaku disetiap sekolah. Para siswa dilarang menyontek. Paraguru juga dilarang untuk memberitahukan kunci jawaban selamaujian berlangsung. Semuanya harus mematuhi koridor hukum dan norma yang berlaku agar kita dapat memiliki out put pendidikan yang berkualitas setiap tahun.

Demikian lima (5) upaya yang dapat dikemukakan untuk mengejar kualitas ujian semester kita pada jenjang pendidikan Menengah atas (SMA). Semoga dengan melaksanakannya kita akan memiliki mutu kelulusan yang mampu bersaing dan unggul di tingkat nasional dan internasional.

                       ____________________________________________

Dinamika Pasar Swalayan Atambua

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Rabu, 21 November 2012

Jam 15.00 di lokasi Pasar Swalayan Tradisional Atambua. Papan nama yang terpampang di depan pasar itu berjudul: Pasar Swalayan Tradisional Atambua. Dengan membaca judul papan nama itu sepintas, kita langsung mendapatkan gambaran umum keadaan pasar pemerintah ini. Hampir di setiap sudut pasar, kita temukan pedagang Papalele yang menjajakan barang dagangannya. Bahkan tempat-tempat berdagang yang sudah disiapkan pemerintah dalam kompleks pasar itu menjadi penuh dengan aktivitas perdagangan para Papalele.

Para pembeli hilir mudik memilih-milih barang yang akan dibeli. Sementara para pedagang swalayan dan Papalele sibuk menawarkan barang-barang jualannya kepada para pembeli dengan caranya yangmeyakinkan sehingga para pembeli melirik barang-barang dagangannya.

Banyak pedagangyang karena tidak kebagian tempat, terpaksa mereka menggelar barang-barang dagangannya di atas tikar atau bekas bungkusan karung plastikdi tanah. Para Papalele ini pun berjejer rapih hingga di depan lokasi pasar dekat dengan jalur jalan raya. Barang-barang yang dijual para pedagang Papalele itupun bermacam-macam misalnya, sayuran, mangga, pisang, nenas, umbi-umbian, ikan, jagung lokal, beras lokal, kacang-kacangan, daging sapi/babi, ayam, bawang, tomat, lombok, sirih-pinang, tembakau, dll.

Para pedagang tradisional umumnya berasal dari wilayah kabupaten Belu. Ada juga beberapa pedagang yang berasal dari wilayah kabupaten tetangga bahkan dari Timor Leste. Demikian juga para pembelinya menjadi beragam. Arus transportasi yang makin maju dan ramai pada saat sekarang ini memungkinkan relasi antara manusia melampau batas-batas daerah dan manusia. .

Pada umumnya, mayoritas para pedagang di pasar swalayan tradisional Atambua ini menjajakan barang dagangannya berupa bahan-bahan makanan mentah yang belum diolah. Bahan-bahan makanan itu, umumnya akan dibeli oleh para pembeli yang merupakan penghuni kota Atambua, misalnya, pelajar/mahasiswa, pegawai pemerintah/swasta, pekerja sosial, dll. Setelah membeli bahan-bahan makanan mentah itu, mereka membawanya ke rumah atau ke penginapannya untuk diolah menjadi makanan.

Pedagang dari kawasan dalam menjual produksi yang sudah jadi misalnya: Makanan siap saji, jajanan, gorengan, usaha rumah makan dengan berbagai jenis masakan seperti Nasi campur, dll, minuman, pakaian, sandal, tas, topi, reben, usaha toko emas dan perak, jam tangan, handphone, bahan-bahan pembangunan, sabun, produksi kosmetik, roti, beras karung plastik, terigu, barang pecah belah, seperti piring, senduk, aneka produk pakaian, alat memasak baik dengan api maupun dengan listrik, aneka rokok, biscuits, aneka produk manisandll. sementara para pedagang dari luar menjual bahan-bahan makanan mentah. Sekilas kita melihat perbedaan cukup signifikan dari penggolongan para pedagang ini.

Dari segi omset penjualan, para pedagang dari Indonesia “dalam” memiliki omset penjualan lebih besar bahkan ratusan juta rupiah. Sedangkan para pedagang dari Indonesia “luar” yakni para pedagang asli daerahNTT memiliki omset dagangan yang kecil, menjual bahan mentah dan bukan barang siap saji, bersifat sementara dan kurang diperhatikan pemerintah. Mereka umumnya menggelar tikar di lantai pinggiran toko/kios atau tanah saja. Sementara para pedagang dari Indonesia “dalam” memiliki gedung yang cukup lengkap, bersifat tetap dan umumnya mendapat jaminan atau bantuan pemerintah melalui kredit.

Akibat atau dampak bagi para Papalele ini menjual bahan mentah dan bukan bahan siap saji, maka mereka kurang maju dan berkembang. Para Papalele menjadi orang Indonesia “luar” yang kurang maju dan kalah bersaing. Mereka adalah orang Indonesia yang kalah bersaing dan kurang berkembang. Kemampuan akal budi mereka kurang maju dan berkembang dengan baik. Mereka menjual barang-barang tradisional yang kurang berlaku secara universal. Misalnya mereka menjual produksi lokal daerah dalam bentuk bahan mentah, sirih, pinang, tembakau, kapur, dll. Kebutuhan untuk mengkonsumsi barang-barang tersebut sangat terbatas. Malahan barang-barang jualan itu bisa tergerus zaman yang saat ini bersifat teknologis.

Para pedagang yang berasal dari penduduk asli Timor, Rote, Sabu, dan pulau-pulau di NTT ini menampakkan gambaran ekonomi pinggiran. Mereka digolongkan sebgai pedagang luar, memiliki omset dagangan kecil sekali, bersifat sementara, kurang diperhatikan, tidak mendapatkan kredit dan jaminan keamanan, tidak memiliki gedung/rumah dagang. Mereka termasuk potret masyarakat ekonomi pinggiran yang “mati segan hidup tak mau”. Mereka tidak dilibatkan dalam penentuan keputusan tentang harga pasaran.

Study intensif dari para peneliti dan aktivitas LSM menunjukkan bahwa masyarakat ekonomi pinggiran berada dalam situasi tereksploitasi dalam seluruh segi kehidupan. Mereka tereksploitasi dari segi politik, pemerintahan, pendidikan, ekonomi, religius, sosial-budaya dan pertahanan-keamanan. Para pedagang ekonomi pinggiran berasal dari kalangan yang kurang berpendidikan. Bahkanbanyak yang buta huruf.

Memang ada banyak yang akhirnya mengeyam pendidikan, namun out put pendidikan yang dihasilkan kaum pinggiranpun lebih banyak bertujuan untuk melayani kepentingan ekonomi golongan ekonomi kuat. Alhasil banyak tamatan SMP atau SMA memilih hijrah ke luar daerah teristimewa ke Jawa, Sumatra,Bali, Kalimantan bahkanMalaysia untuk bekerja pada sektor-sektorformal dan informal perusahaan yang dimonopoli oleh pengusaha dalam.

Mereka menjadi pedagang Papalele. Kata “Papalele” merupakan kata yang menunjukkan keberadaan para pedagang pinggiran ini sejak zaman kolonial. Mereka merupakan gambaran pedagang “not have” yang artinya tidak berpunya, miskin, lemah, sering ditendang ke sana ke mari, dan dianggap mengotori perkotaan. Mereka sering menjadi korban aparat yang sewenang-wenang dan gampang digusur begitu saja.

Istilah “Papalele” telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Ada yang mengatakan bahwa pedagang Papalele adalah pedagang dari golongan yang pada masa kolonial merupakan golongan yangkalah perang, sisa-sisa golongan tertindas, dan tak berpunya.

Istilah Papalele terdiri atas 2 kata yang dipadankan yakni Papa=miskin, hina, kalah perang, pesuruh dan lele yang artinya menjual dengan murah, menjual dengan harga di bawah. Istilah Papalele sebenarnya mula-mula merupakan pemberian nama oleh pihak kolonial Belanda bagi para pedagang kecil/miskin asal Sabu dan Rote yang pada abad XVI telah di datangkan pemerintah kolonial Belanda dari Pulau Rote dan Pulau Sawu dan mulai tinggal menetap di bagian barat Kupang di pulau Timor. Penduduk Papalele ini selanjutnya memulai aktivitas Papalele hingga ke pedalaman pulau Timor. Mereka ditemukan hampir di setiap daerah pedalaman Timor dan bermukim di sekitar pasar pemerintah. Mereka di sebut kaum Papalele.

Mulai abad XIX, hingga pada masa kemerdekaan RI, para Papalele asal Sabu dan Roti mulai habis karena kalah persaingan modal dengan pedagang-pedagang dari Jawa, Sumatra, Kalimantan dan terutama berasal dari pedagang-pedagang asal Sulawesi. Para Papalele mulai kehilangan modal akibat kalah bersaing terhadap tekanan-tekanan pasar yang ketat. Namun kegiatan Papalele masih terus berlangsung setelah itu. Hal itu terutama dilakukan oleh penduduk lokal Timor sendiri yang sebelumnyatelah berkolaborasi dengan Papalele dari Sabu atau Roti.

Maka akibat dari kolaborasi itu, istilah Papalele akhirnya dikenakan juga kepada para pedagang kecil pribumi Timor. Para pedagang kecil pribumi Timor yang menjadi Papalele diduga berasal dari sisa-sisa orang yang kalah politik tradisional kampung, orang-orang yang kehilangan hak atas tanah-tanah karena disita atau dirampas. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari stratifikasi sosial-politik tradisional masyarakat kelas bawah. Mereka disebut kaum Papa dan lele, kedua istilah ini dipadankan menjadi kaum Papalele.

