Teknologi Sebagai Salah Satu Norma Dasar

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Kamis, 22 Maret 2012

Pendahuluan

Dalam pergaulan dan interaksi yang kian maju saat ini, telah memunculkan banyak tantangan dalam hidup manusia, khususnya orang Indonesia sendiri. Tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai ketimuran yang mempertahankan arti dan nilai kesatuan yang tidak retak antara manusia dengan alam dunia dan manusia dengan sesamanya. Kecondongan orang Indonesia, sama halnya dengan bangsa-bangsa Asia lainnya adalah bahwa orang Indonesia lebih condong kepada nilai kesederhanaan, pasifitas dan stagnasi.

Sedangkan bangsa Barat, seperti Eropa dan AS lebih condong kepada masyarakat dan alam dunia. Bagi orang Barat, Ilmu pengetahuan dan teknologi harus dikuasainya guna mengangkat tingkat kehidupan manusia menuju kemakmuran. Maka orang barat lebih condong kepada kemakmuran dan kesejahteraan serta agresifitas (ovensif). Namun teknologi dan ilmu yang dikuasainya telah menyebabkan manusia menghadapi situasi yang kompleks dalam hidupnya yakni keterasingan atau alienasi antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Jalan tengah yang terbaik adalah mengkombinasikan Timur dengan Barat dengan mengambil unsur-unsur yang terbaik dan mengembangkannya menuju kesejahteraan dan kebahagiaan manusia

Sekarang ini, telah terjadi kontak yang luar biasa antara bangsa Asia dan Eropa/AS. Teknologi hasil rekayasa manusia kini telah dengan mudah tersedia di mana-mana. Pertanyaannya adalah apakah teknologi barat yang kini melanda dunia ini merupakan hal-hal yang asing semata-mata bagi orang Asia? Dalam tulisan ini, saya akan menunjukkan bahwa unsur teknologi telah menjadi sebuah norma dasar yang telah diterima dalam kehidupan manusia Indonesia yang Pancasila’is sejati. Norma teknologis dapat memampukan manusia untuk meningkatkan kemakmuran dan mempertinggi relasi yang harmonis dengan manusia dan alam lingkungan.

Arti Penting Norma Teknologis Dalam Kehidupan Manusia Indonesia

Baiklah kita mengetahui terlebih dahulu apa itu norma dalam kehidupan manusia setiap hari? Norma adalah kebiasaan-kebiasaan hidup yang menjadi pedoman dan patokan dalam bertingkah laku setiap hari. Norma berlaku sesuai dengan kesepakatan-kesepakatan dalam masyarakat manusia. Maka norma disebut sebagai sebuah peraturan sosial manusia dalam interaksi sosialnya. Norma atau patokan atau aturan dan pedoman hidup manusia bersifat memaksa individu-individu. Norma bersifat memaksa berarti norma memiliki kekuatan untuk mentertibkan masyarakat manusia.

Norma sebagai pedoman hidup tidak boleh dilanggar oleh manusia. Bila manusia melanggar norma maka manusia akan dihukum oleh masyarakat. Hukuman bagi orang yang melanggar norma bisa hukuman yang bersifat putusan hukuman pengadilan, hukuman berupa hukuman adat, hukuman berupa pengucilan sosial dan intimidasi sosial kepada para pelaku yang melanggar norma itu sendiri. Norma sebagai pedoman biasanya disusun secara sadar. Norma adalah tata tertib, aturan, petunjuk dan standar perilaku manusia untuk berbuat yang benar.

Norma yang ditetapkan secara sadar dan berlaku umum bagi masyarakat manusia bersifat kekal dan memiliki sejarah yang panjang. Misalnya: Norma adat istiadat, adalah norma atau pedoman atau petunjuk yang telah berumur sangat panjang dan lama dan berlangsung abadi. Norma adat istiadat memungkinkan manusia pada daerah tertentu dapat mempertahankan dirinya selama bertahun-tahun dalam jangka waktu yang lama dan mungkin akan bertahan hingga abadi. Misalnya: bahasa, pola pikir, kebiasaan, kepercayaan, ritus, tradisi tertentu, dan seterusnya.

Demikian norma agama, norma hukum, tata susila dan kesopanan, merupakan pedoman yang telah berumur tua dan akan bertahan hingga abadi. Agama sebagai sebuah norma telah berumur panjang dan akan tetap ada hingga kekal. Hukum sebagai sebuah norma telah berumur panjang dan akan abadi. Jadi Norma merupakan pedoman dalam bertingkah laku yang ditetapkan manusia secara sadar bukan dalam jangka waktu tertentu saja, namun telah ada sejak dahulu dan akan ada selamanya.

Secara etimologi teknologi berasal dari akar kata techne yang berarti serangkaian prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan sebuh objek atau kecakapan tertentu. Teknologi adalah perkembangan suatu media atau alat yang dapat digunakan dengan lebih efisien guna memperoses serta mengendalikan suatu masalah. Misalnya, masalah bercocok tanam secara tradisional dirasa sangat menguras tenaga manusia, maka manusia mulai membuat traktor untuk mempermudah kerja manusia. Traktor membuat bercocok tanam menjadi mudah dan efisien. Ada tiga macam klasifikasi dasar dalam pembuatan teknologi yakni:

1. Kemajuan teknologi yng bersifat netral yakni kemajuan teknologi yang memungkinkan pengeluaran lebih tinggi dari kuantitas yang diterima

2. Kemajuan memungkinkan hemat tenaga kerja yakni kemajuan teknologi yng memungkinkan manusia memiliki dan memberikan sedikit tenaga. Kemajuan berbasis hemat tenaga kerja ini merupakan kemajuan teknologi yang mendominasi kemajuan sejak abad 19.

