Bersekutu Dalam Iman Akan Kristus

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Senin, 30 April 2012

Bagi umat beriman seluruh dunia, membangun persekutuan hidup bersama yang solider dan dilandasi oleh iman akan Kristus merupakan sebuah keharusan dalam hidup bersama. Persekutuan memungkinkan terjadinya doa bersama, perayaan ekaristi bersama, hidup komunitas, pendidikan dan sosial menjadi nafas dalam hidup bersama itu.

Di dalam hidup bersama ditemukan spirit iman, harap dan cinta yang dibangun manusia dalam relasinya yang berganda kepada diri, sesama dalam hidup berkeluarga, lingkungan masyarakat, dunia/alam dan kepada Allah sendiri. Semangat dalam komunitas hidup umat Kristus harus dibangun atas dasar-dasar nilai atau kualitas hidup bersama itu.

Hidup bersama bukan sebuah hidup bersama seperti yang kita alami di dalam kos atau hotel di mana orang hanya mengejar kenikmatan semu dan sesaat saja, namun komunitas hidup beriman yang dibangun atas dasar Kristus harus berupaya mengejar nilai-nilai hidup bersama atau kualitas hidup bersama.

Orientasi pada nilai Kristus itulah memungkinkan komunitas umat Katolik dapat bertahan lama dan akan langgeng selamanya. Komunitas hidup Katolik yang tersebar dan kurang bersatu akan terancam bahaya keterpecahan dan akan menjadi bubar bila orang perorangnya berusaha mengejar cita-cita dan tujuan hidupnya sendiri-sendiri saja.

Hari ini gereja sejagat memperingati Pesta St. Yoseph pekerja. Ia adalah seorang pekerja keras. Ia bekerja sebagai seorang tukang kayu untuk menghidupi keluarga kudus di Nasareth. Ia berusaha mengikuti kehendak Allah untuk menjadi Bapak Piara Yesus Kristus, meskipun kenyataan pahit harus ia terima ketika ia membawa keluarga kudus itu ke Mesir untuk menghindari pembunuhan oleh Raja Herodes. St. Yosef bekerja dengan tenaga dan pikirannya sendiri untuk menghidupi keluarganya, keluarga kudus yang dikenal dengan nama keluarga kudus Nasareth.

Teladan St. Yoseph pekerja ini hendaknya menjadi titik tolak bagi seluruh karya dan aktivitas para anggota gereja Katolik di manapun mereka berada untuk menghayati pekerjaan tangan sebagai sebuah pekerjaan yang bernilai demi pembangunan kualitas hidup kita dalam persekutuan hidup bersama, sebagai pribadi, sebagai keluarga dan komunitas-komunitas hidup religius.

Kerja kasar bukanlah sebuah pekerjaaan yang hina, namun kerja kasar adalah pekerjaan yang mulia dan bernilai serta bermanfaat bagi manusia dan bagi Allah sendiri.

Bekerja apapun bentuknya, dengan cara apapun, kita berusaha untuk membangun hidup kita dan persekutuan kita agar kita bisa keluar dari jurang kemiskinan, keterbelakangan dan kesulitan hidup. Orang yang berkerja akan mendapatkan hasil berlimpah untuk kehidupannya, sedangkan orang yang malas bekerja akan menjadi miskin dan susahhidupnya.

Kemiskinan terjadi karena orang kurang bekerja lalu nunut kepada orang lain. Orang malas ibarat benalu dalam kehidupan ini. Ia hidup dengan mengharapkan bantuan orang lain. Sedangkan orang yang bekerja maka dia akan menjadi makmur dan tidak susah atau miskin. Orang yang bekerja ia mulia di mata Tuhan dan sesama.

Kita juga berdoa agar keadilan dan kebenaran ditegakkan dalam kehidupan kita. Perlu keadilan ekonomi di seluruh dunia. Perlu kebenaran untuk menjadi warna dasar dalam kehidupan umat kristiani. Dengan keadilan dan kebenaran kita akan terus berkanjang dalam kehidupan kita menyongsong masa akhir.

Teladan St. Yoseph menjadi model usaha kita untuk mengapai keadilan dan kebenaran di seluruh dunia. Sebab kita yakin dan percaya bahwa S. Yosep merupakan tanda yang membuat kita mencintai keadilan dan kebenaran dalam hidup kita setiap hari sebagai orang yang ditebus Kristus, puteranya.

Melalui teladan St. Yoseph Pekerja, Allah menghendaki agar manusia bekerja bersamaNya untuk menyempurnakan dunia dan membuat dunia menjadi tempat yang tampan, damai, harmonis, tempat yang penuh persaudaraan dan keakraban sebagai sama saudara dalam Tuhan.

Hendaknya dunia menjadi tempat orang merasakan hidup yang akan datang itu, yakni hidup dalam suasana persaudaraan dan keakraban yang kokoh. Dalam suasana itu orang harus memiliki pekerjaan agar dia bisa membangun komunitas di mana dia berada sebagai komunitas di mana Allah berkenan dalam semua kehidupan dan tingkah laku komunitas itu sendiri.

Kis.11:19-26 menceriterakan bahwa komunitas orang kristen yang masih muda usia yang terbentuk setelah kedatangan Roh Kudus dan setelah peristiwa kemartiran St. Stefanus terus saja bersekutu dan tersebar sampai ke Fenesia, Siprus dan Antiokia dan memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja.

Beberapa orang Siprus dan Kirene juga telah tiba di Antiokia dan memberitakan Injil kepada orang Yunani. Jemaat kristen yang berada di Jerusalem mendengar hal itu dan mengutus Bernabas ke Antiokia, Bernabas datang ke Antiokia dan melihat kasih karunia Allah dan bersuka cita dan menasihati mereka semua agar selalu setia kepada Tuhan.

Bernabas seorang yang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman, sejumlah orang telah di bawah kepada Tuhan. Bernabas lalu perlu ke Tarsus dan mencari Saulus, setelah bertemu dengan Saulus dia segera membawanya ke Antiokia. Mereka tinggal selama 1 tahun lamanya sambil mengajar banyak orang. Dia Antokialah murid-murid itu untuk pertamakalinya di sebut Kristen.

Bacaan injil mengetengahkan Yesus yang ditolak oleh orang Yahudi, di serambi Salomo. Orang Yahudi berkata, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jika Engkau Mesias katakanlah terus terang kepada kami”.

Yesus menjawab,”Aku telah mengatakan kepadamu namun kamu tidak percaya. Pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan dalam nama Bapakku itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku. Tetapi kamu tidak percaya karena kamu tidak termasuk domba-dombaKu.

Domba-dombaKu mengenal suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku, dan Aku memberikan hidup kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya. Dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. BapaKu yang memberikan mereka kepadaKu, seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan Bapak. Aku dan Bapak adalah satu

Bacaan-bacaan pada Pesta St. Yoseph pekerja pada hari ini menekankan pentingnya persekutuan dan communio sebagai orang yang percaya kepada Kristus. Dalam bacaan pertama, communio, persekutuan menandai mulainya keberadaan orang-orang yang percaya kepada Kristus bukan saja dari kaum Yahudi namun juga orang Yunani dan seluruh dunia pada zaman sekarang.

Kristus dan datang dan menyapa semua manusia dari segala suku bangsa, ras, golongan dan mempersatukannya. Sebagai orang yang percaya kepada Kristus kita semua di ajak untuk tetap percaya dan membangun sikap solidaritas dalam persekutuan bersama sebagai orang yang percaya kepada Kristus sendiri. Kesetiaan terhadap iman dan karya perutusan bersama gereja sejagat merupakan hal-hal yang perlu kita bina dan terus kita hidupkan dalam diri kita, keluarga, komunitas kelompok, lingkungan dan paroki serta keuskupan kita masing-masing.

Bacaan injil menekankan tentang warna yang hakiki dari komunitas orang Kristen. Komunitas ini merupakan sebuah komunitas pilihan Kristus yang berbeda dari komunitas orang Yahudi yang disebut Kristus sendiri sebagai kelompok orang yang tidak percaya kepadaNya dan bukan umat Kristus. Namun beberapa anggota kelompok ini akhirnya menjadi percaya setelah peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus dan peristiwa Roh Kudus turun atas para Rasul.

Tanda dari komunitas Kristen adalah persekutuan bersama yang dibangun atas dasar cinta kepada Kristus lewat doa bersama, ekaristi, penghayatan iman, kasih dan harapan yang utuh dalam semua kegiatan-kegiatan gereja.Persekutuan ini dinafasi oleh kekuatan dan daya Roh Kudus yang bekerja hingga akhir bersama orang-orang yang percaya dalam komunitas itu.

Keluarga kudus Nazareth sebagai model communio Gereja telah memberikan dasar yang kokoh dan teladan yang mengagumkan. St. Yoseph bekerja dengan tangannya sendiri untuk menghidupkan keluarga kudus Nasareth. Ia memberikan contoh kemandirian, kemurnian, kerja keras, kebaikan dan rahmat yang luar biasa dalam kehidupan komunitas orang Kristen yang perlu ditiru dan diteladani.

Ia merupakan seorang yang sederhana, ikhlas, percaya akan kehendak Allah, rendah hati dan tidak suka menonjolkan dirinya. Hendaknya teladan St Yoseph Pekerja menjadi kekuatan bagi umat Kristus dalam kehidupan setiap hari.

Hendaknya kita semua melihat betapa peranan komunitas basis orang Kristen menjadi teladan yang menguatkan kita semua dalam kesetiaan, keugaharian, kesolideran dan karya kita sebagai umat yang tengah berziarah di dunia ini untuk menyongsong masa akhir. St. Yoseph akan selalu mendoakan kita.

                         ______________________________________

Pemimpin: Menjadi Gembala dan Pelayan

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Minggu, 29 April 2012

Dalam kehidupan kita setiap hari orang sering memiliki kecenderungan besar untuk menjadi orang yang berkuasa, menjadi orang yang kaya raya dan menjadi orang yang terkenal. Untuk itu banyak cara orang lakukan baik dengan cara yang halal maupun dengan cara yang haram.

Sikut-menyikut, kolusi dan nepotisme merupakan cara-cara yang dilakukan orang untuk membuat dirinya menjadi berkuasa. Dalam pandangan manusia zaman ini berkuasa berarti bahwa orang bisa menyalurkan segenap selera, nafsu, minat dan gaya-gaya hidup untuk kepentingan semu, sendiri dan yang bersifat hedonis.

Tujuan nafsu dan keinginan manusia adalah untuk semakin berkuasa, semakin terkenal dan semakin kaya raya sering berorientasi kepada kesenangan dan kesejahteraan pribadi, keluarga dan golongannya saja. Rakyat atau masyarakat yang dipimpinnya menjadi dilupakannya. Ia malahan berpesta pora dan bersenang-senang di atas nasib dan penderitaan rakyat banyak demi memuaskan kesenangan pribadi, keluarga dan golongannya sendiri.

Kenyataan seperti di atas justeru bertolak belakang dengan apa yang dikehendaki oleh Yesus Kristus sendiri pada hari minggu panggilan ini. Yesus Kristus menghendaki agar lebih banyak manusia yang harus berjuang menjadi pemimpin berdasarkan contoh seorang gembala sejati yang menggembalakan kawanan domba di padang rumput yang hijau.

Yesus malahan memposisikan diriNya sebagai Gembala Yang Baik yang menghantar kawanan dombaNya ke air yang sejuk dan rerumputan yang segar serta Ia berusaha melindungi kawanan dombaNya dari serangan binatang buas. Bila salah seorang kawanan dari domba-domba itu hilang maka Ia segera meninggalkan domba-dombaNya di padang rumput dan Dia pergi mencari domba yang tersesat itu hingga menemukannya dan membawanya kembali ke kawanan domba yang lainnya di padang gembalaan.

Pada zaman Yesus menjadi gembala memang pekerjaan yang tidak memerlukan pendidikan yang tinggi, persiapan yang matang dan prosedur yang rumit. Seseorang bisa saja menjadi gembala kambing atau domba karena memang kelahirannya menuntut bahwa dia bisa melakukannya demikian, misalnya karena Ayah/Ibu, kakek, neneknya seorang gembala maka dengan sendirinya orang itu akan menjadi gembala juga. Menjadi gembala rupanya merupakan bagian dari tugas seseorang teristimewa bila seseorang itu di lahirkan dari kalangan bangsa Israel, bangsa yang bukan bangsa Romawi yang kala itu menjajah orang-orang Yahudi.

Seorang gembala berpikiran sederhana, tidak bertele-tele, namun memiliki kecerdasan, kesucian dan kepolosan seorang anak yang masih utuh dan asli. Gembala adalah sebuah pekerjaan yang gampang dan jauh dari hiruk pikuk politik untuk memperebutkan kursi atau kekuasaan seperti yang dibuat oleh para pemimpin zaman sekarang.

Seorang gembala memiliki kerendahan hati dan pengalaman-pengalaman yang relevan tentang kehidupan yang syarat makna karena pertama-tama dia selalu berurusan dengan kehidupan hewan-hewan ternaknya di padang belantara dan daerah-daerah yang penuh konflik dan permusuhan.

Bacaan pertama yang diambil dari Kis.4:8-12 mengetengahkan Kotbah Petrus yang sedang dipenuhi oleh Roh Kudus di hadapan Mahkamah Agama, masih dalam situasi setelah kebangkitan Tuhan Yesus dan setelah 40 hari/40 malam Novena Pentekosta di Yerusalem, Roh Kudus turun atas para Rasul dan setelah itu oleh kekuatan daya Roh Kudus para Rasul menjadi saksi-saksi Kristus yang berani dan menakjubkan banyak orang. Petrus sedang diperiksa oleh Mahkamah Agama bangsa Yahudi di hadapan Imam besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang yang termasuk keturunan Imam Besar.

Mereka ingin mengetahui dengan kuasa manakah para Rasul itu melakukan penyembuhan terhadap orang sakit? Petrus berkata, “..Dalam nama Yesus Kristus Orang Nasareth, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan-yakni kamu sendiri, namun IA telah menjadi batu penjuru, dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun selalin di dalam DIA, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita diselamatkan..” Di sini Petrus secara berterus terang menyatakan iman dan kepercayaan para rasul akan Kristus Yesus yang telah disalibkan dan kini Dia telah bangkit dengan jaya.

Yesus Kristus ibarat batu yang dibuang oleh para pembangun namun kini telah menjadi batu penjuru. Hal menarik yang dikatakan Petrus di sini ialah dia menggunakan nas yang bersesuaian dengan Sabda Yesus sendiri yakni Gembala Yang Baik. Unsur kerendahan dan hati ketulusan telah ditampakkan oleh Yesus.

Ia menyebutkan dirinya sebagai Gembala yang Baik dan juga Batu yang dibuang oleh tukang bangunan. Di sini Yesus Kristus menampilkan ciri kepemimpinan diriNya sebagai Sang Gembala Yang Baik dan Sang Batu Penjuru menunjukkan tugas perutusannya yang menyelamatkan, memberi perlindungan, meskipun manusia seringkali kurang menyadari peranan itu dalam hidupnya karena dosa kesombongan dan dosa kedurhakaan manusia sendiri.

Dosa yang telah merajalela pada zaman Yesus Kristus hidup dan kini terus berlangsung telah membuat orang menjadi kalap, buta hati, buta telinga dan buta perasaan sehingga berbalik melakukan banyak dosa dan kejahatan. Dosa kesombongan telah menjadi dosa yang berurat-berakar dan membuat menusia menjadi tinggi hati dan pongah.

Bacaan II, yang diambil dari I Yohanes 3:1-2 mengetengahkan situasi setelah pertobatan dan keselamatan yang telah datang ke dalam dunia. Yesus Kristus yang membawa keselamatan kepada manusia itu telah mengubah manusia yang durhaka dan sombong sebelumnya, menjadi anak-anak Allah, Pewaris kerajaan Allah sendiri. Yohanes menandaskan bahwa keselamatan itu memang sudah ada, namun selalu perlu kita usahakan secara intens dalam kehidupan manusia.

Manusia yang telah ditebus oleh Kristus selalu harus bersiap sedia dan berjuang menuju kehidupan yang lebih baik di masa depan. Yohanes menulis, “..Sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata keadaan kita kelak, akan tetapi kita tahu bahwa apabila Kristus menyatakan diriNya, kita akan menjadi sama seperti DIA, sebab kita akan melihat DIA dalam keadaannya yang sebenarnya..” demikian rasul Yohanes dalam suratnya yang pertama. Nampaknya rasul Yohanes masih menekankan hal yang koheren dengan unsur gembala yakni anak-anak.