Kegiatan Papalele itu sendiri diperkenalkan oleh beberapa orang pedagang kecil asal Sabu dan Rote yang sejak abad XVI didatangkan penguasa kolonial Belanda di daerah pantai baratKupang. Namun bukan berarti bahwa istilah Papalele ini berasal dari para pedagang dari Sabu dan Rote tersebut. Berdasarkan penelusuran penulis dapat dipastikan bahwa istilah Papalele ditemukan pada daerah-daerah perdagangan NTT, NTB, Maluku. Sulawesi dan Irian Jaya. Di daerah-daerah tersebut, hampir semua penduduk sepakat memberikan nama bagi pedagang kecil lokaldi pasar pemerintah dengan sebutan Papalele. Istilah Papalele memiliki arti arti yang sama seperti yang dijelaskan dalam tulisan ini pada semua daerah di NTT, NTB, Maluku dan Irian Jaya.

Berdasarkan penelusuran penulis ini, disimpulkan bahwa diduga pada masa setelah kekuasaan Majapahit runtuh telah terbuka jalur perdagangan yang baru. Bila kita membuka kembali lembaran sejarah pada masa setelah kerajaan Majapahit runtuh pada abad ke-XIV, telah bermunculan kerajaan muslim di pesisir pantai.

Pulau Timor setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit pada abad XIV itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Ternate di kepulauan Maluku Utara. Kerajaan Islam Ternate dalam sejarahnya pernah menjadi penguasa perdagangan di wilayah Indonesia Timur yakni wilayah-wilayah seperti: Maluku, NTT, NTB, Sulawesi bahkan hingga ke Irian Jaya. Maka istilah Papalele kemungkinan berasal dari periode kekuasaan kerajaan muslim Ternate-Tidore atas kepulauan Maluku, Timor dan Irian Jaya. Pada masa itu, telah bermunculan banyak pasar-pasar tradisional di pesisir pantai Pulau Timor yang telah mendapat pengaruhnya dari kekuasaan kerajaan Muslim Ternate dan Tidore di bagian Timur kepulauan Indonesia.

Kehidupan kaum Papalele tidak banyak berubah. Malahan mereka tetap papa sesuai dengan namanya Papa yang berarti miskin dan lele yang berarti menjual dengan murah atau menjual dengan harga di bawah. Mengapa kehidupan mereka tidak berubah? Ini menjadi pertanyaan menarik. Para Papalele adalah kumpulan pedagang-pedagang kecil yang sering tidak bersatu. Mereka sering saling cekcok di antara mereka sendiri. Silahkan anda membayangkan: sudah Papa atau miskin malahan saling cekcok di antara sesama teman mereka sendiri. Akibat kurang bersatu, kurang berpendidikan, bodoh, saling cekcok di antara mereka dan juga akibatkurang membangun jaringan kerjasamayang bagus maka para Papalele menjadi miskin dan tidak berkembang. Mereka tetap berada di landasan. Tidak maju dan tidak berkembang. Bahkan mungkin saja bisa hancur dan bubar.

Mereka bisa terancam hancur eksistensinya sendiri akibat saling cekcok tersebut. Berbeda dengan para pedagang Papalele yang kemudian sadar dan membentuk koperasi atau perkumpulan para Papalele. Namun kita belum mendengar adanya organisasi Perkumpulan Para Papalele Indonesia. Tidak ada organisasi yang demikian. Maka bisa disimpulkan bahwa para Papalele merupakan orang-orang kalah atau orang-orang yang sedang mengalami proses marginalisasi akibat tergerus dalam roda zaman. Mereka menampilkan wajah ekonomi kaum pinggiran. Semoga pembangunan ekonomi bisa menyapa kaum Papalele menuju ke arah masa depan mereka yang lebih bagus.

_____________________________________________________

Implikasi Soal-Soal Model Pilihan Ganda (Multiple Choice)

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Jumat, 30 November 2012

Soal-soal dengan model pilihan ganda (multiple choice) menjadi alternatif paling penting saat ini untuk Ujian Semester dan UAS/UAN para siswa SMA. Mengapa? Ada banyak pertimbangan positif mengapa model soal pilihan ganda (multiple choice )ini menjadi pilihan. Setiap kali ujian semester, para guru kita diwajibkan menyusun soal-soal berbentuk pilihan ganda sebanyak 50 nomer tanpa essay test. Salah satu alasan yang menjadi pertimbangan ialah bahwa soal-soal pilihan ganda memerlukan analisis dan ketepatan tinggi dalam menjawabnya. Pilihan a,b,c,d, dan e adalah pilihan yang menentukan.

Salah memilih huruf pilihan (options) akan berakibat fatal dan sulit dibenarkan lagi. Tingkat ketepatan untuk memilih jawaban a,b,c,d dan e harus tinggi. Bila tidak tepat maka tidak ada alasan lain untuk membenarkan kesalahan. Lain halnya bila orang menjawab soal-soal dalam bentuk essay test. Jawaban soal-soal berbentuk essay test berbentuk subjektif. Tidak selalu bahwa orang bisa mendapat nilai nol dalam soal-soal subjektif test. Bila pertanyaan dalam bentuk subjektif test maka ada pertimbangan-pertimbangan lain yang memungkinkan para peserta kita dapat memiliki nilai di atas nol.

Perbedaan antara soal essay test dan objective test terletak pada akumulasi kebenaran yang dianut. Test objective lebih ringkas, singkat, langsung, tidak bertele-tele dan hemat waktu. Lebih mudah seorang guru memeriksa jawaban objective test dibandingkan dengan memeriksa jawaban subjective test. Memeriksa jawaban objective test lebih cepat, dan tidak bertele-tele. Sedangkan memeriksa jawaban subjective test lebih lama dan lebih banyak memerlukan pertimbangan subjektif.

Meskipun sekolah-sekolah kita menggunakan format pilihan ganda (multiple choice) yang nota bene merupakan ujian yang mengutamakan penilaian objektive namun hasil kelulusan para peserta tidak melulu menggunakan format objective. Dalam praktek penilaian UAN/UAS dan ujian semester, penentuan kelulusan 40: 60. Dalam arti bahwa 60% merupakan hasil penilaian Ujian semester dan UAS/UAN sedangkan 40% merupakan penilaian subjektif. Format tersebut bisa saja terbalik bila sekolah penyelenggara diberikan wewenang dan otonomi dalam penentuan hasil kelulusan para siswa. Bisa saja bahwa 60:40 yaitu 60% penilaian subjektif dan 40% penilaian ujian semester. Meskipun hal seperti ini (60% subjektif dan 40% nilai ujian) jarang terjadi. Bahkan hampir tidak ada. Patokan umum yang telah dipakai sekarang ialah format 60:40, artinya 60% nilai UAS/UAN atau nilai semester dan 40% penilaian subjektif.

Bila penentuan nilai 60% penilaian subjektif oleh guru/kepala sekolah bisa disebabkan banyak hal. Hal-hal yang menyebabkan itu sering merupakan kasus-kasus luar biasa dan jarang terjadi yakni berdasarkan penilaian sikap-sikap yakni akibat pelanggaran norma-norma dalam hidup bersama. Penilaian sikap dan penilaian pelanggaran norma-norma dalam hidup bersama bisa membatalkan kelulusan seorang siswa/i.

Contohnya: Seorang siswi yang kedapatan hamil sebelum UAN/UAS berlangsung atau sebelum ujian semester berlangsung bisa langsung dikeluarkan dari sekolah meskipun siswi tersebut memiliki nilai terbaik di sekolah atau kelasnya. Demikianpun bila seorang siswa/i terlibat tindak kejahatan seperti membunuh, menganiaya sesamanya, mencuri dan melakukan kejahatan-kejahatan lainnya, bisa dipakai penilaian dengan format 60% subjektif dan 40% hasil ujian.

Penilaian dengan format 60% berbanding 40% nilai ujian harus sedapat mungkin dihindari. Hal tersebut memang jarang terjadi di sekolah-sekolah kita. Bisa saja hal itu terjadi namun satu atau dua orang siswa/i saja. Maka dalam pendidikan di SMA, kecerdasan kognitif harus seimbang dengan kecerdasan spritual, kecerdasan emosi, kecerdasan efektif dan psikomotorik. Hal ini penting karena pada umur SMA, apalagi kelas XII, para siswa/i kita sudah sedemikian matang secara fisik. Meskipun secara mental mereka belum dikatakan dewasa dan matang.

Maka berikut ini saya akan mengemukakan beberapa implikasi yang perlu demi peningkatan kualitas para siswa kita. Beberapa implikasi positif dari model soal pilihan ganda (multiple choice)dapat dijelaskan berikut ini:

Pertama, melalui sistem pilihan ganda (multiple choice), para siswa/i dapat dimampukan untuk memiliki pertimbangan yang tajam untuk memilih hal-hal yang benar sesuai dengan teori yang dipelajarinya. Kemampuan untuk menganalisis soal-soal dan memutuskan hal-hal yang benar, baik dan bernilai bagi dirinya menjadi tinggi. Selain menguji kecepatan dan ketepatan dalam menjawab soal-soal, para siswa juga dibentuk kepribadiannya agar konsisten dalam memilih hal-hal yang benar, berguna dan baik bagi dirinya sendiri.

Bila jawaban para siswa/i itu benar sesuai dengan teori yang didapatkan maka dia akan semakin percaya pada apa yang dipelajarinya danakan terus memperjuangkannya dalam kehidupannya setiap hari. Dua kata yang berhubungan erat dengan model pilihan ganda ini ialah “mempertimbangkan” dan “memutuskan”. Kata mempertimbangkan berarti: mendayagunakan energi akal budinya secara total sesuai dengan pengetahuan yang telah dipelajarinya secara intens. Sedangkan kata memutuskan berarti memberikan sikap dan penentuan terhadap pilihan-pilihan yang diberikan kepadanya. Kata “memutuskan” juga berarti bahwa ilmu pengetahuan itu kini harus berwujud, beralih dari sesuatu yang semula berada di dalam akal budinya, kini menjadi nyata lewat tulisan.

Kedua, unsur kecerdasan manusia menjadi lebih nampak jelas dalam soal-soal pilihan ganda (multiple choice) dibandingkan dengan essay test. Esay test berwujud jawaban subjektif sedangkan pilihan ganda lebih kepada jawaban objektif. Kebenaran pada jawaban objektif lebih jelas dan ketepatannya langsung dilihat. Unsur-unsur dalam essay test telah terkandung di dalam objektif test itu sendiri, misalnya dalam pelajaran Matematika. Seorang siswa yang cerdas akan mampu mengharmoniskan kebenaran objektif pilihan ganda dengan langkah-langkah dalam pengerjaan soal-soal subjektif itu dalam kertas cakarannya.