3. Kemajuan hemat modal adalah sesuatu yang langka. Sejak abad 19, orientasi kemajuan lebih kepada kemajuan hemat tenaga kerja.

Teknologi dilihat sebagai metode ilmiah demi mencapai tujuan pragmatis. Teknologi adalah ilmu pengetahuan terapan. Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang bagi keberlangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Teknologi telah berumur sangat panjang. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri, maka teknologi adalah sebuah gejala temporer.

Kelemahan aplikasi teknologi di Indonesia adalah bahwa di Indonesia, campur tangan pemerintah terhadap teknologi terlalu besar. Bahkan pemerintah sendiri yang mengendalikan perkembangan teknologi itu sendiri. Pabrik-pabrik motor, mobil, perkapalan, bahkan pesawat terbang dimiliki oleh pemerintah, seperti yang terjadi pada era Presiden Soeharto dan Presiden B.J. Habibie. Pemerintah tidak memberikan kesempatan kepada para swasta untuk mengembangkan teknologi. Akibatnya teknologi di Indonesia mengalami perkembangan yang lambat bahkan cenderung sentralistis. Berbeda dengan teknologi di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika. Di negera-negera dunia pertama dan kedua, pemerintah memberikan ruang gerak penuh bagi swasta untuk mengadakan dan mengembangkan teknologi yang berguna bagi kehidupan manusia.

Selain itu kelemaham teknologi di Indonesia adalah dengan adanya PMA yang artinya Penanaman Modal Asing. PMA menjadi faktor kemunduran teknologi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Sebab PMA memonopoli sarana dan pengembangan teknologi di Indonesia. Mereka (PMA) memonopoli lisensi dan ijin operasional teknologi, hal ini bisa menghambat laju perkembangan teknologi di Indonesia. Selain itu, teknologi mengalami perkembangan yang lambat, hal ini disebabkan karena ketergantungan yang terlampau besar kepada investor asing.

Utang luar negeri Indonesia semakin meninggi. Investor asing memiliki mayoritas saham yang ditanam dalam perusahan-perusahaan dalam negeri. Keuntungan perusahaan menjadi milik investor asing itu, sisanya sebagian kecil merupakan hak pemerintah dan rakyat Indonesia. Ketergantungan yang lama dan besar terhadap pihak investor asing menjadi penyebab kemunduran teknologi. Seharusnya pemerintah memberikan kesempatan yang besar serta ruang yang luas bagi perkembangan teknologi di Indonesia agar semakin maju dan berkembang. Pihak swasta di Indonesia, harus berani memulai dan mengambil alih peranan yang dimainkan investor asing. Dengan demikian menjadi subjek dalam pengembangan teknologi dalam negeri sendiri.

Dewasa ini, teknologi yang sangat populer di seluruh dunia adalah Teknologi Informasi (TI) yang berfungsi menyampaikan dan mengolah informasi seperti: komputer, internet dan facebook. Teknologi yang memanfaatkan sarana komputer sebagai perangkat utama untuk mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat, pada tahun 2008 telah ada 23,33% penduduk dunia menggunakan sarana ini.

Study para ahli dan pengamat TI mengatakan bahwa para pengguna TI mayoritas adalah pengguna pria dan karena itu para pengguna TI lebih bernuansa maskulinum. Mengapa? Hal ini disebabkan karena kaum pria dikonotasikan sebagai orang yang bekerja, kaya, kuat dan mampu. Sedangkan kaum wanita dikonotasikan sebagai kaum lemah, tak punya kerja, hanya mengurus rumah tangga, miskin, lemah dan tak berdaya. TI lebih maskulinum dan memang selama ini hanya pria yang paling banyak menggunakan TI.

Sifat internet merupakan sesuatu yang tidak bebas nilai atau budaya. Tingkat kapabilitas antara nilai dan norma teknologi dan nilai atau norma yang dianut penggunanya sangat menentukan penggunaan Teknologi Informasi tersebut. Nilai sebagai barang dan jasa cenderung bersifat maskulinum dari pada femininum. Sifat maskulinum para pengguna internet dari pria mengakibatkan terjadi pelanggaran terhadap etika dan norma-norma yang berlaku dalam dunia internet, karena dunia internet tidak bebas nilai dalam dirinya sendiri. Seperti semua teknologi yang berguna bagi kemanusiaan, kesejahteraan, keefektifan telah diterima sebagai sebuah norma dalam kehidupan bersama, maka norma teknologi setingkat, dan selaras dengan norma-norma yang lain, seperti norma adat istiadat, norma kesopanan, norma tata susila, norma agama dan norma hukum.

Akibat menonjolkan laki-laki dan maskulinum, maka sering terjadi kekerasan seksual yang terjadi pada beberapa Situs dalam bentuk lelucon-lelucon, pesan-pesan mengancam, pornografi, games kekerasan, perkosaan di dunia maya (virtual rape) dan kejahatan-kejahatan seksual di dunia maya. Hal itu diperparah dengan tidak adanya Undang-Undang (UU) yang mengatur kekerasan seksual di dunia maya.

Norma teknologi sebagai sebuah patokan dan pedoman harus berjalan seimbang dengan penghayatan pribadi dan filosophi bangsa yang menjungjung tinggi norma kesopanan, norma agama, norma susilo, norma adat istiadat. Banyak hal telah disepelehkan. Maka kini tibalah saatnya manusia membaharui diri dan merefleksikan diri terhadap banyak aktivitas nakal yang telah manusia lakukan di dunia maya. Mungkinkah manusia sangat maskulinum dalam dunia maya dan melakukan kejahatan-kejahatan seksual dan kejahatan yang melihat wanita sebagai objek dan bukan sahabat-sahabat dalam Tuhan?

