Dogma Baru Bunda Maria

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Jumat, 4 Mei 2012

Pada bulan Mei setiap tahun seluruh umat Katolik berdevosi kepada Bunda Maria secara intens dalam doa pribadi, keluarga, kelompok, lingkungan dan parokinya. Devosi kepada Maria membawa daya-daya baru dan pemahaman yang baru tentang peranan Bunda Maria dalam sejarah keselamatan yang dijalankan oleh Yesus Puteranya. Dogma Bunda Maria secara nyata tercatat dalam Lumen Gentium No. 62. Dalam Lumen Gentium tercatat 4 (empat) dogma tentang Bunda Maria sebagai dasar devosi kepada bunda Allah ini. Dogma tentang Bunda Maria menjadi sumber iman gereja Katolik dalam kegiatan berdevosi kepada Bunda Maria selamma bulan Mei dan Oktober setiap tahun. Melalui doa Rosario yang intens umat menyampaikan doa dan permohonan kepada Bunda Maria dalam imannya yang mendalam.

Dalam Lumen Gentium tersebut, terdapat 4 peranan St. Bunda Maria yang diajarkan kepada umat Katolik yakni: Pertama, Maria Advokata (Maria Pembela)*,Kedua, Maria Auxiliatrix (Maria Penolong)*, Ketiga, Maria Adjutrix (Maria Pembantu)*, Keempat, Maria-Co-Mediatrix (Maria pengantara)*. Keempat peranan Bunda Maria bagi umat beriman ini diartikan sedemikian rupa sebagai peranan yang tidak mengurangi dan menambahkan sesuatu kepada Kristus sebagai satu-satunya pengantara kita kepada Allah.

Maria sebagai Pembela umat manusia berarti ia selalu berpihak kepada manusia yang berseru dengan ikhlas untuk memohonkan pertolongan Maria dalam kesusahan dan persoalan yang di hadapi manusia dalam hidup setiap hari. Maria tampil menjadi pembela manusia bila murka Allah akan datang kepada manusia. Lewat doa-doa rosario yang didaraskan secara intens manusia memperoleh pengampunan atas segala dosa dan salahnya. Segala hutang-hutang manusia menjadi terhapus baik hutang kepada manusia maupun hutang kepada Allah. Maria menjadi penolong berarti melalui Maria manusia mendapatkan banyak rahmat berlimpah dalam hidupnya. Rahmat kesucian, rahmat keselamatan, rahmat kesetiaan merupakan beberapa rahmat dari sekian banyak rahmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia lewat devosi kepada Maria secara intens. Melalui Maria kita dapat sampai kepada Yesus dan melalui Yesus kita dapat sampai kepada Allah. Maria sebagai pembantu kita dalam setiap gerak dan tingkah kita setiap hari. Ia memberikan apa yang menjadi kebutuhan kita baik kebutuhan jasmanih maupun kebutuhan rohani, kebutuhan sosial. Melalui Maria relasi antar manusia yang sebelumnya terputus dan terpecah, kini menjadi harmonis dan tersambung kembali. Maria menjadi penolong kita dari semua penderitaan, kesulitan hidup kita, namun teristimewa ia menjadi penolong kita agar kita dapat sampai kepada puteranya Yesus Kristus.

Maka dalam teologi dikatakan bahwa Santa Maria Bunda Allah adalah pengantara manusia kepada Yesus Kristus puteranya. Maka melalui Santa Bunda Maria umat manusia dapat sampai kepada Kristus, dan Kristus dapat mendengarkan manusia. Hal itu tercermin dalam peristiwa pernikahan di Kana. Dalam peristiwa pernikahan di Kana, Bunda Maria mendengar keluhan dan kesulitan penyelenggara/tuan pesta akan persoalan kehabisaa anggur. Anggur dalam pesta pada zaman itu menjadi tanda kesuksesan sebuah pesta sebab tuan/penyelnggara pesta akan menghidangkan anggur terbaik bagi para tamunya sebagai tanda kecintaan dan tanda kegembiraan tuan pesta terhadap kehadiran tamu pesta. Mendengar keluhan dan kesulitan tuan/pemilik pesta yang kehabisan anggur, maka Bunda Maria menyampaikan kesulitan itu kepada Yesus Kristus dengan perkataan, “mereka kehabisan anggur!”, Yesus menjawab, “Ibu mau apakah engkau dari padaKu? Sebab waktuKu belum tiba..” Setelah berkata demikian Yesus menyuruh untukmengisi tempayan-tempayan yang kosong itu penuh dengan air. Setelah tempayan-tempayan itu penuh dengan air, Yesus berkata, “cedoklah dan bawalah kepada tuan/penyelenggara pesta..” Air telah berubah menjadi anggur. Itulah mukjizat yang pertama kali diadakan Yesus. Peristiwa mukjizat di Kana dapat dibaca dalam Yohanes: 2:1-12.

Hingga saat ini, umat Katolik yakin bahwa peristiwa mukzizat di Kana merupakan bukti peranan maria sebagai Co-Redemtrix, pengantara manusia kepada Yesus Kristus puteranya. Diyakini bahwa Bunda Maria menjadi pengantara manusia pada Yesus Kristus. Selain dalam Yoh.2:1-12, peranan Bunda Maria sebagai pengantara manusia kepada Kristus juga terdapat pada bagian nas Injil yang lain yakni pada Yoh. 19: 25-27. Dalam nas Injil ini, Maria menjadi saksi wafatnya Yesus di kayu salib. Para Bapa gereja merefleksikan peristiwa ini dengan mengulang nas Kitab Suci, bahwa begitu besar kasih Allah akan manusia sehingga Allah menyerahkan Putera tunggalNya untukmenebus dosa umat manusia. kalimat nas Kitab Suci ini diparalelkan, begitu besar kasih Maria kepada manusia sehingga Maria menyerahkan puteranya yang tunggal untuk menebus dosa umat manusia. Penyerahan Maria ini sangat luar bisa luhur dan tingginya serta dalamnya iman akan karya Penyelamatan Allah atas dunia.