Anak-anak digambarkan sebagai manusia yang suci, polos, sederhana, miskin, dan selalu di bawah perintah orang tuanya. Anak-anak Allah yang dimaksudkan oleh Yohanes dalam surat ini menggambarkan situasi yang bertolak belakang dengan tuntutan kepemimpinan zaman sekarang. Bahwa justeru anak-anak dipakai dan dipilih Allah, bukannya orang tua, orang pintar dan orang cerdas. Karena bagi Allah, Dia sangat menyukai unsur kepolosan, kesucian, tanpa kepalsuan dalam diri anak-anak.

Orang dewasa, orang pintar dan orang kaya dianggap telah penuh kepalsuan, penuh tipu daya dan sangat sulit untuk Sabda Tuhan bisa tinggal dan menyelamatkan seseorang bila di dalam dirinya penuh kepalsuan dan kesombongan seperti yang sering ditunjukkan oleh orang yang sudah dewasa.

Anak-anak Allah juga menggambarkan situasi keselamatan dan kemerdekaan yang diperoleh seorang yang beriman teguh pada Kristus Yesus, yang telah diangkat sebagai pewaris kerajaan Allah. Anak-anak berarti orang yang menjadi pewaris kerajaan orang tuanya, anak-anak menjadi pengganti, pewaris yang sah dari kekayaan, kemuliaan, hak-hak dan kewajiban orang tuanya.

Maka pewaris di sini berarti bahwa orang yang beriman bukan lagi menjadi hamba kegelapan dan dosa, namun mereka telah menjadi seorang pewaris kerajaan Allah. Situasi yang dan kondisi setelah manusia percaya menunjukkan penaikan derajad dari seorang yang semula berhamba kepada mamon, berhamba kepada dosa dan kegelapan, kini mereka menjadi anak-anak Allah, pewaris kerajaan Allah. Sebuah peningkatan status yang luar biasa berdasarkan penyebutan sebagai anak-anak Allah akibat iman dan percaya yang utuh kepada Yesus Kristus, Sang Almasih dan Penyelamat Dunia yakni Kristus Yesus.

Puncak bacaan hari ini terletak pada Injil Yohanes 10: 11-18. Dia dalam perikop ini, telah menyebutkan diriNya sebagai Gembala Yang Baik, yang memberikan nyawanya bagi domba-dombaNya. Seorang upahan yang dibayarkan untuk menjadi gembala, ketika melihat serigala datang, dia lari meninggalkan domba-domba itu sehingga serigala itu menerkam dan menceraiberaikan domba-domba itu.

Gembala yang baik mengenal domba-dombanya dan domba-dombanya mengenal gembala tersebut, sama seperti Bapak mengenal Aku dan Aku mengenal Bapak dan Aku menyerahkan nyawaKu bagi domba-dombaKu. Ada juga domba-domba lain yang bukan berasal dari kawanan ini, domba-domba itu harus kutuntun juga dan mereka mendengar suaraKu dan menjadi satu dengan kawanan ini. Tidak seorang pun yang dapat mengambilnya dari padaKu. Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali….”

Terminologi dalam ke-3 bacaan pada Hari minggu Paskah IV dan hari minggu panggilan sedunia ini adalah: Kristus, Allah Bapak, anak-anak Allah, Gembala, domba-domba, batu penjuru, orang upahan dan serigala. Dari antara semua pikiran utama dalam bacaan-bacaan hari ini, Gembala dan Anak-Anak menjadi 2 pikiran utama paling pokok yang patut kita renungkan dalam minggu panggilan ini.

Kita dipanggil untuk menghayati 2 hal pokok yakni panggilan umum kita sebagai umat tertebus yakni sebagai imam, nabi dan raja dan panggilan khusus yakni menjadi gembala gereja (klerikus) dan menjadi biarawan/biarawati. Panggilan umum dan khusus ini merupakan panggilan dari gereja sepanjang masa bagi seluruh umat berimannya terhadap tugas dan tanggung jawab perutusan gereja Katolik.

Kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam kepemimpinan gereja dan kepemimpinan jemaat, baik dalam urusan rohani maupun dalam urusan duniawi. Model kepemimpinan yang ditawarkan gereja adalah seperti teladan Tuhan Yesus sendiri yakni menjadi gembala yang baik dan menjadi anak-anak Allah yang baik juga.

Menjadi pemimpin dengan model kepemimpinan gembala yang baik dan anak-anak Allah yang baik harus kita usahakan dalam kehidupan kita setiap hari. Menjadi gembala berarti menjadi penuntun, pelindung dan pencari kawanan yang tersesat yakni umat yang kita layani baik sebagai pemimpin rohani maupun sebagai pemimpin jasmaniah/duniawi. Dewasa ini ini model kepemimpinan yang baik disinonimkan dengan menjadi seperti pelayan Tuhan dan sesama kita.

Unsur pelayanan menandakan kerendahan hati dan suka akan kerja. Pelayan menandakan unsur kesucian, kepolosan dan ketaatan. Seorang pelayan itu seorang yang baik, seorang yang rendah hati, jujur, percaya, setia dan suka bekerja. ia menyukai kebenaran dan berusaha mengejar kebenaran hingga akhir. Seorang pelayan memberi seluruh dirinya bagi kehidupan sesamanya hingga kadang-kadang melupakan dirinya sendiri.

Yesus mengajak semua orang beriman agar mengembangkan sikap-sikap seperti seorang gembala yang melayani dengan sikap-sikap dan teladannya yang konkrit, bukan hanya dengan kata-kata. Pelayanan seorang gembala yang setia dan mampu melayani sesama dan bawahannya menunjukkan citra dirinya yang utuh sebagai murid Kristus yang disapa sebagai anak-anak Allah, pewaris terang, pewaris kerajaan surga dan pewaris kerajaan Allah.

Maka memahami bahwa kita dipanggil bukan untuk menguasai dan mengendalikan sesama kita. Kita bukan dipanggil untuk membuat diri kita menjadi sangat berkuasa, terkenal dan kaya raya. Namun kita dipanggil untuk menjadi saksi-saksi Tuhan, menjadi seperti seorang gembala yang baik, yang sesuai dengan teladan Kristus sendiri.

Menjadi saksi-saksi Tuhan Yesus membutuhkan kesetiaan dalam pelayanan kita itu dengan penuh optimistik dan gembira. Kesetiaan merupakan sebuah pergumulan sepanjang hayat di kandung badan. Kesetiaan membutuhkan ketahanan mental, ketahanan rohani, ketahanan fisik dan keberanian dan keugaharian. Kesetiaan membutuhkan daya-daya rohani/spritual.

Kesetiaan membutuhkan daya-daya emosi dan kemampuan inteltual serta kecerdasan yang besar. Kesetiaan akan membawa seorang murid Kristus kepada muara akhir dari seluruh karya nyata dan cita-cita kehidupannya. Tidak ada hal lain yang lebih berbahagia selain pilihan dan komitment kita untuk tetap setia kepada tugas dan panggilan kita sebagai murid Kristus sendiri, yang meneladani Kristus, Sang Gembala Yang Baik yang telah memberikan nyawanya bagi domba-dombaNya.

Marilah dalam minggu panggilan ini kita mendoakan para para pemimpin Gereja yakni Paus, para Kardinal dan seluruh Klerus kita dan para calon-calonnya. Kita juga mendoakan para biarawan/i kita, para calon-calonnya. Sambil kita terus memohonkan rahmat panggilan agar semakin banyak benih-benih panggilan bertumbuh dalam hati anak-anak kita untuk menjadi Gembala Gereja Yang Baik (Uskup, Imam dan Diakon) di seluruh dunia dan di keuskupan-keuskupan kita di Indonesia.

                        ____________________________________

Bunda Penolong Dari Fatukiik- Keuskupan Atambua

 

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Sabtu, 28 April 2012

          

                         Bagian dalam gua Maria Fatukiik

Pendahuluan

Membangun tempat doa di sebuah gua alam yang sunyi serta diliputi suasana alam yang masih asli dengan kondisi gua alam Fatukiik tentu sangat menarik untuk dikunjungi. Bagi seorang katolik St. Bunda Maria menempati posisi sentral dalam karya keselamatan Kristus di dunia. Dia siapsedia untuk menerima Yesus dalam kandungannya oleh Roh Kudus.

St. Maria melahirkan Yesus Kristus sang Putera Allah di kandang domba yang sunyi Bethlehem. Peristiwa mukjizat pertama Yesus di Kana, Galilea menjadi saksi bahwa St. Maria Bunda Allah telah menjadi pengantara atas keluh kesah dan kesulitan manusia bagi Yesus Puteranya. Melalui Maria, permohonan kita dikabulkan Yesus Kristus. Maria menjadi pengantara umat manusia bagi Yesus, Sang Putera Allah.

Maka melalui Maria juga semua bangsa melantunkan doa dan permohonan, mendaraskan doa rosario, dan memadahkan nyanyian baginya agar Maria mendengarkan semua keluhkesah dan persoalan manusia. Melalui St MariaBunda Allah banyak doa telah dikabulkan oleh Allah. Banyak kesulitan telah diselesaikan Allah. Banyak tanda-tanda heran telah dibuat Allah. Bunda Maria telah menjadi sumber rahmat yang tak ternilai bagi umat manusia.

Lokasi Gua Maria Yang Sunyi dan Menyimpan Sejarah

Seingat saya, baru 2 kali saya mengunjungi kawasan gua alam Fatukiik yang terletak di desa Dubesi, kecamatan Nanaet-Dubesi, kabupaten Belu yakni pada penghujung bulan desember 2011 dan terakhir pada sabtu menjelang hari minggu palma maret 2012. Yang pertama ketika saya diundang untuk menghadiri pemakaman ibupiara dari guru Simon Mali, S.Pd seorang guru biologi pada SMPK Hati Tersuci Maria (HTM) Halilulik, Belu. Beliau berasal dari kampung Fatukiik, desa Dubesi dan yang terakhir ketika saya dengan sengaja mengunjungi gua Maria Fatukiik ketika mengisi liburan paskah tahun 2012 yang lalu.

Gua alam Fatukiik menjadi tempat yang terkenal karena bebeberapa hal yakniyang pertama, kawasan gua alam ini menyimpan sejarah cukup panjang selama masa perang dunia II bagi umat katolik dari Vikaris Apostolik Atambua, di mana wilayah kerja Vikariat ini mencakup seluruh wilayah Timor-Nederland dan yang kedua adalah bahwa sejak tahun 1990-an telah dibangun sebuah gua Maria yang diberkati oleh Mgr Anton Pain Ratu, SVD Uskup Atambua ketika itu.

Sejak saat itu gua Maria Fatukiik menjadi tempat doa dan ziarah yang menjadi tanda bahwa Allah selalu memberkati dan menyapa umatNya lewat doa-doa Bunda Allah. Selanjutnya gua Maria ini menjadi tempat yang jarang dikunjungi dan diziarahi umat katolik. Gua Maria ini sepertinya menjadi tempat doa yang dilupakan/ditinggalkan umat beriman katolik, namun meskipun dilupakan/ditinggalkan dan jarang dikunjungi dia bagaikan berlian yang sangat bernilai bagi pertumbuhan dan pengalaman religius umat katolik.

Dalam literatur bacaan barat, saya sering membaca premis atau pernyataan yang mengatakan bahwa pulau Timor sering disebut sebagai pulau yang ditinggalkan, sangat kontras dengan pemandangan sepintas di kompleks gua Maria Fatukiik ini. Taman gua seadanya yang tak terurus dengan baik, cirit hewan yang menumpuk begitu saja, satu dua pagar taman yang lama, fufuk dan telah rebah. Ada kesan bahwa perlu tenaga besar untuk menghimpun masyarakat untuk memulai lagi pengerjaan pagar yang melindungi halaman gua St. Maria Bunda Allah Fatukiik.

Memasuki kompleks gua Maria yang terletak jauh di tengah hutan belukar di sebuah kawasan gua alam yang bernama Fatukiik terasa sangat sengar dan sempat membuat bulu kudukku berdiri. Ini adalah gua alam yang terletak di kawasan yang sunyi, di tengah hutan belantara Timor, di sebuah gua alam yang dihuni oleh binatang hutan. Gua Maria Fatuiik ini terkesan kurang dirawat dengan bagus. Kompleks gua dikelilingi oleh pagar yang telah rusak dan berumur lama.

Pagar-pagar pun telah dirusakkan oleh serobotan hewan seperti sapi gembalaan masyarakat sekitar yang memasuki gua dan merumput di dalamnya. Di sani-sini masih terlihat cirit hewan di halaman gua, di samping tempat duduk dan altar misa di depan gua Maria Fatukiik yang menandai bahwa halaman gua itu memang sering dikunjungi oleh binatang ternak warga kampung sekitar. Di samping kiri kanan altar gua Maria ada kuburan warga yang beragama katolik di sekitar kompleks gua Maria. Ini adalah warga asli dari suku tetun terik yang telah dibabtis oleh para misionaris SVD.

Makam-makam itu merupakan saksi iman bahwa umat di sini telah memeluk agama katolik sejak abad XV Masehi pada masa misionaris OP kemudian Jesuit dan tahun 1916 dimulainya sejarah pewartaan dan karya misionaris SVD dari Steyl, Belanda. Saya pun terduduk di bangku depan gua Maria Fatukiik, duduk dalam diam dan khusuk untuk melantunkan doa Rosario.

Selesai berdoa saya berusaha menjepret dan mengabadikan kompleks gua alam yang kini menjadi gua Maria dan memasuki bagian dalam gua yang bertahta patung St. Maria Bunda Allah dalam sebuah “tabung/lemari” kaca putih transparan di dinding gua yang gelap gulita. Sekelompok Kelelawar terbang berhamburan dan masuk ke dalam lorong-lorong gua dan menghilang dalam kegelapan gua ketika saya baru saja masuk dalam gua gelap gulita itu. Ciiit…. criititt… criiit…Crriiittt..Cit..cit..crriiitt demikian bebunyian dari atas gua alam oleh bunyi Kelelawar, penghuni gua tersebut.

Bebunyian ini sedikit membuat bulu kudukku berdiri ketika membayangkan bahwa di dalam lorong gua yang gelap ini, terdapat sebuah kamar gelap di mana pernah tinggal Mgr. Jacobus Passers, SVD seorang Vikaris Apostolik Atambua bersama harta benda gereja KA selama perang dunia II. alm. Uskup asal Belanda itu disembunyikan oleh umat katolik dari Vikariat Apostolik Atambua, khususnya masyarakat Katolik warga kerajaan Naitimu, Belu.

Bulan Juli 1999, saya pernah bertemu dan berbincang akrab dengan Kakek Paulus Mau, sesepuh warga Naitimu yang mengetahui secara baik tempat persembunyian Uskup Jacobus Pessers ini. Beliau berceritera dalam bahasa Tetun-Terik, “Saya sering mengantar makanan titipan umat yakni tepung Jagung setiap seminggu sekali di mulut gua Fatukiik.

Saya cukup meletakkan di mulut gua itu lalu cepat-cepat pergi dari situ. Seseorang yang ditugaskan datang dan mengambil bahan makanan tersebut lalu mengolahnya menjadi makanan untuk Monsinyur. Saya cepat-cepat pergi agar tidak kepergok oleh tentara Jepang”, katanya. Dia melanjutkan, “Ketika perang selesai saya datang kembali dan membawa Mgr keluar dari dalam gua Fatukiik. Beliau naik di atas sebuah Kuda dan saya menghantarnya hingga mendekati kota Atambua.

Namun di tengah jalan Mgr tampak memberhentikan kuda dan menyuruh saya berlutut di tanah. Dia memberkatiku dan menyampaikan salam hangat dan menitipkan berkat berlimpah untuk saya dan keluarga, lalu saya pulang ke rumah di Naitimu dan beliau terus ke Istana keuskupan Atambua. Berkat dari tangan Monsinyur Pessers ini sungguh saya rasakan hingga hari ini. Tangan Tuhan tetap menyertai hidup saya hingga saya bisa mencapai usia hampir seratus tahun namun masih tetap kuat dan segar. Betul-betul karya Tuhan yang luar biasa lewat berkat Monsinyur Pessers itu” kata kakek Paulus Mau.

Usaha kakek Paulus Mau dari Naitimu bersama kelompok umat di sini selama perang dunia II berhasil membuat Mgr Jacobus Pessers, SVD selamat. Dia disembunyikan di kawasan gua Fatukiik, tempat di mana diletakkan Patung Bunda Maria di dalam gua Maria Fatukiik yang sekarang ini. Andaikata umat tidak cepat menyembunyikan Mgr hingga ke tempat ini, maka saya yakin sejarah KA akan mencatat kenyataan lain, bahkan mungkin akan sangat menyedihkan sekali.

