Batas Dunia Sekular dan Dunia Rohani

Oleh: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: 8 Januari 2012

1. Pendahuluan

Dunia kita kini semakin berkembang pesat. Segala kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sedemikian canggih telah melanda seluruh dunia. Kemajuan sarana informasi dan komunikasi ini telah membawa berbagai perubahan pemikiran, gaya hidup, selera dan cara pandang manusia atas dunia, manusia, alam dan Allah sendiri. Berbagai kemajuan yang kini melanda umat manusia membawa dalam dirinya beberapa proses yang sangat mengganggu berbagai urusan dalam kehidupan manusia. Batas bidang-bidang antara manusia menjadi kian sempit.

Urusan-urusan rohani sering bercampur baur dengan hal-hal sekular atau jasmaniah manusia. Hal-hal yang yang berbau sekular dan duniawi sering mengakibatkan kesan bahwa gereja melegalkan praktek-praktek sekularisme atau sekularisasi di dalam gereja sendiri. Kejadian yang nampak dipermukaan adalah pesta-pesta yang semarak dan mahal dalam memeriahkan hari-hari raya gereja, misalnya Hari Raya Natal, pesta pelepasan tahun baru, Hari Raya Paskah dan seterusnya.

Maraknya aktivitas manusia beriman di luar gereja nampak telah membuat kesan bahwa seolah-olah kegiatan-kegiatan tersebut memperoleh restu sebagai sebuah kegiatan gereja. Misalnya, piknik di pantai, kunjungan ke tempat hiburan lainnya, pesta di tempat-tempat hiburan dan seterusnya.

Saya kira bukan hanya bila pesta atau HR gerejawi itu saja. Sejak dahulu pun selalu dibuat sebuah perayaan mewah meriah bilamana terjadi pesta perkawinan, pesta syukur imam baru, sambut baru, kaul kekal, pesta wisuda dan semacamnya. Kita melihat bahwa bukan hanya soal kita merayakan dan mengucapkan syukur atas pesta itu, namun perayaan itu telah meninggalkan kesan sekular, hura-hura dan mahal.

Musik yang mengalun keras dari setiap rumah yang salah seorang anggota keluarganya sedang merayakan sambut baru, hidangan yang lezat dan aneka minuman beralkohol telah menjadi menu yang tidak asing lagi bagi kalangan umat beriman kita di Indonesia. Dan mungkin juga pada berbagai negara di dunia. Untuk kalangan klerus sendiri, telah ada komitment dari para uskup untuk tidak akan mengijinkan para klerus atau biarawan/i yang selibat untuk ikut terjun dalam bidang politik kemasyarakatan. Namun yang kini melanda kaum awam Katolik/Kristen sungguh berbeda dari para gembala sendiri.

Masyarakat dan kaum beriman sendiri telah lama beranggapan bahwa pesta-pesta seperti sambut baru, nikah, imam baru, Natal bersama, Tahun baru bersama, merupakan sebuah pesta yang perlu diisi dengan kemeriahan. Malahan kadang-kadang dapat disaksikan bahwa pesta-pesta itu, sering berlangsung berhari-hari lamanya. Sebuah pesta nikah yang meriah selalu diiringi dentuman musik yang keras, hidangan yang lezat dan acara dansa hingga dini hari. Kadang-kadang ditemukan bahwa terjadi kekacauan serius akibat acara-cara tersebut. Baku hantam di tenda-tenda pesta yang terbuat dari terpal atau daun kelapa sering saja terjadi. Jauh -jauh hari sebelum dibuat acara-acara resepsi pernikahan di hotel-hotel seperti yang terjadi sekarang ini. Alhasil bahwa banyak dana telah terbuang demi sebuah prestise atau kebanggaan sosial manusia sendiri.

Perayaan penuh nuansa kemeriahan yang sangat sekular ini telah melanda gereja sejak lama, yakni ketika untuk pertama kalinya gereja diijinkan berkembang sebagai agama yang direstui oleh pemerintahan Romawi pada sekitar tahun 500 Masehi. Pada saat itu pun, pemerintahan Romawi yang berorientasi dan berkiblat pada alam sekularistis dan duniawi sering melakukan intervensi terhadap kehidupan gereja yang mengurusi kepentingan rohani manusia.Alhasil banyak unsur-unsur Romawi dan Yunani klasik yang berbau duniawi dan bersifat sekularistis telah masuk di kalangan gereja.

Kita akan membahas persoalan ini dalam tulisan ini, sambil kita terus melakukan analisa kristis atas tempat yang sesungguhnya bagi jangkauan rohaniah yang merupakan urusan gereja dan jasmaniah atau sekularistis yang bukan urusan gereja sendiri.

2. Keadaan Gereja Pada Awal Abad Pertengahan Hingga Akhir Abad Pertengahan (500-1400 Masehi)

2.1. Kekaisaran Romawi, Kekristenan dan Islam

Pada tahun 500 Masehi, kekaisaran sekular Romawi runtuh. Ini adalah permulaan zaman baru dalam sejarah yang kemudian oleh ahli-ahli sejarah dinamakan zaman abad pertengahan, karena zaman ini berada pada pertengahan antara zaman antik dan zaman modern. Abad pertengahan berlangsung selama 1000 tahun, dan dengan demikian zaman modern itu dimulai pada tahun 1500 (Abad XV).Kebudayaan abad pertengahan adalah penciptaan agama Kristiani dan Islam di satu pihak, dan bangsa-bangsa Eropa dan Arab dilain pihak. Agama-agama dan bangsa-bangsa baru itu membawa ide-ide dan tata cara baru. Akibatnya suasana pada abad pertengahan berlainan dengan abad sebelumnya, abad antik. Namun meskipun, kekaisaran sekular Romawi menjadi runtuh, namun warisannya tidak hilang lenyap.

Pertama-tama adalah karena agama kristen telah berkembang pada zaman antik, dan mengambil oper sebagian dari zaman antik. Lagi pula karena Filsafat Yunani, terutama Filsafat Aristoteles dipelajari terus oleh para pemikir Islam dan kemudian sejak abad XII, diteruskan kepada para pemikir dari Eropa. Agama Kristen adalah agama yang mucul pertama kali dalam abad pertengahan, yang telah menyebar ke seluruh kekaisaran Romawi sejak dekrit Milan oleh Kaiser Konstantin pada tahun 313 Masehi pada zaman Antik. Ide-ide dasar dari agama baru itu adalah:

a. Seluruh dunia, yakni semesta alam seluruhnya, termasuk materi diciptakan oleh Allah, dengan ini dilepaskan pandangan kuno, bahwa sudah terdapat materi sebelumnya, yang kemudian diberi bentuk sebelumnya oleh seorang dewa(demiourgos)

b. Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai sebuah kesatuan. Dengan ini ditinggalkan pandangan dualistis terhadap manusia, yang hidup terus dalam neoplatonisme dari abad-abad pertama. Tetapi pengaruh dualisme masih tetap besar dalam abad pertengahan.

c. Manusia diciptakan sebagai manusia bebas, tetapi ia menyalahgunakan kebebasannya, dan karenanya ia menjadi seorang manusia yang berdosa. Bagi seorang berdosa mustahil baginya untuk mencapai penyempurnaan hidup dengan kekuatannya sendiri. Untuk dapat mencapai tujuannya, perlu manusia ditebus dosanya oleh Yesus Kristus. Dengan ini dilepaskan pandangan oleh filsafat klasik, bahwa manusia dapat meraih tujuan hidupnya melalui theoria, lagi pula bahwa hidup manusia tetap dikuasai nasib; kemungkinannya untuk mencapai tujuannya ada, tetapi hanya berkat dan rahmat dari Allah sendiri.

Akibat ide-ide baru itu terdapat bentrokan antara kebudayaan antik dan alam pikiran kristiani. Dapat dikatakan bahwa pada umumnya Sarjana-Sarjana yang sudah menerima agama Kristiani, mengambil over sebagaian dari kebudayaan antik itu. Mereka berusaha menyesuaikan warisan kebudayaan Yunani-Romawi dengan kebenaran agama. Ternyata kebenaran agama lebih dihargai dari pada pikiran-pikiran para filsuf zaman klasik itu. Hal ini, nampak pada seorang agamawan yang besar pada akhir kekaisaran Romawi, yakni St. Agustinus.

Pada awal abad V M (tahun 500) di Eropa Barat muncul banyak kerajaan-kerajaan baru. Perancis, Spanyol, Jerman dan Inggris. Bangsa-bangsa yang membentuk kerajaan itu, sebagian sudah menerima agama kristen, sedangkan bngsa-bangsa lainnya baru menerima agama kristen selama abad pertengahan. Dalam abad-abad pertama sesudah kekaisaran Romawi lenyap, pada umumnya belum terdapat sesuatu kekuasaan sentral yang kuat, dalam negara-negara yang baru tersebut.Bangsa-bangsa dan negara Eropa disatukan oleh 2 wewenang yang melebihi bangsa-bangsa dan negara-negara. Wewenang dalam bidang politik berada dalam tangan “Kaiser Suci Romawi” (Kaiser Jerman), dan wewenang dalam bidang rohani berada pada Paus di Roma. Seringkali terjadi bahwa kewibawaan Paus juga terjadi dalam bidang politik, sehingga timbul persaingan. Dalam abad pertengahan baik hidup privat maupun publik ditentukan oleh agama.