Dengan merenungkan keempat peranan Maria dalam kehidupan manusia ini, marilah kita mengisi bulan Mei ini dengan kegiatan devosi yang intens kepada Maria sebagai co-redemtrix, advokata, adjutrix, dan auxiliartrix. Maria ora pro nobis..

*) Istilah-istilah yang diberi tanda bintang (*) dikutip dari sumbernya di Situs Yesaya dengan alamat Situsnya www.indocell.net/yesaya. Penulis hanya mengutip istilahnya saja dan menjelaskannya seturut refleksi teologis Katolik. Pengutipan peranan Maria sebagai co-redemtrix, advokata, adjutrix dan auxiliatrix tentu diketahui oleh pembimbing rohani Situs itu melalui pemberitahuan dalam sebuah pembicaraan singkat di Wall FB P. Gregorius Kaha, SVD

                           ______________________________________

UAN Yang Masih Penuh Kecurangan

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Kamis, 3 Mei 2012

Rabu, 2 Mei 2012 Jam 22.00 Wita, semua mata masyarakat Indonesia umumnya dan para komponen pendidik/guru serta para siswanya tertuju pada sebuah tayangan pada sebuah Stasiun TV swasta Metro TV.

Dalam tayangan tersebut Stasiun TV swasta bertaraf nasional tersebut menayangkan sebuah acara yang sangat menampar muka para insan pendidik dan semua komponen masyarakat pendidik di tanah air. Acara tersebut di bawah tema Mata Najwa dipandu oleh seorang presenter Metro TV kawakan Najwa Shihab telah dengan sangat berterus terang berusaha menyingkapkan berbagai kecurangan yang dibuat oleh beberapa oknum kelompok para siswa dalam pelaksanaan UAN di Indonesia.

Sang oknum siswa yang ditampilkan untuk membuka kedok dan kebobrokannya sendiri itu terbungkus dalam sebuah kain hitam, topeng hitam dengan suara yang telah distel oleh mesin/tidak menggunakan suaranya yang sebenarnya dan dengan muka yang tertutup sehingga tidak bisa dikenali publik. Hal itu membuat merah kuping para pendidik dan pengawas UAN selama ini.

Saya membayangkan bila siswa yang membuka kedok itu diketahui namanya, dan dikenali wajah/mukanya serta asal sekolahnya maka dia akan menjadi bulan-bulanan teman-temannya karena dengan adanya pengakuan tersebut bisa berakibat fatal bagi keabsahan Ijazah teman-teman/kelompoknya yang telah dengan sengaja membeli kunci jawaban paket soal tersebut.

Saya kira bukan hanya para siswa tersebut yang kena getahnya juga para guru, para pengawas, ketua Sekolah Penyelenggara UAN dan semua yang terlibat di dalamnya akan mendapat hukuman, baik hukuman moral maupun hukuman kurungan.

Dalam siaran tersebut para siswa seperti yang diceriterakan secara terus terang itu telah mengaku membeli kunci jawaban dari Paket-Paket soal dari para pembuat kunci jawaban dengan membayar uang hingga Rp 6 juta setiap Paket yang dikumpulkan secara bersama-sama bersama rekan-rekan para siswa yang lain.

Ini adalah sebuah penyakit dan ironi besar dalam sistem pendidikan kita yang meskipun dalam laporan tertulis oleh pengawas ruang bahwa UAN berlangsung jujur, lancar dan terkendali namun dalam pelaksanaannya telah menjadi sebuah ajang penuh petualangan untuk mencapai nilai terbaik. Sebagai seorang pengawas UAN di salah satu SMA di Atambua, saya sangat teriris dan tertantang untuk menonton semua tayangan tersebut.

Namun sebagai seorang guru dan pendidik, saya percaya bahwa kemajuan pendidikan nasional sangat tergantung kepada semua komponen pendidikan di tanah air selain pihak sekolah sebagai komponen pendidikan pertama, juga adalah sidang dewan komite yang anggota-anggotanya merupakan orang tua/wali murid, masyarakat dan Media sebagai komponen pendukung kualitas pendidikan di Indonesia.

Dalam tayangan tersebut Media Metro TV telah menjalankan fungsi jurnalistiknya sebagai kontrol sosial dengan gemilang, juga bahwa tayangan Metro TV tersebut telah ikut memperbaiki dinamika pendidikan di seluruh tanah air kita. Tayangan Metro TV pada Selasa, 2 Mei 2012 telah sangat didukung oleh para guru dan pendidik di seluruh Indonesia. Para guru dan pendidik melalui Mills Facebook Ikatan Guru Indonesia (IGI) sebuah Organisasi Profesi yang beranggota para guru dan pendidik itu saling mengingatkan untuk menonton acara tersebut pada jam 21.00 WIB atau Jam 22.00 Wita.