Keberingasan tentara Dai Nippon ketika perang dunia II mungkin akan membawa korban nyawa Sang gembala Vikaris Apostolik Atambua. Syukur kepada Allah bahwa Mgr tetap selamat hingga perang dunia II selesai dan kembali dalam keadaan sehat walafiat di istananya di Atambua. Sebuah mukjizat Tuhan telah dinyatakan kepada Mgr Pessers dan umat Vikariat Apsotolik Atambua. Menjelang masa tuanya, Mgr Jacobus Pessers, SVD digantikan oleh Mgr Theodorus Van den Tilaart/Sulama, SVD. Mgr Jacobus Pessers, SVD kembali ke Belanda, ia menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 3 April 1961 dalam usia 65 Tahun 2 bulan. Mgr Jakobus Pessers, SVD ditahbiskan Uskup Misi sebagai Vikaris Apostolik Atambua yang membawahi wilayah Timor-Nederland pada tanggal 28 Oktober 1937 dalam usia 41 tahun 7 bulan (Bdk Arsip Kota Tilburg, Belanda dalam klik di sini: www.regionaalarchieftilburg.nl)

Barangkali hanya sedikit umat di KA yang tahu bahwa di kompleks gua alam di tengah hutan belukar ini, Mgr Jakobus Pessers, SVD hampir selama 3,5 tahun memimpin umat Katolik Vikariat Apostolik Atambua, sebuah Vikariat besar yang membawahi seluruh Timor-Nederland kala itu. Kompleks gua Ini adalah bekas “Istana Keuskupan Atambua” kala perang dunia II. Dari dalam persembunyian di dalam gua Fatukiik ini beliau mendoakan umatnya, memberkati dan melindungi umatnya dari kebiadaban tentara Dai Nippon.

Merenungkan semuanya itu, saya pun terpaku di dalam suasana hening yang sunyi di depan Patung Bunda Allah, sambil merenungkan dengan khusuk untaian doa Salam Maria dalam kesendirian di kegelapan gua. Hanya terdengar jeritan dan mungkin teriakan kegembiraan burung Kelelawar di balik lorong-lorong gua Fatukiik yang gelap namun syahdu.

Kesannya memang cukup menyeramkan, membuat orang deg-degan. Namun suasana seperti itu mampu membawa orang kepada doa yang semakin khusuk dalam kedamaian kalbu. Bila manusia sedang dilanda duka dan derita dalam ziarah hidupnya sebagai manusia maka dengan berdoa rosario dan bermiditasi dalam suasana gua yang masih asli ini manusia akan memperoleh penghiburan dan kedamaian bathin dan bila doa dilakukan dengan penuh iman maka doa-doa itu akan dikabulkan oleh Allah.

Bila kita merenungkan kisah-kisah perlindungan Bunda Maria dalam hidup manusia dari periode ke periode serasa membuat kita kembali menemukan penghiburan, kedamaian dan ketenteraman bathin yang asli, yang tenang dan yang mengharukan nubari kita. Saya pun teringat akan lantunan lagu Ebied G Ade dalam lagunya: Berita Kepada Kawan:

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan,

Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan

……………………………………………………………

Banyak cerita yang mestinya kau saksikan

Di tanah kering bebatuan Ohh… Ohh.. Ohh..Ohh..

…………………………………………………………………..

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita

yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa…dst..

Syair lagu karya Ebied G Ade serasa membuatku kembali termenung dalam renungan pribadi. Kumenatap Patung Bunda Maria dan dinding-dinding tembok gua alam, gua Maria Fatukiik yang sunyi senyap dan gelap gulita.

Suasana gua yang kelam dan gelap, bebunyian burung Kelelawar yang datang silih berganti, serta suasana khas tempat pemakaman di depan gua merupakan suasana khas gua Bunda Maria Penolong dari Fatukiik, desa Dubesi kecamatan Nanaet-Dubesi ini. Ini sebuah kunjungan doa pribadi yang menyejarah dalam hidupku karena aku boleh berdoa di depan patung Bunda Maria Penolong dari gua Maria Fatukiik.

Bunda Maria akan selalu mendoakan dan membantu umat Allah dalam hidup mereka. Ia selalu menanti dengan penuh kesabaran putera-puterinya yang datang dan meminta bantuannya lewat doa-doa Rosario yang khusuk. Ia menanti kita semua umat Katolik yang dengan rindu yang memohon berkat dan pertolongan dari Yesus Kristus Putera Allah yang datang ke dunia dan dilahirkan oleh St. Bunda Maria.

Bunda Penolong Bagi Semua Manusia

Bagi alm. Mgr Jacobus Pessers, SVD, selamat dari musibah perang dunia II baginya merupakan sebuah rahmat Allah yang nyata bagi hidupnya namun juga bagi seluruh umat Katolik Timor-Nederland. Ia menyadari bahwa Allah yang memanggilnya untuk menjadi Uskup misi di tanah Timor-Nerderland telah menggiringnya bagaikan kawanan domba di sebuah gua alam dan mendekam di dalamnya selama 3,5 tahun. Ia telah menyadari karya Allah yang nyata atas dirinya dan atas umat Katolik Timor-Nederland.

Penggantinya, Mgr Theodorus Sulama, SVD memilih moto jabatan uskupnya: Sub Tutela Matris yang berarti: Di bawah perlindungan Bunda Maria. Demikianpun moto Uskup Pribumi Indonesia yang ke-2 Mgr Gabriel Manek, SVD, (Uskup Larantuka, Uskup Agung Ende dan Pendiri Tarekat Puteri Reinha Rosari) Uskup asal Lahurus, Belu: Maria Protegente yang berarti Maria lindungilah kami.

Para uskup yang terpilih setelah perang dunia II telah merasakan peranan Bunda Maria yang luar biasa selama perang dunia II berkecamuk dan juga setelah perang dunia II selesai. Bunda Maria menjadi penolong dan pelindung manusia dalam bahaya perang dan melindungi manusia dari kesulitan besar. Maria Bunda Allah selalu dan senantiasa mendampingi dan melindungi manusia lewat doa-doanya dalam seluruh situasi yang dihadapi manusia termasuk dalam bahaya perang.

Seraya menyadari sejarah perlindungan Bunda Maria atas diri Mgr Jacobus Pessers, SVD selama perang dunia II dalam gua Maria Fatukiik dan Uskup-Uskup sesudahnya yang memilih moto perlindungan sepenuhnya dari St. Bunda Allah, maka Gua Maria Fatukiik ini telah diberkati dan diresmikan penggunaannya sebagai sebuah tempat doa dan ziarah iman Katolik bagi umat Katolik Keuskupan Atambua oleh Mgr Anton Pain Ratu, SVD. Kehadiran gua Maria ini merupakan rahmat Allah yang luar biasa bagi seluruh umat Katolik Keuskupan Atambua, secara khusus bagi umat paroki Roh Kudus Halilulik, Paroki Webora dan Paroki Laktutus.

Allah telah menyapa dan menggerakkan beberapa umat dari wilayah Paroki Roh Kudus Halilulik, khususnya dari wilayah kerajaan Naitimu untuk berangkat ke Atambua dengan menggunakan kuda semalam-malaman agar tidak diketahui oleh tentara Dai Nippon. Sekelompok umat dari wilayah Naitimu itu telah berhasil menyembunyikan Mgr Pessers selama 3,5 tahun di dalam gua Maria Fatukiik.

Sekelompok umat Katolik yang menyelamatkan Mgr Pessers dan menyembunyikan selama 3,5 tahun di kawasan gua Fatukiik ini berasal dari suku Tetun-Terik, kerajaan Naitimu karena pada masa itu wilayah Fatukiik merupakan wilayah yang masih termasuk wilayah kerajaan Naitimu. Tentu karya Allah juga akan melimpah bagi semua keluarga dan rumpun keluarga besar dari suku ini yang telah bekerja sama dengan Allah dalam menyelamatkan seorang abdi Tuhan, Mgr Pessers, SVD selama perang dunia II.

Keluhuran budi, keihklasan bathin, kebaikan dan cita kasih merupakan nilai-nilai yang mendorong umat menyelamatkan gembala mereka dari nafsu berkuasa tentara Jepang. Ini sebuah prestasi yang luar biasa bagi umat Katolik KA ketika itu, karena di berbagai tempat di Indonesia para uskupnya telah ditangkap dan diborgol, bahkan beberapa uskup telah ditembak mati secara keji oleh tentara Jepang selama perang dunia II.

Justeru keluhuran budi dan keiklasan bathin yang telah tumbuh dalam diri umat di sini membuat mereka menjadi penolong setia bagi sang Uskup. Kehadiran Gua Maria Fatukiik ini telah menunjukkan bahwa tangan Tuhanlah yang menuntun dan membimbing Mgr Pessers hingga beliau selamat dari sergapan tentara Jepang dan bersembunyi di dalam gua Fatukiik selama 3,5 tahun. Andaikata tidak ada keluhuran budi, keikhlasan bathin, kebaikan dan cinta kasih, maka mustahil umat dengan sukarela menyelamatkan sang Uskup mereka tercinta dan gembala agung Keuskupan mereka.

Kita berdoa semoga Allah selalu mengingat semua manusia dan semua orang yang beriman teguh, yang memiliki keluhuran budi,keihklasan hati, kebaikan dan cinta dengan berkat melimpah melalui St. Bunda Allah di Gua Maria Fatukiik ini. Tuhan selalu mendengarkan dan menyapa mereka seraya selalu siap dengan berkat melimpah bagi umat Allah umumnya dan umat Allah suku Tetun-Terik yang menyelamatkan Mgr Pessers.

Pesannya adalah selalu rajinlah berbuat baik, selalu siaplah menolong orang lain (sesamamu) dengan keluhuran budi, dengan keikhlasan batin dan dengan kebaikanmu. Janganlah takut menolong sesamamu sebab bila anda menolong seseorang dalam sebuah kesulitan besar, maka namamu telah tercatat di dalam buku kehidupan.

Allah pasti akan mengingat orang yang dengan penuh kebaikan menolong sesamanya dengan cinta yang ikhlas. Lewat doa Bunda Allah, rahmat Allah itu tengah dan akan turun bagi semua orang yang berkehendak baik khususnya bagi umat Paroki Halilulik, Paroki Laktutus dan Paroki Webora.

Penutup

Allah selalu tetap setia menyapa dan menanti dengan sabar anak-anakNya yang tersesat dan telah jauh dari jalannya yang benar. Allah selalu menolong dan menyelamatkan umatNya dalam segala zaman. Yesus Kristus, Sang Putera Allah telah mengajarkan bahwa orang harus mencintai sesamanya seperti dia mencintai dirinya sendiri.

Ia harus mencintai semua orang termasuk mendoakan musuh-musuhnya. Dia berkata, “Apabila seseorang menampar pipimu yang kanan berikan juga pipimu yang lain..” Cinta dan pengorbanan sebagai murid Tuhan Yesus haruslah cinta tanpa pamrih.

Setelah berdoa dan merenungkan serta mengagumi keindahan alam gua Maria Fatukiik, saya pun menstater kendaraanku dan pulang kembali ke Halilulik. Jalanan yang berkerikil tajam dan berkelok-kelok membuatku semakin dalam mencerna makna hakiki dari religiositas otentik ibadah devosi kepada Bunda Maria. Aku cuma tahu bahwa religiositas imanku kepada Allah Tritunggal Mahakudus telah terlukis di kedalaman imanku.

Devosi kepada St. Bunda Allah membuatku semakin mendekati aku pribadi Yesus, sejarah, ajaran-ajaranNya dan seluruh kesaksian hidup Kristus di dunia ini. St. Maria Bunda Allah adalah mediatrix, pengantara manusia kepada Yesus PuteraNya. Yesus Kristus menjadi pengantara kita satu-satunya kepada Allah Bapak. Roh Kudus akan menghibur kita dan menjiwai gereja sepanjang masa.

Senyuman sekelompok anak-anak remaja SD dan SMA yang tengah berlatih tarian Likurai untuk menyongsong pesta Minggu Palma keesokkan harinya membuatku semakin bersemangat untuk terus berkarya di jalan hidupku ini. Senyuman sesama umat dalam persekutuan, communio, komunitas Katolik ini telah membesarkan aku dan memberikan keteguhan dan keberanian iman untuk pergi dan menyongsong masa depan dengan penuh iman..O Maria Dari Gua Maria Fatukiik, Ora Pro Nobis…!!

                            _____________________________________

� prev

Ketepatan Teoritis dan Realistis

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Jumat, 27 April 2012

Pasal 1 PP No.74 Tahun 2008 memberikan definisi tentang Guru bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama, mendidik,mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi. Bahan-bahan atau patokan atau norma-norma apa saja yang digunakan oleh para pendidik itu untuk melakukan aktivitasnya sebagai pendidik, pengajar,pembimbing, pengarah, pelatih, penilai dan pengevaluasi telah tercantumkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun sebelumnya di rumah berdasarkan pedoman atau arahan Kurikulum kita yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Dalam konteks ini kita melihat fungsi utama atau peran utama Guru sebagai pengajar di kelas adalah mengajarkan hal-hal yang bernilai secara teoritis dan praktekum kepada para siswa tersebut. Atau dengan kata lain bahwa apa yang diajarkan oleh para guru kita di kelas adalah tentang nilai-nilai kebenaran baik nilai-nilai kebenaran ilmu pengetahuan (scientisme) maupun nilai-nilai kebenaran menurut iman (fideisme). Nilai-nilai kebenaran yang diajarkan tersebut seringkali lebih banyak diajarkan secara teoritis. Itulah gambaran proses pembelajaran para siswa kita di sekolah-sekolah kita saat ini, mulai dari tingkat TK hingga SMA/SMK dan sederajatnya.

Pada saat ulangan dan ujian tiba, para siswa kita berjuang untuk belajar dengan tekun agar pada saat ujian atau ulangan mereka dapat menjawabi soal-soal tersebut secara tepat dan benar.Seringkali mereka merasa bahwa belajar rajin saja tidak cukup namun harus dibarengi dengan usaha lain yang sering sangat khusuk misalnya dengan berdoa bersama-sama untuk memohonkan rahmat dan bantuan serta berkat Allah agar nantinya mereka bisa mengerjakan soal-soal itu dengan benar pada waktunya.

Doa bersama selain belajar dengan tekun merupakan kegiatan yang selalu dilakukan setiap tahun manakala UAS/UAN akan tiba. Memang tak seorang pun dapat melarang kegiatan tersebut, apalagi dengan berdoa bersama dan memanjatkan permohonan itu, para siswa kita dapat semakin mendekatkan diri mereka kepada Sang Khalik, sebuah usaha yang positif dan sering didukung oleh orang tua/wali bahkan para guru dan kepala sekolah mereka sendiri.

Kebenaran teoritis scientisme dan kebenaran teoritis iman memang perlu usaha keras. Kerja keras itu terutama dan pertama-tama untuk mengharmonisasikan kedua kebenaran itu sendiri yakni kebenaran ilmu dan kebenaran iman yang harus berjalan bersama-sama dan beriringan dan saling melengkapi. Kebenaran ilmu tidak boleh mengklaim dirinya sebagi yang paling benar, demikian juga kebenaran iman tidak boleh mengklaim dirinya yang paling benar. Kebenaran ilmu mendukung kebenaran iman dan sebaliknya kebenaran iman harus mendukung kebenaran ilmu.

Para siswa dan guru yakin kebenaran ilmu pengetahuan dan kebenaran iman yang tersaji dalam soal-soal ujian yang disusun oleh guru atau oleh Depdikbud merupakan harga mati bagi kesuksesan para siswa itu sendiri. Kebenaran iman dan kebenaran ilmu yang tersaji dalam soal-soal itu dapat mendatangkan kesejahteraan lahir dan bathin kepada para siswa, bila mereka menjawabnya secara tepat dan akhirnya karena jawaban tepat itu mereka dinyatakan lulus ujian. Di dalam soa-soal yang disusun hendaknya diupayakan bahwa 2 kebenaran itu yakni iman dan ilmu berjalan seiring dan saling melengkapi dalam suasana yang harmonis.

Namun soal-soal ujian bisa mendatangkan kesusahan dan kesulitan seumur hidup bila mereka menjawabnya salah dan kemudian karena salah jawab, maka akan berakibat fatal yakni tidak lulus ujian. Untuk mengikuti ujian seperti itu, memang butuh persyaratan yang berat, tak semudah membalikkan telapak tangan. Peserta ujian sering harus lulus dalam pelajaran selama 6 tahun dan 3 tahun dan melalui proses kenaikan kelas dan ujian semester yang memberatkan dan perlu ketekunan.

Banyak dari antara para siswa karena tidak tahan dengan beratnya ujian semester itu, akhirnya meninggalkan sekolah sebelum Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Akhir Nasional diadakan. Pada masa tua atau pada masa di mana sangat dibutuhkan sebuah Ijazah tamat sekolah, barulah sering muncul rasa penyesalan yang dalam dari para mantan siswa tersebut, mengapa mereka tidak selesaikan sekolahnya.

Saya sering menemukan rasa penyesalan itu terhadap beberapa calon kepala desa di kampung-kampung. Secara fisik mereka dinyatakan bisa sebagai calon kades, namun dari segi Ijazah mereka tidak bisa menjadi Kades karena persyaratan Kades haruslah seorang dengan Ijazah SMP ke atas. Syair sebuah puisi mengatakan, apa guna kusesalkan, menyesal tua tidak berguna.