Prof Dr Mudijiaraharjo mengatakan bahwa ada pergeseran paradigma wajah peradaban manusia dari sifat-sifat humanized yang santun, saling menghargai dan mencintai menjadi sifat-sifat dehumanized yang kasar, bernafsu, benci, dendam, saling mengejek dan perlakuan negatif lainnya. Terjadi banyak paradoks dalam hubungan antara manusia dalam dunia maya dewasa ini.

Prof Dr Mudijiaraharjo memberikan jalan keluar agar manusia kembali melihat pendidikan humaniora yang selama ini diabaikan di lingkungan pendidikannya masing-masing. Uraian Prof Mudijiaraharjo ini sangat menarik bagi saya. Sebagai seorang yang bertahun-tahun belajar ilmu humaniora dalam bentuk filsafat teologi Katolik di salah satu universitas tertua di Indonesia yakni Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero-Flores yang didirikan tahun 1934, saya merasa bahwa sudah saatnya kita memberi warna humaniora pada semua sarana Teknologi Informasi kita.

Warna humaniora yang cocok pada TI adalah pertama-tama menerima kenyataan bahwa teknologi sebagai alat membutuhkan sebuah patokan dan pedoman yang luhur, baik, bernilai dan karena itu disebut norma teknologi yang setara, sealur, sejalan, selaras dengan norma-norma yang lain, yang telah diterima, yakni norma susila, norma agama, norma adat, norma sopan santun dan norma hukum. Sebagai sebuah norma yang diterima sebagai patokan dan pegangan, makanorma teknologi harus mengantar manusia menuju kebaikan, kebenaran, keluhuran, kesopanan, keberadaban, kesusilaan, dan bahkan menghantar manusia untuk menemukan Allah Yang Maha Esa.

Refleksi yang bersifat humaniora dalam penggunaan Teknologi Informasi dalam dunia maya membantu manusia yang menggunakan TI itu, untuk senantiasa mendahuluan nilai-nilai dan norma-norma dalam kehidupan manusia sebagai bangsa yang beradab, santun, beragama, berteknologi, berke-Tuhan-an, berhukum dan bertata susila. Manusia yang jujur dan beradab dalam pikiran dan perkataan serta tindakan sangat dihargai dan dijunjung tinggi. Manusia yang menggunakan teknologi adalah manusia yang beretika, bermoral, berke-Tuhan-an, berbudaya, beradab. Ia mengetahui tata kesopanan, mengetahui tata kesusilaan. Maka seorang yang menerima teknologi sebagai sebuah norma akan menjalin komunikasi yang jujur, beradab, berke-Tuhan-an, bersusila, jujur dan bermoral yang tinggi.

Jalan Keluar Yang Ditempuh

Para pengamat dari kalangan agamawan telah menilai bahwa ada yang telah salah dalam dunia internet atau dunia maya. Perubahan mental yang menjurus kepada masalah duhumanisasi kian mewabah. Maka berikut ini jalan keluar yang bisa dibuat, agar tercipta keberadaban dalam dunia maya kita:

Pertama, pendidikan humaniora harus lebih banyak dimajukan di setiap sekolah-sekolah mulai dari TKK hingga SMA. Pendidkan humaniora harus lebih ditekankan dalam pelajaran agama, PPKN, Sosiologi dan Antropolgi. Ibadat dan ceramah agama harus lebih banyak menekankan unsur humaniora. Penekanannya adalah pada kesadaran diri, self control dan otonomi untuk membuat keputusan sendiri secara bertanggung jawab dan dewasa teristimewa untuk para siswa SMA. Nilai-nilai humaniora seperti cinta, respek antar sesama manusia, hormat terhadap guru dan orang tua, pemimpin agama dan pemerintah, suci dan jujur dalam kata-kata dan sikap, menjadi pembela kebenaran, kesucian dan kekudusan personal.

Perlu lebih banyak waktu digunakan untuk bermeditasi, merenungkan tentang kebaikan dan nilai-nilai dalam Kitab Suci agama masing-masing, serta pentingnya saling menghargai, saling menghormati, respeck, tentang keharusan untuk menahan diri dari perbuatan yang merugikan diri sendiri, menahan kecenderungan nafsu seks, menahannya demi mencapai pribadi purnadiri, yakni pribadi yang mampu mengintegrasikan daya-daya seksualnya dengan interaksi sosial tanpa ada keinginan untuk melakukan kegiatan seksualitas. Pribadi purnadiri dalam humaniora dicapai lewat meditasi, doa, tapa, puasa dan usaha untuk mengendalikan diri sendiri dan mengarahkannya kepada hal-hal yang bernilai dan bermakna.

Nilai-nilai pengetahuan humaniora yang diterimanya sebagai teori ilmu pengetahuan hendaknya dipraktekkan dan diwujudnyatakan dalam kehidupan setiap hari. Tujuan kita belajar adalah agar kita dapat mengetahui apa-apa saja yang kita pelajari dan setelah mengetahui kita berusaha untuk mempraktekkan apa yang kita pelajari itu dalam kehidupan kita setiap hari, agar apa yang kita pelajari dapat berguna bagi kehidupan kita sendiri dan sesama kita dalam seluruh relasi kita kapan dan di mana saja.

