Category Archives: Kompasiana

Dialog Saya Dengan Latifa Maurinta Wigati di Kompasiana

Bagi para penulis muda, nama Latifa Maurinta Wigati sudah dikenal Dia adalah salah satu penulis muda yang sedang naik daun di Indonesia saat ini. Namanya sudah dikenal sejak tahun 2014. Saat itu Latifa yang adalah seorang gadis Tunanetra sedang bersekolah di SMA Negeri 6 bandung. Pada tahun 2014, Latifa Maurinta mendapatkan penghargaan pertama sebagai penulis muda terbaik Indonesia oleh SPSI (Serikat Perusahaan Pers Indonesia). Dia menyingkirkan ratusan penulis muda berbakat lainnya.

Di tahun 2014, Media Tempo mewartakan bahwa pemberian penghargaan kepada Latifa diberikan oleh Ketua SPSI sekaligus Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam forum Indonesia Print Media Award (IPMA) 2014 di Bengkulu, Sabtu (8/2). Dahlan tampak tak mampu menahan kekagumannya kepada gadis tersebut. Menjadi tunanetra bukan penghalang bagi Latifah Maurinta Wigati untuk menulis artikel, cerita pendek, dan novel. Saat tahun 2014, siswi SMAN 6 Bandung berusia 16 tahun itu baru saja meraih juara pertama lomba penulisan artikel tentang energi alternatif. “Sekarang lagi bikin novel serial, juga mau difilmkan,” katanya saat ditemui Tempo di sela jam istirahat sekolah, Selasa, 11 Februari 2014 lalu.

Continue reading Dialog Saya Dengan Latifa Maurinta Wigati di Kompasiana

Saya Tidak Ikut Kompasianival 2014, Ini Alasannya!

        Blasius Mengkaka

Terdahulunya saya ucapkan limpah terima kasih kepada Yth. para Admin Kompasiana yang telah dan akan menyelenggarakan Kompasianival tahunan dan kini akan dilaksanakan pada penghujung tahun 2014. Terus terang sebagai Kompasianer yang terverifikasi, saya merasa sepertinya “berkewajiban” untuk menghadiri ajang Karnaval umum Kompasianer tahunan ini. Sangat ingin, bahkan. Continue reading Saya Tidak Ikut Kompasianival 2014, Ini Alasannya!

Dinamika Kehidupan di Kompasiana

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil               Dipublikasikan pada 28 Agustus 2014

 

Ada yang pergi untuk kekal dan tak akan pernah kembali lagi, ada yang menarik diri meskipun sudah terverifikasi, ada yang berjuang jauh di negeri seberang, ada yang setia menulis, ada yang ngap-ngap sambil menunggu inspirasi untuk menulis, ada yang menjadi Kompasianer tapi nol Artikel, ada yang merupakan para Kompasianer penerima bintang, dll.

Continue reading Dinamika Kehidupan di Kompasiana

Malaysia Pertegas Posisi MAS MH370

 Penulis: Blasius Mengkaka

HL | 16 March 2014 | 20:09 Dibaca: 9477    Komentar: 15    6
 319px-CIA-DG-BIOT

Peta Pulau Diego Garcia (Sumber: Wikipedia)

 220px-Indian_Ocean_laea_location_map.svg

Letak Pulau Diego Garcia di Samudera Hindia (Sumber: Wikipedia)

Pemerintah Malaysia melalui PM Najib Razak kemarin mempertegas keberadaan pesawat MAS MH370. Sebagaimana diketahui bahwa dalam jumpa pers sebelumnya, PM Najip Razak mengatakan bahwa pesawat MAS MH370 setelah hilang contak (lost contact) telah melakukan perputaran balik (turn back) ke arah kemungkinan 2 koridor. Kemarin PM Najib Razak   secara tegas menunjukkan posisi pesawat MAS MH370 bahwa pesawat itu terbang menuju ke Samudera Hindia dan dikendalikan oleh seorang pilot yang berpengalaman secara sengaja. Berdasarkan pantauan radar yang belum mau dipublikasikan, diperoleh gambaran bahwa ada pergerakan pesawat setelah kehilangan kontak. Pesawat itu terbang ke arah barat menjauhi dari rute yang sebenarnya selama 4 hingga 5 jam setelah menghilang dari kontak.