Ini sebuah karya yang mengagumkan yang telah diproduksi Metro TV, hal mana merupakan kewajiban dari Media manapun untuk membantu menciptakan pendidikan nasional yang berkualitas dan transparanlewat kontrol sosial, dalam hal ini Metro TV telah mendukung komitmen pendidikan kita untuk mengejar kualitas dalam pelaksanaan UAS/UAN.

Pro dan kontra terhadap pelaksanaan UAS/UAN terus saja membahana secara datar, bahkan seorang Guru Besar Universitas pernah mengatakan bahwa UAS/UAN adalah Ujian Akhir yang sesat dari segi intelektual maupun dari segi iman. Kesesatan itu terjadi karena pelaksanaan UAS/UAN skala nasional tersebut dilakukan secara serentak itu telah menimbulkan dampak lain yakni dampak meningkatnya kejahatan baru yang makin meluber. UAS/UAN bukannya sebuah aktivitas yang ikut menciptakan situasi dan kondisi bagi meningkatnya kualitas pendidikan namun malahan telah menjadi faktor penyebab dari merosotnya kualitas pendidikan kita sendiri.

Perilaku yang tidak jujur dan tidak percaya diri merupakan faktor-faktor yang menyebabkan pelaksanaaan UAS/UAN menjadi merosot secara kualitas. Pengakuan oknum siswa dalam tayangan Metro TV tersebut menjadi salah satu gejala dari sekian banyak gejala di mana manusia telah menindas nilai-nilai kejujuran dengan melakukan tindakan immoral demi mencapai tujuannya yakni mendapatkan nilai ujian yang bagus agar memperoleh Ijazah SMA.

Beberapa hal yang dapat dilihat secara jelas melalui tayangan tersebut adalah:

Pertama, Nilai-nilai yang bagus, bernilai dan bermanfaat telah dilanggar dan diinjak oleh manusia. Manusia telah melakukan penindasan terhadap hal-hal yakni nilai-nilai dalam UAS/UAN. Nilai-nilai yang perlu ditegakkan dalam UAS/UAN bersifat hukum evidensi etis yang kebenaran ilmiahnya masih dalam taraf hipotesis. Menyontek secara etis dilarang karena selain melanggar nilai kejujuran namun secara hukum larangan untuk menyontek telah tercatat di dalam peraturan UAS/UAN dan peraturan dalam tata tertib sekolah.

Maka pelaksanaan peraturan dan tata tertib itu menjadi sesuatu yang harus. Kenyataannya bahwa sangat sulit untuk melarang orang menyontek atau memperoleh kunci jawaban secara haram. Hal itu terjadi karena lemahnya sistem pengawasan dan juga lemahnya faktor manusia yakni para pengawas ruang UAS/UAN sendiri.

Dengan melakukan tindakan ketidakjujuran dalam UAS/UAN maka para siswa telah melakukan penindasan terhadap nilai-nilai humaniora atau norma-norma dalam hidup yang telah tercermin dalam peraturan atau tata tertib ujian.

Kedua, Bahwa dewasa ini gejala yang umum terjadi adalah bahwa nilai-nilai dalam hidup bersama seperti kejujuran dan ketaatan dalm peraturan telah menjadi sangat lemah dan tata tertib atau peraturan dalam hidup bersama telah menjadi seperti Macan tua yang ompong.

Macan adalah jenis hewan buas yang menjadi salah satu penguasa rimba raya karena kekuatan giginya, namun bila giginya menjadi ompong maka dia menjadi sangat lemah dan kehilangan senjata. Akibatnya Macan itu bisa menjadi korban penangkapan orang bila giginya telah ompong. Peraturan atau tata tertib dewasa ini seperti Macan tua yang telah ompong tersebut. Ia telah menjadi hewan yang lemah karena itu membuatnya gampang ditangkap dan diperlakukan dan diputarbalikkan demi tujuan-tujuan tertentu.

Ketiga, Melaksanakan sebuah nilai-nilai kehidupan tanpa daya kritis dan kemampuan akal dan gagasan yang tajam atasnya sering menjadi sesuatu yang kurang bagus bagi perkembangan dan kemajuan.

Nilai-nilai yang dilaksanakan oleh seseorang sering menjadi tameng untuk melindungi dirinya terhadapan sebuah ancaman bahkan sering peraturan atau nilai yang ditanamkan dipakai oleh seseorang pemimpin untuk melanggengkan kekuasaannya.

Misalnya, politik teripartai yang dibuah oleh rezim Soeharto pada masa lamapau menjadi senjata andalan agar Pak harto bisa menjalankan kekuasaannya hingga 32 tahun. Golkar, PDI dan PPP pada masa rezim Soeharto masih berkuasa dianggap sebagai bentukkan rezim untuk mempertahankan kekuasaannya. Peraturan yang berlaku juga sering menjadi tameng oleh sebuah kekuasaan yang jelek untuk melanggengkan kekuasaannya.

UAS/UAN bisa saja akan tetap ada pada tahun depan dan tahun-tahun yang akan datang. Pelaksanaan UAS/UAN bisa menjadi sarana untuk mendidik dan membesarkan kehidupan generasi bangsa menjadi generasi yang cerdas dan berpikiran bahwa peraturan itu dibuat oleh manusia sebagai makhluk Tuhan yang tidak sempurna melainkan memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu.

Keterbatasan-keterbatasan itu hendaknya ditanggapi secara cerdas oleh para siswa dan semua komponen pendidikan agar kita tidak menjadi seperti sebuah robot dalam kehidupan bersama akibat peraturan dan tata tertib yang ada. UAS/UAN boleh ada lagi siapapun tidak bisa melalarang pelaksanaan UAS/UAN apalagi UAS/UAN ditetapkan dalam sebuah peraturan baik level kontitusi negara maupun ketetapan Menteri yang pelaksanaannya juga mengharuskan demikian.