Ia akan memandang pilihannya sebagai hasil cakarannya sesuai dengan metode-metode Matematika yang dipelajarinya. Maka jangkuan penerapan ilmu dalam soal-soal pilihan ganda lebih banyak, luas dan mendalam dibandingkan dengan soal-soal essay test yang jumlahnya lebih sedikit dari soal-soal pilihan ganda (multiple choice).

Guru boleh saja memadukan soal-soal pilihan ganda (multiple choice) dengan essay test dalam satu paket soal ujian. Biasanya soal-soal pilihan ganda (multiple choice) lebih banyak dari soal-soal essay test. Katakanlah dari 50 nomer soal yang disiapkan, terdapat 45 soal pilihan ganda dan 5 nomer essay test.

Ketiga, soal-soal pilihan ganda (multiple choice) menggambarkan filosofi kehidupan zaman sekarang itu sendiri. Kehidupan zaman global yang penuh kemajuan informasi dan komunikasi itu menyediakan banyak pilihan-pilihan yang harus disikapi oleh manusia. Manusia dalam zaman sekarang harus mampu memutuskan pilihan-pilihan tertentu dalam hidupnya. Pilihan-pilihan itu misalnya dalam sistem demokrasi orang harus mampu memilih secara tepat dan benar. Ia – oleh ketepatan pilihannya itu- akan membuatnya bisa mencapai kesejahteraan dalam hidupnya.

Orang yang memilih benar akan hidup makmur dan sejahtera dengan pilihannya itu. Bila manusia salah memilih maka manusia akan terkena resiko menjadi sengsara akibat pilihannya tersebut. Selain demokrasi, beberapa hal yang membutuhkan pilihan manusia misalnya: memilih teman, memilih jodoh, memilih makanan, memilih kesehatan dan medis, memilih rumah, pendidikan, bank, dll.

Singkatnya: Kehidupan zaman sekarang membutuhkan kecerdasan untuk mempertimbangkan dan memutuskan hal-hal yang terbaik, benar dan bermanfaat bagi dirinya, sesama, lingkungan dan imannya. Melalui soal-soal pilihan ganda, yang membutuhkan kemampuan memilih secara tepat itu, para siswa/i kita dilatih dan diarahkan untuk kelak mampu memilih pilihan-pilihan yang dihadapinya dan berhasil melaksanakannya.

Keempat, unsur ketepatan merupakan penentu utama dalam keberhasilan menjawabi soal-soal pilihan ganda (multiple choice). Namun kita juga harus berbicara tentang resiko-resiko yang harus dipikul oleh siswa-siswi kita manakala mereka menjawab secara tidak benar. Justeru hal ini banyak kali terjadi. Maka terhadap hal ini, para siswa/i kita perlu dilatih untuk berkomitmet tinggi agar teguh pada apa yang dipilihnya. Ia harus bertanggung jawab terhadap resiko-resiko akibat pilihan yang dijatuhkannya. Bertanggung jawab berarti mampu memikul resiko jelek dari kesalahan pilihannya sendiri. Ia tidak boleh membangun mekanisme pembelaan diri misalnya: menyalahkan dirinya, menyalahkan orang tuanya, menyalahkan para gurunya dst. Bila dia salah memilih maka bisa saja dia akan menghadapi resiko tidak lulus ujian. Maka dia harus berani mengulang, bukan melarikan diri dengan melakukan cara haram lainnya.

Resiko terhadap ketidaklulusan akibat salah memilih harus dipikulnya. Ia harus berani mengulang dan tekun belajar lagi agar bisa lulus dalam ujian berikutnya. Melarikan diri dari kesalahannya dalam memilih akan menimbulkan dampak buruk bagi kepribadiannya. Bila ia melarikan diri dari kesalahannya maka Ia akan bertumbuh menjadi manusia pengecut dan lemah kepribadiannya. Justeru ini harus dicegah.

Orang harus berani mengakui kesalahan dan berjuang lagi untuk memperbaiki kesalahannya. Selalu ada kesempatan baru bagi orang yang gagal. Jalan baginya masih terbuka. Yang perlu bagi orang yang gagal ialah berjuang untuk bangkit dan terus berjalan menghadapi masa depan. Bila gagal, berjuang untuk berhasil lagi. Jalan tetap terbuka. Sebaiknya janganlah cepat berputus asa dan kehilangan harapan.

Pendidikan harus mampu untuk membuat orang bertanggung jawab atas segala resiko yang muncul dari keputusannya sendiri. Bila berhasil maka silahkan maju pada tahab hidup berikutnya. Perjuangan masih panjang bagi para siswa/i SMA kita. Masa depan mereka masih luas dan penuh perjuangan. Semoga mereka akan berhasil menggapai masa depan mereka.

                          ______________________________

Berjaga-Jagalah (Mrk. 13:33)

 

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Kamis, 29 November 2012

Ketika menulis Posting ini, saya sementara mengalami sedikit trauma. Kejadian bermula saat saya kembali dari kota Atambua, pada Rabu, 28 November 2012. Pada hari itu, saya baru saja kembali dari urusan mentransfer uang ke rekening seorang wanita di Hongkong. Ia adalah seorang wanita yang sedang bekerja di Hongkong.

Seorang saudara saya Frans Pitang Meko saat ini bekerja pada sebuah perusahaan Kelapa Sawit di Malaysia telah meminta kami untuk mentransfer sejumlah uang kepada teman wanita seorang rekannya di Malaysia yang saat ini sedang sakit di Hongkong. Dia membutuhkan uang untuk biaya pengobatannya. Maka saya bersama saudari saya pergi ke kota Atambua untuk mentransfer sejumlah uang namun karena kami melupakan SWIFT CODE bank of Hongkong maka transaksi itu batal kami dilakukan. Maka buru-buru saya harus mencari SWIFT CODE Bank of Hongkong di Mr Google internet.

Aktivitas mengirim uang ke luar negeri merupakan aktivitas yang sangat jarang kami dilakukan. Oleh karena jarang melakukan pengiriman uang ke luar negeri maka mengirim uang ke luar negeri menjadi agak sulit. Kita perlu mengakses google untuk mencari SWIFT CODE bank untuk mengsukseskan pengirimannya. Hal itu memang tidak mudah dan usaha tidak perlu pemikiran yang besar apalagi bagi orang yang tidak tahu internet atau tidak pernah membuka internet sebelumnya. Pengiriman uang ke louar negeri membutuhkan SWIFT CODE. Itu pasti. Bila SWIFT CODE sudah ada maka pengiriman uang akan mudah dilaksanakan.

Oleh karena Bank tidak memiliki layanan internet maka tanpa berpikir panjang, saya bersama saudara saya segera meluncur dengan Honda Revo saya kembali ke rumah dengan kecewa. Sungguh kecewa saya hari ini. Mestinya petugas bank harus mencarinya di internet bank. Namun mengapa mereka tidak melakukannya? Apakah bank tidak memiliki fasilitas internet? Maka saya harus kembali ke rumahku untuk mencari di internetku, aku harus mengklik Mr google internetku. Nah di tengah jalan peristiwa ini telah terjadi.

Sementara dalam kecepatan tinggi, tiba-tiba rantai motor saya terdengar berbunyi keras. Sekitar satu menit kemudian kendaraan yang saya setir menjadi oleng hebat. Ternyata rantai motor Honda Revo itu telah putus 3 bagian, padahal kecepatan motor sedang tinggi. Saya sadar bahwa saya sementara dalam keadaan berbahaya. Apalagi saya sedang berada di jalanan umum.

Ada banyak kendaraan yang hilir mudik di sekitar saya. Namun saya berusaha menguasai diri sendiri. Saya pastikan bahwa diri saya menjadi tenang dahulu agar saya dapat mengendalikan laju kendaraan yang sedang oleng berat. Saudara saya yang berada di belakang saya menjerit ketakutan. Dan alhasil saya mampu mengendalikan olengan hebat Honda Revo itu dan mengarahkannya menuju sudut jalan raya. Motor itu berhenti dengan aman namun kami tidak mengalami kecelakaan apapun.

Saya dapat menyaksikan banyak orang di jalanan datang berkerumun di samping saya. Mereka nampak cemas dan ketakutan akan nasib kami ketika bunyi rantai putus tadi begitu tinggi dan memekakan telinga. Mereka berpikir bahwa motor itu kemungkinan akan meledak. Padahal hanya rantainya saja yang putus. Gesekan kuat rantai motor itu dengan Girnya sendiri telah menghasilkan bunyi keras.

Bunyi keras itulah yang membuat orang berlarian ke arah motor Hondaku untuk sekedar tahu apa sebenarnya yang terjadi. Saya pun menjelaskan bahwa saya telah berhasil dan mampu mengendalikan kendaraan itu dengan tingkat kesulitan yang tinggi yakni ketika dalam kecepatan tinggi mendadak kendaraan itu oleng karena putusnya rantai roda menjadi tiga bagian. Padahal kami sementara di tengah jalan raya dan banyak kendaraan di samping kami.

Setelah mendapat penjelasan saya orang-orang yang berkerumun itupun meninggalkan kami satu demi satu. Maka beberapa saat kemudian saya mencari bengkel terdekat untuk memperbaiki rantai roda kendaraan tersebut. Yang terjadi setelah itu ialah saya harus membeli rantai roda yang baru dengan gir yang baru pula. Harganya lumayan tinggi, namun setelah kejadian itu rantai dan gir motor Honda Revo itu menjadi baru.

Kecelakaan pada waktu berkendaraan dengan Honda Revo bukanlah kali pertama itu terjadi. Saya telah mengalaminya beberapa kali. Suatu ketika saya terperosok ke dalam sebuah got di tengah jalan yang airnya tergenang dalam. Tak ada kendaraan atau orang yang lalu di samping saya. Padahal badan saya berlumuran darah. Saya berjuang mengangkat sendiri kendaraan saya dan saya membawanya perlahan-lahan menujuke rumah. Padahal kendaraan itu penuh lumpur.