Sistem-sistem pemikiran yang terkenal pada abad pertengahan adalah Scholastik (scholasticus=guru, pengabdi ilmu pengetahuan). Sistem pendidikan ini diajarkan di sekolah-sekolah yang di bangun di samping gereja-gereja besar, tetapi di universitas-universitas yang mulai didirikan pada abad itu: seperti Oxford (XII), Bologna (XII), Paris (Sorbonne) pada tahun 1257, Koln (1388). Para pemikir yang sangat terkenal, yang gagasannya diajarkan universitas-universitas ini adalah, Agustinus (354-430) dan Thomas Aquinas (1225-1275)

Sementara itu di Timur Tengah telah muncul sebuah agama baru lagi, yakni agama Islam.Agama Islam lahir pada tahun Hijriah, yakni pada tahun 622 Masehi. Agama itu mulai disebarluaskan di bagian-bagian Asia, Afrika dan Eropa Selatan. Bangsa yang pertama-tama menerima agama baru itu adalah bangsa Arab.Lalu bangsa itu menyatukan banyak bangsa lain di bawah kekuasaannya. Di antara kebenaran-kebenaran yang diwartakan agama Islam sebagai fundamen hidup perlu dikemukakan antara lain:

a. Allah adalah Mahaesa,Mahapencipta dan Mahahakim, Mahaesa, Mahakuasa dan Maha rahim. Allah yang Mahabesar itu menguasai seluruh hidup manusia dan menakdirkannya. Dengan ini nasib manusia diletakkan ke dalam tangan Allah sendiri.

b. Manusia harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ia harus taat kepada Tuhan dan menuruti perintah-perintahNya dalam segala hal ihwal hidup, baik dalam kehidupan privat maupun ke dalam kehidupan publik.

Jadi menurut pandangan Islam, hidup manusia berpusat kepada Allah dalam segala bidang. Tak mengherankan bahwa hal itu, nanti nampak juga dalam bidang-bidang yang lain seperti bidang hukum.

1.2. Kekristenan Pada Akhir Abad Pertengahan Hingga Zaman Modern (1500-1850)

Titik tolak gambaran manusia pada masa awal abad pertengahan adalah pada agama Kristen, Kristus sebagai Dia yang memberi pengajaran utama. KedatanganNya ke dunia menjadi titik tolak sejarah dunia dan manusia barat. Sambil tidak mengesampingkan kebudayaan Yunani, Romawi, Keltis dan Indo-Jerman. Semua kehidupan sosial, politik dan ekonomi orang barat dipengaruhi oleh kristianisme. Pada akhir abad pertengahan kristianisme semakin memudar. Hukum Jerman yang kristen, diganti dengan hukum Romawi yang kafir, yang berasal dari kemauan manusia sendiri. Proses keruntuhan manusia abad pertengahan dipercepat dengan adanya perkembangan iptek, serta filsafat manusia yang mengarahkan diri ke filsafat modern. Akibatnya kebebasan manusia menjadi sirna dan manusia mengikuti jalan yang sesat.

Akhir abad pertengahan dan awal abad modern dimulai dari zaman Rennaissance dan Aufklarung, kebudayaan kristen lambat laun sirna, dan manusia mulai masuk kembali kepada zaman Yunani klasik dan Romawi klasik. Kenyataan ini terdapat dalam bidang kenegaraan seperti hukum kenegaraan, keseniaan sastera, dan ilmu pengetahuan yang bercorak Romawi klasik dan Yunani klasik yang lebih bersifat kafir, menggantikan kekristenan. Inilah awal mula perkembangan Renaissance. Manusia barat mulai berbalik kembali kepada kafir yang belum ditebus. Penghargaan terhadap gereja menjadi semakin berkurang dan kewibawaan gereja semakin memudar. Hal ini terutama karena penyalahgunaan kekuasaan gereja, skisma di barat, perang saudara dan menetapnya Paus diAvignon , Perancis. Kemerosotan memuncak dengan adanya keragu-raguan terhadap kebenaran Gereja.

Renessaince dan Humanisme pada awalnya kurang bersifat anti agama, namun lama-kelamaan semakin bersifat duniawi. Hal ini nampak pada Bocassio dan pengikutnya yang benar-benar hidup seperti orang pada zamn klasik. Humanisme Bocassio pada abad 16 sungguh sangat anti-kristen. Inilah yang disebut zaman reformasi. Kalau dahulu Allah menjadi pusat segala-galanya, namun sekarang diambilalih oleh manusia, bahkan manusia bisa menciptakan teologinya sendiri, meskipun berdasarkan Kitab Suci. Masa modern berlangsung selama 350 tahun yakni dari tahun 1500 sampai tahun 1850.


Akhir zaman modern tahun 1850 hingga zaman sekarang (1900-……….), dunia mengalami perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara cepat. Cara pandang manusia sebagai subjek yang bebas, ia mampu menciptakan pengalaman-pengalaman baru serta dinamis. Penemuan dunia baru yakni Amerika dan Asia. Di bidang agama muculnya revolusi agama oleh Mathin Luher. Perkembangan iptek dan industrialisasi yang menggambarkan manusia yang semakin kristis, rasional, individualistis, analitis, materialistis. Muncul perluasan kebutuhan dan komunikasi dengan dunia luar terutama oleh kemajuan ilmu filsafat.

1.3. Batas Dunia Sekular, Dunia Rohani Pada Masa Sekarang

Masa sekarang berlangsung sejak tahun 1900 hingga sekarang ini. Pada awal masa sekarang ini mulai terbentuk negara-negara baru. Bangsa-bangsa di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin yang semula menjadi daerah kolonialis bangsa Eropa dan Amerika Serikat telah memproklamasikan kemerdekaannya terlepas dari belenggu penjajahan. Ekonomi dan ilmu pengetahuan telah merambah dunia, bahkan hingga ke luar planet bumi. Manusia bahkan telah membangun Laboratorium ruang angkasa. Pendaratan manusia pertama di bulan menjadi peristiwa besar dalam sejarah ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, tercatat banyak kemajuan baik sosial, politik, ekonomi, militer, demokrasi, pendidikan, transporatasi dan pertahanan dan keamanan.

Di kawasan Asia Tenggara sendiri, pengunduran Inggris di kawasan semenanjung Malaya menjadi penyebab terbentuknya negara-negara Federasi Malaysia, Singapura, dan Brunei. Juga Philipina tidak lama kemudian mendapatkan kemerdekaannya. Negara-negara ini kemudian membentuk organisasi Asean yang dewasa ini sudah terdiri atas 13 negara di kawasan Asia Tenggara.

Sementara itu, dipelopori Presiden RI Ir Soekarno, telah membangkitkan kesadaran bangsa-bangsa Asia-Afrika, yang telah berhasil menyelenggarakan sebuah konferensi Asia dan Afrika (AA) di Bandung. Gerakan Non-blok dan sederetan gebrakan lainnya, yang pada dasarnya menjadi tonggak kebangkitan negara-negara baru dalam zaman sekarang ini. Dua perang dunia pada zaman sekarang ini yakni worldwar I dan II telah menimbulkan kesadaran akan akibat korban harta dan nyawa yang luar biasa bagi negara-negara yang terlibat sengketa.

Tokoh pemikir yang terkenal pada zaman ini adalah Feuerbach, Marx, Nietche, Kierkegaard. Tercatat fenemonolog Edmund Husserl, sebagai bapa fenomenolog hidup pada masa ini. Setetelah Husserl berturut-turut beberapa fenomenolog yang terkenal seperti Heidegger dan filsuf eksistensial Kierkegaard. Terdapat beberapa filsuf yang berbeda pandangan dengan Kierkegaard yakni Jean Paul Satre danMerleauponty.

IImu pengetahuan dan teknologi dan ekonomi telah meningkatkan kesejahteraan manusia, Penemuan-penemuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa banyak kemajuan dalam kehidupan manusia, salah satu contohnya adalah dalam bidang komunikasi, penjelajahan ruang angkasa dst. Namun kemajuan iptek pada gilirannya juga membawa dampak negatif. Beberapa hal bisa disebutkan di sini, misalnya: manusia zaman sekarang telah kehilangan arah dan kepercayaan diri, kehilangan iman dan nilai-nilai kehidupannya. Manusia dihantui kecemasan, tekanan, merosotnya kepribadian, acuh tak acuh terhadap hidup, singkatnya manusia telah menjadi bingung dengan dirinya sendiri, manusia mengalami ketergangguan mental dan jiwanya.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga telah membahayakan seni, kebudayaan, agama, moral, metafisika dan pendidikan. Malahan teknologi menjadi momok bagi manusia sendiri, misalnya rasa kemanusiaan manusia menjadi hilang. Herman Ziock mengatakan, betapa kejamnya teknologi, lebih kejam dari Nuklir. Titik mulai masa sekarang adalah pada tahun 1900 hingga saat ini. Pada masa sekarang ini muncul humanisasi dan keadilan. Beberapa revolusi yang terjadi pada masa ini adalah: Revolusi Rusia (1917), Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia, Universal Deklaration Of Human Rights (1948), Tahun 1950 dianggap sebagai akhir zaman Kolonialisme.

4. Catatan Penutup

Demikianlah yang bisa dijelaskan hal-hal yang menyebabkan terjadinya pencampuradukkan urusan-urusan sekular dengan urusan-urusan rohani. Pada bagian penutup ini akan dikemukakan beberapa faktor yang menyebabkan pencampuran tersebut:

a. Manusia masa sekarang kurang menerima dan mengakui perbedaan. Manusia cenderung menyamaratakan sesuatu, termasuk menyamaratakan hal-hal jasmaniah dan hal-hal rohaniah. Ini disebabkan mulai hilangnya nilai-nilai iman dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai atau pengetahuan kekristenan mulai diganti dengan nilai-nilai dan pengetahuan yang bersifat duniawi/sekular/kafir. Situasinya hampir mirip ketika memasuki akhir masa abad pertengahan dan memasuki abad modern (1500-1850), di mana hukum-hukum kristen diganti dengan hukum-hukum Romawi dan Yunani klasik yang bersifat kafir, hal ini didukung oleh kemajuan iptek, individualisme, kemajuan ekonomi dan perkembangan filsafat.

b. Pengaruh kekristenan diganti oleh paham-paham lokal dengan dalih inkulturasi yang berbau kafir. Para gembala pribumi memerankan diri mereka sebagai pemimpin adat. Mereka telah menggantikkan peranan para tokoh adat. Para gembala sekarang bertindak seperti dan menggantikan peran para pemimpin adat. Mereka juga memainkan kepemimpinan gereja dengan model kepemimpinan adat yang agak kafir dan sekular. Misalnya, hiasan pada Kasula Imam dengan model tenunan adat yang berbau kafir. Mereka juga merayakan ekaristi dengan model dan perayaan adat. Dengan dalih inkulturasi dengan pewartaan Injil, banyak hal yang dibuat sebagai alasan dari inkulturasi, seperti perayaan liturgi dan nyanyian adat, terasa seperti mengambil alih paham kekafiran, sebelum perjumpaan masyarakat asli dengan kekristenan. Sebuah bukti betapa manusia sekarang mulai kembali kepada hal-hal yang berbau kafir. Sesuatu yang persis sama seperti zaman Yunani dan Romawi klasik/kuno.

c. Pesta-pesta yang penuh tarian, irama dan musik, merupakan pesta-pesta yang sangat terkesan kafir dan berbau klasik, ingat bahwa pada zaman Yunani Kuno dan Romawi Kuno, pesta seperti itu merupakan sebuah bentuk kehidupan yang sangat sekularlistis. Pesta yang penuh tarian, irama dan musik adalah bagian dari kehidupan sekularistis manusia Romawi dan Yunani klasik untuk menghormati dewa-dewi mereka, yang berarti bahwa pesta seperti itu, memang sungguh bernuansa kafir.

