Category Archives: Ekonomi

Makanlah Nasi yang Banyak, Sayuran dan Lauk Lebih Sedikit

Sudah merupakan sebuah hukum yang sudah mendarahdaging di desa-desa, bahkan kampung-kampung di NTT, baik di Timor maupun di Flores yakni penduduk memakan nasi lebih banyak dari sayuran dan lauk pauk. Sejak kecil saya selalu memperhatikan hal ini. Setiap kali makanan dihidangkan di atas meja, nasi selalu lebih banyak dari sayur dan lauk. Realitas lainnya saya jumpai di kebun-kebun dan sawah-sawah, tempat kerja sebahagian besar penduduk NTT, kampung halaman saya.

Continue reading Makanlah Nasi yang Banyak, Sayuran dan Lauk Lebih Sedikit

Ditemukan Minyak Bumi di Timor-NTT dan Semau Sejak Tahun 1920

Sebuah dokumen berkelas dunia yang saat ini masih tersimpan di Perpustakaan Kongres Nasional AS menunjukan adanya persediaan berbagai mineral di Timor telah ditemukan pada tahun 1920. Sebuah dokumen tua dalam bentuk Handboek berjudul Dutch Timor and the Lesser Sunda Islands yang diterbitkan tahun 1920 di London dan dipublikasikan oleh H.M Stationery Office telah menjadi satu-satunya sumber yang bisa dibuka untuk diakses oleh umum pada Perpustakaan Nasional Kongress Amerika Serikat. Dokumen berbentuk Handboek itu menyebutkan adanya kekayaan berbagai mineral di Timor-Belanda, termasuk minyak bumi.

Continue reading Ditemukan Minyak Bumi di Timor-NTT dan Semau Sejak Tahun 1920

Rakyat Indonesia Mestinya Harus Menolak AFTA, Mengapa?

     Setidaknya kita bisa belajar dari para demonstran Jerman yang secara terang-terangan menolak TTIP/FTA. Saat negosiasi terjadi antara para pemimpin Uni Eropa dan AS, negosiasipun dihadang 150 000 demonstran Jerman. TTIP/FTA  kepanjangannya Transatlantic Trade and Investment Partnership/FTA=Free Trade Agreement, yakni perdagangan bebas AS dan Eropa. Dengan TTIP/FTA maka zona kawasan perdagangan terbesar di dunia akan muncul. TTIP/FTA akan menyatukan ekonomi AS dan Eropa. Bulan Oktober 2015, ketika para pemimpin Eropa dan AS bertemu untuk negosiasi bagi pendirian TTIP/FTA, 150.000 demonstran berdemostrasi di kota Berlin untuk menentang perjanjian itu. Mereka melihatnya sebagai bahaya besar bila TTIP/FTA benar-benar terwujud.

Continue reading Rakyat Indonesia Mestinya Harus Menolak AFTA, Mengapa?

Potret Orang Miskin di Perkotaan NTT

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Kamis, 6 Pebruari 2014

     Akhir bulan Desember 2013, saya menggunakan kesempatan satu hari untuk menyambangi kota Kupang, NTT. Selain untuk mengamati keadaan Kupang selama Liburan Natal dan akhir tahun 2013, saya juga mengambil kesempatan untuk berbelanja berbagai keperluanku di sebuah toko di kota Kupang. Hari menjelang malam, ketika saya masuk ke dalam sebuah toko pakaian di sebuah kompleks pertokoan kota Kupang yang hampir semuanya menjual dan memanjang berbagai jenis dan ukuran pakaian. Di dalam toko itu, saya melihat begitu banyak orang-orang berkerumun di dalamnya.

     Begitu banyaknya orang yang berkumpul membuat saya harus berdesak-desakkan agar saya bisa dengan bebas berbelanja kaus dan baju. Semua mata memandang ke arahku. Saya tetap asyik saja berbelanja. Pikiran saya, wah betapa beruntungnya pemilik toko, kalau orang-orang seramai ini, pasti dagangannya laris. Setelah memilih beberapa kaus, sayapun membayar. Namun saya belum mau keluar dari dalam toko sebab saya tertarik untuk mengamati para pengunjung toko itu dengan lebih masuk lagi ke dalam ruangan toko yang dipenuhi ratusan manusia itu.