Sebagai orang Kristen sebaiknya kita mencontohi apa yang sudah Tuhan Yesus ajarkan dalam Injil bahwa, “..hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari sabat..” (Markus 2:27), maka bagi kita adalah bahwa peraturan itu ditetapkan oleh manusia dan bukan manusia oleh peraturan.

Dosa dan kejahatan adalah faktor-faktor penyebab hilangnya martabat manusia yang tinggi dan luhur. Maka sebaiknya bersikaplah jujur dan adil dalam hidupmu, maka kejujuran dan keadilan akan membuat kehidupanmu lebih bermartabat. Gerakan-gerakan untuk membuat kehidupan masyarakat dan bangsa menuju kehidupan yang lebih adil dan bermartabat akan tetap ada, semoga dengannya kehidupan bangsa dan negara kita menjadi semakin maju dan bermartabat..

                      _________________________________________

� prev
top
next �

Pendidikan Demi Keadilan

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Kamis, 2 Mei 2012

Hari ini bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sebagai guru dan pendidik apa yang terlintas di benak kita ketika kita merayakan hari pendidikan nasional hari ini?

Secara mental kita baru saja selesai dalam suasana Mayday yang kemarin dirayakan secara “meriah dan massal” di berbagai kota di Indonesia. Suasana Mayday masih tetap terasa dalam benak kita.

Pada berbagai negara di dunia, suasana Mayday bukan hanya dirayakan selama sehari saja, malahan dirayakan selama 3 hari penuh sejak mulainya Mayday, sehingga para buruh boleh berlibur. Bila hal itu diterapkan di Indonesia sebagai hari dalam serangkaian Mayday, maka 2 Mei pada hari ini, kita masih dalam suasana Mayday.

Sehingga apabila para buruh itu berlibur selama “3 hari” kerja dan pulang kampung, bagaimana dengan para guru dan pendidik serta para siswa kita? Apakah para guru dan pendidik dan para siswa kita bebas dari Mayday? Bila para siswa itu bebas dari Mayday maka hal itu bisa diterima sebab mereka dalam posisi sebagai masyarakat pembelajar, bukan orang yang bekerja.

Namun bagaimana dengan para gurunya, apakah mereka boleh bebas dengan gaung Mayday? Bila mereka bebas, apakah para guru sudah bebas dari persoalan keadilan dan pemerataan ekonomi, dalam arti bahwa gajinya sudah sesuai dengan yang dituntut dalam kesejahteraan? Ini menjadi hal yang sangat menarik menyongsong hari pendidikan nasional kita tahun ini.

De facto bahwa persoalan pendidikan di Indonesia masih menyimpan problematika, khususnya dalam pembayaran gaji para guru honor kita yang di bawah upah minimum. Para guru honor pada bebarapa tempat cuma dibayar dengan gaji di bawah sekali, bahkan ada yang cuma Rp 200.000/sebulan.

Dengan sendirinya mereka belum mendapat gaji yang bagus dan tunjangan yang wajar. Berbeda dengan “senior-seniornya” yang dibayar secara luar biasa dengan gaji pokok dan TPP yang membuat mereka disebut sebagai “orang kaya” dengan penghasilan di atas Rp 45.000.000 atau lebih setiap tahunnya.

Menyadari itu semua, maka penulis berpendapat bahwa gaung Mayday masih juga terasa di kalangan lembaga pendidikan kita. Banyak para guru yang masih belum sejahtera dengan gaji yang kurang bagus, sebuah pekerjaan rumah bagi semua komponen pendidikan di tanah air serta para pembuat kebijakkan pendidikan kita.

Bahkan di beberapa tempat, institusi pendidikan kita harus mengalah dan menyerah bila berkonfrontasi dengan para pengusaha yang merupakan kaki tangan kaum kapitalis. Sehingga ada kesan bahwa pendidikan kita di Indonesia diselenggarakan demi melayani kepentingan kaum kapitalis, bukan demi kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Kapitalis telah melanda seluruh dunia, termasuk melanda sendi-sendi pendidikan di Indonesia.

Namun sangat lucu bila para guru dan siswa juga berlibur karena Mayday! Semoga hal itu tidak terjadi di Indonesia. Namun hal ini boleh diangkat karena situasi dan kondisi yang memungkinkan hal itu dibicarakan karena peringatan Hari Pendidikan Nasional hanya selang satu hari setelah Mayday.

Sehingga sungguh menarik bila kita juga memakainya sebagai titik tolak kajian dan refleksi kita tentang keberadaan pendidikan kita saat ini. Hal ini dibuat semata-mata demi memikirkan tempat yang sebenarnya bagi pendidikan kita di tanah air.

Maka saya merangkum semua kenyataan dan kondisi kita itu diparalelkan dengan situasi pendidikan kita saat ini dengan tema yang menarik yakni: Pendidikan Demi Keadilan. Kita semua menyadari bahwa keadilan ekonomi, politik dan sosial saat ini tengah menjadi topik hangat pada berbagai media.

Topik keadilan khususnya keadilan ekonomi menjadi topik utama dan menjadi penyebab semua relasi dan keberadaan bangsa Indonesia saat ini. Keadilan ekonomi menyangkut pemerataan pembagian hasil ekonomi, bukan saja di Indonesia namun di seluruh dunia. Kita menyaksikan bahwa kehidupan internasional kita masih dipenuhi oleh ketidakadilan dalam pembagian ekonomi dan hasil-hasilnya.