Kalau kita membandingkan aktivitas pesta dan tarian adat di Nusa Tenggara (Timur) maka boleh dikatakan bahwa pesta dan tarian juga tak terlepas dari sebuah bentuk ritus penghormatan secara tradisonal (yang berbau kafir, dan terjadi sebelum para suku/klan itu ditebus menjadi kristen), demi menghormati leluhur mereka. Sesuatu yang berbau masih kafir, sebuah agama sederhana yang dibuat oleh orang Nusa Tenggara sebelum perjumpaan dengan Kekristenan.

Akhirnya mengakhiri tulisan ini, saya hanya bisa berharap agar semoga gereja semakin menemukan jati diri dan peranan yang sebenarnya dalam zaman sekarang ini.

KEPUSTAKAAN:

1. Dr. Theo Huijbers, SJ, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah (Yogyakarta: Kanisius, 1990)

2. Dr Ozias Fernandez, SVD, Citra Manusia Budaya Timur dan Barat (Ende: Nusa Indah, 1990)

                         _______________________________

 

Manusia: Makhluk Multidimensi (2)

Oleh: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: 5 Januari 2012

1. Pengantar

Pada bagian pertama dalam tulisan ini telah dijelaskan pemikiran tentang manusia dari sudut antropologi, sosiologi dan psikologi. Telah dikemukakan beberapa pandangan dan pemikiran dari para ahli sosiologi, antropologi dan psikologi tentang manusia. Bagian ini akan memuat beberapa pandangan tentang manusia yang belum dibahas pada bagian pertama, yakni filsafat dan teologi katolik, juga spiritualitas sebagai sebuah refleksi ilmu yang berhubungan dengan kedudukan dan fungsi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME yang merefleksikan dirinya dalam hubungan dengan imannya akan Allah. Pembahasan dalam bagian ini akan berkiblat pada usaha manusia untuk menemukan dan kemudian hidup bersama menuju tujuan akhirnya dalam ziarah menuju Sang Khalik. Kita akan membahas bagian ini dalam prespektif tentang bimbingan dan pendampingan bagi kaum muda di mana pun kita bekerja dan mengabdi.

2. Pandangan Singkat Manusia dari Prespektif Filsafat, Teologi dan Spritualitas

Menurut arti kata, filsafat adalah sebuah kebijaksanaan hidup (filosophia), tidak semua kebijaksanaan hidup disebut filsafat namun yang disebut filsafat adalah pengalaman hidup yang telah diselidiki terus-menerus dengan sebuah format ilmiah, dengan sistem berpikir dan metode berpikir yang memadai. Obyek filsafat adalah totalitas yakni keseluruhan, pandangan hidup yang menyeluruh, dan karena itu pula filsafat lebih meneliti makna hakiki dari hidup. Keduanya baik filsafat maupun teologi sama-sama merumuskan tujuan akhir dari hidup manusia (finalitas teleologis) dan tata nilai objektif dari hidup manusia (finalitas asiologis). Dalam sejarah filsafat kristen, dipelajari juga tentang sejarang Filsafat Barat Kuno karena Yesus Kristus datang ke dalam dunia, Dia hidup dan membawa serta peradaban Yunani klasik dan Romawi klasik, kebudayaan Latin. Melalui perjumpaan dengan budaya-budaya setempat, Dia menyebarkan sebuah sejarah yang mencakup seluruh dunia dan sekaligus mengubah wajah dunia.

Dalam bimbingan, filsafat membantu manusia untuk mengenal dirinya sendiri, lingkungan hidup dan bidang-bidang yang bersifat totalitas. Adagium baru yang terkenal sekarang adalah: Filsafat merupakan bidan teologi. Filsafat adalah orang yang memberi obat dan menentukan penyakit dari teologi sendiri. Pasien adalah teologi dan filsafat yang merawat teologi. Tanpa filsafat, teologi bisa mati. Teologi sementara sakit dan teologi kini sedang dirawat oleh bidan yakni filsafat. Atau bila teologi sakit maka teologi membutuhkan filsafat sebagai bidannya. Demikian kesimpulan dari adagium baru: Filsafat adalah bidan teologi.

Refleksi filosofis atas pertanyaan, siapakah dirik telah menimbulkan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang belum selesai. Ia menemukan dalam dirinya banyak keinginan, cita-cita, pengharapan dan kemungkinan. Dia adalah makhluk yang terbuka karena ia tidak menerima hidupnya secara pasif saja.

Menurut P. Leenhouwer, keberadaan manusia sebagai makhluk berkebutuhan membawa implikasi berikut:

Pertama, hidup sebagai manusia berarti hidup di dalam dunia. Menurut Heidegger,paham ini lebih menunjukan keberadaan dan relasi manusia dengan dunia yang mencapai pemenuhan dalam kebutuhan hidup manusia. Kebutuhan akan hal itu berlangsung dalam dialog dan keterkaitan yang dinamis dengan dunia. Hal ini terjadi melalui usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yakni dengan bekerja. Kerja manusia bukan hanya sebuah akhtivitas yang amat manusiawi tetapi lebih dari itu dengan bekerja manusia dapat menghayati inti hidupnya yang khas.

Kedua, manusia adalah sesama manusia. Manusia adalah sesama manusia. Menurut hakekatnya manusia membutuhkan dunia atau situasi namun dunia atau situasi itu bukanlah milik pribadinya tetapi setiap orang membagi dunianya dengan orang lain. Karena itu setiap orang harus terlibat bersama dalam ketergantungan yang erat dan tak terpisahkan. Keterlibatan berarti partisipasi antara anggota masyarakat dalam hidup bersama secara utuh. Setiap orang harus menerima perbedaan sebagai anugerah dalam kehidupan. Perbedaan merupakan jembatan emas menuju cita-cita hidup bersama. Dalam perbedaan orang menghormati ekspresi dan kreatifitas antar individu manusia.

Ketiga, hidup manusia sebagai keterarahan terhadap Allah. Pada tahab ini kita mengenal adanya Allah dalam relasi antara manusia dan manusia dengan wujud Tertinggi yang merupakan urusan ilmu Teologi yakni ilmu tentang Tuhan. Unsur relasi dan keterarahan kepada Allah merupakan pokok perhatian utama seorang yang beriman kristiani. Keterarahan kepada Allah harus dilihat sebagai aku, berarti pengerahan sungguh-sungguh kepada Allah yang pada hakekatnya tidak dapat diceraikan dari relasi manusia yang berganda dengan dunia dan sesamanya.

Para pembimbing harus menyadari bahwa para peserta bimbingan adalah orang-orang yang sementara memiliki ideal-ideal khusus tentang masa depan dan hidupnya sendiri. Pesrta bimbingan adalah orang-orang yang sementara mencari makna hidupnya sendiri. Menurut Max Scheller, seperti dikutip Dr. F. MardyPrasetya, idealisme dan pencarian makna hidup pada manusia merupakan cerminan manusia sebagai diri relasional. Manusia secara intrinsik memiliki relasi dan selalu terarah kepada finalitas atau tujuan entah sebagai pribadi ataupun keadaan yang ideal.

Kristus memanggil manusia lewat SabdaNya, “Jadilah sempurna seperti Bapamu di Surga sempurna adanya”. Kesempurnaan hidup ditafsirkan sebagai integrasi dan keutuhan menyeluruh. Tuhan YME dari kekal hingga kekal menginginkan agar orang menjadi berbahagia selama-lamanya. Namun kebahagiaan itu tidak bisa terjadi tanpa pribadi yang seluruhnya utuh dan terintegrasi.

Perwujudan manusia seutuhnya terjadi dalam dan melalui pranata sosial manusia. Menurut Prof Dr Alex Lanur, pranata sosial atau societas manusia meliputi interaksi manusia di dalam institusioanalisasi meliputi:

Pertama, person, personage dan karikatur. Person sebenarnya berarti topeng, wajah dan nama. Wajah lahir yang diperoleh oleh kontrak sosial yang lain adalah wajah sebagai pengungkapan diri. Biasanya manusia memainkan banyak peran dan gambaran banyak topeng. Semakin ia berhasil mengungkapkan diri dalam peranannya, semakin ia menjadi person. Personage adalah pengungkapan kepribadian yang belum utuh. Menurut Prof. Dr Alex Lanur, yang dimaksudkan dengan kebebasan manusia adalah:

(a). kebebasan sebagai cita-cita kesempurnaan eksistensial

(b). Kebebasan psikologis

(c). kebebasan masyarakat.

Ketiga macam kebebasan ini saling berhubungan menurut kerangka logis dan eksistensial. Dengan demikian, maka kita dapat mengarahkan para peserta bimbingan untuk selalu mengarahkan semua kehidupan sosialnya pada mutu atau nilai atau kualitas hidupnya. Kebebasan bukanlah berarti bahwa saya dapat berbuat sebebas-bebasnya dan mengatasi kebebasan itu sendiri. Namun kebebasan berarti bebas untuk bertanggung jawab dan menganalisa kehidupan sosial menuju kualitas dan mutu hidup manusia.