     Ketika saya masuk ke dalam ruangan toko, seorang wanita paruh baya mencegat saya. Dia menyodorkan tangannya kepadaku di tengah keramaian pengunjung toko untuk meminta uang. Nampaknya wanita paruh baya itu adalah seorang pengemis yang meminta uang dari saya. Maka sayapun menyodorkan uang lembaran 5 ribuan rupiah untuknya. Setelah itu pandangan saya berputar ke para pengunjung toko. Saya mendapati kenyataan bahwa sebenarnya para pengunjung toko itu bukanlah pembeli. Mereka hanya berdiri sambil menatap barang-barang dan para penjual toko. Rupanya mereka hanya menjadi pengunjung saja dan tidak berbelanja. Sekilas, mereka ialah orang-orang muda yang nampaknya sedang kesulitan ekonomi dalam kehidupan di kota Kupang. Mereka masuk ke dalam toko bukan untuk mau menjadi pembeli namun hanya berdiri untuk menatap atau melihat-lihat barang-barang jualan dalam toko itu.

     Menurut saya, selain wanita peminta di dalam toko itu, orang-orang yang berkerumun dengan hanya menatap dan tidak menjadi pembeli sehingga dapat mengganggu kegiatan para pembeli yang sedang memilih-milih belanjaan merupakan salah satu potret kemiskinan di perkotaan NTT dalam hal ini kota Kupang. Sebagai satu-satunya kota besar di NTT, kota Kupang merupakan pusat pemerintahan di NTT, juga sudah sejak lama menjadi pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, politik, sosial budaya dan keamanan ternyata menyimpan persoalan besar yakni persoalan kemiskinan. Saat ini di kota Kupang dan kota-kota kecil di NTT, banyak orang miskin mulai menjadi pengemis.

     Menurut data BPS NTT tahun 2012, jumlah penduduk NTT mencapai 5.343.902 dengan jumlah orang miskin sebesar 1.029.000. Tahun 2013, jumlah penduduk NTT berkurang menjadi 4.685.827 dengan jumlah penduduk miskin sebesar 993.560 orang. Data menunjukan bahwa jumlah penduduk miskin NTT terbanyak berada di perkotaan khususnya kota Kupang. Memang tidak banyak bila dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin di kota Metropolitan Jakarta, namun potret kemiskinan orang miskin NTT diperkotaan makin nampak jelas.

     Aktivitas yang nampak di toko itu telah menjadi potret kehidupan orang miskin di NTT. Potret kemiskinan seperti yang saya lihat ini, bisa jadi merupakan ‘wabah’ yang berjangkit dari kota-kota besar dan kota metropolitan teristimewa kota Jakarta di mana orang miskin cenderung menjadi pengemis atau menjadi faktor penyebab persoalan di kota-kota. Menjadi pengemis dan menjadi peminta-minta tidak ada dalam budaya NTT sebab orang NTT itu memiliki budaya malu dan lebih mementingkan harga diri ketimbang menjual kemiskinan diri hanya untuk mendapatkan sedekah seribu atau dua ribu dari para pengunjung toko. Bila kemudian ada orang NTT yang menjadi peminta-minta atau menjadi pengemis di kota, itu kita ibaratkan saja merupakan sebuah ‘wabah’ yang datang dari kota-kota besar di Jawa di mana orang miskinnya cenderung menjadi pengemis.

     Sangat mengherankan bahwa sebuah Propinsi Kepulauan dengan 1000 buah pulau dan dengan lautannya yang luas dan potensi kekayaan alamnya yang besar ternyata ada juga orang NTT yang menjadi pengemis atau peminta-minta di tengah kekayaan alam NTT yang luas dan melimpah. Pemandangan ini sungguh menyayat hati, namun menjadi tantangan bagi para pemimpin dan pendidik di NTT untuk berjuang dalam mengentas kemiskinan di NTT dengan cara mempercepat peningkatan pendidikan, akses-akses ekonomi, kesehatan, sosial, dan budaya bagi rakyat miskin. Dengan itu, Propinsi NTT bisa keluar dari lingkaran maut kemiskinan. Semoga!