Sayapun berhenti sejenak untuk mencuci motor itu sebelum membawanya ke rumah. Sesampainya di rumah baru saya mengobati luka-lukaku. Kejadian lain saat saya hendak mengawas UAN tahun 2010 di SMA Surya Atambua.Saat di tengah jalan saya bertabrak dengan sebuah pohon yang tumbang di tepi jalan. Saya tidak melihatnya karena hari masih gelap dan pagi-pagi sekali. Hujanpun sementara gemeritik. Tak satupun orang mengetahui keberadaan saya.

Saya terjerembab ke jalan aspal. Beberapa onderdil Honda Revo itu menindih tubuh saya. Sekujur kakiku menjadi luka dan bengkak.Namun saya berusaha mengangkat motor itu dan terus melajuke Atambua. Sayaberhasil mengawas UANSMA Surya Atambua hingga selesai. Sepanjang UAN itu, saya terbantu dengan obat penahan rasa sakit dan antiinfeksi yang saya beli di apotik.

Kejadian lain ialah ketika saya sedang pulang dari Atapupu. Saya berpapasan dengan sebuah motor yang melaju kencang. Saya tidak melihat motor itu sebab di depan saya terdapat sebuah truk yang sedang melintas. Pada sebuah belokan saya berusaha mendahului Truk itu. Namun tanpa diduga saya bertabrakan dengan motor tersebut.

Pengemudi motor itu terserempat jauh dariku setelah “Spakbort” motor itu menyenggol ibu jari kakiku. Terasa nyerih sekali. Motor Honda Revoku terbanting cukup keras di jalanan lalu mesinnya mendadak mati. Beberapa menit kemudian saya bangun dan memindahkan posisi jatuhnya motor agar motor saya tidak terlintas oleh kendaraan laindari depan atau belakang.Maklumlah tempat kecelakaan itu adalah sebuah belokan yang berat.

Setelah ia bangun dari motornya, pengemudi itu langsung memaki dan memarahiku dengan sikap yang menantang. Bukan main beringas ia padaku. Ia memaki dan memarahiku dengan sangat. Sayapun berusaha melerai dan mengatakan bahwa bukan hanya saya sendiri yang salah. Peristiwa Ini adalah sebuah kejadian tanpa diduga. Hampir saja saya berkelahi dengan orang itu. Namun dia tetap bersikukuh untuk mempersalahkan saya. Sementara kami bertengkar dan berdebat, tiba-tiba banyak orang datang berkerumun dekat saya. Nampaknya dia tetap beringas.

Beberapa saat setelah orang-orang pergi, dia segera menuntut saya biaya pengobatan supaya saya dapat menebus kesalahan saya. Saya mengelak karena saya tidak bersalah. Ini sebuah kejadian out of control. Namun saya bersedia memberikan setengah dari jumlah yang dimintanya. Namun dia tetap berkeras kepala. Diapun segera pergi mengambil STNK dan SIM motorku lalu berangkat pergi. Sebelum dia pergi, dia sempat menitipkan pesan agar saya pergi mengambilnya di rumah.

Sesampainya di rumahku di Halilulik, saya pun menceriterakan peristiwa ini kepada orang-orangku se rumah. Mereka tidak terima perbuatan seperti itu. Maka berkumpulah sekelompok pemuda dengan membawa pentungan dan senjata untuk menyertai saya berangkat ke rumah si pengemudi itu. Kami ingin memintakan kembali SIM dan STNKku. Dia tidak berhak menahan SIM dan STNKku karena dia bukan seorang Polisi. Kami berusaha untukmencari rumah orang itu hingga malam hari.

Ketika kami tiba di rumah orang itu, kelompok mereka sedang menonton TV. Kami menceriterakan semua peristiwa itu. Dia kelihatannya tetap bersikukuh bahwa dirinya tidak bersalah. Lalu, dengan alasan apa anda menahan SIM dan STNK milik saya? Anda cuma seorang sopir seperti saya. Dia kurang menerima peristiwa itu. Namun beberapa saat kemudian, dia memberikan juga SIM dan STNKku kembali. Kami menerima dan pulang kembali ke rumah dengan selamat.

Kami beruntung bahwa si pengemudi itu ternyata orang yang baik hati. Dia sempat menghidangkan kopi untuk kami bertiga. Seandainya dia bertindak kasar kepada kami pasti kejadian keras akan bisa terjadi sebab kedua pemuda yang menyertai saya itu membawa senjata juga. Mereka sudah bertekad untuk membela saya hingga titik darah penghabisan. Mungkin dia menjadi takut melihat kedatangan kami lalu terpaksa memberikan SIM dan STNK milik saya. Namun lain kali pasti dia tidak akan membawa SIM atau STNK milik orang lain sebab dia bukan Polisi.

Makna apa yang dapat saya petik dari peristiwa kecelakaan yang tiba-tiba itu?

Kita kembali ke judul tulisan ini. Di sana kita akan menemukan jawabannya. Berjaga-jagalah dan berdoalah sebab kalian tidak tahu kapan saatmu tiba. Bila kita menemukan kejadian seperti itu, kita menjadi sadar bahwa kematian begitu dekat dengan kita bahkan hanya dalam dalam sepersekian detik tindakan kita.

Bila kita salah membuat keputusan sekecil apapun maka kejadian parah akan datang menimpah kita. Kecelakaan dan kematian manusia menjadi momok utama dalam penggunaan kendaraan motor dan mobil atau truk. Bagi seorang pengemudi seperti saya, sesewaktu orang bisa luka, pergi ke alam baka atau membuat orang lain meninggal dunia. Dasyat sekali…!

Apabila saya sementara di atas motor Honda Revo, setiap saat saya menemukan tanda bekas peristiwa kecelakaan yang mengakibatkan kematian di pinggir jalan raya secarasia-sia akibat kecelakaan motor atau mobil. Banyak tanda salib dipasang orang untuk memperingati tragedi berdarah yang bernama Kecelakaan. Banyak nyawa telah merenggang di jalanan. Banyak tangisan perpisahanan telah terdengar piludi balik Stir. Pendeknya Stir telah membuat orang berderai air mata, orang bersedih, menangis, tertawa dan bergembira. Semuanya ituterjadi dalam dan melalui Stir. Bila kita berada di atas motor Honda Revo yang sedang melaju kencang. Terasa begitu nyaman dan bebas. Udara begitu segar. Pemandangan menjadi bebas. Kita boleh melihat ke sana ke mari tanpa terhalang oleh jendela.

Motor Honda bisa membuat kita berhenti kapan saja dan di mana saja kita mau. Bila kitasementara berada dalam perjalanan, kita bisa menghentikan kendaraan kita. Kita menjadi begitu bebas, merdeka. Namun kalau orang tidak hati-hati mengendarainya maka Honda Revo bisa menjadi momok yang menakutkan bahkan akan menjadi seperti Peribahasa “Pagar makan tanaman”.

Sungguh sedih dan gembiranya berkendaraan Sepeda Motor. Sedih bila kita membayangkan bahwa banyak orang telah menjadi korban akibat kendaraan roda dua ini. Kiri dan kanan sepanjang jalan kita menyaksikan salib yang terpasang dipinggir jalan sebagai peringatan bagi semua orang beriman bahwa kendaraan roda dua atau empat itu telah mencabut paksa nyawa seseorang atau beberapa orang yang kita cintai.

Mungkin saja mereka atau diabelum mempersiapkan diri secara bagus untuk pergi ke alam sana. Namun dia/mereka dipaksa pergi akibat keteledoran seorang pengemudi. Perasaan gembira juga bisa saja menghinggapi sang pengemudi karena berhasil mencapai finish secara cepat. Pendeknya bahwa semua perasaan tercampur aduk. Antara sedih, gembira, hati-hati dan semua perasaan bisa saja tak menentu dalam pribadi seseorang pengendara. Nyawa dan harta telah menjadi taruhan bagi seorang pengendara sepeda motor atau pengendara mobil.

Injil Markus menempatkan nasihat untuk berjaga-jaga menyongsong waktu akhir zaman yang digambarkan akan datang namun manusia sendiri tidak mengetahuinya. Dalam Injil Markus Bab 13: 33, Tuhan Yesus bersabda, “Berhati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamana waktunya tiba”.Hal itu berarti bahwa waktu akhir zaman itu adalah sebuah kepastian. Akhir zaman akan tiba dalam wujudnya misalnya kematian seseorang.Saya mengutip secara utuh kutipan Injil Markus 13:33 untuk saya jadikan sebagai judul tulisan ini.

Bagi orang tersebut akhirzaman telah datang dan menimpahnya. Cara kematiannya pun bisa menggambarkan akhir zaman itu misalnya karena kecelakaan, bencana alam, penyakit, dll. Namun akhir zaman tidak bisa dipastikan. Dia akan datang namun waktunya tidak bisa diketahui. Ia akan datang malam ini, esok pagi, dst. Yang perlu bagi kita ialah: Berhati-hatilah dan Berjaga-jagalah! Itulah seruan terbaik Yesus buatkita sekaligus arahantentang apa-apa sajayang perlu kita buat untuk menghadapi akhir zaman tersebut.

Keadaan orang yang sementara dan terus berjaga-jaga itu dapat disamakan dengan karakter seorang prajurid. Seorang prajurid senantiasa diwajibkan untuk berjaga-jaga selama 24 jam setiap hari. Sebab musuh akan datang dan menyerang kapan saja dia mau. Seorang prajurid yang kedapatan lengah dalam penjagaannya maka dia akan ditembak mati oleh musuh-musuhnya.Namun seorang prajurid yangselalu siap sedia, maka diaakan menang dalam pergulatan hidupnya itu. Ketika anda masuksebagaiseorang prajurid anda telah memiliki musuh yang jelas. Musuh itu akan datang pada saat dimana anda tidak duga sebelumnya.