Kedua, Unsur kebebasan manusia merupakan sesuatu hal yang sering didiskusikan. Dalam Teologi kita belajar bahwa Sabda Allah yang memanggil manusia sering ditaburkan secara bebas oleh Allah sendiri. Manusia telah diciptakan dengan kemungkinan dan kemampuan untuk berdialog dengan Allah sebab manusia diciptakan secitra dengan Allah (Kej.1:27, Gaudium Et Spees No.12) dengan kebebasan akal budi dan kemampuan untuk mentransendensikan dirinya. Usaha secara terus-menerus untuk mencari Allah disebut transendensi diri teosentris yang perlu secara terus – menerus diperkuat dengan semangat pertobatan (conversion). Ada empat semangat pertobatan (4) yang bisa dapat dilakukan yakni:

a. Pertobatan intelektual yakni pertobatan ilmu pengetahuan dan kemampuan kognitif manusia menuju nilai dan cita-cita hidup yang bisa dapat diterima dalam seluruh relasi hidup manusia universal. Dewasa ini intelektual memainkan peranan yang sangat sentral dalam kehidupan bermasyarakat. Kemajuan peradaban dunia memerlukan kemampuan intelektual dan daya-daya rational manusia. Memproduksi bahan-bahan berbahaya bagi kehidupan dalam jumlah banyak merupakan sesuatu yang tidak bisa diterima sebagai prestasi intelektual manakala hal itu membahayakan keselamatan banyak orang dan perdamaian bersama yang dapat mengakibatkan kehacuran masal umat manusia. Karya intelektual harus menjamin adanya perdamaian dunia, keadilan sosial, penghormatan kepada kemanusiaan, agama, moral, hukum dan adat istiadat.

b. Pertobatan moral, yakni pertobatan dalam hubungannya dengan kehidupan moral manusia yang sesuai dengan tujuan hidup manusia yang diharapkan dalam hidup bersama (communio). Moral merupakan salah satu norma dasar dalam hidup bersama sebagai makhluk Pancasila sejati. Menjadi manusia yang Pancasilais berarti menaati norma-norma dasar dalam hidup bersama, seperti norma moral, norma agama, norma sopan santun, norma hukum, norma adat istiadat dan norma susila.

c. Pertobatan cinta adalah pertobatan dalam hubungan dengan saling menaruh belaskasihan dan saling menolong satu sama lain, saling memberi kemampuan atas dasar kejujuran dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Cinta adalah sebuah keutamaan dalam agama kita. Cita bukanlah sebuah keutamaan, ideal dan cita-cita abstrak namun cinta perlu direalisasikan dalam hidup setiap hari. Cinta berarti memberi dari ketulusan dan keutamaan kita, memberi dari kekayaan rohani dan kekayaan iman kita akan Allah yang hidup dan mencintai kita.

d. Pertobatan agama berarti bahwa agama harus merupakan sarana ekspresi iman yang membathin. Agama tidak mengejar cita-cita dan tujuan dari sekelompok orang demi kepentingan kekuasaannya. Ritual agama harus membawa orang kepada penemuan imanennya akan Allah Yang Maha Baik dan Allah yang membawa rahmat bagi semua umat manusia.

Spritualitas membantu seseorang kristen untuk berorientasi secara penuh kepada imannya sendiri akan Allah yang hidup. Nilai-nilai iman adalah nilai-nilai adikodrati yakni nilai-nilai yang bersumber kepada spiritualitas hidup kristennya. Bagi orang kristen seluruh aktivitas dan cita-cita hidupnya hendaknya tidak boleh membawa orang tersebut untuk bekerja dan berusaha demi kemuliaan dirinya sendiri namun demi kemuliaan Tuhan yang diimaninya. Dengan spiritualitas kristiani, seorang kristen dapat meneladani pribadi Kristus Tuhan sendiri dan hidup seperti Tuhan Yesus sendiri melalui ajaran-ajaranNya yang kita peroleh melalui Wahyu, Kitab Suci (Alkitab), ajaran gereja, spritualitas kristiani, spritualitas ordo dan konggregasi hidup bakti. Selain itu, usaha meneldani Kristus dapat diperoleh melalui kesaksian-kesaksian dalam keluarga, kaum religius, umat dan teman dekat sebab kita yakin bahwa Tuhan terus mewahyukan diriNya kepada gereja, kepada komunitas dan orang-perorangan yang beriman. Ia menyertai murid-muridNya hingga akhir zaman (Bdk. Mrk.18:20).

Selain itu pengalaman pribadi dengan Tuhan dalam doa pribadi dan pengalaman yang lainnya seperti bacaan, studi, refleksi hidup dan pengalaman melihat adanya kehadiran Tuhan dalam gejala semesta juga merupakan sebuah spritualitas yang menghidupkan iman kita akan Tuhan Yesus .

Jadi spritualitas lebih menunjukan arah, tujuan serta nilai yang mau dicapai oleh sebuah persekutuan. institusionalisasi, societas dan komunitas dalam Kristus. Usaha membangun relasi yang baik di dalam hidup bersama (komunitas) berarti tidak menyangkal kenyataan psikologi manusia konkret yang memiliki segi afeksi, sosial, rasional, dan rohani tetapi mengandaikan semuanya itu dan menyempurnakannya karena relasi bagi orang kristen tidak saja bersifat kodrati namun juga adikodrati.

3. Penutup

Pandangan tentang manusia dalam 2 bagian tulisan ini tentu akan memperkaya pemahaman kita tentang manusia sebagai subjek utama dalam kehidupan bermasyarakat dan sebuah institusi dalam hidup bersama. Masing-masing orang yang hidup bersama dalam kelompok komunitas dan masyarakat memiliki orientasi yang berbeda-beda. Orientasi yang penting bagi seorang kristen adalah orientasi demi nilai atau demi kualitas hidup bersama yang tinggi. Iman juga menjadi dasar dan kebenaran dari sebuah persekutuan hidup bersama.

Sekolah harus menjadi tempat orang melakukan transformasi hidup bersama dan transformasi diri untuk semakin menghayati kemanusiaan dirinya. Sekolah sebagai persekutuan membantu orang untuk tumbuh dan berkembang, mendewasakan diri, bersekutu dan bertumbuh ke arah nilai dan mengembangkan disposisi yang sesuai.

Disposisi dilihat sebagai kesiapsiagaan manusia untuk memberi jawaban yang benar tentang hidup dan panggilannya sebagai seorang kristen. Kesiapsiagaan seseorang harus tinggi ibarat seorang prajurid yang tetap siaga di medan jaga. Ibarat olahragawan yang selalu dalam kondisi siap bertanding, ibarat gadis-gadis bijaksana yang selalu siap dengan pelita di tangan dan juga minyak cadangan dalam buli-buli mereka sehingga ketika pengantin datang pada malam hari mereka telah siap dengan pelita yang bernyala di tangan dan cadangan minyak yang cukup tersedia..(Bdk perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh..(Mat.25:1-13.)

                                                  (Selesai)

KEPUSTAKAAN:

1. P. Leenhouwers, Manusia Dalam Lingkungannya, Refleksi Filsafat Tentang Manusia (Jakarta : Gramedia, 1988)

2. Prof. Dr. Alex Lanur, Manusia Dalam Pijar-Pijar Kekayaan Dimensinya(Yogyakarta: Kanisius, 1993)

3. F. Mardy Prasetya, PhD, Psikologi Hidup Rohani 1,2 (Yogyakarta: Kanisius, 1992)

4. Blasius Mengkaka, S.Fil, Pentingnya Pengolahan Hidup BagTercapainya Kematangan Hidup Religius (STFK Ledalero, Skripsi Sarjana, 2000)

5. Alkitab Deuterokanonika (Jakarta: LAI, 2011)

                         ________________________________________

� prev
top
next �

Manusia: Makhluk Multidimensi (1)

Oleh: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: 04 Januari 2012

Pendahuluan

Manusia sebagai makhluk multidimensi menunjukan bahwa manusia memiliki kekayaan dimensi yang luar biasa untuk dipelajari. Kekayaan manusia dalam dimensi-dimensinya menjadi kajian berbagai ilmu untuk menemukan, mengakui, merumuskan, menganalisis dan akhirnya ilmu-ilmu berusaha untuk menyelesaikan sejumlah problematika manusia yang secara eksistensial merupakan makhluk problematika atau makhluk penuh persoalan dan masalah. Sejumlah problematika manusia mengakibatkan manusia yang hidup di lima benua ini memiliki sejarah, tampilan lahiriah (esensi), tingkatan ekonomi, pendidikan, daerah, sosial, politik, idiologi, biologis, dan seterusnya yang berbeda dan khas.

Dalam bagian ini akan dijelaskan kajian sejumlah ilmu tentang manusia sebagai bagian yang amat penting untuk dicermati dan ditelaah agar mempermudahkan seorang pendidik atau pendamping untuk melakukan analisis dan bimbingan.

2. Gambaran Singkat Manusia Dalam Kajian Ilmu-Ilmu Empiris

2.1. Psikologi

Manusia dalam kajian psikologi adalah manusia yang dapat dilihat dari tampilan-tampilannya hal mana melalui tampilan-tampilan lahiriah tersebut, dapat dianalisis dan dipelajari pernyataan-pernyataan jiwa manusia, yang nampak/bisa diamati secara indrawi.

Misalnya: dalam gerak-gerik tubuh yakni tanda-tanda lahiriahnya misalnya nada suara, cara berbicara, cara berpikir dan bersikap, mimik suara, mimik gerak dan seterusnya. Gerak-gerik manusia itu sendiri menunjukan dan menggambarkan gejala-gejala jiwa yang melingkupi dirinya. Gerak-gerik manusia merupakan pernyataan jiwa manusia tersebut. Pada umumnya psikologi menyoroti manusia dalam:

(1). struktur kepribadiannya

(2). proses kepribadian.