Kedua, perlu pembuatan rambu-rambu hukum (UU)

Tentang hal ini patut kita jelaskan substansi UU dengan bentuk yang mana bagi para pelanggar norma dalam dunia maya? Selama ini, banyak kasus telah terjadi di mana, para pengguna facebook sendiri sering menyembunyikan identitasnya sendiri. Mereka tidak berani menuliskan secara jujur identitasnya sehingga sulit bagi kita untuk mengidentifikasikan pelaku tindak pelecehan dalam dunia maya. UU yang mengatur tentang sanksi yang tegas dalam bentuk hukuman badan, denda dan pemulihan nama baik patut dipelajari secara saksama agar kita dapat menciptakan sebuah produk hukum yang benar-benar menegakkan norma teknologi sebagai sebuah norma yang diterima dan pengaruhnya selaras, sejalan, searah dengan norma-norma dasar lainnya.

Ketiga, perlu kontrol yang tegas

Kontrol yang tegas dari para pendidik rohani seperti guru agama, pedeta, pastor, ulama, pemimpin agama Hindu dan agama Budha terhadap perilaku jemaatnya dalam dunia maya patut selalu dibuat secara rutin. Para pembimbing harus mendaftarkan semua pengguna internet di dalam jemaatnya, sekolahnya, dunia kerjanya. Hal ini dapat mempermudah kontrol yang ketat terhadap perilaku para pengguna itu, bila ditemukan ada keluhan supaya secepatnya ditindak dan dibenarkan.

Keempat, perlu kontrol yang tegas dari keluarga dan lingkungan serta teman bermain

Orang tua harus menjadi teladan dan jaminan terhadap kehidupan moral anak-anaknya. Teladan dan jaminan itu berupa kerukunan dalam keluarga, keharmonisan, kesetiaan, kejujuran, doa/iman, kebaikan dalam hidup berkeluarga. Orang tua harus selalu tegas mengontrol aktivitas ana-anaknya. Orang tua harus mendengar dan memahami sekaligus memberikan arahan ke mana anak-anaknya melangkah. Perhatian, cinta dan kerukunan yang diliputi oleh semangat iman dan ketaqwaan kepada Tuhan menjadi tolak ukur dalam kehidupan bersama yang harmonis dan dengan demikan dapat mencegah hal-hal yang negatif dalam dunia maya. Sering anak merasa stress, tekanan, kecewa, benci terhadap kelakuan orang tuanya sendiri yang memberikan teladan buruk kepada anak-anaknya sendiri. Maka internet menjadi sarana pelarian dari stress, depresi dan tekanan. Mereka bisa gampang melakukan hal-hal yang melenceng dari patokan norma dan adat kebiasaan yang berlaku dan wajar.

Lingkungan hidup sekitar individu juga menjadi control sosial bagi moralitas manusia pengguna jejaring sosial atau internet. Teman bermain yang akrab juga bisa menjadi control sosial. Mereka bisa menegur atau menyalahkan kegiatan anda yang bisa jadi telah dapat merusak norma moral, kesopanan dan tata susila serta agama seseorang melalui jejaring sosial.

Kelima, membina sikap disiplin diri, disiplin waktu dan disiplin tempat
Disiplin menjadi menjadi aktivitas yang bermakna apabila kita tidak terjebak dalam perbuatan yang merugikan diri sendiri di Internet. Berusahalah membagi waktu untuk tidur, berdoa, bermeditasi, baca kitab suci, membuat renungan, membaca buku rohani, makan, mengerjakan tugas, olah raga, mandi, menonton TV, berekreasi, bersosialisasi. Tempatkan semuanya pada waktu yang tepat samuanya sesuai dengan rencanamu. Buatlah jadual kegiatan anda dengan teratur setiap hari. Dan berkomitmenlah untuk melakukannya sesuai dengan yang direncanakan. Janganlah selalu melakukan kegiatan internet sepanjang waktu bahkan 24 jam setiap hari. Hal ini dapat merusak rencana dan hidupmu sendiri, terlebih bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan dalam aktivitas anda di internet.

Keenam. manusia Indonesia perlu menerima dan mengakui teknologi sebagai sebuah norma. Sebagai sebuah norma, norma teknologi hendaknya dipergunakan demi kebaikan, kesucian, kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Sebagai orang Asia dan orang Timur, kita perlu mengambil kebaikan dan keunggulan kita dan mengkombinasikan dengan kebaikan dan keunggulan teknologi dari bangsa-bangsa Barat sehingga memungkinkan terjadi saling melengkapi dan saling mengisi demi kesejahteraan dan kebaikan hidup bersama. Kita menerima teknologi sebagai sebuah norma yang keberadaannya setingkat, selaras, sealur dengan norma agama, norma hukum, norma sopan santun dan norma tata susila. Norma-norma ini saling mendukung satu terhadap lain.

Ketujuh, berdoalah selalu sebelum memulai dengan pekerjaan di internet atau facebook. Mohonlah agar Tuhan selalu mendampingi anda. Berdoalah dengan jujur dan penuh kepasrahan diri. Mohonlah ampun atas segala kesalahan. Buatlah niat untuk tidak melakukan hal-hal yang keliru dan immoral dalam internet atau facebook. Berdoa, memohon ampun, memohon kekuatan, bersyukur dan selalu memasrahkan seluruh pekerjaan anda kepada Allah YME. Saya yakin anda akan menemukan sesuatu hal yang penting dari Teknologi Informasi ini, sebagai sebuah media penuh moral, penuh susila dan penuh keberadaban. Allah akan menyediakan dan memberimu rahmat berlimpah dan anugerah luar biasa melalui aktivitasmu yang bernilai dalam internet.