                       _____________________________________

Dinamika Pasar Swalayan Atambua

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Rabu, 21 November 2012

Jam 15.00 di lokasi Pasar Swalayan Tradisional Atambua. Papan nama yang terpampang di depan pasar itu berjudul: Pasar Swalayan Tradisional Atambua. Dengan membaca judul papan nama itu sepintas, kita langsung mendapatkan gambaran umum keadaan pasar pemerintah ini. Hampir di setiap sudut pasar, kita temukan pedagang Papalele yang menjajakan barang dagangannya. Bahkan tempat-tempat berdagang yang sudah disiapkan pemerintah dalam kompleks pasar itu menjadi penuh dengan aktivitas perdagangan para Papalele.

Para pembeli hilir mudik memilih-milih barang yang akan dibeli. Sementara para pedagang swalayan dan Papalele sibuk menawarkan barang-barang jualannya kepada para pembeli dengan caranya yangmeyakinkan sehingga para pembeli melirik barang-barang dagangannya.

Banyak pedagangyang karena tidak kebagian tempat, terpaksa mereka menggelar barang-barang dagangannya di atas tikar atau bekas bungkusan karung plastikdi tanah. Para Papalele ini pun berjejer rapih hingga di depan lokasi pasar dekat dengan jalur jalan raya. Barang-barang yang dijual para pedagang Papalele itupun bermacam-macam misalnya, sayuran, mangga, pisang, nenas, umbi-umbian, ikan, jagung lokal, beras lokal, kacang-kacangan, daging sapi/babi, ayam, bawang, tomat, lombok, sirih-pinang, tembakau, dll.

Para pedagang tradisional umumnya berasal dari wilayah kabupaten Belu. Ada juga beberapa pedagang yang berasal dari wilayah kabupaten tetangga bahkan dari Timor Leste. Demikian juga para pembelinya menjadi beragam. Arus transportasi yang makin maju dan ramai pada saat sekarang ini memungkinkan relasi antara manusia melampau batas-batas daerah dan manusia. .

Pada umumnya, mayoritas para pedagang di pasar swalayan tradisional Atambua ini menjajakan barang dagangannya berupa bahan-bahan makanan mentah yang belum diolah. Bahan-bahan makanan itu, umumnya akan dibeli oleh para pembeli yang merupakan penghuni kota Atambua, misalnya, pelajar/mahasiswa, pegawai pemerintah/swasta, pekerja sosial, dll. Setelah membeli bahan-bahan makanan mentah itu, mereka membawanya ke rumah atau ke penginapannya untuk diolah menjadi makanan.

Pedagang dari kawasan dalam menjual produksi yang sudah jadi misalnya: Makanan siap saji, jajanan, gorengan, usaha rumah makan dengan berbagai jenis masakan seperti Nasi campur, dll, minuman, pakaian, sandal, tas, topi, reben, usaha toko emas dan perak, jam tangan, handphone, bahan-bahan pembangunan, sabun, produksi kosmetik, roti, beras karung plastik, terigu, barang pecah belah, seperti piring, senduk, aneka produk pakaian, alat memasak baik dengan api maupun dengan listrik, aneka rokok, biscuits, aneka produk manisandll. sementara para pedagang dari luar menjual bahan-bahan makanan mentah. Sekilas kita melihat perbedaan cukup signifikan dari penggolongan para pedagang ini.

Dari segi omset penjualan, para pedagang dari Indonesia “dalam” memiliki omset penjualan lebih besar bahkan ratusan juta rupiah. Sedangkan para pedagang dari Indonesia “luar” yakni para pedagang asli daerahNTT memiliki omset dagangan yang kecil, menjual bahan mentah dan bukan barang siap saji, bersifat sementara dan kurang diperhatikan pemerintah. Mereka umumnya menggelar tikar di lantai pinggiran toko/kios atau tanah saja. Sementara para pedagang dari Indonesia “dalam” memiliki gedung yang cukup lengkap, bersifat tetap dan umumnya mendapat jaminan atau bantuan pemerintah melalui kredit.

Akibat atau dampak bagi para Papalele ini menjual bahan mentah dan bukan bahan siap saji, maka mereka kurang maju dan berkembang. Para Papalele menjadi orang Indonesia “luar” yang kurang maju dan kalah bersaing. Mereka adalah orang Indonesia yang kalah bersaing dan kurang berkembang. Kemampuan akal budi mereka kurang maju dan berkembang dengan baik. Mereka menjual barang-barang tradisional yang kurang berlaku secara universal. Misalnya mereka menjual produksi lokal daerah dalam bentuk bahan mentah, sirih, pinang, tembakau, kapur, dll. Kebutuhan untuk mengkonsumsi barang-barang tersebut sangat terbatas. Malahan barang-barang jualan itu bisa tergerus zaman yang saat ini bersifat teknologis.