Struktur kepribadian manusia adalah esensi (=keberadaan) manusia yang selalu bersifat menetap/tetap/statis/tidak berubah, misalnya: jenis kelamin, struktur tubuh (kaki, tangan, mata, telinga, hidung, kepala, rambut, dst) yang selalu sama dan tetap antara semua manusia dalam kondisi dan situasi manapun juga, struktur jasmaniah dan rohaniah, pria dan wanita, sifat-sifat khas manusia seperti: minat/perhatian, selera, keinginan, minat, hoby dan bakat, hawa nafsu, dengki, iri hati dan perasaan-perasaan tertentu

Menurut teori psokoanalitik Sigmund Freud, seperti juga dikutip Dr Supratignya, kepribadian terdiri dari 3 element yakni: id, ego dan superego. Ketiganya bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.

a. Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek id kepribadian seluruhnya adalah sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis. Id didorong oleh prinsip kesenangan, kepuasan segera dari semua keinginan dan kebutuhan. Jika kebutuhan itu tidak terpuaskan secara langsung hasilnya adalah kecemasan atau ketegangan. Sebagai contoh: rasa lapar dan haus harus membuat orang untuk segera makan atau minum. Id ini sangat penting sebagai awal dari hidup, contohnya adalah bayi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman maka ia akan menangis sampai tuntutannya terpenuhi. Menurut Freud, id mencoba menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama yang melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan.

b. Ego, ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dengan cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego berada  pada pikiran sadar, prasadar dan pada prinsip sadar dan prinsip tidak sadar. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas dengan berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan cara-cara sosial yang sesuai. Prinsip ego dalam realitas tercermin dalam perasaan seperti perasaan tertekan memikirkan beratnya biaya. Ego merasakan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan dan kemudian bertindak karena ego berfungsi menangani realitas. Prinsip realitas meninggalkan impuls. Impuls id dapat diperoleh dengan proses menunda kepuasan ego yang pada akhirnya memungkinkan manusia berperilaku pada waktu dan tempat yang tepat.

c. Superego, Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standard internasionalisasi moral. Superego dapat bersifat warisan atau keturunan. Oleh karena itu superego diwariskan dari kedua orang tua dan juga masyarakat atau juga sukunya. Superego memberi pedoman untuk memberi penilaian. Ada 2 bagian superego:

(1). superego ideal yang memberi standard berperilaku yang baik yang membuat orang bangga. Superego mengejar nilai dan prestasi dalam kehidupan manusia.

(2). Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Superego hadir dalam unsur sadar, prasadar dan tidak sadar.

Catatan: Dalam kepribadian manusia terjadi Interaksi id, ego dan superego. Dalam interaksi itu bisa saja akan memunculkan konflik antara ketiganya. Dalam konflik itu, menurut Freud, ego masih akan terus berfungsi, sementara 2 kekuatan itu berduel. Terjadilah tekanan yang menjurus pada stress dan depresi pada manusia. Seorang dengan kekuatan ego yang baik akan secara efektif mengelola tekanan ini sedangkan mereka dengan kekuatan ego yang sangat sedikit dapat menjadi keras hati atau terlalu mengganggu.

Proses pembentukan kepribadian seseorang dicapai melalui sosialisasi. Tujuan sosialisasi adalah proses pengenalan diri sendiri dan orang lain dengan peranannya masing-masing. Melalui sosialisasi seseorang menyesuaikan perilaku dengan orang sesuai dengan yang diharapkan, menanganl dirinya, mengembangkan segenap potensinya untuk menjadi anggota masyarakat dengan menanamkan nilai-nilai dan kepercayaan sebagai pedoman dalam kehidupannya.

Tujuan sosialisasi adalah: untuk mengetahui dan mengenal lingkungan sosial masyarakat di mana dia tinggal dalam keluarga (bapak, mama, saudara/i), mengetahui lingkungan sosial masyarakat, misalnya: tetangga dan teman bermain, mengetahui lingkungan alam sekitar, mengetahui sistem nilai dan norma, misalnya: adat istiadat, norma hukum dll, dan mengetahui lingkungan budaya dalam masyarakat. Dalam proses pembentukan kepribadian melalui sosialisasi seseorang dapat menyesuaikan diri dengan keluarga/suku dan dapat berintegrasi dengan lingkungan sosial masyarakat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan kepribadian adalah faktor dalam diri sendiri seperti: faktor biologis pribadi (bentuk tubuh, golongan darah, wajah, dll), faktor kecerdasan (IQ,EQ dan SQ) serta potensi bakat dan keterampilan. Sedangkan faktor dari luar pribadi adalah: keluarga, lingkungan masyarakat sekitar, lingkungan bermain/pergaulan serta pendidikan dan pekerjaan

Faktor-faktor dalam pembentukan kepribadian adalah: faktor keturunan, lingkungan alam, lingkungan budaya dan situasi. Unsur-unsur pembentukan kepribadian adalah unsur pengetahuan dan perasaan. Tipologi kepribadian adalah karakter kepribadian yang meliputi: sikap realistis (keterampilan, kekuatan dan koordinasi), investigatif (pemahaman), sosial, konversional (formal, kegiatan yang diatur dengan jelas), enterfishing (mempengaruhi orang lain), artistik (kesenian atau keindahan).

Proses kepribadian juga diatur oleh norma-norma sosial manusia yakni norma hasil interaksi dengan masyarakat bukan pembawaan manusia sejak lahir, terbentuk melalui proses belajar, dapat mempengaruhi perkembangan pribadi serta bervariasi dari budaya ke budaya. Proses kepribadian mengandung sanksi bagi warga masyarakatnya. Tahab-tahab norma sosial adalah: cara, kebiasaan (folkways) dan norma tata kelakuan (mores) dan norma hukum.

Jenis-jenis norma sosial adalah norma susila dan kesopanan, norma adat atau kebiasaan, norma agama dan norma hukum. Adapun fungsi dari norma sosial adalah mencerminkan suatu kualitas referensi dalam tindakan, memberikan sumbangan berarti bagi pembentukan pandangan tentang dunia mereka, memberi perasaan identitas kepada masyarakat (Maurice Doverger).

Norma sosial bermuara dan bersumber pertama-tama pada nilai-nilai sosial sebagai petunjuk berperilaku dalam masyarakat yang mengandung sumber kebaikan dan dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan dan yang kedua adalah sebagai pelindung pihak-pihak yang lemah karena norma sosial dapat membatasi gerakan pihak-pihak yang kuat untuk melaksanakan perilaku sekehendak hatinya.

Sedangkan proses kepribadian juga menyangkut konsep-konsep tentang motivasi untuk menjelaskan tentang dinamika tingkah laku dan perkembangan tingkah laku manusia yang digerakkan oleh daya-daya psikodinamik seperti motif-motif tingkah laku yakni motivasi apa yang mendorong seseorang berbuat atau bertingkah laku, konflik-konflik atau pertentangan atau permusuhan dan perselisihan yang menimpah manusia pada kondisi, tempat, situasi dan latar belakang daerah tertentu.

Konflik-konflik manusia sering juga bermuatan pada kecemasan-kecemasan manusia akibat konflik-konflik tersebut dan karena itu orientasi ini disebut orientasi psikodinamik karena menyelidiki keadaan psikologi dari dinamika manusia pada kondisi dan tempat tertentu.

Misalnya: kondisi psikologis dari manusia pada daerah yang dilanda letusan gunung Merapi, apa situasi psikologis anak-anak, remaja dan orang dewasa terhadap sebuah relasi? Dinamika patologis apa saja yang nampak setelah peristiwa letusan Merapi yang menimbulkan banyak korban tersebut? Apakah ada luka-luka bathin, trauma psikologi pada anak-anak didik kita? Kondisi patologis yang menimpah para siswa/mahasiswa atau penduduk di daerah gempa atau pasca gempa dan juga di daerah yang dilanda konflik, bisa mengakibatkan rendahnya ketahanan individul keluarga, masyarakat, yang pada tahab berikutnya bisa menurunkan ketahanan bangsa.

Selain itu dapat diteliti kondisi psikodinamika manusia pada daerah lain yang terkena bencana, daerah tertinggal dan perbatasan dan konflik horisontal, seperti tsunami di Aceh, bencana alam di Wasior Papua, tsunami di Mentawai dan semacamnya. Jadi tingkah laku manusia digerakan oleh konflik-konflik, dan kecemasan-kecemasan dalam kondisi dan tempat di mana manusia itu hidup dan berada bersama orang-orang atau manusia lain yang senasib.

Pada pihak lain tingkah laku manusia merupakan hasil sebuah pembelajaran yang bersifat mekanistis lewat sebuah proses perkuatan (reinforcement) yang dalam psikologi digolongkan dalam orientasi behavioristik. Tingkah laku manusia sebagai sebuah hasil pembelajaran secara mekanistis merupakan kenyataan alami manusia sendiri.

Misalnya, bila seseorang selama usia hingga 16 tahun hidup di sebuah desa di kaki gunung yang jauh dari pantai, maka dia secara mekanistis telah menyesuaikan dirinya dengan kondisi tersebut. Hawa gunung yang segar, angin gunung, hutan belukar, makanan yang diambilnya dari gunung membentuk gambaran yang sesuai pada diri orang itu sebagai orang yang hidup jauh dari pantai.

Namun suatu saat karena mengikuti seseorang, dia berpindah di tepi pantai dan ada keharusan secara mekanistis untuk menyesuaikan diri dan bertingkah laku sebagai orang yang hidup di pantai, misalnya menangkap ikan di laut, memakan sayuran laut, memilih ikan-ikan dengan jenis yang bagus dari laut. Pendeknya secara mekanistis orang tersebut akan sangat mudah untuk menyesuaikan dirinya sebagai orang pantai lewat sebuah proses belajar yang bersifat perkuatan secara mekanistis. Dalam jangka waktu lama dia akan menyesuaikan diri dengan kondisi sebagai orang pantai.

Kemudian dia berpindah pada sebuah daerah industri yang memaksanya untuk hidup sebagai pekerja industri itu. Demikianpun orang itu bisa saja akan kembali seperti semula yakni menjadi orang desa di kaki gunung dengan tingkah laku sebelumnya ketika di masih kecil hingga berumur 16 tahun.

Proses reinforcement atau perkuatan itu berlangsung seumur hidup dan merupakan salah satu dari banyak proses pembelajaran secara mekanistis yang dapat dialami oleh manusia di belahan dunia mana pun.

