Category Archives: Inmemoriam

SMA Kristen Atambua Berduka di Awal Tahun 2016

     Kira-kira jam 12.30 atau lebih siang Wita tanggal 1 Januari 2016, dua orang mantan siswaku di SMA Kristen Atambua mengabarkan berita dukacita atas meninggalnya mantan Kepala SMA Kristen Atambua Abraham Dakamoly, SM di beranda grup Facebook: Kumpulan Alumnus/i SMA Kristen Atambua. Lalu dukacitapun menyelimuti seluruh anggota grup  Facebook yang saat itu berjumlah 1.268 anggota dan berbagai ucapan dukacitapun dikirimkan di beranda grup Facebook ini.

     Alm. Abraham Dakamoly, SM ialah kepala SMA Kristen Atambua dalam jangka waktu antara tahun 2000 hingga tahun 2014. Almarhum meninggal dunia karena sakit setelah dirawat di ruang ICU RSU Gabriel Manek Atambua. Boleh dikatakan riwayat penyakitnya secara intensif telah dimulai sejak beliau berhenti sebagai Kepsek SMA Kristen Atambua tahun 2014.

Continue reading SMA Kristen Atambua Berduka di Awal Tahun 2016

Selamat Jalan Taufik H Mihardja, Engkaulah Salah Satu Putera Terbaik Indonesia!

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil                       Dipublikasikan pada 27 Agustus 2014

Taufik H. Mihardja
Foto diambil dari www.kompasiana.com/taufikmihardja

Saya baru saja kembali dari Sekolah setelah mengajar tiga jam Pelajaran hari ini. Tidak sempat saya menjatuhkan diriku di kursi ruang Guru. Terlihat beberapa kawan Guruku sedang asyik membuka Komputer. Continue reading Selamat Jalan Taufik H Mihardja, Engkaulah Salah Satu Putera Terbaik Indonesia!

Setelah Kematian, Ada Kehidupan

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Sabtu, 25 Januari 2014

     Jumat malam, 24 Januari 2014, saya mengikuti misa requiem bagi alm. Ibu Maria Ignasia Mbabo, S.Pd di rumah duka Halilulik. Ibu Ina adalah sapaan akrab guru yang baru saja meninggal dunia ini. Sehari-hari Ibu Ina adalah guru BP pada SMAN Kimbana, Belu, NTT. Rumah kami bertetangga dengan rumah ibu Ina. Malam itu, dalam rasa duka saya berkunjung untuk memberikan penghormatan terakhir di depan jenasahnya. Kulantunkan untaian doa Bapak Kami dan Salam Maria dalam kalbuku untuk peristirahatan kekal jiwa almarhumah. Dari tepi peti jenazahnya, kulihat, Ibu Ina berbaring tenang dan damai. Semoga Tuhan mengampuni dosanya dan menganugerahkan hidup kekal kepada beliau, doaku dalam hati. Setelah memberikan penghormatan, sayapun keluar dan berbaur dengan para pengunjung yang terbanyak ialah kaum keluarga, handai taulan dan rekan-rekan gurunya. Selang beberapa saat kemudian, keluarga mengumumkan bahwa beberapa menit lagi akan diselanggarakan misa requiem. Wah..bahagia rasanya mengikuti misa requiem.

     Beberapa saat kemudian misa requiempun dimulai. Pemimpin misa ialah seorang Imam Fransiskan yang pernah bertugas di paroki Cilincing Jakarta. Ia kini mengabdi di Keuskupan Atambua bagian pastoral Legio Mariae. Rupanya Ibu Ina semasa hidupnya ialah seorang aktivis Legio Mariae. Malam itu, saya sibuk untuk mengingat kotbah dan ayat Injil yang dibacakan oleh sang imam pengkotbah. Nas Injil diambil dari Yoh. 6: 25-40 tentang roti hidup. Saya tertarik dengan ayat di mana Yesus mengatakan bahwa “Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepadaKu ia tidak akan lapar lagi dan barang siapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi…”. Pater menjelaskan perikop ini dengan pemahaman yang bagus dan mudah dimengerti umat melalui sebuah ceritera. Ia berkata, “Saya ingin mensharingkan sebuah pengalaman pastoral saya yang membuat saya hingga saat ini menjadi percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian”, kata sang pengkotbah malam itu.

     “Ada 2 saudara-saudari kandung di sebuah tempat di Jakarta. Sang puteri memilih masuk biara dan menjadi suster, dan seorang lagi hidup dalam kesesatan yang luar biasa. Akibat cara hidupnya yang sesat maka hingga kematiannya ia dalam posisi tersesat. Mendengar peristiwa ini sang saudari yang merupakan suster menjadi sedih. Suster itupun selalu mendoakan keselamatan arwah si tersesat yang adalah saudara kandungnya lalu pergi ke rumah mereka untuk melayat. Pada suatu malam, dalam biara suster di mana saudarinya hidup sebagai biarawati, berkumpullah para biarawati di kapela. Mereka masing-masing berdoa kepada Tuhan Yesus. Seorang suster, sahabat saudari si tersesat itu berdoa bagi keselamatan jiwa orang yang mati itu. Tiba-tiba ia merasa bahwa ada tangan yang mengkorek-korek perutnya seraya berbisik, “Doakanlah saya terus ya? Jalan saya sedang gelap..” kata jiwa dalam alam gaib berbisik kepada suster itu. Doapun selesai dan mereka berkumpul di ruang makan biara.