Maka mengikuti ujian dan lulus ujian merupakan harga mati bagi para peserta ujian itu, sebuah harga yang sangat menentukkan masa depan para siswa seumur hidup. Itulah kesadaran yang bagus. Namun bila para siswa tidak memiliki kesadaran tersebut, sering mereka berpikir jawaban-jawaban dalam soal-soal ujian itu tidak bermakna dan berguna bagi masa depan mereka, tentu ini pemikiran yang salah sekali.

Sekolah-sekolah kita di tanah air menerapkan bahwa memilih kebenaran teoritis merupakan sebuah tuntutan yang mutlak. Memilih kebenaran teoritis dalam ujian-ujian sering penuh pengorbanan baik pengorbanan waktu, material dan tenaga.

Karena Ini menunjukkan harga kualitas-kualitas hidup yang kita anuti sebagai sebuah bangsa yang besar yang mengutamakan nilai dan norma-norma dalam hidup bersama. Kebenaran teoritis memungkinkan manusia muda yakni para siswa ini memiliki spirit dan roh untuk kehidupan mereka di masa yang akan datang.

Spiritualitas atau semangat hidup yang mewarnai kehidupan yang berkualitas selalu berdasarkan sebuah spirit kebenaran teoritis yang diperolehnya melalui sistem persekolahan dan ujian-ujiannya.

Maka para siswa berupaya untuk mengejar tingkat kepintaran dan kecerdasan yang tinggi. Kecerdasan dan kepintaran merupakan faktor yang membuat para siswa ini bisa bertumbuh secara baik dan memiliki masa depan yang bagus pula. Sebab kecerdasan para siswa ini akan tetap namun kesalehan akan hilang. Pendidikan yang menitikberatkan pada kesalehan pribadi sering berakhir dengan kegagalan.

Namun bila pendidikan menekankan kecerdasan, daya kritis yang tajam dan didukung oleh iman, maka mereka akan memiliki masa depan yang bagus pula. Maka perlu sebuah pendidikan iman dengan format teologi, ilmu tentang Allah yang mendasari pemahaman hakiki para siswa yang diperoleh melalui refleksi, sharing Kitab Suci. Bahwa sering Allah berbicara lewat pengalaman hidup manusia, lewat bacaan-bacaan, lewat keluarga, lewat kesaksian hidup orang perorang/tokoh.

Lewat konsep teologi, para siswa yang belajar tentang Tuhan akan memahami bahwa Allah sering berbicara kepada manusia bukan hanya lewat Kitab SuciNya saja. Namun Allah sering keluar dari konteks Kitab SuciNya dan berbicara melalui tradisi gereja, tradisi budaya, keluarga, komunitas hidup bakti dan kesaksian hidup tokoh-tokoh tertentu.

Unsur fideisme memungkin daya kerja akal atau intelektual menjadi lebih banyak ditekankan dalam ilmu agama juga dalam ilmu-limu pengetahuan murni (scientisme) tersebut. Di mana melalui ilmu-ilmu itu, mula-mula kebenaran teoritis diberikan secara intensif dan terus-menerus. Sebab kita percaya bahwa melalui kebenaran teoritis itu manusia akan bertumbuh menjadi pribadi yang baik dan benar dalam kehidupannya sendiri.

Ketepatan realistis sering menjadi “utang” yang harus ditebus atau dibayarkan oleh para siswa kita setelah mereka tamat sekolah. Setelah mendapatkan Ijazahnya para siswa harus berupaya mewujudnyatakan pengetahuan teoritisnya dengan praktek nyata. Itulah yang saya maksudkan dengan ketepatan realistis itu.

Dalam ketepatan realistis itu, pengetahuan realistis harus menjadi berguna dalam kehidupan hariannya, teristimewa dalam pemenuhan kebutuhan sosial, ekonomi, rohani dan kebutuhan-kebutuhan yang relevan. Misalnya pengetahuan akan teori tentang komputer dan internet akan menjadi tidak berarti bila manusia tidak memiliki internet dan mulai bekerja melalui internet itu.

Sebab internet adalah teknologi komunikasi dan Informasi yang berbasis pada komputer harus dikuasai demi kehidupan dalam dunia masa sekarang ini.Demikianpun belajar tentang makanan dan minuman bergizi, tentang kesehatan, kehidupan yang aman, penemuan-penemuan baru tentang ilmu dan iman juga perlu selalu diusahakan dan dilaksanakan demi kemajuan peradaban dan demi kualitas-kualias hidup manusia.

Nilai-nilai agama yang mengajarkan tentang partisipasi sosial-religius juga perlu diwujudkan. Belajar bukan berarti untuk hidup sendiri dan egoistis di dalamnya. Namun belajar juga demi sebuah tujuan lain yang kita kejar yakni kehidupan bersama yang penuh persaudaraan, saling memperhatikan dan saling menolong, agar tercipta kehidupan bersama dalam dunia yang adil dan saling menghormati antar sesama manusia sendiri satu terhadap yang lain.

Jadi ketepatan teoritis dan ketepatan realitas adalah 2 buah pandangan yang berbeda. Pandangan terotis bersifat menghafal dalil-dalil terori ilmu baik ilmu pengetahuan maupun ilmu tentang agama (Tuhan). Sedangkan ketepatan realistis adalah ketepatan yang harus diwujudkan oleh para siswa. Atau perwujudan ketepatan ilmu dan ketepatan yang nyata/realita.

Ketepatan realitis lebih kepada perwujudan ilmu-ilmu teoritis yang telah diperolehnya dalam bangku sekolah atau bangku kuliah. Belajar bukan hanya untuk mengetahui saja. Namun setelah orang mengetahui, orang perlu mewujudkannya dalam praktek setiap hari. Itulah yang dimaksudkan dengan ketepatan teoritis dan ketepatan realistis tersebut.

Setelah tamat sekolah dan akan memulai bekerja dan mewujudkan pengetahuan teoritisnya yang telah diperoleh di sekolah, seseorang harus mengikuti testing masuk yang ketat. Testing masuk menjadi PNS merupakan salah satu persyaratan tersebut. Di mana melalui testing masuk yang dilakukan secara teoritis para calon ditest kemampuan teoritisnya untuk menyelesaikan hal-hal yang bernilai secara teoritis.

Bila dinyatakan lulus Test maka peserta akan diterima dan mulai bekerja untuk mewujudkan impian dan pengetahuan teoritis yang dimilikinya. Jadi panggilan untuk berpikir dan merealisasikan ide-ide dan gagasannya merupakan panggilan yang terus berlangsung seumur hidup.

Selagi hidup dan berada di dunia manusia akan terus bergumul dengan pemikiran-pemikiran teoritis untuk kehidupan nyatanya. Sebuah premis filsafat tua menyatakan Cogito ergo sum yang berarti saya berpikir maka saya berada. Berpikir merupakan aktivitas yang menyatakan keberadaan saya.

Atau dengan kata lain saya akan selalu berada baik di dunia maupun diakhirat oleh aktivitas berpikir dan aktivitas esensi dan eksistensi iman saya yang akan berlangsung hingga ke keabadian. Eksistensi iman saya akan terus berlangsung hingga ke keabadian sebagai bentuk waktu tanpa akhir: Di dalam keabadian tak ada waktu dan di dalam waktu tak ada keabadian.

                  __________________________________________

Serdos dan Sergur: Ruang Gerak Yayasan dan Pemerintah

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Kamis, 26 April 2012

Para guru yang mengajar di semua sekolah, baik TK, SD, SMP dan SMA adalah guru-guru yang disebut Guru Tetap PNS, Guru Tetap Yayasan (GTY), Guru Tidak Tetap (GTT) yakni guru yang tidak diangkat oleh sebuah yayasan atau pemerintah namun diberikan kesempatan untuk mengajar sebagai guru, seperti yang terdapat pada para GTT sekolah negeri. Guru-guru yang mengajar di sekolah-sekolah kita ini memiliki latar belakang dan persoalan yang saling berbeda satu sama lain. Demikian juga para dosen yang mengajar di PT/Universitas. Dapat disebutkan ada Dosen Tidak Tetap (DTT), ada Dosen Tetap Negeri dan Dosen Tetap Yayasan.

Mempertimbangkan nasib guru dan dosen yang hampir sama secara substansial inilah yang membuat pemerintah mengeluarkan UU Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005. Hal ini berarti persoalan dan problematika guru dan dosen hampir sama dengan latar belakang pengangkatan yang sama, meskipun latar belakang dan kemampuan keilmuan antara guru dan dosen berbeda secara signifikan.

Guru dan dosen ibarat dua bersaudara kembar yang dilahirkan dari rahim yang sama. Rahim yang sama itu adalah UU Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005. Atas dasar UU guru dan dosen itu, pemerintah telah menetap Peraturan Pemerintah (PP) yang berbeda secara substansial antara guru dan dosen. Namun secara hakiki, definisi guru dan dosen itu telah diatur dalam UU Guru dan Dosen tersebut. Berangkat dari definisi guru dan dosen itulah pemerintah menjabarkannya dalam PP lebih lanjut tentang kedua jabatan fungsional tersebut.

Perbedaan antara guru dan dosen mengemuka ke depan ketika kita melihat kembali proses pengangkatan guru dan dosen. Untuk tenaga dosen PNS wewenang pengangkatannya pada pemerintah pusat. Sedangkan dosen nonPNS (DTT dan DTY) wewenang pengangkatannya pada yayasan/rektor universitas/ketua sekolah tinggi/direktur akademi/penyelenggara pendidikan yang dimaksud.

Definisi dosen menurut UU No. 14 Tahun 2005 adalah dosen merupakan tenaga pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dosen PNS diangkat oleh pemerintah pusat sedangkan guru PNS adalah tenaga pendidik yang diangkat oleh pemerintah daerah. Karena dosen PNS diangkat oleh pemerintah pusat maka pemerintah pusat lebih banyak memonitoring dan memperhatikan para dosen PNS dibandingkan dengan guru PNS, di mata pemerintah pusat dosen PNS memiliki wewenang lebih dan hak-hak istimewa sebagai ilmuwan dan cedikiawan dibandingkan dengan guru PNS.

Guru PNS yang diangkat oleh pemerintah daerah memiliki nasib yang agak lebih sial dibandingkan dengan dosen PNS. Hal itu disebabkan oleh karena jumlah guru PNS lebih banyak dan tersebar di berbagai jenjang pendidikan mulai SD hingga SMA/SMK dan setingkatnya.

Jumlah guru PNS/NonPNS yang banyak ditambah dengan tunjangan yang diterima oleh keluarga guru itu memungkinkan bahwa guru menjadi komoditas politik dari kepala daerah atau para penguasa daerah. Seringkali guru-guru tertentu dimanfaatkan oleh penguasa daerah untuk menggolkan kepentingannya atau untuk menyalurkan kehendak berkuasa mereka.

Para guru lebih dekat dengan para siswa atau para generasi muda, sebuah jumlah generasi yang besar dan terdapat separuh dari keseluruhan jumlah penduduk wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan. Maka bagi para penguasa daerah, menguasai dan mengendalikan para guru merupakan salah satu prasyaratan untuk melanggengkan kekuasaannya.

Pasal 8 PP No. 74 tahun 2008 menyebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan guru tetap adalah guru yang diangkat oleh pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan untuk jangka waktu paling singkat 2 tahun secara terus-menerus dan tercatat pada jalur pendidikan formal. Maka hanya guru tetap yang dapat diangkat menjadi guru profesional sesuai dengan ketentuan PP No.74 tahun 2008 ini.

Bercermin pada PP No.74 Tahun 2008 ini, GTT yang bekerja pada sekolah negeri jelas akan menjadi sulit untuk bisa diangkat menjadi guru profesional karena tidak tercatat sebagai guru tetap pada satuan pendidikan negeri tersebut. Namun mereka bisa memperoleh pengangkatan dari satuan pendidikan yang dimaksud. Satuan pendidikan yang mengangkat guru tidak tetap negeri bisa saja berasal dari salah pejabat eselon pemerintah daerah yang diusulkan atau diketahui oleh kepala sekolah dari sekolah negeri tersebut.

Namun yang menjadi kendala/persoalan ialah bahwa seringkali tuntutan jumlah jam mengajar GTT bertabrakan dengan jumlah jam mengajar dari guru PNS. Bila ditemukan benturan seperti itu, maka GTT sekolah negeri sering mengalah kepada guru PNS pada sekolah negeri.

Dalam satuan pendidikan sekolah negeri, yang dapat disebut sebagai guru tetap adalah guru yang diangkat oleh pemerintah daerah/kota yang bersangkutan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan penyelenggara pendidikan adalah yayasan yang diakui sering memberikan SK guru tetap kepada para guru dalam lingkungan yayasannya.

Namun demikian SK Guru Tetap Yayasan (GTY) itu tak bisa diakui oleh pihak pemerintah. Maka dirasa perlu pemerintah melakukan program Inpassing kepada para guru tetap yayasan. Inpassing adalah proses penyesuaian golongan dan angka kredit kepada para guru tetap yayasan setingkat dengan guru negeri (guru PNS). Penyesuaian pangkat/angka kredit/golongan itu bertujuan untuk proses pembayaran tunjangan profesi pendidik.

Proses sertifikasi menjadi syarat terpenting dalam penyebutan seseorang menjadi guru sebagaimana tertulis pada PP No. 74 tahun 2008, Pasal 1: Yang dimaksudkan dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi guru profesional merupakan persyaratan pokok dalam pemberlakukan PP No.74 tahun 2008 tersebut.

Maka pemerintah berjuang agar semua guru memiliki pendidikan yang relevan sesuai dengan amanat UU No. 14 Tahun 2005 dengan cara memberikan beasiswa bagi para guru yang belum memenuhi kualifikasi akademik untuk melanjutkan study hingga jenjang S1 agar dapat memenuhi rambu-rambu atau persyaratan dalam proses sertifikasi guru.

Sebegitu lama proses sertifikasi guru dan dosen berjalan yakni sejak dikeluarkannya UU guru dan dosen No.14 Tahun 2005, nampaknya kita perlu mencermati ruang yang sesuai bagi penyelenggara pendidikan yakni yayasan pendidikan, pemerintah dan pemerintah daerah bagi terselenggaranya sebuah sistem pendidikan yang bebas intervensi dan karena itu memungkinkan bertumbuhnya aktivitas intelektual, kreativitas pendidikan baik para siswa maupun para guru lewat pembagian tugas yang tepat dan pengenalan jangkauan kerja yang memungkinkan bertumbuhnya nilai-nilai pendidikan yang relevan dan menjawabi kebutuhan dunia kita.

Pertama, ruang gerak bagi yayasan pendidikan. Bagi pihak swasta, (SD/SMP/SMA/SMK swasta, universitas swasta/sekolah tinggi swasta/akademi swasta) wewenang untuk mengangkat seorang guru/dosen sering ditentukan oleh kepala sekolah/ketua sekolah tinggi atau ketua universitas/direktur akademi dan pihak ketua yayasan.

Namun dalam pelaksanaannya sering kepala sekolah swasta menjadi penentu paling utama dalam pengangkatan seorang guru tetap yayasan sebab kepala sekolah swasta merupakan pimpinan yang paling mengetahui kebutuhan dan kinerja seorang guru. Seringkali kepala sekolah memiliki wewenang penuh untuk mengangkat dan memberhentikan seorang guru berdasarkan penilaian pribadi dan staffnya.

Yayasan menjadi tergantung kepada laporan dan nasihat dari kepala sekolahnya. Namun bagi yayasan tertentu yang bertindak sebagai pemilik sekolah swasta yang bersangkutan, sering pihak yayasan merangkap sebagai kepala sekolah swasta. Hal itu terjadi bila pendiri dan direktur yayasan itu bukan berasal dari sebuah lembaga keagamaan, melainkan pribadi. Bila yayasan itu milik individu, maka pengangkatan seorang ketua yayasan tidak berdasarkan musyawarah.

Namun bila yayasan itu milik lembaga keagamaan dan hidup bakti (biarawati/biarawan) dalam kalangan katolik, muslim atau kristen, maka pengangkatan ketua yayasan itu sering berdasarkan voting atau demokrasi. Demikian juga halnya pengangkatan seorang dosen tetap yayasan, dosen tidak tetap yayasan sering bergantung kepada seorang rektor universitas atau ketua sekolah tinggi/direktur akademi

Sehingga hubungan antara kepala sekolah dan pihak yayasan sering berdasarkan hubungan konsultasi dan berdasarkan pemahaman dan pemikiran mereka sesuai spritualitas hidup yang mereka anuti. Namun dengan adanya kebijakkan inpassing, maka segala bentuk SK guru tetap berupa golongan dan masa kerja harus perlu disesuaikan kepada pihak pemerintah. Inpassing adalah penyetaraan golongan, kepangkatan dan masa kerja dengan angka kreditnya.