Masih terjadi jurang yang besar dan lebar antara negara-negara di dunia. Negara-negara dunia pertama (the first world societies) masih mendominasi dan menguasai industri yang merupakan basis pertumbuhan dan kesejahteraan dunia, menyusul negara dunia kedua (the second world societies) dan menyusul negara-negara dunia ketiga (the third world societies). Perbedaan dan jurang yang besar itu memungkinkan terjadinya banyak hal yang menyimpang yakni ketidakadilan ekonomi yang berimbas pada persoalan HAM di negara-negara dunia ke-3.

Akibat kemajuan dan terkaman Kapitalis dunia telah ikut mewarnai sepak terjang pendidikan di Indonesia. Selepas tama SMA/SMK para siswa kita hijrah ke pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatra untuk bekerja pada perusahaan-perusahaan swasta/pemerintah dengan gaji seadanya. Pertumbuhan dan perkembangan industri secara masal di Propinsi NTT masih belum bagus dan masih belum memungkinkan terjadinya pertumbuhan dan perkumpulan/perserikatan kaum buruh yang menuntut keadilan seperti halnya di Jawa atau kota-kota besar di Indonesia.

Para siswa kita di NTT, dalam masa persekolannya di SMA/SMK belum disiapkan untuk menjadi pekerja industri secara terencana di tingkat SMA kita. Hanya beberapa SMK telah mengajarkan tentang industri dalam skala kecil dan menengah, namun belum banyak diterapkan secara masal, oleh sebab jumlah industri dan pergerakan kapital di NTT belum seintens kota-kota besar yang lain terutama Indonesia bagian barat. Namun gaung keadilan terus berkecamuk.

Masyarakat NTT masih menyadari betapa kejamnya Kapitalisme yang melanda daerah-daerah di Timor Barat dan wilayah NTT lainnya. Hal yang paling nampak adalah akibat kerusakan lingkungan yang sangat parah. Lingkungan yang rusak ditinggalkan begitu saja dan masyarakatnya menjadi menderita.

Maka muncul ide tentang keadilan itu bagi masyarakat kita. Sebab para pengusaha yang merupakan kaki tangan Kapitalisme telah menjadikan keuntungan eksplorasi dan pendirian perusahaan itu untuk dan demi keuntungannya yang besar. Sisi lain dari industri adalah masyarakat masih tetap berada di dasar kemiskinan dan ketertinggalan itu sendiri.

Industri telah membuat kerusakan alam dan ekosistem baik darat maupun laut. Kita masih menyaksikan musibah Lumpur lapindo di Sidoarjao yang hingga saat ini masih terus mewabah sedangkan pelakunya tidak pernah dihukum. Industri dan pabrik yang menjadi penyebab meluapnya Lumpur Lapindo merupakan kaki tangan Kapitalisme yang kini melanda selruh dunia.

Pendidikan demi keadilan yang disuarakan pada tanggal 2 Mei 2012 memiliki beberapa pikiran utama yakni:

Pertama, Pendidikan harus menempatkan nilai-nilai/norma-norma menjadi prioritas paling pertama dalam kehidupan setiap di rumah, di masyarakat, di sekolah dan tempat ibadah serta pada pertemuan-pertemuan tertentu. Nilai-nilai kehidupan harus mendapat perhatian dan penekanan oleh para guru, orang tua dan pemerintah.

Nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, kebaikan, sopan santun, mandiri, cinta tanah air dan bangsa, percaya diri, berani karena benar, adat istiadat, tata krama menjadi prioritas dalam pembelajaran. Penekanan terhadap nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat di sekolah bukan hanya kepada para siswa/pembelajar saja namun juga bagi para guru, kepala sekolah, pegawai dan satpam dan semua element yang bersesuaian dengan kehidupan di sekolah.

Menghargai nilai-nilai dalam kebersamaan dan dalam praktek nyata memungkinkan pendidikan dapat berlangsung dalam kesuksesan dan keberhasilan. Penekanan pada nilai rapor atau nilai di atas kertas yang berlebihan memungkinkan para siswa dapat menggunakan berbagai cara yang haram untuk mendapatkan nilai raport yang tinggi, seperti yang tersaji dalam siaran Metro TV pada Rabu, 2 Mei 2012, jam 22.00 Wita. Dalam siaran yang bertajuk “Mata Najwa” itu ditampilkan berbagai keboborokan yang dilakukan oleh para siswa selama menempuh UN sekitar tahun 2008 mungkin telah berlangsung cukup lama hingga saat ini.

Kedua, Pendidikan harus berorientasi pada kemandirian dan kepercayaan diri element bangsa. Generasi muda SMA/SMK merupakan generasi bangsa yang sangat menentukkan perjalanan bangsa ke depan. Maka pendidikan harus berupaya untuk memupuk kemandirian dan kepercayaan diri menyongsong masa depan para siswa.

Kemandirian dan rasa percaya diri bisa berwujud tetap teguh mempertahankan nilai-nilai (kejujuran, kesucian, kebaikan, kesopanan, disiplin, kebenaran, adat istiadat, tata susila) dalam kehidupan bersama dalam kondisi manapun dan apapun. Melalui nilai-nilai yang ada kita tetap percaya diri dan memiliki tingkat daya saing global yang tinggi.