Pembelajaran yang lain dapat disebutkan di sini, misalnya: meniru peranan dari tokoh idola, tokoh favorit, orang tua, guru, dll, Lewat latihan, misalnya latihan menyanyi, latihan menari, dll.

Pada bagian lain psikologi menyoroti manusia sebagai suatu oraganisme utuh dan padu karena itu tingkah laku manusia tidak dapat dijelaskan semata-mata berdasarkan aktivitas bagian-bagiannya (orientasi holistik) tetapi lebih kepada cara manusia mempresepsikan dan mengalami diri dengan dunianya (orientasi fenomenologis). Cara manusia mempresepsikan diri dengan dunianya dapat dilihat dalam ungkapan-ungkapan dalam sastera kesenian daerah, berupa nyanyian adat, pantun dan seni ukir patung.

Dalam nyanyian adat, terlihat presepsi manusia berbeda seturut wilayahnya, entahkah dataran rendah, pantai atau bergunung-gunung. Ritme kesenian itu bisa juga menggambarkan tata cara presepsi manusia berhadapan dengan lingkungan hidupnya. Juga terlihat pada presepsi manusia dalam lingkungan kota kecil, kota besar, metropolitan bahkan megapolitan.

Ekspresi masyarakat dalam kota-kota tersebut bisa menggambarkan kondisi lingkungan, tempat manusia itu berasal dan hidup dalam lingkungannya sendiri. Dewasa ini kota merupakan pusat kegiatan politik, pemerintahan, agama, kultural, sosial dan ekonomi, mulai bergeser seiring dengan kemajuan sistem komunikasi dan informasi yang mulai merata hingga ke pelosok-pelosok daerah yang dahulunya sangat tertutup. Sangat mudah mengakses informasi dari bebagai dunia lewat sistem komunikasi yang sedemikian modern ini.

Sigmund Freud, telah memberi sumbangan besar dalam psikologi, melalui teori psikoanalisa klasiknya, dengan gagasan bahwa manusia tidak hanya terdiri dari kesadaran namun lebih banyak ketidaksadaran, sebagaimana dikutip, Dr. A. Supratiknya:

“Jiwa dapat dibandingkan dengan gunung es, di mana bagian yang lebih kecil yang muncul pada permukaan air menggambarkan daerah kesadaran, sedangkan masa yang jauh lebih besar, di bawah permukaan air menggambarkan daerah ketidaksadaran. Dalam daerah ketidaksadaran yang luas itu ditemukan dorongan, nafsu, ide dan perasaan yang ditekan. Suatu dunia bawah sadar yang besar berisi kekuatan-kekuatan vital dan tak kasat mata yang melaksanakan kontrol penting atas pikiran dan perbuatan sadar individu”.

Dalam bimbingan, psikologi membantu manusia meningkatkan kebebasan efektifnya, memunculkan dan meneliti unsur-unsur bawah sadar manusia, meningkatkan kepekaan untuk menyadari adanya gangguan dalam pribadi dan berusaha mengatasi gangguan-gangguan tersebut. Pendekatan behaviouristiktentang manusia dalam psikologi bimbingan memungkinkan pengetahuan akan manusia yang dirangsang oleh stimulus respons akan lingkungan diri manusia yang mengitarinya. Pendekatan psikoanalisa Freudiana dalam bimbingan membantu kita untuk melihat pribadi manusia yang dipengaruhi oleh impuls-impuls atau dorongan bawah sadar yang disebut instink.

Keempat psikolog yang termasuk mazhab Freudiana adalah Fromm, Hegel,Maslow dan Rogers. Fromm melihat manusia sebagai subyek yang menentukan relasi dalam segala bidang relasi. Hegel melihat kemanusiaan transendensi diri egosentris sebagai kecenderungan kemanusiaan kita. Rogers melihat unsur self aktualization (aktualisasi diri) sebagai unsur dasar dari kemanusiaan. Maslow melihat self realization (realisasi diri) sebagai pokok utama kehidupan manusia.

Aliran psikologi Freudiana sangat menekankan pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia. Manusia harus dilihat sebagai subjek dalam relasi antarmanusia (Intersubjektivitas) yang melahirkan cinta (Fromm). Akan tetapi dalam kemajuan ekonomi sering manusia menjadi seperti benda atau objek, atau mesin, dan karena itu bisa mengakibatkan sebuah relasi yang indifferent.

2.2. Sosiologi dan Antropologi


Sosiologi mempelajari manusia sebagai makhluk relasional yang mengaktualisasikan hidupnya dalam persekutuan hidup bersama. Dalam persekutuan hidup bersama ada norma, daya, irama dan dorongan (Rilke). Para ahli Sosiologi seperti: Max Weber, Leon Duguit, Maurice Haurioau, seperti yang dikutip Dr Theo Huijbers berusaha mendalami aktualisasi hidup manusia dan persekutuan hidup bersama. Menurut Max Weber, ciri khas kenyataan sosial direalisasi menurut nilai-nilai kebudayaan. Dengan mengakrabi kebudayaan sendiri manusia merasa aman, kerasan meningkatkan kepercayaan diri yang tinggi. Manusia secara bebas mengungkapkan diri dalam aspek-aspek terdalamnya melalui kebudayaan. Kebudayaan adalah tanda kebebasan paling dalam dari individu dalam hidup bermasyarakat yang melibatkan segenap dimensi kelompok baik dimensi emosional maupun dimensi intelektual.

Leon Duguit menekankan solidaritas sosial sebagai dorongan dasar hidup bersama (social solidarity). Menurut Duguit, masyarakat sekarang adalah masyarakat karya, dan dalam masyarakat karya terjadi suatu ketergantungan timbal balik. Sedangkan Maurice Haurioau, menekankan institusionalisme sebagai medium perkembangan hidup manusia.

Seorang Antropolog dari Serikat Sabda Allah (SVD) Anton Quack, dalam VERBUM 35/1994, menulis bahwa kebudayaan mengatur setiap irama dan dinamika kelompok masyarakat, sebagaimana dijelaskan berikut:

Keistimewaan yang paling mencolok adalah konsepsi kebudayaan yang bersifat holistik-utuh menyeluruh atas kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan dialami sebagai yang meliputi segala sesuatu, yaitu sebagai horison atau latar belakang mental yang sama dari suatu kelompok yang menentukan pola tindak dari kelompok tersebut. Kiblat kognitif yang sama itu memungkinkan para anggota kelompok bertindak dalam suatu situasi tertentu seturut harapan kelompoknya. Kesamaan mental kelompok tersebut diwarisi dan diperoleh tidak bersifat bawaan. Ia merangkum segala aspek kehidupan dari anggota kelompok: bahasa. pola pikir, pengandaian, cara pandang atas dunia. Nilai tingkah laku religius, politik, sosial dan ekonominya, dll. Ditilik dari segi ini, kebudayaan membentangkan koherensi fungsional dari semua aspek utama, dari kehidupan suatu kelompok (agama, hidup sosial dan politik, bahasa dan sistem pemikiran).

Antropolog Anton Quack melihat keistimewaan Antropologi dalam hubungan dengan pengalaman eksistensial manusia yang telah berumur sangat tua dalam bentuk ekspresi kebudayaan manusia. Melalui kebudayaan masyarakat memiliki kemampuan bertahan lama dan mengejar nilai-nilai kehidupan tertentu. Kualitas manusia mengalami peningkatan dalam dan melalui nilai-nilai kebudayaan, yang menyangkut seluruh prespektif hidup manusia, termasuk bahasa dan ekspresi kehidupan manusia yang lain.

Pengalaman eksistensial manusia dalam kebudayaan menjiwai manusia seumur hidupnya. Pendidikan berarti juga memperhatikan aspek-aspek budaya manusia dengan meningkatkan mutu/kualitas kebudayaan dengan sentuhan-sentuhan baru dan dengan demikian berguna bagi kehidupan manusia sendiri selaras zaman. Melalui kebudayaan manusia memberi bobot yang tinggi bagi kehidupan bermasyarakatnya dan persaudaraan atau keakraban manusia menjadi lebih ditingkatkan, kehidupan manusiapun menjadi penuh dinamika.

                                         (Bersambung)

KEPUSTAKAAN:

1. Blasius Mengkaka, S.Fil, Pentingnya Pengolahan Hidup Bagi Tercapainya Kematangan Hidup religius, (STFK Ledalero Flores, Skripsi Sarjana, Tahun 2000)

2. Dr Theo Huijbers, Mencari Allah: Pengantar ke Dalam Filsafat Ketuhanan(Jakarta: Kanisius, 1992)

3. P. Anton Quack, SVD Antropologi and Mission: Antropology Within The Scope Of The Objectives Of The SVD Dalam VERBUM SVD, 35/1994

4. Dr A. Supratiknya, (ed), Teori-Teori Psikodinamik-Klinis (Yogyakarta: Kanisius 1993)

5. Dr. Th Huijbers, SJ, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah (Jakarta: Kasius, 1990)

6. Prof. FX Mudji Soetrisno, Ph.D, SJ, Manusia Dalam Pijar-Pijar KekayaanDimensinya (Yogyakarta: Kanisius, 1993)

7. BELAJAR PSIKOLOGI (Media Belajar Ilmu Psikologi & Bimbingan Konseling)www.ilmupsikologi.wordpress.com

                                                                                                                                               _____________________________________

Makna Natal dan Tahun Baru 2012

Oleh: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: 1 Januari 2012

Hari Raya Natal 25 Desember 2011 telah usai dilakukan. Perayaan misa Hari Raya besar agama Katolik di gereja berlangsung meriah dan semoga bisa membawa pendalaman iman bagi umat yang semakin kokoh berakar.

Perayaan HR Natal 2011, merupakan puncak perayaan liturgial gereja, setelah selama empat pekan umat mempersiapkan diri lewat masa Adventus, yakni masa di mana umat katolik merenungkan tentang jalan hidupnya dan mempersiapakan diri sebaik-baiknya dengan doa, korban dan derma menyongsong HR Natal 2011.

Misa pergantian tahun 2011 ke tahun 2012 juga telah selesai dilaksanakan,namun kita harus kembali merefleksikan akar iman kita, Apakah perayaan Natal yang sedemikian meriah ini sungguh membawa pembaharuan bagi iman umat kita?