Penyetaraan itu dibuat agar digunakan sebagai patokan dalam pembayaran TPP atau tunjangan lainnya sesuai dengan undang-undang. Pemerintah beranggapan bahwa kebijakkan yayasan menetapkan golongan/pangkat dari seorang guru tanpa Inpassing adalah sebuah tindakan sepihak yang boleh dilakukan namun harus dilanjutkan dengan proses inpassing.

Meskipun selalu pihak yayasan membayar gaji sesaui dengan apa yang tertulis pada SK guru tetap yayasan tersebut, seperti yang selama ini dibuat oleh Yasra dan Yayasan Astanara di kabupaten Belu, propinsi NTT. Maka ruang gerak bagi kekuasaan yayasan untuk mengangkat guru tetap selalu dikontrol oleh pemerintah.

Dia tidak terlalu bebas untuk mengangkat seorang guru tanpa perhitungan terhadap kebutuhan yang relevan dalam sekolahnya. Namun yayasan masih tetap berhak sejauh kemampuan keuangannya untuk tetap mengangkat dan memberhentikan guru sesuai dengan kemampuannya. Hal mana sulit diintervensi oleh guru, selain pertimbangan kemanusiaan dan keadilan serta Hak-Hak Azasi Manusia.

Pada masa sekarang pemerintah tetap memperhatikan sepak terjang seorang kepala sekolah swasta, meskipun pengangkatan seorang kepala swasta bukan oleh pemerintah daerah. Namun akibat kurang kontrol dan kurang perhatian dari pemerintah sering sekolah swasta menjadi terpinggirkan.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa sekolah swasta menjadi sekolah yang dianaktirikan oleh pemerintah, meskipun beberapa tenaga guru pada sekolah swasta adalah merupakan tenaga guru tetap dari PNS namun selalu guru-guru PNS yang bekerja di swasta menjadi kurang diperhatikan dan dipersulit dalam proses pemberkasan untuk naik golongan.

Intervensi pemerintah terhadap sekolah swasta selalu ada karena pemerintah memiliki dana dan program-program yang relevan, sementara yayasan sering merasa kesulitan dana dan biaya untuk membayar gaji para guru dan pegawainya. Atau sekolah swasta dan yayasan menjadi pelit/kikir dalam membayar gaji guru/pegawai swastanya. Ini sebuah persoalan klasik dan penyelesaiannya perlu pergumulan yang panjang.

Kedua, ruang gerak bagi pemerintah dan pemerintah daerah. Pemerintah pusat memiliki wewenang untuk mengangkat dosen PNS. Setelah pengangkatan dosen PNS, maka semua pemberkasan kepangkatan dan monitoring dilakukan oleh pemerintah pusat terhadap dosen PNS tersebut. Lain halnya dengan seorang guru PNS. Pemerintah daerah sangat berkepentingan mengangkat seorang guru PNS. Termasuk wewenang pemerintah daerah untuk mengangkat seorang guru PNS menjadi kepala sekolah negeri.

Seorang kepala sekolah negeri diangkat oleh pemerintah daerah. Maka terhadap kepala sekolah negeri, pemerintah daerah menjadi sangat berkuasa sekali. Sekolah negeri sangat mudah dimonitoring, diawasi oleh pemerintah daerah. Maka sering para guru dan kepala sekolah menjadi komoditas politik seorang kepala daerah.

Pencairan tunjangan profesi yang tidak tepat waktu, selalu ada pungutan liar dari oknum pegawai dan menuntut pemberkasan ulang setiap tahun ajaran terhadap guru profesional, merupakan pertanda bahwa terjadi ketidakadilan yang dibuat pemerintah daerah terhadap seorang guru. Para guru sering menjadi komoditas politik para kepala daerah atau para calon kepala daerah untuk merebut kursi dalam pilkada atau untuk membuat kursinya tetap empuk.

Maka sangat sulit untuk memikirkan tempat yayasan, pemerintah dan pemerintah daerah dalam ranah fungsional seorang guru. Sebab ranah fungsional seorang guru dan kepala sekolah sering tergantung dan dipengaruhi oleh kekuasaan seorang kepala sekolah atau pemerintah daerah berikut kepentingan-kepentingan yang bermain di dalamnya.

Hal itulah yang menyebabkan mengapa para guru kita masih jauh dari ranah kerja sebagai seorang intelektual dan cendikiawan seperti seorang dosen. Kehidupan seorang guru sebagai agen ilmuwan dan cendikiawan menjadi luntur dan redup karena saling rebut kekuasaan yang mengitari para guru itu sendiri.

Bila para guru dan kepala sekolah kita masih tetap diintervensi oleh kekuasaan para kepala daerah dan perangkatnya maka sangat sukar untuk kita memiliki inovasi-inovasi baru, temuan-temuan baru, gerakan-gerakan baru dari para guru yang merupakan agen intelektual dan ilmuwan di sekolah-sekolah kita.

Para guru juga harus diberikan kesempatan, kemuliaan dan kehormatan untuk mengaktualisasikan diri dan hidupnya bagi pengembangan ilmu dan kependidikan demi terciptanya kemajuan dan peradaban bangsa. Tetapi yang penting juga adalah bahwa guru honor (GTT) bukanlah tenaga outsourching yang dipaksa untuk bekerja tanpa upah. Para guru kita harus perlakuan secara humanis. Mereka juga harus dimuliakan agar tercipta kesejahteraan yang sesuai buat mereka.

Catatan: Dalam tulisan ini ditemukan lebih banyak penjelasan tentang sertifikasi guru dan beragam persoalan dan penyelesaian persoalan tentang guru.

                             _________________________________

 

Sistem Pendidikan Berasrama

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Rabu, 25 April 2012

Beberapa tahun silam, pemerintah melalui Depdikbud pernah menyuarakan pentingnya pendidikan dengan sistem asrama kepada sekolah-sekolah kita di Indonesia. Pentingnya pendidikan dengan sistem asrama disuarakan oleh pihak Depdikbud setelah menyadari bahwa kualitas pendidikan kita, khususnya prosentasi kelulusan sekolah-sekolah kita makin merosot dibandingkan dengan kualitas dan prosentasi pendidikan dari negara-negara seperti Finlandia, Jerman, AS, dan negara-negara maju lainnya.

Perbandingan mutu dan prosentasi kelulusan para siswa di Indonesia dengan negara-negara itu telah menunjukkan bahwa perolehan mutu dan prosentasi kelulusan para siswa kita sangat jauh di bawah Finlandia sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Dewasa ini penerapan pendidikan dengan sistem berasrama telah mulai dilakukan pada sekolah-sekolah tertentu terhadap para siswa kelas III yang sedang mengikuti UAN/UAS untuk mempertinggi kelulusan dan kualitas kelulusan para siswanya.

Kesadaran pemerintah dan beberapa sekolah ini kelihatannya mulai terlambat dilaksanakan mengingat bahwa seharusnya pelaksanaan sistem asrama bukan hanya dilakukan bila keadaan dan situasi menuntut untuk dilakukan sistem asrama pada waktu-waktu tertentu saja, namun seharusnya jauh-jauh hari sebelumnya yakni sejak menginjak bangku kelas 1 SMP atau SMA, para siswa/siswi itu semestinya sudah harus diasramakan demi perhatian yang lebih serius terhadap proses pendidikan baik pendidikan intelektual, emosi dan spiritual.

Berbicara tentang pendidikan dengan sistem asrama, sejauh ini hanya 2 lembaga yang boleh dikatakan memperlakukan secara ketat pendidikan berasrama yakni pendidikan Seminari dan pendidikan Pondok Pesantren. Pendidikan Seminari adalah pendidikan bagi para calon Imam yang dikelola oleh Institusi gereja Katolik dalam hal ini para pastor Katolik dan biarawan/biarawati Katolik. Sedangkan pendidikan pesantren dikelola oleh para ulama yang mendidik para calon pemimpin muslim. Kedua lembaga ini telah secara serius bertahun-tahun lampau hingga kini mengelola dan menyelenggarakan sistem pendidikan dengan model asrama yang ketat untuk mendidik para calon pemimpin agama dan awam yang berkualitas dan yang diharapkan oleh semua kalangan. Para pemimpin keluaran (out put) dari lembaga pendidikan ini secara nyata telah menunjukkan kemampuan dan keprofesionalitasannya bahwa mereka telah bertumbuh menjadi pemimpin bangsa dan pemimpin agama yang memberikan pengabdian secara totalitas bagi kehidupan bangsa dan agamanya.

Para pemimpin hasil tempaan itu baik pemimpin agama maupun pemimpin politik dari kalangan awam Katolik, merupakan hasil pendidikan yang dilakukan selama bertahun-tahun dalam pendidikan berasrama yang ketat, tertib dan terlatih. Beberapa pemimpin hasil pendidikan asrama dengan sistem pesantren dan Seminari atau pendidikan berasrama model Seminari dapat disebutkan antara lain: KH Wahid Hasjim, KH Abduhrrahman Wahid, Drs Frasiskus Seda, Mgr Soegijoyopronoto, Ignatius Joseph Kasimo, dan beberapa nama terkenal lainnya. Para pemimpin ini telah menginspirasikan banyak orang untuk menjadi yang terbaik melalui pendidikan yang dilakukan secara asrama dan terpantau secara baik seperti yang dahulu dilalui oleh tokoh-tokoh tersebut.

Seminari berasal dari kata bahasa latin, dari kata benda seminarium yang berarti tempat pembibitan atau tempat persemaian benih. Dengan memahami arti kata benda dari bahasa latin ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pendidikan Seminari adalah pendidikan yang bertujuan menyemaikan benih-benih yang unggul demi bertumbuhnya panggilan Allah untuk menjadi pemimpin (Imam) Katolik atau menjadi seorang awam yang berkualitas. Untuk bertumbuh dengan baik, maka sebuah benih sebaiknya harus disemaikan dalam sebuah medium yang subur dan selalu diberikan pupuk dan disirami air secukupnya.

Dengan jalan demikian maka benih akan bertumbuh menjadi benih yang subur dan dapat menghasilkan hasil yang berlimpah. Kitab Suci Injil mengatakan bahwa benih yang jatuh ditempat yang subur akan menghasilkan hasil panenan lebih dari 100 kali ganda, sedangkan benih yang jatuh di tanah berbatu, semak duri dan pasir akan layu dan mati sebelum bertumbuh dan menghasilkan buah yang melimpah. Maka para pendidik di Seminari harus berjuang dan berusaha agar benih yang ditaburkan itu ibarat benih yang disemaikan di tempat yang subur dengan memelihara kultur-kultur tertentu yang sesuai agar benih itu nantinya akan menghasilkan hasil yang berlimpah.

Yang dimaksudkan dengan kultur-kultur yang sesuai yakni kultur-kultur yang memungkinkan para siswa itu nantinya akan menjadi pemimpin yang terbaik di masa depan. Pembinaan dan pendampingan terjadi dalam seluruh aspek kehidupan mulai dari bangun pagi hingga istirahat malam, mulai dari doa di kamar tidur hingga berdoa secara bersama-sama di Kapela, pembinaan rohani lewat Konference, Sharing Kitab Suci dan kegiatan-kegiatan lainnya yang mendatangkan manfaat bagi peningkatan kualitas hidup para siswa untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Pembinaan intelektual lewat jalur Kurikulum juga ditekankan sejalan dengan penekanan pada pembinaan jalur seminari. malahan pembinaan pada jalur Kurikulum harus lebih banyak ditekankan pada awak Seminaris itu.

Selalu pada saat-saat terakhir pengumuman, para awak Seminari menerima 2 pengumuman yakni pengumuman kelulusan Seminari dan Pengumuman kelulusan SMAnya. Pendidikan jalur Kurikulum ini merupakan pendidikan yang menekankan intelektual para siswa sesuai dengan kemampuan para siswa SMA seusianya. Malahan untuk para siswa Seminari, Pendidikan Kurikulum ini menjadi sesuatu yang paling pokok. Sehingga setiap tahun pencapaian prestasi para awak Seminari tergolong tinggi untuk setiap mata pelajaran seminarinya. Hal itu disebabkan karena para awak seminari memiliki waktu yang penuh dan paripurna untuk pembinaan dan pembelajaran menempuh Ujian Akhir Nasional (UAN) itu sendiri. Maka Pendidikan dengan model asrama yang dilalui oleh awak seminari kelihatannya merupakan model pendidikan yang ideal seperti yang diinginkan oleh pemerintah melalui Depdikbud.

Ada beberapa nilai positif dengan adanya pendidikan dengan sistem asrama ini yakni:

Pertama, Pendidikan Seminari menekankan pentingnya kebersamaan dalam kehidupan berkomunitas (asrama). Kehidupan berkomunitas menandakan persekutuan hidup bersama. Di dalamnya terjadi saling koreksi, saling memahami, saling belajar, saling bertegur sapa, saling melayani dan saling memberi dalam kebersamaan dan solidaritas persaudaraan. Kehidupan komunitas memberi warna tertentu dalam kebersamaan. Bakat dan kemampuan individu merupakan warna tersendiri bagi kegembiraan dan harapan bersama dalam komunitas itu. Bakat dan kemampuan dalam komunitas itu ibarat bebungaan yang menambah sedap dan keindahan dalam kehidupan komunitas itu sendiri.

Di dalam kehidupan komunitas yang menekankan unsur kebersamaan itu, kegembiraan, harapan, duka dan kecemasan sesama merupakan kegembiraan, harapan, duka dan kecemasan semua warga komunitas itu sendiri. Melalui kehidupan komunitas orang dapat saling bertegur sapa dan memberikan afirmasi dan peneguhan. Juga melalui komunitas pribadi manusia dapat melakukan identifikasi dirinya secara bagus. Ia tidak akan tenggelam dalam kebersamaan namun melalui kebersamaan atau kehidupan komunitas itu nilai-nilai seperti saling koreksi, saling memberi afirmasi, pengembangan bakat dan kemampuan menjadi jauh lebih bagus.

Kedua, Pendidikan dengan model asrama memungkinkan orang mampu menyusun jadual dan mampu melaksanakan jadual itu dengan penuh disiplin. Pendidikan asrama sering dibuat berdekatan dengan pendidikan Kurikulum agar para siswa dengan bantuan bimbingan dari salah seorang guru pembimbing yang telah ditentukan dapat mendiskusikan sendiri jadualnya dan mampu melaksanakan jadual-jadual yang telah disusunnya secara bagus dan dengan tertib. Melalui sistem asrama orang dapat dengan baik melakukan semua kegiatan dengan penuh disiplin dan tanggung jawab. Kedisiplinan menjadi kata kunci dalam pendidikan berasrama. Pengelola pendidikan berasrama harus memperhitungkan saat-saat istirahat, saat-saat makan-minum, olah raga, berbicara/diam, mencuci, mandi bekerja, belajar, berdoa dan bersekolah. Setiap pergantian jam kegiatan itu memerlukan ketepatan waktu yang tinggi. Kedisiplinan merupakan hal yang harus dilakukan oleh semua penghuni asrama tanpa kecuali, bila para siswa itu tidak mampu hidup dalam asrama sesuai tuntutan kedisiplinan maka dia akan mendapatkan hukuman atau dia akan dikeluarkan secara tegas dari kehidupan di dalam asrama itu sendiri.

Ketiga, Pendidikan asrama memungkinkan benih-benih intelektual, pembinaan emosi, benih-benih afeksi dan pembinaan spiritual-religius dapat disemaikan dengan baik. Benih-benih intelektual seperti kesempatan lebih banyak untuk berdiskusi dan mendalami bahan-bahan ajar, kesempatan lebih banyak untuk mengunjungi perpustakaan, membaca buku-buku yang bermutu dan menulis menjadi lebih banyak tersedia. Di dalam sistem asrama juga disampaikan pembinaan emosi manusia. Kesabaran, kerendahan hati, ketabahan dan keuletan merupakan hal-hal yang bisa diperoleh melalui latihan-latihan di dalam sitem pendidikan berasrama di sekolah dengan model pendidikan berasrama. Demikian pun kesempatan lebih banyak untuk beribadah, berdoa, pembinaan spiritual-religius dapat meningkatkan derajad keimanan para siswa. Maka melalui pembinaan rohani, latihan-latihan spriritual dan ekaristi yang intens para siswa dapat memiliki kemampuan spiritual yang tinggi dalam hidupnya.