Para pedagang yang berasal dari penduduk asli Timor, Rote, Sabu, dan pulau-pulau di NTT ini menampakkan gambaran ekonomi pinggiran. Mereka digolongkan sebgai pedagang luar, memiliki omset dagangan kecil sekali, bersifat sementara, kurang diperhatikan, tidak mendapatkan kredit dan jaminan keamanan, tidak memiliki gedung/rumah dagang. Mereka termasuk potret masyarakat ekonomi pinggiran yang “mati segan hidup tak mau”. Mereka tidak dilibatkan dalam penentuan keputusan tentang harga pasaran.

Study intensif dari para peneliti dan aktivitas LSM menunjukkan bahwa masyarakat ekonomi pinggiran berada dalam situasi tereksploitasi dalam seluruh segi kehidupan. Mereka tereksploitasi dari segi politik, pemerintahan, pendidikan, ekonomi, religius, sosial-budaya dan pertahanan-keamanan. Para pedagang ekonomi pinggiran berasal dari kalangan yang kurang berpendidikan. Bahkanbanyak yang buta huruf.

Memang ada banyak yang akhirnya mengeyam pendidikan, namun out put pendidikan yang dihasilkan kaum pinggiranpun lebih banyak bertujuan untuk melayani kepentingan ekonomi golongan ekonomi kuat. Alhasil banyak tamatan SMP atau SMA memilih hijrah ke luar daerah teristimewa ke Jawa, Sumatra,Bali, Kalimantan bahkanMalaysia untuk bekerja pada sektor-sektorformal dan informal perusahaan yang dimonopoli oleh pengusaha dalam.

Mereka menjadi pedagang Papalele. Kata “Papalele” merupakan kata yang menunjukkan keberadaan para pedagang pinggiran ini sejak zaman kolonial. Mereka merupakan gambaran pedagang “not have” yang artinya tidak berpunya, miskin, lemah, sering ditendang ke sana ke mari, dan dianggap mengotori perkotaan. Mereka sering menjadi korban aparat yang sewenang-wenang dan gampang digusur begitu saja.

Istilah “Papalele” telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Ada yang mengatakan bahwa pedagang Papalele adalah pedagang dari golongan yang pada masa kolonial merupakan golongan yangkalah perang, sisa-sisa golongan tertindas, dan tak berpunya.

Istilah Papalele terdiri atas 2 kata yang dipadankan yakni Papa=miskin, hina, kalah perang, pesuruh dan lele yang artinya menjual dengan murah, menjual dengan harga di bawah. Istilah Papalele sebenarnya mula-mula merupakan pemberian nama oleh pihak kolonial Belanda bagi para pedagang kecil/miskin asal Sabu dan Rote yang pada abad XVI telah di datangkan pemerintah kolonial Belanda dari Pulau Rote dan Pulau Sawu dan mulai tinggal menetap di bagian barat Kupang di pulau Timor. Penduduk Papalele ini selanjutnya memulai aktivitas Papalele hingga ke pedalaman pulau Timor. Mereka ditemukan hampir di setiap daerah pedalaman Timor dan bermukim di sekitar pasar pemerintah. Mereka di sebut kaum Papalele.

Mulai abad XIX, hingga pada masa kemerdekaan RI, para Papalele asal Sabu dan Roti mulai habis karena kalah persaingan modal dengan pedagang-pedagang dari Jawa, Sumatra, Kalimantan dan terutama berasal dari pedagang-pedagang asal Sulawesi. Para Papalele mulai kehilangan modal akibat kalah bersaing terhadap tekanan-tekanan pasar yang ketat. Namun kegiatan Papalele masih terus berlangsung setelah itu. Hal itu terutama dilakukan oleh penduduk lokal Timor sendiri yang sebelumnyatelah berkolaborasi dengan Papalele dari Sabu atau Roti.