Berdasarkan pemahaman Injil Markus 13:33 ini muncul sebuah komunitas di Jerman yang pada awalnya menamakan dirinya sebagai Bibeltreue Enzeitkrieger yakni komunitas grup FB yang melihat kesiapsiagaan menyongsong masa akhir sebagai seorang prajurid dalam kesetiaan terhadap Alkitab.

Komunitas itu kemudian merubah namanya menjadi Bibeltreue Hoffnungskrieger yakni komunitas grup FB yang melihat kesiapsiagaan menyongsong pengharapan hidup itu harus dalam konteks kesetiaan dalam Alkitab. Alkitab telah memberikan pengharapan kepada manusia. Orang yangkehilangan harapan dalam hidupnya harus sungguh-sungguh kembali ke Alkitab untuk menimbah sumber yang tidak henti-hentinya bagi tumbuhnya pengharapan dalam hidupnya.

Saya belajar dari pengalaman ini bahwa Allah telah sangat baik kepada saya. Ia melindungi saya dari kecelakaan ke kecelakaan. Allah masih mencintai saya. Ia terus melindungi saya kapan saja dan dimana saja saya berada termasuk dalam situasi sulit dalam hidup saya. Allah telah membebaskan saya dari akibat kecelakaan sehingga saya tetap sehat dan utuh hingga hari ini.

IA telah memberkati aku dan IA telah memberikan aku kesembuhan. Bahkan IA telah menunjukkan keajaiban dalam peristiwa-peristiwa kecelakaan. Saya sungguh merasakan rahmatNya dan kehadiranNya yang nyata di saat-saat sulit seperti itu. IA telah memberkatiku dan akan terus menyertai saya kapan dan di manapun saya berkarya. Syukur dan pujian layak saya haturkan atas rahmatNya dan penyertaanNya bagiku sepanjang masa…

                _______________________________________

 

Gencatan Senjata di Jalur Gaza

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Jumat, 23 November 2012

Perang 8 hari antara Israel melawan Hamaz dan Palestina di jalur Gaza, Timur tengah, para hari Rabu, 21 November 2012 secara resmi meredah. Pihak Mesir melalui Menteri luar negerinya Mohammed Kamel Amr dan Amerika Serikat melalui Menteri luar negerinya Hilary Rodham  menjadi pelopor gencatan senjata antara Israel dan Hamaz di jalur Gaza. Perundingan akan dimulai setelah gencatan senjata berlangsung 24 jam.

Menurut dokumen gencatan senjata yang dirilis berbagai Media mengatakan bahwa gencatan senjata dimulai pada Rabu, 21 November 2012 Jam 21.00 WIB malam. Dalam perang 8 hari ini, baik Israel maupun Hamaz sama-sama meluncurkan ribuan roket ke arah daerah pertahanan lawannya masing-masing. Korban sipilpun berjatuhan. Seperti biasa, dalam perang Israel di jalur Gaza ini yang menjadi korban adalah rakyat Palestina yang tinggal di jalur Gaza.

Penyebutan Hamaz sebagai pihak yang berseteru langsung dengan Israel sebagai sebuah persona tersendiri bersama-sama dengan Palestina dan juga Fattah tentu menimbulkan dampak signifikan bagi harapan masyarakat Palestina dan dunia bagi terciptanya perdamaian di Jalur Gaza. Seluruh dunia pasti tahu siapakah kelompok Hamaz yang disebut sebagai sebuah kubu yang memiliki kekuatan utama dalam konflik melawan Israel bersama-sama dengan Palestina “induk semangnya”.

Hamaz yang didirikan pada tahun 1987 adalah merupakan kelompok garis keras yang ingin mengusir sama sekali Israel dari tanah Palestina dan selanjutnya mendirikan negara Palestina yang berpanji Islam. Pada tahun 2006 yang lalu, Hamaz memenangi Pemilu Palestina dan dengan demikian dia muncul sebagai partai berkuasa. Pemunculan Hamaz sebagai pemenang Pemilu Palestina telah disambut hangat oleh Israel kala itu. Israel pada waktu itu memandang Hamaz sebagai kubu yang akan dipergunakan Israel untuk menghadapi induk semangnya sendiri yakni bangsa Palestina.

Dalam sejarahnya Hamaz merupakan partai yang memiliki posisi garis keras. Pemunculan Hamaz sebagai Partai ketika itu merupakan akibat dari ketidakpuasan banyak kalangan di Palestina terhadap berbagai partai dan kelompok yang mulai melunak terhadap Israel. Fattah yang merupakan rekan seperjuangan Hamaz dalam memperjuangkan pembentukan negara Palestina yang berpanji Islam malah telah berubah menjadi begitu kooperatif terhadap Israel, sesuatu yang tidak disukai Hamaz.

Akibat kurang suka terhadap sikap lembek Fattah terhadap Israel, maka terjadilah konflik antara Hamaz dengan Fattah. Konflik terjadi pada tahun 2005, yakni setahun setelah mangkatnya pemimpin PLO Yasser Arafat pada 11 November 2004. Pada tahun 2006, Hamaz dinyatakan sebagai partai pemenang Pemilu sekaligus sebagai partai garis keras melawan Partai Fattah yang merupakan Partai yang kalah Pemilu dan bersikap lemah terhadap pendudukan Israel di Palestina.

Sumber Wikipedia menyebutkan bahwa sejak tahun 2006, Hamaz telah de facto menguasai wilayah otoritas Pemerintahan Palestina di jalur Gaza. Sumber Wikipedia juga menulis bahwa rekonsiliasi antara Hamaz dan Fattah telah dilakukan 2 kali yakni melalui Reconsyliation Agreement of Cairo pada bulan Mei 2011 dan dalam Doha Agreement tahun 2012. Namun krisis kedua kubu kembali terjadi sejak bulan Maret 2012 dan April 2012.

Pada saat sekarang, Hamaz memiliki kekuatan sekitar 15.000 personel Brigade tentara dan 6000 Polisi eksekutif di Jalur Gaza. Pemimpin Hamaz adalah Khaled Meshaal yang kemudian digantikan oleh Mohammed Deif, sedangkan pemimpin Fattah adalah Mohammed Dahlan. Namun dalam konflik 8 hari ini, terdeteksi bahwa pemimpin Hamaz, Khaled Meshaal masih bersuara dan mengendalikan Hamaz.

Akibat perseteruan antara Hamaz dan Fattah maka terjadilah pembentukan 3 kelompok besar di Palestina yakni Fattah, Hamaz dan Palestina sendiri sebagai “induk semang” kedua kelompok yang bertikai. Nampaknya Hamaz dipergunakan oleh Israel untuk merongrong konfliknya dengan Palestina. Namun dalam perkembangannya – justeru hal ini berbalik dari perkiraan Israel sendiri. Ternyata Hamaz merupakan sebuah persona tersendiri di dalam negara Palestina.

Tindakan-tindakan dari kelompok Fattah dan Palestina yang mulai melembek terhadap Israel menjadi alasan Hamaz untuk membuat kelompoknya menjadi lebih jelas dan progresif. Ia bersikukuh untuk berjuang dengan cara garis keras: Perang! Tujuan perangnya melawan Israel secara tersurat termaktub dalam tujuan pendirian Partai Hamaz yakni mendirikan negara Palestina yang berpanji Islam dan mengusir pendudukan bangsa Israel atas tanah Palestina.

Dalam konflik 8 hari di jalur Gaza ini, kita melihat bahwa kubu Hamaz merupakan kubu paling keras bahkan kubu Hamaz dapat diidentikan dengan sayab militer Palestina sendiri. Dalam konflik 8 hari itu Hamazlah yang berperang melawan Israel, bukan Palestina.

Hamaz berperang melawan Israel, Palestina dan Fattah yang menderita korban. Demikian kesimpulan yang dapat kita buat terhadap peristiwa tersebut. Hal ini berarti telah menjadi makin rumitnya persoalan. Di satu sisi Hamaz juga berkonfrontasi dengan Fattah, di satu sisi Hamaz juga berkonfrontasi secara keras dengan Israel.

Sementara dalam penandatangan gencatan senjata, justeru pihak Hamaz bersama Israel yang didaulatkan untuk menandatangani perjanjian gencatan senjata. Maka dunia untuk saat ini tentu mengakui Hamaz sebagai pemegang otoritas pemerintahan Palestina atas jalur Gaza. Lebih tepatnya yang dimaksudkan dengan gencatan senjata di jalur Gaza ialah gencatan senjata antara kubu Hamaz dan kubu Israel. Atau dengan kata lain telah terjadi gencatan senjata antara kubu Hamaz versus kubu Israel.

Lalu di manakah posisi Palestina dan Fattah? Apakah Fattah dan Palestina dalam posisi tertekan secara militer oleh Hamaz yang garis keras itu? Jawabannya tentu hal itu bisa terjadi sebab Palestina tidak memiliki senjata taktis yang berbahaya seperti Israel akibat embargo senjata oleh Israel dan AS. Saat ini kubu Hamazlah yang memiliki roket dan senjata taktis sehingga mampu memberikan serangan balasan dalam perang 8 hari tersebut.

Dalam wawancaranya dengan berbagai Media yang ditayangkan stasiun TV swasta Metro TV pada Kamis, 22 November 2012 yang lalu, Duta Besar Palestina untuk Indonesia mengatakan bahwa penyerangan Israel atas wilayah Palestina khususnya wilayah jalur Gaza merupakan bukti bahwa Israel adalah sebuah negara agresor dan penjajah yang masih ada di dunia ini. Dengan kekuatan militernya sebagai negara dengan peralatan militer terkuat No.4 di dunia Israel ingin mendemonstrasikan kecanggihan teknologi senjatanya bagi dunia.

Bila dibandingkan dengan Palestina yang hanya memiliki kekuatan artileri, tank dan personel tentara yang lemah akibat diembargo oleh Israel dan AS sendiri. Dengan kata lain Israel merupakan raksasa militer di Timur Tengah bersama dengan AS telah mendemonstrasikan kekuatan militer supercanggih dalam perang 8 hari ini. Perang Israel versus Hamas sendiri telah berlangsung sejak Rabu, 14 November 2012 dan berakhir sejak terjadinya gencatan senjata pada hari Rabu, 21 November 2012, jam 21.00 WIB atau jam 9 malam.