Pendidikan berasrama juga dapat meningkatkan afeksi manusia. Afeksi ialah kemampuan mencintai, kemampuan untuk memberi kasih kepada orang lain dengan penuh keihlasan hati. Segi afeksi memungkin munculnya rasa saling menyayangi antara sesama, saling prihatin akan nasib sesama yang tertimpah musibah dan bencana dalam hidupnya. Perasaan-perasaan seperti ini, hanya dapat bertumbuh dan hidup secara lebih baik bila orang hidup di dalam sebuah sistem asrama yang menekankan aspek kebersamaan, saling paham dan peduli dan komunitas yang hidup bersama atas dasar nilai dan mengejar nilai dalam kehidupan bersama. Penerapan sistem pendidikan berasrama secara penuh telah dilakukan oleh gereja Katolik seperti yang kita lihat dalam sistem pendidikan yang dibuat oleh gereja Katolik yakni Pendidikan Collegio Maliana (sekarang Timorleste). Selain Seminari, pendidikan Collegio Maliana pada waktu dahulu (dan saat ini) dapat dianggap sebagai model pendidikan berasrama yang diinginkan oleh banyak orang ketika itu, sehingga orang berramai-ramai mengirimkan anak-anaknya untuk bersekolah di Colegio Maliana. Pada masa sekarang, apakah pendidikan dengan model pendidikan Collegio Maliana masih bisa dijadikan model lagi? Tentu warna dan situasi Collegio Maliana dahulu dan kini telah berbeda secara kultural. Bila dahulu Colligio Maliana masih hidup dalam bingkai negara NKRI, sedangkan kini Colegio itu telah bergabung dalam wilayah Timorleste dan dikelola oleh para imam SVD berkebangsaan Indonesia. Ini sebuah perbandingan yang mengugah kita semua, para pemerhati pendidikan di tanah air.

Keempat, Pembinaan sikap dan kemandirian. Melalui sistem asrama sikap-sikap manusia bisa diarahkan dan dibimbing ke arah yang lebih baik. Peraturan dalam asrama menjadi faktor yang menentukan sikap-sikap tersebut. Taat kepada peraturan dengan semua tuntutan kehidupan asrama menjadi tuntutan yang mutlak perlu bila para siswa ingin bertumbuh menjadi manusia yang baik dan berkualitas di masa depan. Pendidikan berasrama menandakan kultur yang sesuai di mana melalui penciptaan kondisi-kondisi tersebut para siswa dapat bertumbuh dan memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang jelek serta memilih yang baik dan menolak yang jahat atau jelek dalam hidupnya.

Kemandirian berarti mampu berpikir sendiri, mampu memutuskan hal-hal yang baik secara mandiri dan mampu melaksanakan kebaikan atas dasar pilihan bebasnya sendiri. Kemandirian merupakan unsur yang pokok dalam proses pendidikan secara keseluruhan di dalam komunitas sekolah. Sebab kemandirian berarti mendayagunakan semua potensi baik potensi emosi, spiritualias dan potensi intelektualitasnya untuk kehidupannya sendiri dan masyarakatnya. Komunitas sekolah yang berasrama harus menjadi basis yang kokoh untuk pembentukkan kemandirian pribadi agar kelak para siswa tersebut mampu hidup sendiri secara jujur dan beradab dalam kehidupannya sendiri.

Kelima, Pendidikan kepemimpinan dan character para siswa. Melalui pendidikan berasrama pendididikan character para siswa semakin dipertinggi. Pendidikan character para siswa seperti pembinaan dan pembentukkan kebudayaan para siswa lewat latihan menari dan menyanyi serta latihan-latihan yang memungkinkan pengembangan kebudayaan para siswa menjadi meningkat. Peningkatan Character manusia juga dicapai melalui disiplin, latihan olah raga, latihan bela diri, THS/THM. Hal-hal itu dapat mempertinggi character dan kemampuan kepemimpinan para siswa. Untuk itu para pembimbing harus memampu menyusun program kegiatannya secara tertulis dan rapi.

Program kegiatan itu didiskusikan secara matang dan cermat secara bersama-sama dan pelaksanaannya merupakan sesuatu yang harus. Setelah program itu disusun maka perlu ada komitment yang tinggi untuk melaksanakan program itu secara bagus. Komitment itu berupa kesediaan untuk mengorbankan selera dan kesenangan sendiri untuk mengejar nilai melalui pelaksanaan kegiatan yang telah disusun secara baik dan berkualitas. Komitment itu menunjukkan sikap-sikap yang perlu untuk mengutamakan kebaikan dan kualitas dari kegiatan-kegiatan yang telah disusun tersebut.

Demikianlah hal-hal postif dari sistem pendidikan berasrama. Tentu pertama-tama adalah bagaimana kita mampu menciptakan model pembinaan dan persekolah berasrama dengan ideal-ideal yang telah kita susun sebelumnya. Penciptaan sebuah sekolah dengan kultur asrama memerlukan biaya, waktu dan tenaga yang besar. Namun hasil yang akan nampak akan menjadi besar juga. Asrama bukan saja tempat pendidikan dan pembinaan, namun juga merupakan basis identifikasi diri para siswa melalui upaya meningkatkan kemampuan dan integrasi diri yang tinggi dalam hal emosi, intelektual, spiritual, charakter, kemandirian dan sikap-sikap yang perlu demi kualitas- kualitas atau nilai-nilai yang kita kejar dalam pendidikan tersebut. Semoga sukses….!!

                _____________________________________________

Sense of Togetherness Melalui Internet

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Selasa, 24 April 2012

Sudah sejak lama Internet telah merambah seluruh dunia. Pengguna internet dari tanah air kita Indonesiapun semakin hari semakin meningkat. Para pengguna internet di tanah air selalu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar yang memungkinkan para pengguna itu mampu berkomunikasi dengan sesama warga Indonesia dengan bahasa Indonesia. Namun pengguna bahasa Indonesia tidak berkecil hati karena mereka bisa melakukan komunikasi lintas nasional lagi karena media internet telah menyediakan layanan google translate yang memungkinkan pengguna dari negara lain bisa mengakses informasi dalam bahasa Indonesia. Ini sebuah keberuntungan yang memungkinkan kita- dengan layanan supercanggih ini- membantu kita terhubung dengan teman/sahabat dari berbagai negara di seluruh dunia.

Kurang lebih bulan September tahun 2011 yang lalu, saya mengajukan diri untuk menjadi anggota sebuah grup FB yang bernama Bibeltreue Endzeitkrieger di Jerman. Grup facebook itu merupakan sebuah grup facebook yang dikelola oleh seorang teolog asal Jerman yang anggotanya terdiri atas para anggota gereja di Jerman dan luar negeri. Motivasi saya adalah bahwa pertama-tama saya ingin memperlancar kemampuan bahasa Jerman saya dan yang kedua adalah saya ingin belajar tentang sesuatu hal seputar teologi Kristen lintas gereja yang sedang hangat digalangkan di Jerman sekarang ini. Diskusi hangat dalam bahasa Jerman membuat saya menyadari bahwa saya kini berada dalam sebuah dunia yang menuntut saya untuk mengetahui lebih banyak dan mampu bergaul dengan sahabat-sahabat Jerman dalam suasana kehidupan internasional yang sehat, harmonis dan dinamis.

Dunia memang tidak selebar daun kelor. Dahulu ketika kita hidup dalam sebuah pedesaan yang jauh dan sunyi, dunia kita hanya terbatas pada persawahan, pada pepohonan, hewan dan perkebunan. Kini dunia kita telah merambah begitu jauh melampau batas-batas kampung, desa, kota kecil, kota besar dan kota Metropolitan. Fasilitas Internet telah memungkinkan kita mampu mengetahui, memberikan informasi dan menerima informasi dari berbagai tempat di seluruh dunia. Media Internet telah memberikan kepada kita kesadaran baru iklum baru yakni iklim keterbukaan yang telah melanda dunia seluruhnya. Facebook, Situs dan layanan Internet lainnya telah menjadi penemuan spektakuler di abad canggih ini karena dengan facebook, Website dan layanan internet lainnya orang mampu menyelami pribadi manusia yang lain beserta kesuksesan dan kegagalan dalam hidupnya.

Kehidupanpun menjadi penuh irama, dorongan dan dinamika. Orang menjadi sadar pentingnya arti sebuah bahasa bagi pengaktualisasian hidup dan dirinya. Melalui bahasa orang mengungkapkan pemikirannya tentang dirinya, dunianya dan tentang Allah yang selalu hadir dan menyapa manusia dalam segala situasi dan kondisi apapun. Komunikasi lewat media Internet telah menimbulkan kesadaran nyata dalam pribadi kita bahwa kita bukanlah sebuah pulau yang hidup sendiri. Kita selalu hidup berdampingan dengan orang lain. Maka kita perlu mengungkapkan diri kita melalui media bahasa lewat Internet agar orang lain menjadi memahami diri kita dan kita juga menjadi paham terhadap diri kita sendiri. Melalui Internet, kita telah sadar bahwa betapa pentingnya pendidikan yang telah diberikan oleh Bapak dan Ibu Guru kita ketika kita masih bersekolah di bangku Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA dan bahkan Universitas sebab hanya lewat dan melalui pendidikan para bapak dan ibu guru itulah, kita bisa belajar mengungkap diri lewat bahasa tulisan.

Pendidikan dari para pendidik masa lampau telah membuat kita menyadari bahwa hidup kita bukanlah sebuah ruangan yang tertutup rapat. Kita perlu membuka diri terhadap orang lain lewat bahasa tulisan. Kejujuran dan keterbukaan terhadap dunia luar, merupakan jalan yang penting agar kita dapat saling lebih memahami dan mengerti diri kita, dunia kita dan sesama kita dalam suasana pergaulan Internasional yang kokoh dan bersolidaritas tinggi.

Nilai-nilai dan kualitas hidup membuat hidup manusia telah menjadi norma atau patokan bersifat internasional. Pendidikan harus membuat kita semakin originalitas dan asli. Pendidikan tidak boleh membuat manusia semakin terkungkung oleh ketertutupan terhadap pengaruh dunia dan kepalsuan yang semu. Pendidikan tidak boleh membuat manusia selalu berpura-pura, tertutup dan penuh kepalsuan. Pendidikan harus membuat masa depan umat manusia menjadi cerah dan tersingkap dengan jelas. Hanya keaslian dan originalitas pribadi menjadi jalan keluar yang membuat manusia memiliki kehidupan yang lebih baik dan berprospek.

Sering terjadi bahwa orang menjadi hati-hati dan penuh pertimbangan bila akan membuka diri, teristimewa bila orang berhadapan dengan seorang asing yang belum dikenalnya. Terhadap orang asing sering orang sulit untuk membuka dirinya dan berbicara dan mengungkapkan pikiran secara terus terang. Sebab seringkali pemikiran yang jujur dan terus terang kepada seorang yang asing dan belum kita kenal berakibat fatal. Karena orang asing yang belum kita kenal bisa membahayakan kita sendiri. Membuka diri kita berupa pemikiran, sikap dan pendapat perlu hanya kepada orang yang sebelumnya kita sudah kenal. Ia memanggil kita sesuai dengan nama kita dan mengenal seluk beluk mengenai kita secara baik, sesuai dengan apa yang kita tuliskan di dalam facebook misalnya. Penulisan yang jujur telah membuat kita saling mengenal dan memahami satu terhadap yang lain dalam suasana persaudaraan yang kokoh dan kuat. Persaudaraan yang kokoh dan kuat harus terbangun dari kepolosan dan kejujuran kita melalui usaha untuk membangun presepsi atau pandangan yang positif tentang sesama kita yang berada di sekitar kita maupun yang berada jauh di bagian dunia yang lain.

Melalui media Internet, orang berlomba-lomba untuk menuliskan sesatu sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya. Maka media Internet telah membuka baka baru bagi perubahan gaya hidup dan pemikiran manusia. Dari semula berpikir prakmatis dan praktis kepada pemikiran dan tindakan yang membutuhkan imaginasi yang tinggi. Pemikiran dengan imaginasi atau khalayan yang tinggi lebih memiliki bobot dalam merebut ruang dan waktu. Sebab ruang dan waktu pragmatis lebih singkat, pendek dan sempit. Sementara ruang dan waktu dari sesuatu yang imaginatif lebih memiliki bobot dan daya. Hal ini tercermin dengan bobot dan ruang yang diberikan dalam sebuah Website.

Ruang dalam sebuah Situs begitu luas dan kaya. Padahal Situs bukanlah sebuah ruang pragmatis dalam hidup kita. Website adalah sebuah ruang hasil dari kemampuan jelajah dan imaginatif manusia yang luar biasa. Melalui sebuah ruang yang luas, kaya dan dalam manusia bisa mengungkapkan pemikirannya yang rational, original dan berdaya. Saya sering membaca beberapa Situs atau Website di Intenet yang ditulis oleh beberapa pakar dan profesor. Ternyata Situs telah mengubah sebuah ruang yang pragmatis menjadi sebuah ruang yang sebegtiu luas, kaya dan dalam. Ruang yang tercipta dalam Situs merupakan sebuah ruang hasil rekayasa manusia yang dengan kemampuan akal budinya telah membuat sebuah dunia baru yang memungkin manusia mempu berkreasi dan menuangkan pemikirannya yang penuh imaginasi. Manusia memiliki kemampuan untuk merekayasa sesuatu dan tinggal aman di dalamnya. Pemikiran yang penuh imaginasi telah memberi manusia ruang untuk hidup, berada dan bereksistensi.

Internet telah membuat manusia menjadi polos karena ia telah membuat manusia mampu mengungkapkan semua yang terjadi tentang dirinya, sesama, dunia dan Allah. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi di dalam diri manusia karena ia selalu dituntut untuk mengungkapkan aspek-aspek terdalam dari dirinya sendiri. Oleh karena ia menjadi polos, maka karena kepolosan itu manusia menjadi lebih asli, tidak palsu dan tidak mengada-ada. Pendidikan telah membuat nilai yang mendatangkan kemampuan manusia untuk bersifat lebih universal akibat keterbukaan, kepolosan dan keorigionalitasnya sendiri. Maka manusia akan lebih bersifat intenasional akibat keaslian dan kepolosan dirinya. Manusia yang tertutup akan mendatangkan celaka besar dalam hidup dan pribadinya. Sebab ketertutupan bisa menjadi seperti peribahasa, bagai api di dalam sekam.

Dunia memang bukan selebar daun kelor. Sebab daun kelor memang merupakan dedaunan dengan ukurannya yang kecil. Dedaunan kelor tak mampu menampung semua curahan air hujan yang mengalir deras ke bumi. Namun dedaunan itu mampu membahasakan sesuatu yang tersembunyi dalam kerahasiaan yang paling dalam. Ia membahasakan rahasia alam yang perlu disingkapkan lewat bahasa. Ia menjadi saksi nyata bahwa tak ada sesuatupun yang berdiri sendiri. Semua yang ada selalu saling membutuhkan dalam jalinan yang erat satu terhadap yang lain. Semua yang ada harus saling membutuhkan dalam kebersamaan dan keharmonisan. Maka orang perlu hidup bersama dengan adil dan jujur bersama yang lain itu. Kehidupan bersama dalam keadililan dan kejujuran memungkinkan manusia mampu menemukan dan merefleksikan kemanusiaannya secara utuh dan menyeluruh.

Melalui media Internet ini, kita hendaknya menghidupkan semangat internasionalitas dan semangat kebersamaan (sense of togetherness) dalam kehidupan bersama itu. Pendidikan yang kita ajarkan di sekolah harus membuat orang semakin menyadari bahwa hidup dalam dunia berarti hidup bersama semua manusia dalam lingkaran relasi antara bangsa, antar komunitas, antar individu dan antara nasional dalam kehidupan manusia yang penuh damai dan saling membutuhkan demi kehidupan yang penuh kebersatuan, solider dan saling melengkapi satu terhadap yang lain dalam suasana aman, damai dan harmonis dalam dunia kita yang penuh persaingan. Semoga kita akan mampu melaksanakannya…!!

                             _________________________________

 
 
 

Hari Minggu

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Minggu, 22 April 2012

Hari ini adalah hari Minggu. Hari minggu adalah nama hari yang pertama dalam minggu yang terdiri atas tujuh hari. Di mana hari minggu merupakan hari pertama dalam tujuh hari itu. Hari minggu merupakan hari yang paling unik dan paling dinantikan oleh manusia di manapun berada. Sebabnya adalah hari minggu merupakan hari libur umum untuk beristirahat dan berdoa bagi umat Kristen. Memang ketika tiba hari minggu seperti saat ini, maka semua orang dimanapun pada berlibur, tidak bekerja di kantor atau di sekolah. Gereja menjadi dipenuhi umat beriman Kristen untuk berdoa dan memuliakan Tuhan. Setelah keluar berdoa, maka orang pun pergi ke pasar-pasar yang terus saja ramai dengan manusia yang hilir mudik hendak membeli barang-barang kebutuhannya atau untuk menjual barang dagangannya.