Maka akibat dari kolaborasi itu, istilah Papalele akhirnya dikenakan juga kepada para pedagang kecil pribumi Timor. Para pedagang kecil pribumi Timor yang menjadi Papalele diduga berasal dari sisa-sisa orang yang kalah politik tradisional kampung, orang-orang yang kehilangan hak atas tanah-tanah karena disita atau dirampas. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari stratifikasi sosial-politik tradisional masyarakat kelas bawah. Mereka disebut kaum Papa dan lele, kedua istilah ini dipadankan menjadi kaum Papalele.

Kegiatan Papalele itu sendiri diperkenalkan oleh beberapa orang pedagang kecil asal Sabu dan Rote yang sejak abad XVI didatangkan penguasa kolonial Belanda di daerah pantai baratKupang. Namun bukan berarti bahwa istilah Papalele ini berasal dari para pedagang dari Sabu dan Rote tersebut. Berdasarkan penelusuran penulis dapat dipastikan bahwa istilah Papalele ditemukan pada daerah-daerah perdagangan NTT, NTB, Maluku. Sulawesi dan Irian Jaya. Di daerah-daerah tersebut, hampir semua penduduk sepakat memberikan nama bagi pedagang kecil lokaldi pasar pemerintah dengan sebutan Papalele. Istilah Papalele memiliki arti arti yang sama seperti yang dijelaskan dalam tulisan ini pada semua daerah di NTT, NTB, Maluku dan Irian Jaya.

Berdasarkan penelusuran penulis ini, disimpulkan bahwa diduga pada masa setelah kekuasaan Majapahit runtuh telah terbuka jalur perdagangan yang baru. Bila kita membuka kembali lembaran sejarah pada masa setelah kerajaan Majapahit runtuh pada abad ke-XIV, telah bermunculan kerajaan muslim di pesisir pantai.

Pulau Timor setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit pada abad XIV itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Ternate di kepulauan Maluku Utara. Kerajaan Islam Ternate dalam sejarahnya pernah menjadi penguasa perdagangan di wilayah Indonesia Timur yakni wilayah-wilayah seperti: Maluku, NTT, NTB, Sulawesi bahkan hingga ke Irian Jaya. Maka istilah Papalele kemungkinan berasal dari periode kekuasaan kerajaan muslim Ternate-Tidore atas kepulauan Maluku, Timor dan Irian Jaya. Pada masa itu, telah bermunculan banyak pasar-pasar tradisional di pesisir pantai Pulau Timor yang telah mendapat pengaruhnya dari kekuasaan kerajaan Muslim Ternate dan Tidore di bagian Timur kepulauan Indonesia.

Kehidupan kaum Papalele tidak banyak berubah. Malahan mereka tetap papa sesuai dengan namanya Papa yang berarti miskin dan lele yang berarti menjual dengan murah atau menjual dengan harga di bawah. Mengapa kehidupan mereka tidak berubah? Ini menjadi pertanyaan menarik. Para Papalele adalah kumpulan pedagang-pedagang kecil yang sering tidak bersatu. Mereka sering saling cekcok di antara mereka sendiri. Silahkan anda membayangkan: sudah Papa atau miskin malahan saling cekcok di antara sesama teman mereka sendiri. Akibat kurang bersatu, kurang berpendidikan, bodoh, saling cekcok di antara mereka dan juga akibatkurang membangun jaringan kerjasamayang bagus maka para Papalele menjadi miskin dan tidak berkembang. Mereka tetap berada di landasan. Tidak maju dan tidak berkembang. Bahkan mungkin saja bisa hancur dan bubar.

Mereka bisa terancam hancur eksistensinya sendiri akibat saling cekcok tersebut. Berbeda dengan para pedagang Papalele yang kemudian sadar dan membentuk koperasi atau perkumpulan para Papalele. Namun kita belum mendengar adanya organisasi Perkumpulan Para Papalele Indonesia. Tidak ada organisasi yang demikian. Maka bisa disimpulkan bahwa para Papalele merupakan orang-orang kalah atau orang-orang yang sedang mengalami proses marginalisasi akibat tergerus dalam roda zaman. Mereka menampilkan wajah ekonomi kaum pinggiran. Semoga pembangunan ekonomi bisa menyapa kaum Papalele menuju ke arah masa depan mereka yang lebih bagus.

_____________________________________________________