Dubes Palestina berterima kasih atas dukungan rakyat Indonesia bagi Palestina. Namun dia menolak pengiriman tentara Jihad ke Palestina dari Indonesia.

“Kami memiliki personel militer yang cukup untuk perjuangan demi kemerdekaan Palestina”, kata Dubes Palestina untuk Indonesia, Fariz N Mehdawi kepada berbagai Media dan telah ditayangkan Metro TV pada Kamis, 22 November 2012..

Bila sungguh benar telah terjadi gencatan senjata di jalur Gaza, maka itu tidak lebih dari sebuah permainan besar yang berbahaya di Timor Tengah sebab dengan gencatan senjata ini, masing-masing kubu saling mempertahankan sikapnya. Hamaz yang garis keras telah berkonflik langsung dengan Israel. Hamaz juga pernah terlibat konflik dengan Partai Fattah yang kooperatif dengan Israel sebagai lawan utamanya dalam Pemilu Palestina tahun 2006. Dalam perseteruan Israel-Hamaz terlihat bahwa Palestina sebagai pihak dengan posisi selalu menjadi korban dalam konflik besar bersenjata antara Hamaz-Israel itu. Ribuan warga Palestina telah menderita luka-luka dan kehilangan tempat tinggalnya.

Dalam kenyataannya meskipun perjanjian gencatan senjata telah dibuat namun selalu saja terjadi konflik antara Israel-Palestina di daerah jalur Gaza hingga hari ini. Hamaz tetap bersikukuh mengusir pasukan pendudukan Israel dari jalur Gaza dan mendirikan negara Islam Palestina. Fattah ingin membuka dialog namun tidak disebut-sebut oleh Israel dalam perjanjian gencatan senjata karena sikapnya yang melemah terhadap Israel.

Sementara Palestina selalu tetap menjadi korban agresi Israel. Hamaz berhak mewakili Palestina dalam perjanjian gencatan senjata dengan Israel karena dalam sejarahnya dia merupakan partai paling berkuasa di Palestina setelah memenangkan Pemilu tahun 2006. Namun sikap politiknya sangat berbeda dengan Fattah.

Kita akan melihat apakah Israel benar-benar taat kepada resolusi gencatan senjata yang dipelopori oleh Mesir dan AS ini ataukah tidak? Sejarah menunjukan bahwa Israel selalu dalam posisi negara yang melanggar sendiri apa yang sudah ditandatanganinya dengan alasan membersihkan pejuang Palestina di jalur Gaza, hal mana ditentang oleh Palestina dan Hamaz karena jalur Gaza merupakan wilayah otoritas Palestina.

Persoalan terbesar bangsa Palestina adalah munculnya 2 faksi yang saling berseteru yakni Hamaz dan Fattah. Hamaz saat ini dipimpin oleh pemimpinnya Khaled Meshaal. Lebih rumitnya lagi ialah bahwa Hamaz dan Fattah disebutkan sebagai persona yang berdiri sendiri sejajar dengan induk semangnya Palestina dalam konflik dengan Israel.

Seandainya tidak ada Hamaz dan Fattah, bisa jadi perjuangan bangsa Palestina menuju perdamaian dan kemerdekaan akan mudah. Namun banyak sisi positif terjadi setelah pemunculan Hamaz tahun 1987 yang lalu. Sisi positif kehadiran Hamaz dan Fattah adalah dengan munculnya kedua partai itu maka simbol-simbol perjuangan bangsa Palestina menjadi semakin jelas terungkap.

Banyak pihak di dunia justeru meragukan dampak positif dari gencatan senjata Israel-Hamaz. Gencatan senjata Israel-Hamaz tidak akan berpengaruh secara signifikant bagi terciptanya perdamaian di Jalur Gaza bila Palestina masih dalam posisi diembargo secara militer oleh Israel (dan AS). Lebih benar dan tepat ialah setelah gencatan senjata antara Israel versus Hamas harus disusul dengan pencabutan embargo militer atas bangsa Palestina.

Kita harapkan agar setelah gencatan senjata akan disusul dengan langkah pencabutan embargo militer atas Palestina oleh Israel dan AS sebagai langkah terbaik untuk menciptakan perdamaian di Timor Tengah sebab selagi Palestina menderita akibat embargo militer dari Israel (dan AS) maka Palestina akan selalu dalam posisi pihak yang menderita banyak korban dari kalangan rakyat sipil. Orang yang menjadi korban dari sebuah pertikaian selalu berseru meminta keadilan. Para korban sipil Palestinapun pasti selalu berseru untuk meminta keadilan.

Bila kesepakatan gencatan senjata di jalur Gaza berhasil maka kita berharap akan muncul perdamaian di tanah Palestina. Yang pasti bahwa saat ini tengah dibuat perundingan-perundingan antara Palestina, Hamaz, Mesir, Fattah, dan AS. Gencatan senjata merupakan jalan keluar awal menuju pemikiran yang lebih maju, termasuk kemungkinan penghapusan embargo militer atas pejuang Palestina.

Presiden SBY secara tegas menyatakan bahwa konflik di jalur Gaza hanya bisa selesai jika bangsa Israel dan AS mengakui kemerdekaan rakyat Palestina. Gagasan SBY ini harus didukung oleh semua kalangan baik dalam negeri maupun seluruh dunia. Pengakuan akan kemerdekaan bangsa Palestina merupakan sebuah langkah paling tepat. Bila tidak maka Hamaz akan menjadi kekuatan yang semakin dasyat di jalur Gaza. Hamaz bukan merupakan sebuah negara dalam negara Palestina.

Hamaz adalah kekuatan utama Palestina. Dia ada karena ada bangsa Palestina. Bangsa Palestina melahirkan Hamaz. Namun sayangnya Israel dan AS serta dunia belum secara formal mengakui kemerdekaan bangsa Palestina. Bila bangsa Palestina diakui kemerdekaannya maka Hamaz akan selesai. Hamaz akan kembali ke “induk semangnya” Palestina. Pengakuan kemerdekaan atas bangsa Palestina merupakan langkah paling tepat untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah.

Semoga gencatan senjata akan disusul dengan penghapusan embargo militer oleh Israel (dan AS) atas Palestina bisa tercapai. Dengan begitu maka hak-hak kemerdekaan rakyat Palestina segera akan pulih kembali. Selanjutnya, kita berharap agar perdamaian abadi bisa tercipta di tanah Palestina.

Palestina for Freedom. Damailah Palestina. Damailah Dunia. Dukunglah terus pejuang kemerdekaan bangsa-bangsa di manapun. Sekali lagi, Palestina for Freedom. Palestina adalah sebuah bangsa merdeka. Mereka adalah makhluk Tuhan juga seperti kita. Semoga tercapailah Kemerdekaan bagimu, bangsa Palestina..! Indonesia mendukung pengakuan akan kemerdekaanmu. Engkau adalah bagian dari kemerdekaan manusia sebab pembukaan UUD 1945 kamiberkata, “Kemerdekaan merupakan hak segala bangsa. Maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

                 ____________________________________________

 

Panggilan Untuk Mengabdi

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Selasa, 20 November 2012

Dalam artikel ini, saya ingin mensharingkan liku-liku pengalaman hidup saya hingga saya menjadi guru profesional bahasa Jerman. Sebelas tahun yang lampau, ketika saya masih belajar Filsafat di STFK Ledalero, Flores, saya belajar tentang sebuah adigium Filsafat ini: Tuhan mampu menulis lurus di atas garis yang bengkok.

Adigium Filsafat ini dikontraskan dengan panggilan Tuhan bagi seorang calon imam. Seseorang yang dipanggil menjadi abdi Tuhan, sering memiliki sejarah hidup yang berisi pengalaman yang pahit dan penuh onak dan duri. Namun oleh rahmat panggilan, seseorang yang merasa dirinya kurang mampu, akan dimampukan oleh Allah sendiri. Manusiamelalui jawaban Ya-nya yang bebas terhadap panggilan Tuhan akan dimampukan Tuhan sendiri menjadi orang yang luar biasa bagiNya.

Bagi saya, rahmat panggilan menjadi guru memang penuh liku-liku pergulatan hidup.

Pertama-tama, saya menyadari bahwa saya memiliki latar belakang pendidikan yangbukan berasal dari Sekolah Pendidikan Tinggi bagi guru. Saya bukan tamatan FKIP. Namun kini saya menjadi guru. Saya adalah seorang Sarjana Filsafat Teologi Agama Katolik.

Pada tahun 2007 yang lalu, Saya diberikan wewenang khusus oleh STFK Ledalero untuk mengajar agama Katolik setelah mengajar Mata Pelajaran yang bukan Agama Katolik selama 5 tahun berturut-turut sejak tahun 2002 hingga 2007. Maka otomatis sebelum wewenang itu diberikan, saya masih dianggap seperti seorang guru praktikan di SMAdan Akademidi mana saya mengabdi. Proses pengakuan STFK Ledaleroini memang lama, namun dampak positif dari pengakuan STFK Ledalero itu ialahsaya dapat memiliki Sertifikat Mengajar yang setara denganAkta IV, bahkan dapat memberi kuliah pada program Akademi atau Diploma Teologi Katolik.

Eksodus para pengungsi Timor-Timur padatahun 1999 telah mengubahjalan hidup saya. Ketika sedang kuliah Semester VII pada tingkat IV di STFK Ledalero, saya mendapat tawaran teman-teman PMKRI Maumere untuk bergabungdalam TRUK F untuk masalah pengungsian Timor-Timur di TimorBarat. Selama hampir sebulan lebih, saya bekerja di antara para pengungsi itudi kamp-kamp mereka di TimorBarat. Akibat aksi bantuan itu, saya akhirnya mendapatkan sanksi skorsing selama satu semester yakni Semester VII.

Namun saya tidakputus asa. Saya tetap melanjutkan hingga semester VIII dan berhasil melaksanakan ujian Skripsi pada6 Juli2000 dengan nilai A. Setelah ujian Skripsi, saya praktis tidak bisa melakukan aktivitas perkuliahan selamabulan September hingga Desember 2000 itu, akibat sanksi skorsing yang dijatuhkan STFK Ledalero terhadap saya.

