Category Archives: Dunia Fiksi

Saya, Angkot dan Dancow

Kami duduk bersama dalam kursi Angkot: duduk berderet dan berhadapan. Biasanya kursi-kursi Angkot letaknya sebelah-menyebelah: ibarat dua garis lurus pendek. Seperti kebiasaan di Angkot umumnya, para penumpang duduk ber-ramai-ramai di atas kursi-kursi Angkot, kadang berdempetan. Selama perjalanan, saya biasanya duduk diam dan membisu dalam Angkot: saling menatap atau memilih untuk melihat keluar. Saya diam karena pikiran saya terbang ke sana kemari saat saya sering memikirkan artikel-artikel saya di blog-blogku. Kalau dengan sesama guru baru saya bisa mengobrol ala kadarnya di Angkot. Tema obrolan sering berkisar keadaan atau peristiwa-peristiwa yang kami alami atau yang terjadi di sekitar kami.

Suatu siang, di dalam mobil Angkot, saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu guru SMP. Dari saya mendengarkan logatnya, saya perkirakan ibu ini asalnya dari Manggarai. Saya memecahkan kesunyian dalam Angkot itu dengan bertanya, “Baru-baru ini agaknya ada biarawan yang meninggal dunia di biara St. Yosep Nenuk. Benarkah? Lalu siapakah bruder itu?”. Ibu dengan logat Manggarai menjawab, “Bruder Basilius Suan. Dia sudah meninggal dunia, pak tahu kan?”, ibu guru itu berbalik tanya.

Continue reading Saya, Angkot dan Dancow

Saat Kudengar Deru Mesin Jet di Langit Timor-NTT….

Hati saya bercampur antara riang dan ingin tahu sumber deru mesin Jet di atas awan-awan. Sayapun keluar lalu menatap dan mencari-cari pesawat di atas sana, di atas langit pulau Timor-NTT. Deru itu seperti sudah lama, sudah klise, sehingga sering saya membiarkannya saja berlalu. Dari dulu juga sudah begitu, kataku dalam hati.

Yah, sejak kecil saya sudah terbiasa mendengar deru mesin pesawat terbang Jet penumpang di atas langit Pulau Timor-NTT. Pesawat Jet penumpang  itu terbang melintasi Pulau Timor-NTT menuju Australia, pulang dan pergi. Sering dalam satu hari ada lebih dari 1, 2 hingga 3 pesawat Jet penumpang terbang melintas di atas langit nun jauh di atas sana. Kadang pada malam hari, kadang siang hari. Kalau malam, tampak jelas lampunya berkedip-kedip dilihat dari daratan Timor-NTT. Pesawat-pesawat terbang itu mengikuti perkembangan zaman.

Saat tahun 1980-an ke atas, saya melihat pesawat-pesawat Jet berpenumpang itu mengeluarkan asap putih tebal mengepul di udara. Asapnya tebal, meskipun badan pesawat itu tampak kecil sekali. Asapnya memancar kuat ke belakang. “Itu pesawat Jet berpenumpang”, kata teman-teman masa kecilku. Namun sekitar tahun 1990-an ke atas, pesawat Jet itu lebih modern karena tidak ada lagi asap putihnya yang mengepul di udara. Ketinggian terbang pesawat tak berubah, tinggi di atas sana, di kawasan udara internasional.

Pulau Timor-NTT memang dekat dengan benua Australia. Pesawat-pesawat Jet asing itu berada di langit internasional dengan deru mesin Jetnya yang memekakkan telinga. Saya sering keluar hanya untuk menatap ke atas, melihat cahaya pesawat kalau malam tampak seperti kerlap-kerlib bintang di langit. Sekarang pesawat Jet tidak lagi mengeluarkan asap tebal, meskipun derunya tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Continue reading Saat Kudengar Deru Mesin Jet di Langit Timor-NTT….