Ketiga, Pendidikan hendaknya tidak boleh mengejar jumlah atau kuantitas melainkan kualitas pendidikan itu sendiri. Kita mencontohkan sistem pendidikan dan industri di negara maju. Di sana pendidikan mengejar kualitas/mutu. Sehingga hanya sedikit orang yang bersekolah dan terdaftar. Karena julahnya sedikit maka para siswa gampangdiperhatikan dan dikontrol.

Akibat selalu dikontrol, maka mereka menjadi begitu disiplin dan berhasil dalam pendidikan di kelas. Daya tampung sekolah-sekolah di Jerman hanyalah sekitar 32 orang setiap kelas, itupun hanya terdapat sekitar 15-20 orang para siswa asal Jerman sedangkan para siswa yang lain adalah para siswa yang berasal dari negara lain yang bersekolah di Jerman karena Jerman memberikan beasiswa secara gratis kepada para siswa luar negeri yang bersekolah di Jerman.

Di Indonesia kita memiliki jumlah murid yang sangat banyak terutama di perkotaan. Para siswa yang terdapat di kelas bisa mencapai hampir 60 siswa dan malahan terbagi atas 2 rombongan belajar/mengajar. Pendidkan kita berusaha mengejar kuantitas dan melupakan kualitas pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang mengejar kualitas berarti pendidikan harus berusaha mengejar nilai-nilai dalam kehidupan setiap hari. Nilai-nilai itu seperti: disiplin, jujur, mandiri, dll.

Dengan menekankan nilai-nilai kehidupan dalam pendidikan saya yakin kita akan mampu menciptakan sebuah sistem pendidikan yang menjunjung tinggi sistem keadilan dalam kehidupan bersama baik secara nasional maupun secara internasional. Sistem keadilan berarti bahwa akan terciptanya keadilan dan pemerataan ekonomi sebagai basis penyelesaian persoalan kemiskinan di Indonesia.

Bila telah tercipta keadilan nasional maka kita berharap akan terciptanya keadilan internasional, di mana negara-negara dunia pertama harus dan berkewajiban untuk membantu dan menolong negara-negara dunia ketiga agar terciptanya kemajuan bersama yang adil dan merata di dunia.

Bila dunia telah sungguh-sungguh adil, maka dunia akan bertumbuh menjadi tempat yang tampan dan penuh kedamaian, menuju kedamaian dan keadilan yang abadi. Semoga melalui pendidikan kita dapat mencapai keadilan dan perdamaian dunia yang abadi

                      __________________________________________

� prev

Menuntut Upah Yang Layak

 

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Selasa, 1 Mei 2012

Sebagai seorang guru dan pendidik saya sering menemukan dalam kehidupanku setiap hari, lewat bacaan-bacaan di Mass Media, baik Media cetak, media elektronik maupun media online bahwa para guru honor serta kaum buruh dan pekerja sering berdemontrasi menuntuk upah yang layak dan pemberian upah yang sesuai dengan standard UMR.

Demonstrasi massa yang dengan keras menuntut hak-haknya secara wajar itu sering menimbulkan dampak anarkis bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Tidak kurang guru-guru honor juga seringkali melakukan tindakan demonstrasi dan gerakan menunutut upah yang wajar. Juga kaum buruh dan pekerja serta juga para PNS yang merasa diperas dan diingkari hak-haknya secara benar.

Bila kaum buruh melakukan tindakan demontrasi karena menuntut upah yang wajar, maka hal itu memang wajar karena para buruh juga memiliki banyak tanggungan dalam hidupnya. Kebutuhan hidup di kota-kota besar menjadi semakin mahal dan membutuhkan biaya yang tinggi. Demikian juga para guru honor sering bertindak nekat dan melakukan gerakan-gerakan untuk menuntut upah yang wajar.

Dewasa ini kesejahteraan dan kemakmuran manusia, bukan saja dituntut oleh hasil ujian yang dijawab secara benar dan tepat namun sering lebih kepada tuntutan-tuntutan dan gerakan-gerakan dari manusia sendiri. Kesejahteraan dan kemakmuran manusia lebih banyak terjadi karena sejarah hidup dan gerakan-gerakan dalam hidup sosial dan bermasyarakat.

Di Indonesia hal itu seringkali banyak dilihat dalam kehidupan masyarakat kita. Bahwa sejarah dan gerakanlah yang menghantar Jenderal TNI Soeharto menjadi presiden RI selama 32 tahun berkuasa. Dan sejarah pulalah yang membuat Presiden RI Soeharto lengser dari jabatannya sebagai presiden RI, karena gerakan-gerakan yang semakin mendesak dari para mahasiswa. Gerakan-gerakan dan sejarah membuat orang menjadi sejahtera dan sukses di dalamnya.

Menuntut upah yang layak seringkali dilakukan dengan cara yang halal, namun juga seringkali lebih banyak dengan cara haram. Kekerasan demi kekerasan terjadi di bumi Indonesia karena orang menuntut upah yang wajar. Namun karena hal ini seringkali beberapa oknum melakukan hal yang berdambak buruk bahkan terjadi hal-hal yang menunjukkan tindakan kriminal.