Bahkan oleh keputusan saya sendiri, saya malahanbaru kuliah mimbar pada September 2001, saat teman-teman kelasku telah diwisudah menjadi Sarjana Filsafat. Maka saya memiliki waktu luang selama Agustus2000 hingga Agustus 2001.Apa yang telah saya lakukan padamasa-masa tersebut?

Setelah ujian Skripsipada 6 Juli 2000, saya memutuskan untuk kembali ke Halilulik, Belu, Timor. Saya berjuang untuk meyakinkan keluarga bahwa saya telah mendapatkan sanksi skorsing selama satusemester yaknisemesterVII. Saya akan kuliahmimbar pada bulan Agustus 2001. Maka saya memiliki waktu selama setahun penuhuntuk melakukan aktivitasapa saja yang bisa saya kerjakan sebelum kuliah selama semester VII tahun depan.

Maka pada bulan Oktober 2000, saya berangkat ke Kupang untuk mengikuti saudara saya Fransiskus Pitang Mekoyang saat itu bekerja sebagai seorang distributor pada sebuah perusahaan dagang yang bernamaUD Panca Sakti Kupang. Saya dapat mengikuti beliau dengan Mobil Box(Box Wagen)perusahaan itu untuk mengantar barang dagangan perusahaan UD Panca Saktidari toko ke toko langganannya di seantero kota Kupang, Timor.

Pada bulan November 2000, saya memutuskan untuk melamar kerja pada sebuah perusahaan MLM multinasional yang bergerak dibidang penjualan dan pemasaran barang. Saya diterima di perusahaan itu dengan pangkat awal adalah sebagai distributor. Selama 3 minggu, saya berjalan kaki mengelilingi kota Kupang untuk menawarkan barang-barang perusahaan dari rumah ke rumah. Rasanya sangat capai dan lelah setelah berjalan kaki selama seharian penuh dan hanya bisa beristirahat beberapa jam pada malam hari.

Maka setelah 3 minggu, saya memutuskan berhenti dari perusahaan itu dan memilih untuk kembali ke rumah di Halilulik, Belu, NTT. Alasan pengunduran diri saya dari perusahaan itu ialah saya merasa kurang cocok bekerja sebagai seorang pengusaha. Saya yakin bahwa mungkin garis tanganku bukan sebagai pengusaha.

Selama dalam bulan Desember 2000, saya beristirahat di rumah orang tua sambil melakukan beberapa aktivitas seperti membantukedua orang tuakubilamana ayah dan bundaku memerlukan bantuanku. Saya pun menghabiskan masa indah bersama ayah dan bundaku dalam saat-saat pergantian tahun 2000 ke tahun 2001.

Pada bulan Januari tahun 2001, saya memiliki dorongan besar untuk menjadi guru pada SMP HTM Halilulik. Maka saya secara pribadi melamar untuk menjadi guru pada SMP HTM Halilulik. Kepada Suster Marialeta, SSpS, saya menceriterakan riwayat pendidikan secara lisan yakni bahwa saya sudah menyelesaikan ujian skripsi namun masih memiliki tunggakan kuliah semester VII.

Saya bertanya kepada Sr. Marialeita, SSpS: Apakah saya bisa mengisi masa 6 bulan sebelum kuliah semester VII pada bulan September 2001 dengan menjadi guru di SMP HTM Halilulik? Suster Marialeta, SSpS memberikan jawaban postif. Dia menerima saya sebagai guru dengan tugas mengajar Matematika dan pendidikan agama Katolik bagi kelas I sekolah itu. Maka sejak saat itu, saya menjadi guru pada SMPK HTM Halilulik hingga bulan Juli 2001.

Pada akhir semester itu, Sr. Marialeta, SSpS melepaskan saya pergi untuk melanjtkan sisa tunggakan kuliah. Ia berpesan, “Blasius, pergilah menyelesaikan pendidikan S1mu di STFK Ledalero. Engkau sudah lama kuliah dan sekarang engkau wajib memiliki ijazah S1 Filsafat di STFK Ledalero”.

Maka sejak bulan Juli 2001, saya secara resmi berhenti mengajar dari SMPK HTM Halilulik sambil mempersiapkan diri kembali ke bangku kuliahpadaSTFK Ledalero, Flores.

Pengalaman mengajar di SMPK HTM Halilulik menjadi titik tolak yang dalam untuk kembali menjadi guru setelah selesai S1 Filsafat. Tuhan sendiri telah menyediakan tempat ini bagi saya. Saya justeru lebih tertarik menjadi guru dari pada kembali ke biara SVD atau menjalani panggilan hidup yang lain.

Panggilan menjadi guru agama Katolik ternyata sungguh hidup dan membekas sebegitu dalam melalui ingatan terhadap perjumpaanku dengan para siswa/iku di kelas. Saya semakin merasakan apa yang para siswa/iku rasakan. Perjuangan mereka adalah perjuangan saya juga. Doa dan harapan mereka adalah doa dan harapan saya juga. Saya yakin Tuhan masih bersama mereka dan masih bersama saya juga.

Saya kembali berkuliah untuk menyelesaikan tunggakan Semester VII pada bulan September 2001 hingga bulan Desember 2001. Saya mengikuti ujian negara pada bulan Desember 2001. Bulan Maret 2002, saya dinyatakan lulus S1 dan siap diwisudah pada7 Mei 2002.

Pada akhir April 2002, saya berangkat ke Ledalero untuk mengikuti Wisudah S1. Padahal saya belum mengetahui secara persis apakah saya lulus ujian negara atau tidak? Saya meninggalkan orang tuaku khususnya ayah yang sementara sakit berat.

Secara intuitif saya sadar bahwa ayahku mungkin akan pergi meninggalkan keluarga kami untuk selama-lamanya. Namun dalam rasa kegembiraan pesta wisudah, saya memaksakan diri untuk berangkat ke Ledalero, Flores. Saya pamit pada ayah dan bunda dengan perasaan yang lunglai. Kulihat ayah menatapku dengan pandangannya yang lemah. Ia sungguh merasakan kegembiraan saya dalam sakitnya. Ia sudah lelah akibat pekerjaan fisiknya yang yang sebegitu berat sebagai tenaga pembangun dan petani bertahun-tahun. Beliau adalah sandaran dan tiang utama dalam keluargaku.

Entah mengapa, entah siapa yang mendorongku, sehingga saya berangkat pergi juga tanpa merasakan penderitaan ayah dan bunda.Oh….betapa kejamnya aku ketika itu, ratapku bertahun-tahun setelah kejadian perpisahanku yang begitu menyedihkan bersama ayahketika akan berangkat Wisudah S1 di Ledalero. Sebegitu jahatkah aku sebagai anak, ketika ayah menghadapi saat-saat terakhir dalam hidupnya tanpa saya di sampingnya? Penyesalan yang terlambat datang, ketika saya tiba ayah justeru telah tiada.

Orang-orang telah memakamkan ayahku tanpa kehadiran saya di sampingnya. Saya hanya menangisi ayah yang kini berbaring tenang di dalam makamnya dalam keabadian melalui foto-foto saja. Penyesalan telah terlambat! Saya memang berbahagia telah mendapatkan ijazah S1 Filsafat STFK Ledalero, namun lebih berbahagia rasanya bila ayah juga masih berada bersama keluarga. Oh betapa sedih dan dukanya.

Saya bertanya kepada diriku sendiri: Mungkinkah, saya teramat durhaka, jahat, tidak memiliki perasaan dan hati serta begitu tega meninggalkan ayahku yang sedang bergulat sendiri menghadapi maut tanpaku? Ah..Wisudah, bukanlah titik akhir perjuanganku sebagai mahasiswa Filsafat. Tanpa mengikuti acara Wisudahpun saya tetap S1 Filsafat seperti yang juga dialami oleh beberapa teman kelasku yang tidak ikut acara Wisuda namun tetap mengambil Ijazahnya.

Namun, saya menjadi yakin bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan sendiri. Mungkin Tuhan menghendaki bahwa ayah pergi tanpa kehadiran aku di sisinya. Rencana Tuhan memang misteri dan sulit untuk diselami serta dimengerti tuntas oleh otak manusia yang terbatas ini. Semuanya memang terjadi menurut garis tangan dan menurut kehendak Tuhan sendiri. Terpujilah nama Tuhan untuk kekal!

Apa yang dipikirkan manusia justeru tidak dipikirkan Allah. Manusia berbeda dengan Tuhan. Manusia hanya bersifat sementara sedangkan Tuhan itu abadi! Otak dan akal manusia terbatas. Kehendak Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Agung, Maha Luasdan Maha Mulia.

Berdasarkan pengalamanku di atas, saya berkesimpulan bahwa saya memiliki jalan hidup yang bengkok. Pertama-tama saya bercita-cita menjadi imam SVD Katolik, namun ketika akan berkaul ke-3 saya mengundurkan diri. Saya sempat bekerja di Perusahaan. Saya berhenti dari perusahaan multinasional lalu menjadi guru Matematika dan agama Katolik pada SMP HTM Halilulik. Saya melanjutkan kuliah hingga S1.

Selepas Wisudah S1 Filsafat pada 9 Mei 2002, saya menjadi asisten dosen agama Katolik di Akper Pemkab Belu di Atambua (September 2002 s/d Desember 2002). Pada bulan Juli 2003 hingga bulan Juli 2006, saya mengabdi menjadi guru sosiologi dan sejarah budaya pada SMA Negeri 1 Atambua. Lalu sejak bulan Juli tahun 2005 hingga sekarang, sayamenjadi guru bahasa Jerman di SMA Kristen Atambua.

Saya percaya kebenaran adigiumbahwa : Tuhan mampu menulis lurus di atas garis yang bengkok. Garis kehidupanku memang bengkok. Aku tak seberuntung manusia yang lain.