Hari Raya Natal selalu beriringan dengan ibadat/misa perpisahan dan penyambutan tahun baru. Ini adalah sebuah perayaan setiap tahun. Perayaan liturgial gereja yang rutin setiap tahun hendak membawa orang pada permenungan tentang kehidupannya dan imannya akan Kristus Yesus, yang merupakan teladan dan pusat atau sentrum spiritualitas Kristiani.

Namun kekusukan ibadat Misa HR Natal dan misa pelepasan dan penyambutan tahun baru sering tenggelam oleh aktivitas berupa hingar-bingar kemeriahan di luar gereja oleh masyarakat. Kembang api, bunyi mercun, bebungaan Natal hingga beragam acara ceremonial di luar aktivitas ibadah yang imanen, sering lebih menonjol atau ditonjolkan. Mata dan hati orang lebih terbuka melihat akhtivitas di luar ibadah yan imanen.

Mereka lebih menyoroti pesta-pesta yang dilakukan di luar ibadah resmi di gereja. Sebuah gambaran dari tragisnya manusia zaman ini, yang telah terbuai oleh warna-warni Natal dan tahun baru. Pertanyaannya, Sebagai orang yang beriman, Apakah kita sudah sungguh-sungguh kita memaknai Natal dan menyambut tahun baru dengan hati dan iman yang murni? Pertanyaan ini menjadi titik tolak kita, dalam reflkesi misa Natal dan pelepasan tahun 2011 menuju tahun baru 2012.

Pesan Natal Tahun 2011 Bersama Oleh PGI dan KWI

Telah tiba pula tahun ini, hari Natal, perayaan kedatangan Dia, yang dahulu sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya sebagai, “seorang telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita, lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”. Tokoh inilah yang disebutnya juga di dalam nubuatan itu sebagai “terang yang besar” dan “yang dilihat oleh bangsa-bangsa yang berjalan dalam kegelapan”‘ Inilah khabar gembira tentang kedatangan sang Juruselamat, Yesus Kristus Tuhan kita.

Pada hari Raya Natal yang pertama itu, para gembala di padang Efrata, orang-orang kecil, sederhana dan terpinggirkan di masa itu, melihat terang besar kemuliaan Tuhan, bersinar di kegelapan malam itu. Mereka menanggapi sapaan Ilahi “Jangan Takut” dengan saling mengajak sesama yang dekat dan senasib dengan mereka dengan mengatakan satu sama lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada mereka”‘

Para majus yang masing-masing telah melihat terang besar di langit negara asal mereka, telah menempuh perjalanan jauh untuk mencari dan mendapatkan Dia yang mereka imani sebagai raja yang baru lahir. Mereka bertemu di Yerusalem dan mengatakan: “kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia”.

Sayang sekali bahwa di samping para gembala dan para majus dari Timur yang tulus itu, ada pula raja Herodes. Ia juga tahu tentang kedatangan Yesus, bukan hanya dari para Majus, tetapi juga dari keyakinan agamanya, tetapi ia malah merasa tersaingi dan terancam kedudukannya. Maka dengan pura-pura mau menyembahnya, ia mau mencari juga dengan maksud untuk membunuhNya. Ketika niat jahat ini gagal, ia malah melakukan kejahatan lain dengan membunuh anak-anak tak bersalah dari Bethlehem.

Kepada kita pun, yang hidup di negara kesatuan Republik Indonesia dan merayakan Natal pada tahun 2011 ini, telah disampaikan Kabar Gembira tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus, yang adalah, “Firman, yang di dalamnya ada hidup dan hidup itu adalah terang bagi manusia”. Memang yang kita rayakan pada hari Raya Natal itu adalah: Terang yang sesungguhnya yang sedang datang ke dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya”.

Tetapi sayang ialah bahwa “dunia tidak mengenalNya. Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaannya itu tidak menerimaNya. Dan kita tidak bisa, bahkan tidak boleh menutup mata untuk itu. Kita juga masih menyaksikan, bahwa bangsa kita masih mengalami banyak persoalan. Kemiskinan sebagai akibat dari ketidakadilan masih menjadi persoalan sebagaian besar bangsa kita, yang mengakibatkan masih sulitnya menaggung biaya-biaya, bahkan kebutuhan pokok hidup, apalagi untuk pendidikan dan kesehatan.

Kekerasan masih merupakan bahasa yang digemari guna menyelesaikan masalah relasi antara manusia. Kecenderungan penyeragaman, daripada keanekaragaman masih merupakan pengalaman kita. Akibatnya kerukunan hidup, termasuk kerukunan antar umat beragama, tetap masih menjadi barang mahal.

Korupsi, bukannya dihapuskan, tetapi malah makin beranak pinak dan memasuki segala aras kehidupan bangsa kita, bahkan secara membudaya. Penegakkan hukum yang berkeadilan dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia masih merupakan pergumulan dan harus tetap kita perjuangkan.

Pencemaran dan perusakkan lingkungan yang masih menyebabkan bencana alam, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetap mencemaskan kita. Mereka yang diberi amanat dan kekuasaan untuk memimpin bangsa kita ini dengan benar dan membawanya kepada kesejahteraan yang adil dan merata, malah cenderung melupakan tugas-tugasnya itu.

Oleh karena itu, saudara/i yang terkasih, dalam pesan Natal kami tahun ini, kami hendak menggarisbawahi kedatangan Kristus tersebut dengan bersaksi dan beraksi, bukan hanya untuk perayaan Natal kali ini saja, tetapi hendaknya juga menjadi semangat kita semua:

* Sederhana dan bersahaja: Yesus telah lahir di kandang hewan, bukan hanya karena “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” tetapi karena justeru Dia yang “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil ruipa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”

* Rajin dan giat: Seperti para gembala yang diberitahu tentang kelahiran Yesus dan tanda-tandanya, “lalu cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria, Yusuf dan Bayi itu”

* Tanpa membeda-bedakan secara eksklusif: Sebagaimana semangat kanak-kanak Yesus yang menerima para majus dari Timur seperti apa adanya, apapun warna kulit mereka dan apapun yang menjadi persembahan mereka masing-masing

* Tidak juga bersikap dan bersifat mengkotak-kotakkan karena Yesus sendiri mengajarkan bahwa “barang siapa tidak melawan kamu ia ada di pihak kamu”. Saudara/i yang terkasih, Tuhan Yesus yang kedatanganNya sudah dinubuatkan oelh Nabi Yesaya, hampir delapan ratus tahun sebelum kelahiranNya, disebut sebagai “terang besar” yang dilihat oleh bangsa-bangsa yang berjalan dalam kegelapan”. Nubuat itu direalisasikanNya sendiri dengan bersabda: “Akulah terang dunia; barang siapa mengikuti Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup”.

Di samping penegasan tentang diriNya sendiri itu, barang kali baik juga kita senantiasa mengingat apa yang ditegaskan tentang kita para pengikutNya:”Hanya sedikit waktu lagi terang berada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadaNya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu, barang siapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu kemana ia pergi”.

Akhirnya marilah kita menyambut kedatanganNya, dengan sederhana dan tidak mencolok karena kita tidak boleh melupakan, bahwa sebahagian besar bangsa kita, masih dalam kemiskinan yang ekstrem. Dengan demikian, semoga terjadilah kini, seperti yang terjadi pada Natal yang pertama: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi, di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”.

Kristus Pusat Refleksi Natal 2011 dan Tahun Baru 2012

Kristus menjadi pusat refleksi Natal 2011 oleh PGI dan KWI. Kristus yang kedatanganNya telah disuarakan oleh Nabi Yesaya 800 tahun sebelum Masehi, diramalkan sebagai Raja Damai dan Penasihat Yang Ajaib. Kristus adalah Dia yang dimaksudkan oleh suara Nabi Yohanes Pembabtis di sungai Yordan, “Persiapkanlah jalan bagi Tuhan, Luruskanlah jalan bagiNya”.

Dalam peristiwa Natal Kristus telah lahir dalam diri seorang bayi yang miskin, telah menunjukkkan teladan kesederhanaan, rendah hati dan pencinta damai. Kerajinan dan kecepatan para gembala dan para Majus yang menyaksikan bintangNya di Timur menjadi contoh yang bagus bagi umat manusia. Kehidupan harus diwarnai keadilan bagi semua orang, tanpa mengkotakkotakkan atau memprioritaskan sekelompok orang dan menyepelekan yang lainnya.

Kekerasan antara SARA harus segera dihentikan. Kita perlu menyelesaikan setiap persoalan secara damai dan penuh cinta kasih. Permusuhan, saling dengki, iri hati, balas dendam, kekerasan, saling menuduh dan mengkambing hitam antara sesama umat beragama dan masyarakat harus dihentikan.

Setiap kelompok harus melihat dirinya sejajar dengan kelompok lain, serta tidak boleh membenarkan diri sendiri. Sikap toleransi dan saling menerima, dan terbuka satu terhadap yang lainnya perlu dikembangkan. Pemahaman tentang multikulturalisme, multiagama dan keanekaragaman gaya hidup. profesi dan kerja manusia harus diterima dengan rasa syukur yang mendalam.

Setiap orang tidak boleh membenarkan dirinya sendiri, namun dia harus terbuka dan menerima perbedaan. Sebab perbedaan merupakan mosaik kehidupan yang akan berkilauan dan indah bila dipandang dari jarak yang cukup jauh.

Kristus Yesus Tuhan merendahkan diri sebagai orang yang hina dilahirkan dikandang domba Bethlehem. Dia sendiri telah menunjukkan diriNya sebagai tanda perdamaian antara Allah yang selalu setia dan manusia yang selalu tidak setia. Allah yang menyapa dan memanggil kembali domba-dombaNya yang selalu tersesat.

Yesus Kristus telah menunjukkan peranan agungNya sebagai gembala bagi kawanan domba yang tersesat dan melarikan diri dari kandangnya. Maka pantaslah kita yang mengakui diri sebagai pengikutNya memberikan jawaban ya bagi panggilanNya yang selalu terus bergema dalam keseharian hidup dan perjuangan kita menuju rumah Bapa di Surga.