Para pegawai, dan aparatur sering bekerja sampingan untuk memperoleh gaji yang tinggi. Lewat bekerja sampingan tersebut gaji mereka menjadi meningkat drastis. Hal inilah yang membuat banyak polemik dan persoalan sebab mereka sering meninggalkan tugas mereka yang pokok dan bekerja pada bagian yang bukan tugas dan wewenangnya. Seringkali pekerjaan sampingan itu menimbulkan masalah bahkan berdampak pada terjadinya kejahatan-kejahatan baru di tengah masyarakat.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: Apakah para aparat yang sering bekerja sampingan itu tidak puas dengan gaji atau upah yang diterimanya sebagai aparat negara? Sikap rakus dan loba serta tamak membuat manusia ingin memperoleh lebih banyak yang didapatkan dari negara. Dosa telah mendatangkan kerakusan dalam diri oknum aparat tertentu.

Dosa membuat mereka menjadi seperti “binatang piaraan” perusahaan yang tega menghabisi sesama bangsa sendiri dari kalangan rakyat biasa yang juga sama halnya mereka ingin juga mempertahankan hak-haknya. Kelobaan membuat orang menjadi seperti serigala buas di tengah hutan belantara. Mereka mencari mangsa pada orang-orang yang tidak bersalah, untuk merampas kepunyaan rakyat yang tidak bersalah, yang lemah dan tidak berdaya.

Beberapa guru ekonomi di sekolah-sekolah SMA/SMK sering mensharingkan kepada saya bahwa selain mendapatkan penghasilan sebagai PNS, mereka sering menjadi tenaga konsultan pada banyak perusahaan baik swasta maupun pemerintah.

Tenaga konsultan untuk menghitung pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan-perusahaan itu membuat mereka mendapatkan penghasilan yang lebih. Sebab perusahaan-perusahaan itu sering memberikan uang setiap kali terjadi audit oleh pemerintah dalam penentuan pajak penghasilan yang jumlahnya tergolong besar tersebut.

Pajak penghasilan sering dihitung oleh para guru PNS bidang study ekonomi yang mempergunakan kerja waktu luang mereka itu. Demikian pun para guru ekonnomi sering menggunakan waktu luang merekan untuk mendirikan perusahaan dan usaha dagang lainnya untuk mendapatkan gaji agar bisa menutup biaya hidup mereka sendiri. Namun itu keadaan pada masa lampau, pada masa di mana pemerintah belum memberlakukan UU Guru dan Dosen tahun 2005.

Dalam zaman sekarang, setelah dengan adanya UU Guru dan Dosen Tahun 2005, maka guru disebut sebagai sebuah profesi yang melekat erat dengan dirinya selama 24 jam. Hal ini lah yang mengakibatkan profesi guru, sama halnya dengan profesi yang lain seperti dosen atau dokter, bisa melakukan aktivitas atau kegiatannya selama 24 jam atau purnawaktu. Menjadi guru purnawaktu berarti guru bukanlah sebuah pekerjaan sambilan. Demikian juga dengan adanya profesi sebagai dosen.

Maka menjadi dosen bukanlah sebuah pekerjaan sambilan atau sampingan. Namun guru dan dosen adalah pekerjaan pokok. Guru dan dosen adalah pekerjaan yang perlu lebih banyak perhatian, lebih banyak tenaga dan lebih banyak dedikasi secara purnawaktu.

Guru dan dosen adalah sebuah profesi yang menuntut kompetensi, dedikasi dan pengabdian secara purna waktu dan dedikasi yang tinggi. Kepuasan masyarakat menjadi taruhan bagi para guru dan dosen. Kepuasan itu berindikasi kepada kepercayaan publik yang semakin besar terhadap kinerja dan prestasi apara pemerintah, khususnya guru dan dosen kita.

Dewasa ini, pemerintah menuntut kompetensi para karyawan sebelum menerbitkan kebijakkan tentang peningkatan kesejahteraan para karyawan termasuk PNS. Kebijaksanan tentang kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat harus adil dan sesuai dengan koridor hukum dengan mempertimbangkan prestasi, kinerja dan kompetensi para karyawan.

Para karyawan dengan pendidikan dan pelatihan yang kurang bagus tentu berdampak pada penghasilan dan penghidupan yang kurang bagus. Sebaliknya para karyawan baik swasta, BUMN dan PNS yang memiliki kualifikasi akademik, kinerja prestasi dan pendidikan yang tinggi, maka peluang untuk mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran mereka menjadi meningkat.

Namun seringkali juga pemerintah memperhitungkan gerakan-gerakan masyarakat, demonstrasi dan aktivitas karyawan utnutk menuntut upah yang wajar. Gerakan-gerakan itu sering menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengabulkan tuntutan karyawan akan sesuatu hak-hak yang dilupakan para karyawan.

Sejarah perburuhan di Indonesia memang menyimpan banyak gerakan dan tuntutan dari kaum buruh terhadap kesewenangan para majikannya. Para majikan dari perusahaan tempat para pekerja bekerja sering memperlakukan karyawannya secara tidak adil khususnya dalam pembayaran tunjangan dan upah yang wajar. Hal inilah yang membuat gerakan-gerakan itu semakin menjadi-jadi dalam pembayaran upah atau tunjangan yang wajar dan sesuai dengan hak-hak mereka.

Gerakan kaum buruh telah berlangsung sejak munculnya revolusi industri pada abad 18 yang merupakan akibat pendirian industri-industri di negara-negara maju yang mempekerjakan para karyawan di industri-industri tersebut.

Para karyawan mendapatkan upah atas pekerjaan mereka dari para pemilik industri yang sering melakukan tindakan sewenang-wenang berupa pembayaran upah di bawah upah minimum. Gerakan kaum buruh ini menjadi meluas ke semua tempat di seluruh dunia di mana terdapat banyak industri-industri besar yang memperkerjakan ribuan buruh.