Pasar menjadi penuh dengan manusia yang hilir mudik pergi dan pulang. Juga kendaraan baik roda dua maupun empat hilir mudik dan karena itu Pasar menjadi bising. Hari minggu memang di mana-mana orang selalu menggunakannya dengan penuh keceriaan dan antusiasme yang tinggi. Mungkin ini adalah hari paling berahmat bagi umat manusia seluruhnya. Di tempat-tempat hiburan dan liburan banyak orang menghabiskan waktunya pada hari ini untuk bersantai dan bersenang-senang ria. Mereka beria-ria dengan melepaskan kepenatan dan kebosanan dalam bekerja selama 6 hari yang silam dan sekarang mereka ingin bebas dan beristirahat melalui kegiatan santai-melepaskan penat di tempat hiburan atau hanya di rumah saja.

Hari minggu dalam bahasa Arab berarti hari ahad, dalam bahasa Portugis Domingo dan bahasa Melayu Dominggu. Penggunaan kata Minggu merupakan kata yang populer sejak akhir abad 19 dan awal abad XX. Kata minggu berarti pekan, dimana satu pekan terdiri atas 7 hari, maka 1 minggu berarti 1 pekan. Dalam bahasa Sansekerta, hari Minggu disebut juga Aditya, Raditya, Radite yang berarti matahari. Maka menurut perhitungan Sansekerta, hari minggu dipakai sebagai perhitungan untuk melihat jalur jalan Matahari sebagai pusat tata surya. Matahari atau Radite/Radtya/Aditya merupakan saat dimana Matahari berada pada posisi tertentu dalam peredaraanya. Dengan demikian dipakai sebagai perhitungan yang tepat untuk melalukan ibadat kepada sang dewa. Menurut perhitungan Sanskerta pada saat itu dewa matahari akan membuat keputusan segera untuk memberkati atau untuk mengutuk manusia. Maka orang perlu menyampaikan permohonan agar manusia memperoleh berkat dari matahari. Itulah perhitungan Sansekerta tentang minggu yang disamakan dengan Matahari.

Bagi orang Kristiani, hari Minggu adalah hari pertama dalam minggu/pekan. Umat Kristen mengambil alih hari minggu dari kebiasaan orang Yahudi, yang menyebut hari pertama dalam minggu ini disebut sebagai hari Sabath. Pada hari Sabat menurut perhitungan hukum Taurat seseorang yang beragama Yahudi tidak boleh keluar dari rumahnya sepersekian langkah. Orang tidak boleh melakukan kegiatan-kegiatan pada hari Sabat. Bila orang kedapatan melakukan kegiatan pada hari Sabath maka resikonya orang itu akan dihukum berat atau bahkan dihukum mati. Jadi pada hari Sabath, orang Yahudi melakukan hubungan yang intens atau doa yang khusuk kepada Yahwe untuk keselamatan dan berkat dalam hidupnya, teristimewa untuk kerja dalam 6 hari yang silam.

Dalam Perjanjian Lama (PL) disebutkan dalam Kitab Kejadian bahwa dalam penciptaan menurut Kitab Kejadian, setelah Allah bekerja menciptakan manusia dan dunia sepanjang 6 hari yang lewat maka pada hari minggu atau hari pertama dalam pekan, Allah beristirahat. Istirahat Allah dipandang sebagai cikal bakal hari minggu atau hari Sabat bagi orang Yahudi. Pada hari minggu, seorang Kristiani tidak boleh bekerja berat, namun hanya beristirahat di rumah dan berdoa, mengucap syukur, memuji Allah dan mengucapkan doa permohonan. Pada hari minggu, umat Allah diwajibkan untuk merayakan Ekaristi Kudus.

Ekaristis Kudus dipandang sebagai Communio=persekutuan manusia yang percaya kepada Kristus yang berhimpun di rumah Allah/Gereja. Setelah ekaristi kudus, maka umat beriman masih dalah suasana perayaan itu hingga sampai ke rumahnya, dengan tidak melakukan pekerjaan hariannya sepanjang hari. Pekerjaan harian maksudnya adalah pekerjaan yang membuatnya membuang tenaga yang besar dan berat. Istirahat maksudnya membaca Kitab Suci atau merenungkan tentang Sabda Tuhan. Juga menulis atau membuat renungan secara tertulis. Ada juga kesempatan bagi banyak orang beriman untuk menggunakan sepanjang waktu hari minggu untuk beristirahat secara total di tempat tidur untuk beristirahat dan memulihkan tenaga dan pikiran serta mentalnya yang telah terkuras cukup banyak sepanjang 6 hari yang telah silam itu.

Selain berdoa di gereja, umat beriman sering menggunakan waktu hari minggu untuk kegiatan-kegiatan doa kelompok, seperti sharing Kitab Suci bersama, kelompok doa St. Anna, kelompok doa Sto. Joachim, kelompok Legio Mariae, kelompok THS/THM, kelompok devosi kepada St. Maria, Devosi kepada Kerahiman Ilahi dan semua kegiatan-kegiatan kategorial rihani lainnya. Ada juga kelompok yang memanfaatkan hari minggu untuk mengadakan pertandingan olah raga persahabatan antara instansi. Pendeknya hari minggu selain kegiatan ibadah di gereja, juga untuk doa-doa khusus, sharing KS, kegiatan olah raga, membaca dan merenungkan KS dan semacam kegiatan lainnya.

Pendeknya hendaklah mencari kegiatan-kegiatan rohani lainnya untuk menggantikan istilah istirahat fisik untuk meningkatkan keimanan anda. Mungkin pada kesempatan hari minggu itu, anda bisa menggunakan untuk membuat atau mengikuti sebuah ceramah tentang iman. Dengan mengikuti ceramah tentang iman tersebut, maka anda akan meningkatkan kemampuan anda di bidang iman dan ketaqwaan kepada Tuhan YME. Sehingga anda memberikan kesan dan pesan yang penting bahwa hari minggu adalah hari Tuhan. Hari khusus untuk kita sebagai umat beriman Kristen melakukan ibadah dengan hati ynag suci dan bersih demi keselamatan diri, keluarga, masyarakat dan dunia kita.

Bagaimanapun juga, hari Minggu harus kita lalui sebagai hari yang penuh makna bagi iman dan kehidupan kita. Sebagai orang beriman, hari minggu memiliki makna melalui beberapa hal/istilah yang sangat melekat erat dengan hari minggu itu sendiri. Dua hal yang melekat erat itu adalah: Communio, Ucapan syukur/pujian/permohanan kepada Allah dalam Communio.

Pertama, Communio. Communio secara etimologis berasal dari kata bahasa latin yang berarti bersama-sama, bersekutu, persekutuan. Unsur communio memungkinkan pada hari minggu, semua umat beriman berkumpul bersama-sama sebagai persekutuan umat yang percaya kepada Kristus di dalam gereja untuk merayakan ekaristi kudus atau perjamuan kudus. Melalui persekutuan itu, umat merasa satu, senasib, seperjuangan, secitya-cita dalam ziarah menuju rumah Allah yang memanggil manusia. Persekutuan itu memungkinkan kita melihat Kristus sebagai kepala gereja dan para rasulNya sebagai pengganti kepala. Dalam konteks itu, persekutuan umat beriman mengandung arti hirarki gereja yakni Kristus dan gerejaNya. Ada 3 tingkatan hirarki gereja Katolik yakni Uskup, Imam, dan diakon. Hirarki bertugas menjadi gembala umat menuju cita-cita Kristiani yakni hidup yang kekal. Paus di Roma dilihat sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik yang memimpin gereja Katolik Roma sebagai gembala agung, pelayan Kristus yang menggembalakan kawanan dombanya menuju tanah terjanji yakni Allah sendiri.

Kedua, Ucapan Syukur/Pujian/Permohonan Kepada Allah dalam Communio yang dilakukan melalui dan di dalam Ekaristis Kudus yang dirayakan setiap hari minggu. Ucapan Syukur/Pujian/Permohonan dalam Communio atau persekutuan itu menandakan bahwa Kristus sendiri yang mempersatukan mengumpulkan umatNya di dalam rumah Bapa Yang Maha Kudus. Kebersamaan dan persatuan umat beriman yang melantunkan ucapan syukur/pujian dan permohonan di dalam Ekaristis Kudus itu sungguh mempersatuan semua orang beriman di seluruh dunia, dalam berbagai bahasa dan suku bangsa.

Dua nilai ini yang membuat hari Minggu sebagai hari khusus bagi umat beriman untuk merayakan keselamatan, hidup dan imannya kepada Kristus di dalam gereja Katolik yang Satu, Kudus, Katolik dan Aposotolik. Melalui perayaan Ekaristi itu umat beriman disatukan dalam korban Kristus yang sedang dan akan terus berkarya demi keselamatan umat manusia sepanjang zaman.

                      ___________________________________

Wanita: Ibu dan Pencinta Tanpa Pamrih

 

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Minggu, 22 April 2012

Kemarin, Sabtu 21 April 2012, bangsa Indonesia memperingati hari RA Kartini. RA Kartini adalah pahlawan pelopor emansipasi wanita di Indonesia. Dia lahir dari sebuah keluarga Keraton (Bangsawan pribumi Jawa) di Jepara dan karena merasa terpinggirkan oleh dominasi kaum lelaki Jawa dalam pemerintahan dan keluarga, dia menuliskan banyak surat ke rekannya di Belanda. Suratnya dibukukan dengan judul Habis gelap terbitlah terang, yang menggambarkan sikap dan pemikirannya tentang emansipasi wanita di Indonesia.

Pada zaman sekarang ini, semangat ibu kita RA Kartini semakin populer saja, teristimewa karena masih ada pandangan bahwa wanita masih menjadi objek dari perkembangan teknologi itu sendiri. Wanita zaman kini masih tetap dilihat sebagai makhluk Tuhan yang miskin, lemah dan tak berdaya.

Lihat saja dalam masyarakat kita di desa, kota kecil, kota besar dan kota Metropolitan. Wanita-wanita masih diidentikkan dengan orang yang miskin dan lemah. Karena mereka tidak mampu atau tidak bisa bekerja. Tugas mereka hanya di rumah saja, mengurusi keluarga dan anak-anak, maka akibatnya mereka tidak memiliki sesuatu apapun bahkan menjadi objek laki-laki.

Wanita harus lebih banyak mengaktualisasikan hidup dan dirinya. Aktualisasi diri seorang wanita harus menyata dalam institusi masyarakat dan dalam kehidupan yang riil. Aktualisasi bukan merupakan pemberian orang lain. Namun aktualisasi hidup wanita hendaklah merupakan hak yang dibuatnya berdasarkan kesadaran terhadap upaya penigkatan martabat dirinya dirinya sendiri.

Aktualisasi diri berarti kesediaan untuk selalu bekerja dan bekerja tanpa pamrih. Orang harus bekerja agar bisa keluar dan merubah nasib hidupnya sendiri. Bila manusia bekerja maka dia akan memiliki sesuatu dalam hidupnya, sedangkan bila manusia tidak bekerja maka dia akan menjadi orang yang miskin dan kurang terkenal. Bekerja berarti mewujudkan semua potensi dan keunggulan pribadinya. Bekerja membuat harkat seorang wanita akan ditinggikan.

Seperti peribahasa menyatakan: Bekerja seperti hamba, makan seperti raja. Berarti bekerja disebut hamba dan makan disebut raja, berarti makan yang menentukan dalam hidup manusia. Bila manusia tidak makan maka manusia akan mati dan hilang dari peredaran hidup ini. Manusia akan mati bila tidak makan. Maka bekerjalah supaya manusia bisa hidup, bukan saja hidup di dunia ini, namun hidup di dunia akhirat.

Studi intensif dari para ahli membuktikan bahwa kini pemakai internet adalah kebanyakan pria atau laki-laki. Hanya sedikit pemakainya berasal dari wanita karena wanita diidentikkan sebagai kaum miskin dan lemah. Laki-laki karena mampu bekerja dan memiliki penghasilan maka laki-laki menjadi kaum yang paling banyak menggunakan internet yaitu, bolog, FB, twitter, Website, Yohoomasennger, dll.

Blog-blog di internet memang kebanyakan miliki pria. Bahkan ada banyak situs-situs porno di intenet yang melakukan tindakan pelecehan terhadap kaum wanita seperti virtualrape (perkosaan dalam internet), dll. Hal ini menunjukkan bahwa kaum wanita masih memiliki kedudukan yang kurang bagus di dunia ini, termasuk di internet. Maka wanita masih menempati posisi terpinggirkan dalam dunia yang supercanggih ini.

Dalam Internet pun semangat Kartini masih terus didengungkan orang. Tak peduli siapapun dia dan dari mana asalnya. Suara-suara yang menghendaki pemberian peranan yang lebih besar terhadap kaum wanitapun semain banya didengungkan orang. Lihat saja di intenet.

Bahwa ada banyak foto-foto wanita bugil diakses di mana-mana. Bahkan masih ada situs-situs porno yang mengobjekkan dirinya atau diobjekkan oleh pria. Wanita masa sekarang malahan dianggap sebagai akses ekonomi masyakat konsumeristis. Mereka seperti sebuah produk barang. Bila masih segar dipakai, bila sudah lama atau usang dicampakkan orang.

Hal seperti itu ibarat produk barang. Bila masih baru dipakai orang, sedangkan sudah tua atau usang disebut barang second atau barang kelas dua alias barang bekas. Wanita seperti barang atau sebuah produk menunjukkan bahwa eksistensi wanita masih kurang dihargai sewajarnya.

Mereka masih ketinggalan dibandingkan dengan kaum pria. Meskipun mereka memiliki pendidikan yang tinggi namun mereka tetap saja sebagai pelayan pria, pengurus keluarga dan wakil kepala keluarga. Kepala keluarga tetap saja pria. Wanita selalu dalam posisi termarginalkan dalam keluarga.

Bahkan sebagai pelayan dalam keluarga seringkali wanita selalu makan setelah seluruh keluarganya makan. Itu terjadi dibeberapa tempat. kelihatannya wanita selalu berada di dalam posisi sebagai warga kelas dua di dalam keluarga bahkan di dalam negara/bangsa. Namun itu terjadi bila manusia berada dalam situasi sesat dalam hidupnya.

Bila manusia tersesat dia akan memandang remeh orang-orang lemah dan miskin, termasuk wanita. Padahal wanita adalah orang yang melahirkan dirinya. Wanita yang membuat anda hidup dan berada di dunia ini. Maka sebaiknya anda menghormati dan menghargainya sebisa mungkin. Wanita adalah sumber kekuatan di duniamu dan dunia seluruhnya.

Bila dia hadir, maka dunia ini serasa menjadi milikmu. Wanita adalah hidupmu yang lain. Dia adalah makluk Tuhan yang indah. Dia adalah belahan jiwamu dan belahan hatimu. Dia adalah belahan seluruh hidupmu. Bila di dalam rumah mu tak ada wanita maka engkau telah kehilangan berlian, milikmu yang paling berharga. Sebab wanita adalah berlian yang paling mahal dalam rumah dan dirimu.

Bila anda menghormati dan memberikan wanita peranan yang besar maka engkau membiarkan dia membungakan talenta-telenta dalam hidupnya. Biarlah wanita mengekspresikan dirinya. Biarlah wanita mengaktualisasikan diri dan hidupnya sebab wanita adalah makhluk Allah yang indah bagi hidup manusia. Wanita adalah orang yang melahirkan manusia dan membuat manusia memiliki nafas dan hidup di dunia ini.

Namun selalu diakui bahwa Ibu sebagai orang yang melahirkan manusia baru selalu dipuja-puja. Wanita adalah dia yang melahirkan manusia baru, membesarkannya, mendidik dan menghantarnya untuk berdiri sendiri.

Ketika kita akan masuk Sekolah Dasar (SD) Ibu adalah orang pertama yang mengajarkan anda membaca dan menulis, berhitung dan mengajarkan agama kepada anda. Demikian pun bila anda malas ke sekolah atau malas belajar untuk menhadapi ulangan dan ujian. Selalu ibu yang mengingatkanmu dan menyemangatimu. Ibu adalah orang pertama yang memeriksa Raportmu dan memeriksa hasil belajarmu.

Dia adalah orang pertama yang paling menderita bila anda gagal dalam sekolah, kuliah atau hidupmu, namun dia juga adalah orang pertama yang paling bergembira bila anda sukses dan meraih prestasi dalam hidupmu sendiri. Dia adalah segala-galanya bagi anda. Ibu adalah orang yang paling menaruh perhatian kepadamu bila anda menemukan kesulitan dalam hidup anda atau bila anda berhasil dalam hidup anda.

Bila anda jauh dari Ibu anda maka anda berada dalkam situasi yang sesat. Perintah Allah yang ke-4 berbunyi, hormatilah orang tuamu. Yang dimaksudkan dengan orang tuamu adalah ayah dan ibumu. Ibu adalah orang tua yang paling dekat dengan anda dan karena itu hormatilah dia, baik masih hidup mapun ketika dia telah meninggal dunia dan dimakamkan.