Misa Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2012

Ibadah misa merupakan ibadah syukur, pujian dan permohonan dari orang beriman Katolik dalam memperingati perjamuan terakhir. Dalam malam perjamuan terakhir Yesus mengambil roti memecah-mecahkan dan memberikannya kepada para muridNya sambil berkata, “terimalah dan makanlah inilah tubuhku yang dikurbankan bagimu”.

Demikian pula Yesus mengambil anggur dan berbuat yang sama. Dia mengedarkan anggur itu kepada para muridNya sambil berkata, “Terimalah dan minumlah ini darahKu yang ditumpahkan bagimu, Darah Perjanjian yang dikurbankan bagimu”.

Selain memadahkan syukur dalam memperingati perjamuan akhir. Misa merupakan ungkapan communio atau persekutuan umat beriman yang sementara berziarah di dunia ini. Penziarahan umat Tuhan harus dikuatkan lewat perjamuan tubuh dan darah Kristus yang merupakan tanda perjanjian antara Kristus dan GerejaNya.

Maka kehadiran seorang anggota gereja di dalam perjamuan ini merupakan tuntutan mutlak dan merupakan kewajibannya sebagai orang beriman. Dalam salah satu perintah gereja disebutkan, rayakanlah hari raya yang disamakan dengan hari minggu.

Pada Hari Raya Natal, umat Tuhan bersekutu dalam comunio, untuk merayakan iman dalam ekaristi kudus dalam peringatan kelahiran Tuhan Yesus, yang menyelamatkan umat manusia, Dia membuka sejarah baru bagi peradaban manusia, Dia menjadi penyelamat umat manusia dalam kerendahan hati dan penyerahan total kepada kehendak Allah BapakNya.

Imam sebagai pemimpin perayaan itu mempertemukan umat beriman dengan Allah Tritunggal Mahakudus dan membawa Allah Tritunggal Mahakudus kepada umat beriman sendiri. Imam menyampaikan kurban umat, doa, pujian, permohonan dan syukur atas nama gereja kepada Allah Tritunggal Mahakudus. Partisipasi aktif umat dalam perayaan itu juga merupakan bukti nyata karya dan keterlibatan umat ebagai communio.

Menyimak Ekspresi Natal Jelang Tahun Baru 2012

Sekarang kita menyimak aktivitas Natal dan tahun baru yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat kita di seluruh dunia. Menjelang (juga pada saat) Natal dan tahun baru aktivitas sosial, ekonomi, transportasi dan komunikasi masyarakat meningkat menjadi 2 kali lebih banyak.

Pada saat-saat tersebut para mahasiswa/i dan pelajar dari SD hingga SMA sedang menjalankan liburan semesternya.Demikianpun banyak perusahaan telah meliburkan karyawan/i nya. Maka mobilisasi masyarakat menjadi semakin tinggi dan kuat. Perayaan Natal pun semarak di rumah, di perusahaan dan di hotel-hotel.

Banyak Perusahaan atau kantor atau sekolah merayakan Natal dan tahun baru bersama dengan meriah. Lagu-lagu Natal dan tahun baru, kartu natal dan tahun baru, kado Natal dan tahun merupakan warna-warni Natal dan tahun baru setiap tahun. Setiap rumah penuh kerliban lampu Natal dan tahun baru, juga pohon-pohon Natal telah menghiasi aula gereja, gereja, rumah, kantor dan seterusnya.

Pendeknya kita dapat mengatakan bahwa semarak Natal dan tahun barus menghiasi hampir semua penduduk yang beragama kristen. Hal-hal tersebut bukanlah sebuah ibadah atau bagian dari sebuah upacara liturgial gereja. Upacara liturgi HR Natal dan tahun baru sendiri dibuat dalam keadaan sederhana sesuai teladan Tuhan Yesus sendiri.

Dia yang datang dalam rupa seorang bayi mungil yang sederhana dan miskin, telah memberikan teladan yang luar biasa tentang bagaimana seorang kristen harus bersikap dan hidup dalam suasana kesederhanaan yang tinggi. Namun diluar gereja, telah banyak dana telah dikeluarkan demi perayaan natal yang gegap gempita. Maka perayaan natal dan tahun baru kini, telah penuh unsur komersialisasinya. Ada banyak orang meraup keuntungan yang besar ketika perayaan ini berlangsung, keuntungan ekonomi dan sosial.

Gegab gempita dan euforia perayaan Natal dan tahun baru di luar gereja sesungguhnya bukanlah ibadat. Gereja malahan telah menyerukan kepada segenap umat berimannya (bdk Seruan Natal dan tahun baru PGI dan KWI) agar umat beriman lebih bersikap hemat dan sederhana, tidak bermewah-mewah dan berlebihan dalam ekspresi terhadap Hari Raya Natal dan tahun baru di luar.

Umat beriman harus mencontohi teladan Yesus yang rendah hati, miskin dan tak ingin menjadi terkenal, dalam peristiwa kelahiranNya di Bethlehem. Ekspresi umat yang berlebihan telah memberi warna lain dalam perayaan Natal dan tahun baru. Terkesan seolah-olah ekspresi itu merupakan bagian ibadat Natal dan tahun baru.

Padahal sama sekali tidak benar. Bahwa ekspresi masyarakat dalam merayakan Natal dan tahun baru di luar, justeru menjadi sangat sekularistis, bersifat jasmaniah dan duniawi. Hal mana memang juga sangat ditentang keras oleh gereja sendiri. Beberapa kesempatan, para gembala sering mengeluh bahwa umat beriman yang datang dan berdoa di gereja justeru ada yang sangat sekularistis hidupnya.

Tidak semua menjadi sungguh-sungguh bersih secara rohaniah. Banyak umat beriman yang justeru sangat sekularistis. harus menjadi tugas kita semua umat beriman (yang masih setia dan sadar) agar perayaan Natal dan ibadat tahun baru di gereja-gereja kita, harus murni dalam arti umat beriman sungguh-sungguh terlibat dalam kehidupan rohaniahnya secara utuh.

Yang terjadi kini menjadi sesuatu yang sangat sekularistis. Lihat saja, banyak umat beriman yang datang mengikuti misa atau ibadat natal dan tahun baru itu, berlomba-lomba memakai busana dan aksesoris terbaiknya dan mahal-mahal. Ini bukti betapa perayaan Natal dan tahun baru kita masih jauh dari perayaan iman yang membathin. Umat masih diwarnai oleh berbagai gaya sekularistis yang sangat bertolak belakang dengan misi suci ibadat di gereja.

Seiiring kemajuan ekonomi, sosial, budaya, gaya hidup, maka perayaan natal dan tahun baru mulai kehilangan makna imanennya. Justeru di Eropa, banyak digalangkan dana untuk kepentingan misi di kawasan negara Asia dan Afrika, manakala sudah ada kemajuan ekonomi dan pendapatan masyarakat. Namun di Asia dan Afrika sendiri, kesadaran terhadap misi dan derma untuk kepentingan misi, masih belum nampak.

Evangelisasi yang telah melingkupi seluruh dunia hingga saat ini, merupakan akibat dari sumbangan donatur dari orang-orang di Eropa yang sangat sederhana, misalnya penjaga rumah, penjaga bioskop, rumah makan, penjual koran, dll. Mereka ini, dalam kesederhanaan telah menyumbang banyak dana bagi kepentingan misionarisnya yang bekerja di negara-negara Asia dan Afrika. Namun kita sendiri kini?

Ini adalah pertanyaan yang patut kita renungkan agar kita dapat memaknai Natal dan tahun baru kita. Masih banyak para imam misonaris kita yang membutuhkan dana-dana untuk kepentingan misi di daerah mereka diutus, para Misionaris ini perlu kita bantu dengan uang-uang yang telah kita boroskan dari sebuah perayaan Natal dan tahun baru yang mewah-meriah.

Penutup

Kita sekali lagi membuat sebuah pertanyaan sebagai penutup tulisan ini: Apakah kita sungguh-sungguh merefleksikan perayaan Natal dan tahun baru sebagai sebuah perayaan iman yang utuh, dengan meneladani Yesus Kristus, Tuhan kita yang datang sebagai seorang yang sangat sederhana dan miskin di kandang dombaApakah kita sungguh-sungguh menjadikan perayaan Natal dan tahun baru sebagai momentum pertumbuhan iman dan rohani kita, dan tidak boleh memasukan unsur-unsur jasmaniah/sekularisme dan komersialisme dalam ibadat kita?

Ibadat gereja merupakan peristiwa iman yang membawa kita kepada kesadaran untuk meneladani Yesus Tuhan kita yang miskin dan solider, ingin menjadi orang yang senasib dengan yang menderita, compassio. Ibadat atau misa merupakan sebuah communio, yang membuat kita semakin bersatu dan erat bersama DIA yang solider dan menderita bagi keselamatan banyak orang.

Maka ekspresi Natal dan tahun baru di luar gereja yang semarak dan membuang banyak uang yang sia-sia. demi kesemarakan Natal dan tahun baru itu sendiri, sama sekali kurang begitu diterima, bila orang memasukkan unsur-unsur hedonisme, kenikmatan semu dan sesaat demi alasan perayaan Natal dan tahun baru. Sebuah alasan sesat dan tidak bisa diterima iman dan akal manusia.

Sebaiknya perayaan Natal dan tahun baru harus membuka kesadaran iman umat beriman untuk semakin banyak menyumbang dan memberi derma bagi karya misi para misionaris yang terpaksa merayakan ibadat/misa atau mengajar katekumen di bawah pohon atau di lapangan terbuka, karena mereka tidak memiliki gedung untuk mereka bisa dengan bebas melakukan ibadat dan katekese rohani, di belahan dunia seperti Asia, Afrika dan Amerika latin.

Para Misionaris Indonesia kini banyak tersebar di seluruh dunia, mereka juga menanti para dermawan/i kita, yang mau memberi dari hasil keringat mereka untuk kepentingan misi dan karya-karya misi, agar semua makhluk menerima dan mengakui Yesus Kristus sebagai penyelamat dan pembebas manusia dari jurang kegelapan dan kesesatan hidupnya.

                  ________________________________________________