Namun Tuhan telah menulis dan mampu terus menulis lurus melalui garis kehidupanku yang bengkok. Garis kehidupanku yang bengkok penuh tulisan Tuhan yang indah dan bagus. Tulisan Tuhan telah tergores sebegitu dalam dalam jalan kehidupanku yang bengkok. Ia mampu memenuhi kehidupanku yang bengkok ini dengan tulisan-tulisanNya. Ia mampu menulis indah di atas jalan kehidupanku yang bengkok.

Saya juga masih terus mengenangkan dalam doa,para pendermaku dari baik dari kalangan keluarga dan handai taoulan, juga banyak kalangan yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Para penderma yang budiman telah membantu aku, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mereka telah menolong aku dengan sumbangan dana sejak aku di SMP, SMA Seminari Lalian, Novisiat SVD Nenuk dan STFK Ledalero, Flores. Saya berdoa, semoga Tuhan membalas semua budi baik para pendermaku baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia dengan rahmat berlimpah.

Saya hanya menyadari bahwa menjadi guru bahasa Jerman hingga saat di mana aku harus pensiun merupakan kesempatan bagus untuk menjawab Ya terhadap panggilan Tuhan untuk mengabdi. Aku akan berusahamenerima apa pun yang telah dan akan dituliskan Tuhan dalam jalan kehidupankuyang bengkok ini dengan rasa syukur yang mendalam.

Setiap tahun aku bertemu dengan ratusan pelajar SMA. Tahun 2012/2013 saya harus mengajar para siswa/i X12345678, XI Bahasa dan XII bahasa dengan jumlah keseluruhan 1600 siswa/i. Mereka menjadi saksi bisu dan saksi aktif atas apa-apa saja yang telah aku torehkan dalam intelek mereka. Aku berusaha bekerja sama dengan rahmatNya. Saya percaya bahwa semuanya akan bermula dan berakhir dalam rahmat Tuhan sendiri. Aku percaya Tuhan telah memanggilku menjadi guru. Maka aku mengabdiNya dan menjadi juga abdi Ilmu serta berusaha selalu bekerja bersamaNya.

Maka pada tempat pertama dari misiku sebagai pendidik ialah aku akan terus berusaha untuk membawa mereka pada Tuhan dan membawa Tuhan bagi para siswa/iku. Itulah motto paling utama. Setelahnya aku berusaha menjadi pendidik yang benar sesuai tuntutan agama dan negara.

                  ____________________________________________

Menjadi Guru Yang Sabar

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Selasa, 13 November 2012

Ketika mengetahui bahwa saya seorang guru, seorang sahabat Facebook saya pernah menasihati saya seperti ini: “Menjadi guru harus butuh kesabaran banyak. Guru yang sabar akan mampu menyelesaikan segala persoalan yang dihadapinya di kelas. Sedangkan guru yang tidak sabar akan menemukan banyak persoalan yang tidak bisa diselesaikan. Guru yang tidak sabar pasti akan terbawa oleh emosinya yang besar, dan dia akan selalu menghukum para siswa/inya dengan hukuman yang berat, bahkan sampai berurusanhingga ke pengadilan”

Kalimat sahabat Facebook saya ini, sangat berkesan bagiku. Ketika dia menuliskan kalimat ini di kolom pesan Facebook saya, saya mendadak termenung sendiri. Sejenak saya merefleksikan kembali peringai para siswaku hingga kadang-kadang membuatku sedikit emosi.

Ada banyak alasan yang bisa disodorkan mengapa guru menjadi emosi. Beberapa hal dapat disebutkan misalnya karena para siswatidak mengerjakan PR, absent berhari-hari bahkan hingga beberapa bulan, siswa yang masuk kelas bila akan mulai ujian semester, tidak konsentrasi, selalu mondar-mandir sementara pelajaran sedang berlangsung, berbicara dan berteriakdi dalam kelas, membuat gaduh dalam kelas, bahkan membunyikan petasan di kelas sementara pelajaran sedang berlangsung, memiliki nilai hasil ulangan dan ujian yang rendah, tidak melaksanakan tugas pada waktunya, tidak disiplin, bolos, membandel, tawuran, pacaran, selalu absen bahkan karena para siswa laki-laki sering minum-minuman keras sebelum mereka masuk ke ruangan kelas dan akhirnya bertingkah laku layaknya orang mabuk.

Padahal setiap Pelajaran membutuhkan ketenangan dan konsentrasi yang besar. Maka menyadarkan para siswa bukan semata-mata dengan memarahi bahkan sampai “memukul” dengan rotan atau tangan, malahan justeru hal itu dapat membuatnya semakin menjadi-jadi dalam perangai buruknya. Saya pun berpendapat bahwa yang terpenting bagi saya ialah olehsentuhan para guru itu, para siswatidak sampaimenderita atau membuat para siswa itu menjadi kesakitan lama.

Kedisiplinan memang membutuhkan karakter yang kuat untuk melaksanakan prinsip kedisiplinan tersebut.Emosi membuat orang sedikit marah dan hal itu terjadi apabila harapan terhadap para siswa untuk disiplin dan tenang/tertib itu menjadi hilang. Bila emosi sedang memuncak maka kemampuan akal untuk mempertimbangan baik-burukpun sering menjadi agak pudar, maka emosipun bisa menjadi jalan keluar yang membuat para guru akhirnya memiliki jalan ketiga yakni “sedikit jewer telinga” atau “marah”.

Maka tindakan para guru untuk menghukumpara siswa/inya yang nakal sebenarnya masih bisa ditolelir bila hukuman itu semata-mata sebagai bagian daripendidikan kesadaran terhadap para siswa kita. Saya tidak bisa membayangkan bila para siswa selalu dihadapi dengan cinta kasih melulu, sementara para siswa semakin larut dalam ketedelorannya misalnya dalam persoalan tawuran. Maka menghadapi semunya itu, sering aparat keamanan harus mengambil alih urusan sampai persoalan menjadi selesai dan aman.

Dalam banyak segi memangmasih diperlukan tindakan yang agak kerasseperti itu. Bila para siswa kita lepas kontrol, maka akibatnya mereka tidak akan mampu mengendalikan kemampuan akal budinya untuk bertindak benar. Fenomena kekerasan remaja yang dibuat para siswa kita justeru lebih banyak dan lebih kejam dari apa yang diterima oleh para gurunya sendiri di sekolah.

Teguran dan sedikit”jewel telinga” sebenarnya merupakan upaya penyadaran semata-mata dan hendaknya tidak boleh ditanggapi sebagai sebuah tindakan kejahatan yang fatal. Maka sebenarnya para guru kita tidak perlu disalahkan bila mereka harus agak keras berhadapan dengan para siswanya yang nakal. Tak pernah dalam sejarah, seorang guru berlaku 100% halus kepada siswanya. Selalu muncul sedikit amarah, ancaman dan cubitan bila para siswa ini menjadi nakal dan sulit untuk diatur menjadi baik.

Ancaman hukuman bagi para guru kita yang terpaksa bertindak sedikit keras justeru mendatangkan kekuatiran baru yakni masuknya institusi lain ke dalam lembaga pendidikan. Masuknya institusi lain di lembaga pendidikan menjadi gejala yang kurang bagus sebab sekolah merupakan lembaga ilmu bukan bertujuan lain selain ilmu (knowledge). Ancaman hukuman terhadap guru oleh UU kekerasan terhadap anak bisa saja akan mematikan aktivitas pendidikan sendiri, terutama melemahkan karakter pendidikan sebagai basis penciptaan norma-norma dalam hidup bersama. Namun bagaimanapun, kita hidup dalam peraturan dan norma-norma yang berlaku.

Tidak dibenarkan para guru untuk bertindak gegabah hingga para siswa kita menjadi terkena imbas yang overdosis apalagi sampai membuat para siswa menjadi amat kesakitan akibat”rotan” dari gurunya. Meskipun saya tidak pernah mengalami hal tersebut,namun agaknya tindakan seorang oknum guru yang terbawa emosi sehingga berbuntut pada kekerasan fisik menunjukan bahwa oknum guru tersebut bertindak kurang profesional. Seorang guru profesionalisme tidak akan menggunakan kekerasan fisik sebagai jalan keluar untuk mengatasi persoalannya dalam kelas. Namun seorang guru profesional harus menggunakan kelembutan dan kesabarannya untuk menyelesaikan persoalan.

Definisi tentang kesabaran bagi seorang guru memang kompleks dan unik. Kesabaran bukan berarti seorang guru ingin mengorbankan ketegasan dan kedisiplinan yang dibuat guru dan para siswa. Kesabaran berkarakter berarti kesabaran yang mengutamakan penciptaan nilai-nilai dalam kehidupan. Nilai-nilai kesabaran pada zaman sekarang harus berorientasi pada teknologi sebagai salah satu basis dalam penegakan norma-norma. Kesabaran bukan berarti ingin mengorbankan norma-norma dalam hidup bersama. Justeru banyak kali, demi sebuah kesabaran, orangbisa saja rela mengorbankan norma-norma dalam hidup bersamanya. Justeru tindakan dan presepsi seperti ini keliru.

Maka dalam konteks ini, kesabaran berarti membiarkan kaum muda terus mengekspresikan diri, mengungkapkan diri secara benar dan terbuka. Dengannya kebudayaan manusia bertumbuh dan berkembang subur. Bila dibimbing secara baik maka kaum muda menjadi pelopor dalam pengekspresian budaya-budaya baru dan dinamis. Kaum muda oleh semangat mudanya yang berkekuatan dan berkobar-kobar akan mampu mengubah keadaan yang statis dan tertinggal.

Kaum muda ibarat taman bungayang pernuh warna dan dinamika. Taman itu perlu disirami, dibersihkan, dirawat, dipupuk agar menjadi taman yang indah dan subur. Di Taman itu kita akan terus menyaksikan keindahan yang terpatri dalam derap langkah kaum muda menapaki zamannyamasing-masing dengan kreativitasnya secara mandiri dan terkontrol. Orang yang sabar akan membuat taman bunga itu menjadi subur. Taman bunga yang subur dan indah menjadi pujian bagi Tuhan dan karena itu akan disayangi dan berguna dirinya, Tuhan dan sesama manusia.

______________________________________

� prev
top