Bila Ibu telah meninggal dunia dan dimakamkan maka anda harus selalu menziarahi makam ibu, berlutut dan mencium nisannya. Anda harus mengucapkan doa untuk memohon peristirahatannya yang abadi. Engkau harus selalu dekat dengan Ibu dalam doa dan dalam setiap pemikiran dan hidupmu. Bila dia sakit usahakanlah selalu menolongnya, menghibur dan merawatnya agar Ibu selalu berada dalam kebahagiaannya. Jangalah engkau menyakiti hati Ibu di saat tuanya. Namun buatlah dia berbahagia dan bergembira selalu.

Hiburlah dia bila dia merasa kesepihan dan kesedihan dan berikanlah kesempatan baginya untuk berbicara dan memberi petuah kepada yang muda karena pengalaman telah membuatnya menjadi orang yang diberkati Tuhan Allahmu karena engkau.

Ibu adalah merupakan segala-galanya bagi anda. Ia melahirklan anda, membesarkan anda, mendidik dan mendoakanmu. Doa ibumu akan selalu bersama mu di saat suka mapun di saat engkau mengalami persoalan dalam hidupmu.

Di doa ibu, namamu selalu hadir dan disebutnya. Ia menyebut namamu, sebagai anaknya di doa-doanya kepada Allah, agar Allah memberkatimu dan memberimu kesehatan dan keselamatan dalam hidup anda.

Ibu mendoakanmu sebab engkaulah buah hatinya yang paling dalam. Ibu hampir memberikan nyawanya ketika ia melahirkan anda. Ibu adalah segala-galanya bagi anda. Doanya menyertamu dan setiap derap langkahmu selalu ada dalam doanya.

Maka pada hari RA Kartini ini, hendaklah engkau sadar dan berpikir bahwa Ibu adalah orang yang dianugerahkan Allah kepadamu. Bahkan dia adalah penciptamu yang kedua (co-creatio) bagimu. Dia seperti orang yang membuat anda hidup dan berbahagia. Hormatilah ibu dan engkau akan hidup dan berbahagia, wahai manusia.

Ibumu adalah orang yang mencintai tanpa pamrih. Ia mencintai semua orang tanpa memandang muka. Semua anak-anaknya dicintai hingga ia meninggal dunia. Ibu adalah model pemberi cinta yang telah mengorbankan diri dan hidupnya karena cinta.

Maka berbahagialah seorang anak yang selalu mengingat ibunya dalam doa, baik dalam suka maupun dalam derita. Tuhan akan memberkati Ibu. Tuhan juga akan memberkati anak yang selalu berdoa dan mengingat ibunya dalam suka dan duka.

                                _________________________________

� prev
top
next �

Belajar Bahasa Asing Melalui Gambar, Lagu dan Musik

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Sabtu, 21 April 2012

Artikel ini berbentuk sebuah sharing pengalaman selama beberapa tahun yang silam ketika saya masih duduk di bangku pendidikan SMA. Saya bersekolah pada sebuah SMA yang bernama SMA Seminari Lalian mulai tahun 1989/1990 hingga tahun 1993/1994.

Sekolah ini merupakan pendidikan Menengah Atas bagi para siswa calon Imam yang akan melanjutkan ke jenjang Sekolah Tinggi Filsafat Katolik. Selama dalam sekolah ini, kami yang semuanya berjenis laki-laki, tinggal dalam rumah khusus (=asrama dengan kultur seperti sebuah biara) yang didirikan oleh pengelola sekolah ini gedungnya bersambungan dengan gedung Sekolah Kurikulum.

Karena Sekolah ini merupakan sebuah sekolah milik gereja Katolik yang mendidik para siswa SMA untuk menjadi imam Katolik, maka kami memiliki 2 program dalam pelajaran kami yakni program Seminari yakni pelajaran yang berhubungan dengan kurikulum Seminari seperti Kitab Suci, bahasa Latin, Liturgi, Konferensi, dll. Selain itu kami memiliki program Kurikulum seperti yang yang diberikan oleh pemerintah RI melalui Depdikbud.

Semua fasilitas disiapkan oleh sekolah, termasuk perpustakaan, museum, kamar mandi, makan-minum, WC selama 4 tahun. Yang unik dari sekolah ini adalah sekolah ini memiliki program satu tahun kelas Persiapan, sebelum memasuki kelas 1 SMA Seminari.

Kelas Persiapan adalah kelas yang merupakan kelas Transisi sesuai dengan program Seminari di Indonesia. Di dalam kelas Transisi atau disebut sebagai kelas Peralihan ini, kami juga telah memakai seragam SMA dan belajar pelajaran-pelajaran SMA, namun lebih ditekankan pada pelajaran Seminari sebagai seorang calon Imam Katolik.

Kami memiliki lebih banyak waktu untuk belajar hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita menjadi imam Katolik seperti liturgi Katolik, Kitab Suci, Konferensi, Akademi, dll, juga diberikan pelajaran-pelajaran lain yang berhubungan dengan Kurikulum, tapi belum disebut sebagai kelas 1 SMA.

Lulus kelas Persiapan maka kami baru boleh masuk pada kelas 1 SMA dan mendapatkan pelajaran-pelajaran yang lebih lanjut baik sebagai kelas kurikulum sekaligus pelajaran lanjutan sebagai kelas 1 Seminari. Program tersebut memang berlaku untuk semua Seminari Menengah Atas di Indonesia, sesuai dengan tuntutan gereja Katolik Roma.

Hal yang demikian memang masih tetap berlaku hingga saat ini. Maka ketika teman-teman kelas kami di SMP mengikuti EBTA/EBTANAS SMA, kami sedang duduk di bangku kelas II Seminari SMA Lalian. Setiap pagi kami mengikuti doa pagi bersama-sama dilanjutkan dengan ekaristi kudus, doa siang, vesper, doa malam, rekoleksi, ret-ret. Kegiatan-kegiatan ini merupakan kegiatan pokok yang berhubungan dengan kehidupan sebagai calon rohaniwan katolik.

Hal lain yang sangat menarik dari sekolah ini adalah tentang kebiasaan menulis. Kegiatan menulis merupakan kegiatan rutin yang selalu disiapkan pihak seminari yakni dalam program OSIS. Di setiap kelas selalu ada ruang untuk publikasi majalah dinding kelas yang dimonitoring oleh ketua kelas. Semua orang boleh menulis secara bebas sesuai dengan tema yang disediakan oleh pengelola Majalah Dinding kelas. Juga ada kewajiban untuk Englishday setiap hari Rabu dan Jumat dalam minggu.

Pada setiap hari-hari itu, kami semua diwajibkan untuk berbicara, menulis dan berdoa dalam bahasa Inggris, termasuk menulis dalam bahasa Inggris. Selain Majalah Dinding kelas juga disiapkan sebuah Majalah Dinding sekolah yang keanggotaannya dipilih dari orang-orang yang memiliki keahlian menulis secara khusus. Untuk itu, kami memiliki beberapa mesin ketik tua yang masih bisa digunakan untuk mengetik naskah-naskah untuk dipublikasikan pada majalah dinding Sekolah.

Selain majalah Dinding sekolah yang menampung kiriman naskah tulisan dari para awak seminari seluruhnya dari kelas Persiapan hingga kelas III, kami juga memiliki sebuah Buletin Sekolah yang kadarnya lebih tinggi dari kedua majalah dinding itu yakni Buletin Sol Oriens, sebuah Buletin yang terbit 2 tahun sekali yang dikelola oleh OSIS Seksi (Sekretaris Bidang) Publikasi dan Dokumentasi. Ini sebuah Buletin majalah cetak yang berpelindungkan Praeses seminari SMA Lalian dan di bawah pengawasan seorang pastor.

Jangkauan penyebaran Buletin ini menjadi sangat terkenal hingga ke luar pulau. Maka Buletin ini bisa terjual mahal, bila yang membelinya adalah orang-orang yang beruang. Mereka bisa membeli di atas harga yang ditawarkan yakni Rp 1000 kala itu, menjadi hingga Rp 50.000-Rp 100.000 kala itu. Ini merupakan jumlah yang besar sekali untuk harga Buletin Seminari. Karangan dalam Buletin itu meliputi artikel-artikel, kronik dan puisi-puisi.

Rata-rata para pembeli suka terhadap artikel, kronik dan puisi yang ditulis oleh para siswa SMA Seminari Lalian karena bermutu dan objektif. Selain itu para pembeli suka terhadap para siswa Seminari karena keramahtamahan mereka, juga karena para siswa ini merupakan remaja-remaja yang sedang menjawab panggilan Allah untuk menjadi Imam Katolik.

Pada tahun 1992, saya pernah menjadi Pemimpin Redaksi Buletin Sol Oriens dengan oplah mencapai hampir 600 eksemplar (kalau saya tidak salah atau mungkin saja lebih) dan terjual habis tanpa sisa, kecuali untuk arsip. Oplah Buletin ini sering tergantung dari kekuatan kerja dari para awak Redaksi, dari menentukan tema, mengumpulkan karangan, memeriksa dan menentukkan tulisan, diseleksi bahasanya oleh pastor pendamping, mengetik prospektif, mengedit dan menerbitkannya menjadi Buletin intern.

Buletin ini memang bukan untuk dijual namun telah beredar di kalangan intren sendiri sebagai sebuah Majalah resmi SMA Seminari yang juga telah dikirim ke instansi gerejani, biara, paroki, sekolah, seminari se-Indonesia, Seminari Tinggi se- Indonesia dll. Semuanya tergantung dari kinerja para awak Redaksi dengan dikomandani oleh pemrednya. Tentu ini memerlukan energi besar dan pengorbanan yang luar biasa dari pengelola (redaksi). Merekla harus memanfaatkan waktu sisa dari kegiatan Seminari dan sekolah Kurikulumnya untuk bekerja. Perlu waktu, dana dan tenaga yang besar hingga terbitnya sebuah Buletin Sol Oriens ini.

Para siswa di SMA Seminari Lalian memang diwajibkan untuk memiliki sebuah agenda harian. Fungsi agenda harian itu adalah agar para siswa dapat mengekspresikan semua perasaan dan pemikirannya lewat tulisan-tulisan dalam diary itu. Hal ini merupakan latihan menulis paling bagus. Sebab diary sering menjadi tempat yang paling tampan untuk menulis, sebelum dipublikasikan ke Majalah dinding kelas atau majalah dinding sekolah dan Buletin Sol Oriens.

Ketika saya menginjakkan kakiku di bangku kelas 1 SMA Seminari Lalian, kami mendapatkan jatah pembangunan dan pengadaan sebuah unit Laboratorium bahasa yang canggih. Setelah Laboratorium bahasa Inggris itu didirikan datanglah seorang guru bahasa Inggris dari Inggris. Ibu guru itu seorang guru wanita yang masih mudah usia dan bujang. Beliau didatangkan sebagai seorang guru bantuan untuk para siswa di Kabupaten Belu. Beliau bernama Miss Juliet J.A. Seales, seorang tenaga guru VSO dari negara Inggris.

Miss Juliet demikian namanya. Beliau mengajar kami dengan disiplin yang tinggi. Beliau mengajarkan kami dalam bahasa Inggris yang mudah kami mengerti dan selalu berinteraksi dalam pelajaran itu. Seringkali dia menggunakan gambar-gambar, lagui-lagu dan musik dalam pelajarannya. Semuanya itu membuat kami mudah memahami bahasa Inggris. Setelah satu tahun berlalu, beliau sudah mulai menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar dalam pelajarannya.

Beliau meminta agar dibuatkan papan-papan publikasi untuk menempelkan gambar-gambar sehubungan dengan pelajaran bahasa Inggris di dalam ruang laboratorium bahasa Inggris. Dia lalu menempelkan gambar-gambar itu pada papan-papan yang dibuat menyerupai papan publikasi. Melalui gambar-gambar itu banyak hal telah diajarkannya kepada para siswanya. Pelajarannya menjadi menarik dan indah karena gambar-gambar menarik yang dia tampilkan. Kadang-kadang dia membuat permainan menyusun huruf-huruf yang membentuk kata dan kalimat bahasa Inggris.

Miss Juliet mengajar bahasa Inggris dengan menarik karena dia pintar mengunakan media-media seperti gambar-gambar indah, musik-musik dan lagu-lagu. Lewat gambar, musik dan lagu, dia mampu menjelaskan bahasa Inggris secara mudah dan dapat dimengerti para siswanya. Atau dengan kata lain pelajaran bahasa asing menjadi menarik karena dia mampu membawa orang kepada selera pribadi dan kesukaan orang pada musik, gambar dan lagu.

Unsur artistic sering menjadi faktor yang sangat menentukan dalam pembelajaran bahasa asing. Unsur seni/artistic mampu membawa para siswa untuk tertarik, terpesona dan dapat menerima pelajaran bahasa asing secara bagus. Kesenian (artistic) dapat dicari atau dibuat sendiri dengan media-media yang sering kita temui dalam kehidupan setiap hari misalnya gambar pemandangan, gambar kota yang dilanda banjir, gambar pemandangan musim semi, musim salju, musim panas dan musim gugur. Demikianpun lagu-lagu populer seperti lagu John Lennon, dll bisa menjadi insiprasi yang baik bagi para pembelajar bahasa Inggris. Jadi unsur seni mampu mengantar siswa pada imaginasi tertentu dan merasa tertarik dan dengan demikian gampang menguasai bahasa Inggris.

Zaman internet sekarang ini, sangat mudah menemukkan gambar-gambar yang dapat menarik para siswa. Gambar-gambar di internet yang menarik perlu diposting di papan Publikasi atau diberikan dalam bentuk bahan diskusi untuk meresting kemampuan menghafal dan menganalisa dari para siswa. Belajar bahasa berarti belajar tentang cara menulis dan membaca bahasa asing tersebut. Misalnya diberikan sebuah gambar tentang keadaan penduduk yang sedang dilanda banjir, lalu para siswa diminta untuk menuliskan apa-apa saja yang telah dilihatnya dalam gambar tersebut.

Selain memampukan daya analisanya, para siswa dapat diresting untuk memiliki daya menolong sesamanya yang dilanda duka dan derita. Demikian pun gambar tentang sebuah daerah yang dilanda bencana alam. Atau suasana Hari Ulang Tahun (HUT), suasana di Supermarket, dll. Hal itu bisa membuat daya ingatan dan daya jelajah siswa menjadi meningkat sekali. Kemampuan analisa para siswa menjadi tinggi karena hal-hal indah yang telah ditunjukkan oleh guru lewat gambar, musik dan lagu.

Ada beberapa hal yang bernilai bila pembelajaran sebuah bahasa asing digunakan dengan memanfaatkan media-media berupa gambar, lagu dan musik yakni bahwa media-media tersebut tersedia banyak di internet sehingga menjadi murah bila dibandingkan dengan menggunakan alat-alat ICT yang cenderung mahal. Nilai lain adalah bahwa dengan gambar, lagu dan musik, para siswa dipacu untuk mencintai hal-hal yang berbau seni atau artistik. Sebaiknya menjauhkan siswa dari gambar, lagu dan musik yang dapat memicu kemampuan memberontak, kekerasan dan hal-hal yang menjurus para siswa kepada perilaku menyimpang.

Perlu sarana yang lebih banyak untuk memicu kemampuan mengaktulisasikan diri dan hidupnya, kemampuan berkreasi, kemampuan mencipta dan kemampuan bersosialisasi atau kemampuan berinteraksi secara sederhana dalam diri para siswa. Selain itu pelajaran bahasa asing harus menimbulkan rasa percaya diri dan sikap toleransi, saling menghormati teristimewa sikap menghormati hal-hal yang berbau asing.

Gambar-gambar yang diposting pada papan publikasi telah membawa kami lebih dekat dengan dunia. Hal ini wajar sebab sebagai siswa SMA Seminari kami selalu berada dibalik tembok kokoh sebuah sekolah dengan model Seminari pada abad Pertengahan.

Sangat lazim menjaga diri, perkataan dan sikap berhadapan dengan orang luar, apalagi dengan dunia dan alam. Pendidikan bahasa asing lewat gambar, musik dan lagu telah membawa dan mendekatkan kami kepada alam dan dunia sendiri. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting karena alam dan dunia di sekitar kami memiliki misteri yang perlu disingkapkan lewat bahasa.

Lewat bahasa kita mengekspresikan diri sekaligus membuka tabir rahasia dunia dan alam secara lebih baik dan transparan. Bahasa berarti komunikasi lisan dan tulisan. Bila komunikasi lisan tak dapat kita lakukan karena ada halangan-halangan tertentu, maka perlu komunikasi tulisan agar di dalam komunikasi itu kita dapat mengembangkan bahasa sesuai dengan spririt kita sebagai seorang yang beriman. Dan gambar telah membuat kami mengetahui dan mampu mengekspresikan diri, alam, sesama dan Allah yang hadir dan menyapa kami selalu dan senantiasa setiap saat dalam kehidupan ini.

                          ______________________________________