Catatan Penutup

Penerimaan teknologi sebagai sebuah norma mengandung berbagai resiko yang harus selalu diperhatikan manusia. Untuk menggunakan alat atau sarana teknologi perlu ketekunan, hati-hati, ketelitian dan kesabaran yang luar biasa. Kesalahan dalam mengoperasikan alat-alat teknologi canggih itu bisa berakibat sangat fatal bagi kehidupan manusia sendiri yakni luka, cacat dan bahkan kematian manusia akibat kesalahan dalam mengoperasikan alat teknologi.

Selain itu faktor-faktor lain seperti bencana alam, bencana manusia, unsur ketidaksengajaan, telah menjadi faktor-faktor yang menentukkan dalam kecelakaan yang mengakibatkan kerugian material dan bahkan kehilangan nyawa manusia. Hingga saat ini, banyak nyawa, bahkan mungkin telah sebanyak puluhan juta nyawa menjadi korban, cacat fisik dan mental akibat alat teknologi modern ini. Mengoperasikan sarana modern harus dalam keadaan sadar dan penuh tanggung jawab. Bila manusia dalam keadaan setengah sadar akibat mengkonsumsi narkoba atau minuman keras dan mengoperasikan alat teknologi maka akan berakibat fatal bagi kehidupan manusia.

Kesimpulan: Bila teknologi dianggap sebagai salah satu dari norma dasar, maka norma teknologi akan melindungi manusia sebagaimana manusia melindungi teknologi dan sadar dalam penggunaannya. Hindarilah sedapat mungkin kesalahan dalam faktor manusia dalam pengoperasian sebuah alat teknologi. Selalu berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan YME. Berlakulah sopan, menghargai norma adat, norma hukum, norma agama dan norma tata susila dalam menggunakan fasilitas teknologi anda. Saya yakin anda akan terlindungi oleh norma teknologi sebagai mana anda melindungi teknologi anda dari kejelekan, kerakusan, nafsu dan perbuatan-perbuatan yang merugikan manusia. Taatilah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, maka norma-norma itu akan melindungi anda.

Sebuah penjelasan yang cukup terperinci telah ditawarkan sebagai wacana yang hidup bagi pemirsa dan pembaca Web ini. Tentu saja sebagai mahkluk Tuhan YME, kita selalu bergulat dengan berbagai keterbatasan manusiwi kita. Sering kita jatuh, lalu bangun. Jatuh, lalu bangun dan bangun lagi. Kita selalu berjuang dan bergulat. Semoga kita selalu menampakkan diri sebagai orang yang tak berdaya, miskin, dan tak berarti apa-apa di hadapan DIA yang sedang melihat kita dalam pandanganNya.

KEPUSTAKAAN:

1. Prof. Dr. Mudjiarahardjo, Masa Depan Ilmu-Ilmu Humaniora Dalam www.Prof mudijiaraharjo.com

2. Alkitab Deuterokanonika

3. Sumber Wikipedia tentang Norma dan Teknologi

4. Retno Budi Lestari, Pemberdayaan Wanita Melalui TI (Sebuah Kajian Pustaka), Bahan Seminar Nasional Pemberdayaan Aplikasi TI 2010, 19 Juni 2010

5. Dr. St. Osias Fernandez, Citra Manusia Timur dan Barat (Ende: Nusa Indah, 1987)

                          ____________________________________

RIP Guru Elias Mema Dari Pedat-Halehebing

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Senin, 12 Maret 2012

Mengenang seorang tokoh yang bertahun-tahun bekerja sebagai guru SRK Wairbleler dan SDK Wairbleler, Kec. Mapitara, Sikka, Propinsi NTT memiliki makna yang dalam bagi para siswa, para pendidik dan masyarakat semuanya. Maknanya adalah agar kita semua dapat meneladani sikap tokoh yang kita panuti dalam kehidupan kita setiap hari. Sikap-sikapnya adalah seperti rajin, tekun, terampil, tegas dan rendah hati.

Sabtu tengah malam, 10 Maret 2012, saya membaca sebuah Posting di Grup Mapitara-Halehebing yang ditulis oleh saudari Frida Danura, seorang wartawan asal Mapitara. Postingan itu memberitakan bahwa Ama Guru Elias Meme telah pergi untuk selamanya meninggalkan keluarga besar Pedat/Halehebing/Mapitara. Seketika saya merasakan kehilangan sangat besar. Saya terduduk, diam dan menangis dalam kesedihan. Sambil terisak saya pun berguman: Saudaraku guru Elias Mema, selamat berpisah untuk abadi. Semoga Tuhan mengampuni semua dosamu dan menerimamu dalam kebahagiaan abadi di Surga. Saya pastikan tidak bisa menghadiri pemakamanmu sebab hari selasa, 13 Maret 2012, saya ditugaskan negara untuk menjadi pengawas UAS SMA Kristen Atambua. Lagi pula situasi sekarang lagi musim bencana. Maka beresiko sangat fatal bila memaksakan diri untuk pergi ke Pedat sekarang ini.

Tulisan ini saya postingkan untukmu, meskipun kita hanya bertemu beberapa kali antara tahun 1998 sampai 2009, namun sebagai saudara sepupu kita sebenarnya telah saling kenal sejak dahulu. Saya mengenalmu sebagai sepupuku dan mantan guru SRK Wairbleler dan SDK Wairbleler. Semoga tulisan ini membuatmu tersenyum di dunia sana.