Kupernah Coba Mencari Lautan di Langit Yang Biru

Kupernah Coba Mencari Lautan di Langit Yang Biru
-

 

      Gunung Mandeu di Belu-NTT

     Aku lahir dan besar di tempat yang jauh dari laut, tepatnya di sebuah desa pada pedalaman Timor Tengah. Pada tempat itu, keseharianku lebih dekat dengan ladang, gunung dan hutan. Ketika aku mendengar ceritera-ceritera ayah tentang laut, akupun ingin ke laut. Waktu itu dengan mata telanjang, aku pernah coba mencari lautan di langit yang biru. Hasilnya nihil. Lalu setelah duduk di bangku sekolah, aku pernah membaca bahwa para ahli angkasa luar telah menemukan sebuah planet yang memiliki air sama seperti planet bumi. Aku pernah berangan bahwa langit di siang hari merupakan sebuah cermin besar yang memotret pemandangan laut di bawahnya. Padahal lautan itu nyata ada di pantai bumiku. Hikmahnya jangan kita mencari kesia-siaan karena bila kita coba mencarinya, kita akan terus berada dalam kesia-siaan.

Continue reading Kupernah Coba Mencari Lautan di Langit Yang Biru

Bengkel Kayu di Rumah Ayahku

Bengkel Kayu di Rumah Ayahku
-

Ilustrasi – bengkel kayu (Sumber: intisari-online.com)

Ketika aku masih kecil, saya lihat ayahku membangun sebuah bengkel kerja pribadi di rumah kami yang sederhana, dahulunya beratap ilalang yang sejuk dan damai. Sedangkan waktu itu rumah kakek/nenekku sudah cukup modern, dibuatkan ayahku tentu. Bengkel kerja ayahku terletak di samping rumah. Sederhana memang. Dua buah tiang setinggi dada ditanamkan ayahku di dalam tanah lalu di atasnya dipasangkan sebilah balok untuk tempat melakukan skaft.

Continue reading Bengkel Kayu di Rumah Ayahku

Dan Cintapun Bersemi di Hirahattu

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil    Diposkan pada 29 Mei 2014

Acara meeting  harian Perusahaanpun di mulai. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin Perusahaan Hirahattu, bahwa sebelum jam kerja pada pagi hari dimulai, perlu ada meeting untuk semua karyawan/i. Seperti biasa Dewi Yaldin memimpin acara meeting CV Hirahattu, sebuah Perusahaan multinasional penyaluran barang-barang konsumtif. Dewi berbicara lancar dan penuh semangat. Yel-yel Perusahaan diteriakkan bersamaan. Semua karyawan/i tampak bersemangat.

Pada akhir meeting, Dewi Yaldin memperkenalkan seorang karyawan baru.

Continue reading Dan Cintapun Bersemi di Hirahattu

Di Bawah Naungan Savana (1)

Penulis: Blasius Mengkaka     Diposkan pada 5 April 2014

Siang yang terik dengan Mentari yang memancarkan sinar penuh, saya baru saja menyelesaikan beberapa artikel dalam Media Online pribadiku. Saya melompat keluar dari kamarku, menjemput siang. Kepanasan dan  kehausan menyengat kerongkongan. Satu-satunya kerinduanku ialah ingin memuaskan dahagaku dengan air kepala muda nan segar. Segera kustarter motorku lalu aku berjalan menyelusuri jalanan beraspal. Tujuanku ialah daerah sekitar Motamaro-Belu tempat di mana saya sering menemukan orang menjual puluhan kelapa muda yang segar. Tak berapa menit kemudian, saya menyelusuri jalan lurus, jalan beraspal licin.

Continue reading Di Bawah Naungan Savana (1)

Lonceng Sekolah

Oleh: Blasius Mengkaka, S.Fil             Diposkan pada 19 Pebruari 2014

Aku berjalan tegak menyelusuri lorong sekolah, sesekali pandanganku meneliti tembok-tembok sekolah yang kokoh dilaburi cat putih yang mulai mengelupas termakan usia. Tiang-tiang kokoh sekolah yang tegap menjulang seakan sedang tersenyum untuk mengiringi langkah kakiku perlahan. Aku melewati lorong Mading Sekolah yang dipenuhi aneka tulisan para siswaku.

Continue reading Lonceng Sekolah