Para penyelidik memiliki asumsi besar bahwa  ada satu Pulau terpencil yang cukup bersejarah di Samudera Hindia yang bernama pulau Diego Gracia. Pulau Diego Garcia berada di sebelah barat Indonesia dan selatan India. Dinamakan pulau Diego Garcia sesuai dengan nama Diego Garcia de de Miguor, seorang pelaut asal Spanyol. Sumber Wikipedia menyebutkan bahwa wilayah ini menjadi wilayah teritorial Samudra Hindia Britania atau British Indian Ocean Territorial (BIOT). Pulau ini terletak 1600 km di sebelah selatan India, dengan negara tetangganya ialah Maladewa dan Srilanka. Pulau ini ditemukan oleh Portugis, namun dinamakan sesuai dengan nama seorang pelaut Spanyol, Diego Garcia de Miguer. Tahun 1600, pulau ini disewakan kepada Inggris untuk mendepak penduduknya dan mendirikan pos militer.

Diceriterakan bahwa Pulau ini didiami oleh keturunan para budak  Afrika dan budak Hindu yang dibawah oleh Perancis pada abad 18. Sebagai ganti dari pengusiran para penduduk keturunan budak, Inggris dan AS kemudian mendirikan pos militer. Pulau ini ditumbuhi oleh tanaman tropis lebat. Berdasarkan data intelijen, AS kemudian menjadikan pulau ini sebagai tempat pengasingan para penjahat kelas berat. Tahun 2008, Inggris mencatat bahwa pulau ini menjadi tempat AS  tahun 2002 melakukan pengisian bahan bakar di mana pesawat itu memuat para tahanan militer bernilai tinggi dalam hal ini para pejahat terorisme. Khalid Sheik Mohhammed ialah penjahat terorisme AS yang pernah singgah di pulau ini.

Nama pulau Diego Garcia, sebuah pulau paling terpencil di Samudera Hindia kini mencuat ke permukaan. Dugaan bahwa salah seorang pilot berpengalaman dalam MAS MH370 telah melakukan penerbangan selama 4 hingga 5 jam menuju salah satu pulau terpencil di Samudera Hindia. Apakah pesawat MAS MH370 saat ini berada di pulau Diego Garcia? Kita sedang memanti hasil penelusuran. Yang jelas bahwa pemerintah Malaysia kini memusatkan perhatian penuh pada arah Samudera Hindia, di mana arah itu diyakini oleh semua orang dalam diskusi Facebook dan juga diakui sendiri oleh PM Najib Razak. Itu berarti pesawat itu mengalami kemungkinan ‘dibajak’. Harapan untuk kemungkinan para penumpangnya selamat masih ada, bila pilot MAS MH370 mengarahkan pesawat itu ke salah satu pulau, dengan kemungkinan terbesar ialah pulau Diego Garcia. Kita tunggu saja.

_________________________________________

Merasakan Sensasi Ketika Artikelku Masuk Head Line (HL) Kompasiana

 Penulis: Blasius Mengkaka

Menuliskan hasil meditasi tentang realitas dan pengalaman – (C)KOMPASIANA.com/1B3las-MK. Kunjungi juga Blog: BLASMKM.COM selengkapnya

REP | 08 March 2014 | 19:24 Dibaca: 30    Komentar: 0    0 

 

Artikelku berjudul Ritus Adat Hola Welulik yang berisi liputan hasil reportase pribadi selama mengikuti pesta adat Lo’okeu di Belu-NTT telah mendapat ganjaran Admin Kompasiana untuk ditayangkan di rublik Headline Kompasiana hampir selama 2 hari meskipun tersendat-sendat. Artikel yang penuh tantangan sekaligus membanggakanku. Meskipun tampilnya Artikelku di HL Kompasiana selama jangka waktu itu hanyalah nasib dan juga hanya kebetulan saja. Bukan disengajakan oleh kemurahan hati Admin Kompasiana yang sudah terkenal dengan kejelian dan ketelitian besar. Sehabis “mentahtakan” 5 artikel terbaik di kolom Headline Kompasiana pada 6 Maret 2014 pada malam sekitar jam 08.00 Witeng, tiba-tiba server peralatan Kompasiana butuh diperbaiki dan dibaharui. Ini membuat artikel-artikel yang diheadlinekan Kompasianapun tetap bertahan. Pada pagi hari 7 Maret 2014 ketika akan login, saya melihat bahwa artikel-artikel yang sama masih ada di Headline Kompasiana. Merasa ada sesuatu yang kurang beres terkait login masuk ke Kompasiana, maka pada hari Jumat, 7 Maret 2014 lalu, saya mengirimkan Email ke Admin Kompasiana untuk meminta perbaikan login Akunku. Akhirnya melalui Emailnya pada 7 Maret 2014 yang lalu datanglah khabar langsung dari Admin Kompasiana:

Dear Blasius Mengkaka,

saat ini Kompasiana memang belum diakses dengan baik. Baik itu untuk posting dan read artikel. Karena masih dalam tahapan perawatan server. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

Salam hangat,

Kompasiana

(Dikirim pada 13.05 GMT)

Dengan adanya berita dari Admin Kompasiana ini, maka sayapun dapat menjadi maklum dan memahaminya dengan baik sebab saya yakin bahwa Kompasiana ialah sebuah Website keroyokan terbesar di Indonesia bahkan tergolong terbesar di Asia dengan sendirinya selalu membutuhkan perawatan yang intensif terhadap servernya. Salut untuk bagian tekhnik Kompasiana yang selalu siaga dan bekerja tiada henti. Mudah-mudahan server Kompasiana semakin bagus dan canggih sehingga dapat lancar kembali dan artikel-artikel yang sudah disiapkan oleh Kompasianer dan sementara ada dalam Komputer bisa di coppy dan di-Ctrl-V-kan ke Kompasiana. Artikelku berjudul Ritus Adat Hola Welulik baru berhenti “bertugas” di Headline Kompasiana pada sore hari ini 8 Maret 2014. Itu berarti bahwa secara kebetulan artikelku itu telah berada sekitar 2 hari di kolom Headlinenews Kompasiana. Sebagai penulisnya, sayapun merasakan sensasi hebat. Wow..luar biasa. Saya sudah menulis di Kompasiana sejak 8 Agustus 2013, namun baru 2 Artikelku yang masuk Headline Kompasiana setelah sebelumnya beberapa artikel selalu masuk Highlight.

Tentunya bagi para pembaca yang masih menginginkan pemuatan Artikelku terkait hasil reportase saya di Situs Adat Lo’okeu akan saya muat lagi beberapa Artikel lagi. Mudah-mudahan mendapat respons positif baik dari para pembaca maupun dari Admin Kompasiana, sebagaimana dalam beberapa artikel terdahulu tentang reportase di Situs Lo’okeu yang masuk Highlight dan bahkan HL Kompasiana. Itu tandanya bahwa sebagai anak bangsa Indonesia, kita mencintai adat dan budaya bangsa, yang menurut antropolog Klucklhon selalu merupakan relasi bathin secara adikodrati dengan Sang Dewata. Mudah-mudahan kita semua semakin mencintai budaya Indonesia untuk kemudian semakin berakar dalam budaya kita sendiri. Salam Kompasiana…

_______________________________________

Tags: 

Kios-Kios Indonesia: Mati Segan, Hidup Tak Mau

Kios-kios Indonesia selalu bergelut dengan tuntutan pasar, keadaan keuangan dan minat pembeli. Keadaan dan tuntutan pasar nasional sering tidak menentu. Krisis moneter yang pernah melanda Indonesia tahun 1998-2000 pernah membuat Kios-Kios Indonesia hampir bangkrut. Tambahan pula Kios-Kios selalu berusaha secara sendiri dan tidak terorganisasi dengan baik. Akibatnya Kios-Kios sering kalah bersaing dengan pemodal besar atau menjadi bangkrut karena salah urus…..

Ini Tulisan Pertamaku di Kompasiana

Rasanya agak grogi juga ketika menulis Posting ini di Kompasiana. Soalnya kali pertama aku berkutat dengan fitur-fitur Media Kompasianaku. Namun lama-lama aku mulai menikmati sensasi yang luar biasa juga. Ibarat orang yang memulai pengalaman baru dengan hati-hati, aku juga merasakan itu ketika jari-jemariku ini mulai menari-nari di permukaan tuts-tuts Laptopku dan menghasilkan kalimat-kalimat yang mengalir begitu saja di ruang Media Kompasianaku ini. Namun aku memang bukan 100% baru sama sekali di dunia Online ini. Sejak Juli 2011,  namaku telah mulai malang melintang di jagat online.

Continue reading Ini Tulisan Pertamaku di Kompasiana