Saat-saat dilanda duka seperti ini, sangat sulit untuk bisa menuliskan data-data lebih rinci tentang riwayat hidup kakak Guru Elias Mema. Saya yakin panitia keluarga besar di Pedat tentu telah menyiapkan riwayat hidup bagi almarhum, seorang yang sederhana dan bersahaja ini. Ketika masih hidup, beliau adalah orang yang paling tua dari antara keluarga besar Pedat. Ayahku adalah putera Moang Bapa Botha da Iry dan Ina Dua Gokung Buly da Iry. Kakak Guru Elias Mema adalah cucu dari Moang Bawa. Moang Bawa adalah adik kandung dari Moang Bapa Botha da Iry. Itulah sebabnya saya memanggilnya sebagai kakak guru Elias Mema, meskipun perbedaan umur kami sangat jauh berbeda.

Rumah tinggal kami di kelilingi tanah pertanian yang cukup luas. Keluargaku di sini menanaminya dengan berbagai macam hasil pertanian dan hasil perdagangan atau komoditi seperti, kopi, kakao, fanili, dll. Lingkungan Pedat berbatasan langsung dengan lingkungan Gereja Halehebing. Tanah di mana gereja Halehebing berdiri konon merupakan tanah warisan leluhur kami yang kini digunakan oleh gereja Katolik berdasarkan kesepakatan tertentu, terlebih oleh keyakinan bahwa gereja adalah kita semua dan kita semua adalah gereja.

Pada tahun 1998, sebagai seorang frater muda SVD yang sedang kuliah Filsafat di STFK Ledalero, Flores, saya mengambil waktu sejenak untuk berlibur di rumah keluarga kami di kampung Pedat. Pedat adalah nama sebuah kampung tua di mana dimakamkan leluhur kami antara lain kakek dan nenekku, alm, Moang Bapa Botha da Iry dan Ina Dua Gokung Buly da Iry. Kedua leluhurku ini semasa hidupnya berperanan sebagai pemangku Tuan Tanah Besar Halehebing. Kakak Guru Elias Mema memanggil Ayahku sebagai Ama Doi yang artinya Bapa Kecil. Beliau lama bekerja sebagai guru dan kini pensiun dan sering sakit-sakitan di kediamannya dekat kompleks SMP PGRI Lerohae, Halehebing. Namun dia selalu berjuang untuk berdoa bersama bila tiba doa rosario bulanan.

Dia selalu mengingatkan kita bahwa sangat penting bagi kita untuk selalu berdoa bila waktu doa itu tiba dan tak lupa mengingat silsilah keluarga/leluhur agar kita dapat mengenal fitrah kita sendiri sebagai manusia yang utuh yang dilahirkan dari sebuah silsilah tertentu. Dalam pembicaraan kami, dia sangat jarang mengeluh tentang lamanya dia berkarya sebagai guru Sekolah Rakyat Katolik (SRK) Wairbleler dan kemudian Guru Sekolah Dasar Katolik Wairbleler (SDK Wairbleler). Sudah berapa ribu anak asuhannya kini telah menjadi orang. Sesuatu hal yang jarang diceriterakannya. Ini menunjukkan bahwa beliau orang yang rendah hati. Dia mengatakan bahwa dia telah berjuang sungguh-sungguh untuk menjadi guru yang baik bagi generasi kaum muda Halehebing. Dia berbicara dalam suara yang cukup keras dan penuh semangat hampir tak ada barang sekecil apapun yang luput dari pembicaraan.

Pada tahun 1998 saya menarik diri dari SVD dan tahun 2002 saya diwisuda menjadi Sarjana Filsafat di STFK Ledalero, Flores. Selanjutnya saya memulai kehidupan sebagai umat katolik biasa. Tahun 2002 saya masih sempat singgah lagi di Pedat-Halehebing. Ketika itu, kondisi kaka pensiunan guru ini masih segar, sehat dan selalu berbicara dalam nada yang semangat. Saya tidak mengangka bahwa itu adalah kebersamaan kami yang terakhir kalinya.

Dia berceritera tentang kesulitannya dan persoalannya dengan tanaman-tanaman perdagangan yang baru saja dia tanam di kebun miliknya seperti: kakao, Fanili, Kopi, dll. Tanaman-tanaman itu telah dirusakkan oleh para pekerja bahkan dicabut dengan paksa dalam pembukaan jalur jalan raya yang baru Pedat-Lere-Natakoli. Para pekerja itu telah melakukan banyak perusakkan terhadap tanaman-tanaman milik rakyat Pedat. Maka dia mengajak saya yang waktu itu sedang aktif mendirikan sebuah Lembaga Advokasi Masyarakat (LAM) untuk melakukan pembelaan terhadap hak-hak rakyat Pedat yang telah dicaplok dan dilanggar oleh pekerja dan pengusaha pembuka jalan raya Pedat-Lere-Natakoli.

Setelah mendata semua kerusakan tanaman dan memanggil semua petani yang tanamannya dirusakkan oleh para pekerja pembuka jalan tersebut, kami berusaha menghubungi camat Bola dan DPRD Kabupaten Sikka melalui sebuah surat pernyataan yang ditandatangani rakyat Pedat dipimpin oleh guru Elias Meme dan saya sebagai pimpinan dan sekretaris Lembaga Advokasi Masyarakat (LAM).

Tujuan dari surat kami adalah meminta agar pemerintah bertanggung jawab terhadap kerusakkan tanah dan tanaman milik rakyat pedat dalam peristiwa pembukaan jalur jalan raya yang baru Pedat-Lere-Natakoli. Kedua institusi ini kami minta untuk memikirkan secara serius persoalan pembayaran ganti kerugian kepada rakyat dan petani Pedat yang telah dilanggar hak-hak adat kepemilikannya oleh pengusaha.

Pertemuan pertama kami buat bersama camat Bola di kantornya. Namun hasilnya mengecewakan sebab beliau tidak bisa memberikan jawaban yang pasti terhadap pembayaran kembali kerugiaan petani Pedat karena tentang hal ini merupakan tanggung jawab kontraktor di Maumere.