Aksi para buru di Indonesia dimulai pada tahun 1920 ketika Indonesia masih disebut Hindia Belanda dan berlanjut hingga masa Orde Lama di bawah Presiden Soekarno. Pada masa Presiden Soeharto aksi buruh tidak bolehkan oleh rezim itu karena pertimbangan idiologi dan keamanan.

Rezim Soeharto berpendapat bahwa aksi para buruh ditunggangi oleh komunis dan gerakan separatisme maka aksi para buruh itu dilarang keras. Barulah aksi para buruh dihidupkan kembali pada masa reformasi mengikuti perkembangan aksi-aksi yang sama oleh para buruh di seluruh dunia. Dewasa ini aksi para buruh pada 1 Mei setiap tahun merupakan sebuah keharusan dan rupanya dikelola secara internasional. Aksi para buruh pada 1 Mei ini disebut secara internasional: Mayday.

Para buruh diseluruh dunia khususnya di Indonesia pada mayday merayakan dan memperingati tuntutan para buruh akan kehidupan yang layak dengan aksi-aksi di jalanan ibu kota atau di kota-kota besar propinsi.

Mereka menuntut sistem outsourching dan pembayaran upah yang rendah kepada perusahaan-perusahaan dan pemerintah karena dianggap sebagai perbudakan modern. Pada beberapa tempat Mayday dirayakan secara besar-besaran persis seperti sebuah hari raya karena beberapa pemerintah memberlakukan hari libur nasional selama beberapa hari sehingga para buruh boleh pulang kampung.

Di Indonesia Mayday bukanlah sebuah hari libur nasional namun pemerintah telah mengakui dan mentolelir perayaan Mayday ini. Sehingga mungkin saja akan terjadi perubahan drastis dalam perkembangan di masa depan terhadap keberadaan Mayday di Indonesia. Sehingga Mayday menjadi hari libur nasional. Terlihat juga beberapa anggota Parlemen Indonesia dari DPR turun ke jalan bersama para buruh untuk membicarakan dan memperjuangkan kesejahteraan para buruh di Indonesia.

Menuntut upah yang layak memang merupakan misi suci yang diemban oleh gerakan buruh di Indonesia. Juga gerakan para buruh menuntut penghapusan outsourching yang menjadikan para buruh seperti berada dalam sebuah “kamp konsentrasi Nazi”.

Ada beberapa nilai positif dari pemberlakuan Mayday di Indoensia:

Pertama, melawan tindakan kesewenangan, ketamakan para majikan. Para majikan atau pemilik perusahaan sering mempekerjakan para buruh seperti sapihan perahan. Keuntungan perusahaan digunakan untuk kepentingan pribadi. Para buruh seperti tertindas oleh hasil karyanya sendiri. Mereka masih seperti di bawah tekanan dan penjajahan baru yakni penjajahan kaum Kapitalis.

Kedua, Gerakan Mayday yang menuntut keadilan dan pemerataan pendapatan, telah sesuai dengan konstitusi negara kita yakni bahwa, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Penjajahan yang dimaksudkan adalah penjajahan ekonomi oleh kelas-kelas berkuasa dalam diri para majikan dan pemilik perusahaan sebagai pelaku kapitalis di Indonesia dan negara-negara di seluruh dunia.

Ketiga, Mayday merupakan titik refleksi kesadaran manusia Indonesia yang merasa tertindas dalam sistem dan budaya baru yakni budaya kapitalis yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa sejak lama, yakni sejak kaum kapitalis menginjakkan kakinya di Indonesia.

Keempat, Mayday merupakan titik gerakan kebersamaan bangsa Indonesia secara internasional bersama bangsa-bangsa di dunia yang menyadari bahwa kapitalisme telah ikut membuat kerusakan ekosistem, kerusakan lingkungan, penjajahan baru, penderitaan lahir dan bathin dari komunitas-komunitas masyarakat dari berbagai negara di dunia.

Maka perlu daya upaya dari berbagai pihak untuk sama-sama memikirkan jalan keluar yang tepat bagi keadilan, kesejahteraan, pemerataan, kesehatan dan kelestarian lingkungan dan alam, serta penghormatan terhadap martabat manusia sejagat.

Kelima, Mayday merupakan sebuah gerakan kemanusiaan yang kokoh akibat perasaan ketertindasan secara ekonomi yang menimpa manusia. Musibah kemanusiaan yang hebat merupakan akibat kerja kaum kapitalis yang ingin mengeruk banyak keuntungan finansial dari kaum buruh.

Demikianlah 5 nilai positif yang dapat diangkat oleh penulis artikel ini terhadap keberadaan Mayday di Indonesia. Namun kita berharap agar Mayday harus berjalan secara murni dan konsekuen. Mayday harus bebas berekspresi dan bebas intervensi dari pihak manapun, termasuk pengusaha dan pemerintah.

Mayday juga harus bebas dari unsur komersial dan politik. Mayday harus bebas dari unsur intevensi dari individu dan kelompok tertentu yang ingin melenggengkan kekuasannya. Mayday harus bebas dari camputangan para politisi, birokrat, pengusaha yang ingin bermain api demi keuntungan politik dan ekonomi.

Semoga perjuangan kaum buruh Indonesia ini dapat membawa angin segar perubahan kehidupan kaum buruh di Indonesia menjadi lebih baik dan lebih sejahtera serta bebas dari penderitaan dan penindasan Kapitalisme.

                    ________________________________________