Merasa belum puas atas jawaban-jawaban yang diberikan, kami sepakat untuk meneruskan persoalan ini kepada DPRD II Sikka. Surat kami diterima. Maka kami sempat berdialog dengan Waket DPRD II Sikka, OLM Gudipung di kantor DPRD II Sikka setempat. DPRD II Sikka diminta untuk secara serius memikirkan kembali kerugian para petani Pedat yang seluruhnya bernilai sekitar Rp 200.000.000 pada tahun 2002. Ketika pertemuan itu, Waket DPRD II Sikka, OLM Gudipung hanya berjanji untuk membicarakannya lagi dalam sebuah sidang Komisi DPRD II Sikka untuk membahas persoalan ganti rugi kepada rakyat/petani Pedat ini. Ketika keluar gedung saya diwawancara oleh media. Media memberitakan itu di kolom beritanya. Saya berpikir bahwa sampai di sini perjuangan kami berakhir. Saya yakin mereka tidak mungkin akan memberikan uang sebesar itu kepada masyarakat kampung Pedat.

Pada bulan Juni 2002. Masa liburanku di Pedat telah habis. Saya harus balik ke Belu. Ketika itu saya sedang diliputi oleh rasa duka yang mendalam atas meninggalnya ayahanku Bapa alm. Mathias Meko. Beliau meninggal dunia pada 9 Mei 2002 ketika saya sedang mengikuti acara wisuda S1 di aula STFK Ledalero. Saya berjuang untuk mengatakan persoalan kedukaan saya kepada keluarga di Pedat dan menagatakan bahwa saya tidak mungkin akan tetap berada di sini dalam jangka waktu yang panjang. Ayahku baru saja meninggal dunia, maka saya harus kembali ke Belu untuk bertemu dengan mamaku dan melihat makam ayahku alm. Bapak Mathias Meko. Ketika ayah meninggal aku masih berada di Wisma Wairpelit dalam rangka wisuda Sarjana Negara ini. Kemudian saya sempat ke Pedat. Komunikasi via HP belum ada ketika itu, Hal ini membuat orang kesulitan untuk melakukan kontak atau komunikasi. Teknologi komunikasi HP pada tahun 2002 di NTT belum semaju sekarang ini. Sehingga pada tahun 2002 komunikasi masih sangat terbatas.

Saya mengambil keputusan untuk kembali ke Wisma Waipelit dan beberapa hari kemudia kembali ke Belu, tanpa memneritahukannya kepada kaka Guru Elias Meme. Dia pasti tahu bahwa saya sementara dalam kondisi kesedihan yang mendalam. Ayahku baru saja meninggal maka saya harus kembali ke Belu untuk melawat makam ayahku, tentu dengan kesedihan yang luar biasa bila memandang foto-foto ayahku di album.

Kedatangan saya ke Belu, NTT rupanya menjadi akhir dari perjuangan masyarakat Pedat. Sebab sejak saat itu, tidak ada lagi yang menjadi penggerak perjuangan memperoleh keadilan. Saya yakin tidak mungkin para wakil rakyat itu mampu mengabulkan sedemikian banyak uang untuk masyarakat yang sederhana di Pedat, bila tanpa saya. Bagiku uang sebesar Rp 200.000.000 yang dijanjikan itu, bisa saja akan menghambat masa depan saya.

Namun, saya sendiri tidak bisa mengatakan bahwa setelah kedatangan saya ke Belu perjuangan masyarakat Pedat selesai. Justeru perjuangan untuk menuntut keadilan bagi masyarakat Pedat akan tetap ada hingga hari ini. Intisarinya jelas bahwa masyarakat Pedat menutut agar hak-hak ulayat dan hak-hak adatnya diakui oleh pemerintah RI. Hak-hak ulayat atau hak-hak adat masyarakat harus diutamakan. Pemerintah tidak boleh mengabaikan hak-hak adat masyarakat. Pemerintah tidak boleh selalu menuding dan mengkambinghitamkan bahkanmengkriminalisasikan masyarakat adat di kampung-kampung. Ini adalah pesan moral dari persoalan di Pedat tersebut.

Sebuah pertanyaan yang wajib saya ajukan adalah apakah setelah saya tiba di Belu telah mengakhiri perjuangan para petani Pedat tersebut? Tentu hal itu sangat saya sangsikan. Pada bulan Juli 2009, saya masih sempat kembali ke kampung Pedat sebelum membereskan segala persoalan mengenai Sertifikat Mengajar pada STFK Ledalero. Saya mengambil beberapa waktu sejenak untuk berziarah lagi ke kampung kakek dan Nenekku di Pedat. Selama beberapa hari di kampung itu, saya tidak semput bertemu kembali dengan beliau. Pada sat itu beliau sempat menikahkan puterinya yang sempat dihadiri saya. Saya mengalami kelelahan dan karena itu saya meminta seorang sepupuku yang lain, untuk menghadiri acara itu. Pada saat itu Guru Elias Mema mungkin sementara berjuang keras menghadapi sakitnya. Penyakitnya kambuh sewaktu-waktu. Meskipun demikian, dia selalu berjuang untuk bergerak dan bekerja sebisa mungkin di rumah.

Pada hari kamis, 8 Maret 2012, kaka Alm. Guru Elias Mema telah dipanggil oleh penciptanya dalam keadaan damai. Dia meninggalkan semua sanak famili, umat beriman, anak-anak bekas didikannya sejak SRK Wairbleler hingga menjadi SDK Wairbleler. Beliau adalah seorang pahlawan bagi rakyat Halehebing dan bagi semua orang yang mengenalnya. Daya ingatnya yang tajam, tenang, sopan, bersemangat, jujur, pintar dan terpandang dalam masyarakat. Beliau memang berasal dari kalangan saudara Pemangku Tuan Tanah Besar Halehebing dan karena itu dahulunya beliau seorang pemuda terpandang. Dia meninggalkan 4 orang anak putera dan puteri dan seorang isteri serta cucu-cucunya yang masih kecil. Namun terlebih dia telah meninggalkan semua keluarga besar Pedat, Halehebing.

Selamat jalan pahlawanku, saudaraku, keluargaku, penjasaku. Selamat beristirahat dalam damai abadi di surga. Saya berdoa semoga Tuhan mengampuni semua dosamu dan menganugerahkan hidup abadi untukmu. Saya dan keluarga besar yakin bahwa kaka Guru Elias Mema masih tetap berada bersama kami semua meskipun secara fisik telah berakhir. Kaka Guru masih bersama kami dalam suka dan duka. Kakak ybk, terima kasih atas bimbinganmu kepada kami saudara-saudaramui dan anak-anakmu hingga kami masih seperti sekarang ini.

Meskipun saya bersekolah di SDK Halilulik, namun saya merasa seperti alumnus SDK Wairbleler. Dengan semua Guru di Pedat ini, saya sangat akrab. Maka saya memutuskan untuk menjadi guru juga. Sekarang saya menjadi guru di SMA Kristen Atambua, Belu. Teladan dan kesaksian hidupnya membuat kita merasa bahwa dia masih tetap bersama kita. Meskipun kini kita telah berpisah secara fisik dengannya. Namun hati dan iman kita tetap bersatu.

Kutitipkan puisi ini untukmu di alam sana. Semoga engkau damai bersamaNya selalu.

KERINDUAN

Oleh: Blasius Mengkaka

Terlalu lama berandai-andai

dalam mimpi dan angan yang tak berkesudahan

Terlalu lama kita berharap

untuk bertemu dalam kepasrahan

di kalbu

yang penuh

tawa

Namun

hanya satu kata yang membuat kita berakhir: kepergian !!

selesaimu membuatku tak sanggup mengangkat kepala

hanya tetes demi tetes air mata dan peluh

mengalir dari ubun-ubun

wajah

dada

tangan

semuanya

Wahai semesta akankah kau bangkitkan dan kembalikan

ayahku dan kaka guruku ini seperti dahulu

ketika hari penghakiman tiba?

Sebab

kerinduan ini

hanyalah tinggal serpihan-serpihan yang kandas

bersama senja

dan berharap untuk bisa tersenyum dalam bayangan yang kuciptakan sendiri buat kami

dan kita akan memuaskan kerinduan ini

di sana

di surga,

Amin

Minggu, 11 Maret 2012

Penutup

Guru Elias Mema mungkin hanya seorang guru sederhana yang bagi kebanyakan orang di Indonesia belum dikenal. Ia guru yang sederhana. Tidak ada karya ilmiah dan tulisan berupa artikel-artikel yang telah dikerjakannya. Pendidikannya juga tidak terlalu tinggi. Mungkin hanya setingkat SMP. Bila dibandingkan dengan masa sekarang, beliau tidak layak sebagai guru.

Perbahasa Gajah mati meninggalkan gading manusia mati meninggalkan nama. Guru Elias Mema meninggalkan teladan kejujuran, pengabdian, kerja keras, disiplin, cinta tanah air dalam hidup bagi anak-anak didiknya.

Kepergian guru Elias Mema ke hadapan Allah telah sungguh-sungguh terjadi. Marilah kita mengenang segala jasa dan budi baik almarhum sebagai guru dan pendidik, serta tokoh guru selama puluhan tahun. Sebagai orang katolik yang setiawan dan warga Indonesia yang sukses. Dia telah memberikan seluruh kemampuannya untuk bekerja dan mengabdikan diri sebagai guru PNS untuk bangsa, tanah air, gereja dan untuk Indonesia.

Dia bukan seorang tokoh yang terkenal sekali. Namun dia jujur sekali. Dia telah sukses dalam panggilan hidupnya di dunia ini. Maka patutlah dia menjadi teladan bagi masyarakatnya. Semoga namanya selalu terkenang dalam keluarganya dan anak didikannya.

Perjuangan yang berat telah selesai dan finish. Ibarat pelari maraton, dia telah menyelesaikan finish dengan baik. Kini tibalah saatnya dia beristirahat dalam damai dan ketentraman bersama Allah selamanya.

SUMBER:

Tulisan ini diolah berdasarkan pengalaman dan pembicaraan serta kesaksian nyata. Pertemuanku dan karyaku bersama beliau dari tahun 1998- menjadi sebuah pengalaman untuk menuliskan opini ini. Opini ini sebagai jalan yang terbuka lebar bagi kita untuk mengenal karakter dan kehidupan masyarakat Halehebing, kec. Mapitara, Sikka, NTT.

                  ________________________________________

Sepercik Kisah Sejarah Kepahlawanan Leluluhurku

 

Pendahuluan

Dalam masa supercanggih ini, kebijakan-kebijakkan lokal daerah yang penuh kearifan harus tetap digali, ditampilkan dan merupakan mutiara yang terpendam bagi kehidupan sebagai bangsa yang berbudaya dan menghormati sejarah bangsa sendiri. Kearifan lokal merupakan kekayaan budaya dan kekayaan sejarah bangsa Indonesia yang penuh perjuangan heroik pada masa kolonial hingga masa sekarang ini.

Continue reading Sepercik Kisah Sejarah Kepahlawanan Leluluhurku