     Sementara makan, jiwa orang mati itu masuk ke dalam diri suster. Seluruh penghuni biarapun tekejut. Suster itupun di bopong ke dalam kamar tidurnya. Tiba di kamar tidur, jiwa orang mati itu berbicara melalui suara suster. Ia meminta untuk bertemu dengan seorang imam. Para susterpun meminta saya datang menemui suster yang keserupan itu. Tiba di depannya jiwa orang mati yang masuk ke dalam diri suster itu meminta agar dirinya memperoleh sakramen orang sakit, pengakuan dosa dan komunio. Jiwa itu bahkan memberi nomer HP dari saudarinya yang merupakan suster di biara itu. Setelah dicek ternyata no. HP itu benar. Maka sebagai seorang imam, sayapun mengikuti apa yang diminta oleh jiwa itu. Saya memberi sakramen orang sakit, mendengarkan pengakuannya dan memberinya komunio. Setelah semua beres, jiwa orang itupun berkata, “Sekarang jalan saya sudah terang”. Setelah itu sayapun menyuruh jiwa itu pulang dan tak berapa lama kemudian suster itu menjadi normal kembali”.

     Imam, sang pemimpin perayaan misa itu menandaskan bahwa berdasarkan pengalaman itu ia yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian. “Dalam peristiwa kematian, kehidupan bukannya berakhir namun kehidupan masih berlanjut dalam transformasi baru. Jiwa-jiwa kaum beriman tetap bersama kita. Mereka menanti doa-doa kita dan apabila mereka telah berada di surga akibat doa-doa kita maka mereka akan menjadi pendoa kita juga. Jadi ada semacam hubungan timbal balik, kita mendoakan mereka untuk selamat lalu mereka setelah selamat akan mendoakan kita supaya selamat seperti mereka. Pengalaman ini menyadarkan saya untuk selalu berdoa kepada arwah sanak keluargaku setiap hari. Setiap kali saya selesai mendoakan mereka, hati saya jadi tenteram dan saya dapat menjalankan tugas pastoral dengan aman. Sangat penting bagi kita yang masih hidup untuk mendoakan jiwa orang yang telah meninggal dunia, terlebih keluarga kita. Dengan mendoakan arwah, kita akan hidup baik dan benar. Nilai hidup bagi kita ialah terletak pada kebaikan dan kebenaran. Kebaikan dan kebenaran ialah nilai yang paling tinggi dalam kehidupan ini dan bertahan abadi”, kata Pastor pemimpin perayaan itu dengan suara tegas.

     Saya beryukur bisa mendapatkan ilmu baru dalam kesempatan misa reqiem rekan guru SMA ini. Kotbah ini tentu menyadarkan saya untuk percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Bahwa kita harus terus mendoakan arwah orang beriman yang meninggal dunia terlebih arwah keluarga kita. Mereka tetap bersama kita dan mendoakan kita. Terlebih bahwa kita harus terus mengejar dan mempraktekkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran selama hidup ini sebab nilai-nilai itu akan bertahan selama hidup di dunia ini dan tetap bertahan dalam kehidupan di dunia sana. Dalam kesempatan makan malam sebelum berpisah ke rumah kami masing-masing, saya sempat berbisik kepada Pater bahwa ilustrasi dan kotbah tadi merupakan ilustrasi dan kotbah yang bagus. Saya belajar dari semuanya untuk kehidupanku.

                                 ________________________________

Puisi Untuk Ayah

    Oleh: Blasius Mengkaka

Menuliskan hasil meditasi tentang realitas dan pengalaman – (C)KOMPASIANA.com/1B3las-MK. Kunjungi juga Blog: BLASMKM.COM

FIKSI | 28 September 2013 | 14:40 Dibaca

13803553701797716347

Inmemoriam Mathias Thomas Meko (*Hebing HB. 1927- +Halilulik Indo., 2002)

Ayah, tiang utama penopang Keluarga, teladan iman, kasih dan kesetiaan

 

Ayah,

di dalam cahayamu

keremangan malam dan pagi berubah menjadi cerah

menemui hari-hariku

Hidupmu seperti sebuah Balada paling puitis yang patut kukenang selalu

Jernihnya pandangan dan ingatanmu, seperti purnama bulan

Akan terus kukenang indahnya hasil karyamu

Dan juga segarnya kisah hidupmu penuh bahagia, seperti embun sejuk di pagi hari

dan kehangatanmu paling asli di tengah dinginnya malam

Engkaupun memberikan berkat laksana Yakub di saat terakhir hidupmu

Memberikan anugerah dan rahmat bagi kami’ anak dan cucumu

Ayah…

Hidupmu penuh kelimpahan cahaya suci

yang datang menerangi kegelapan dunia kami

Ayah berjuta kisah kau torehkan dalam hidupmu

merupakan kenangan yang tak terlupakan

Di balik kesetiaanmu

Di dalam doa-doa dan harapanmu

Bersama tetesan keringat yang mengalir di tubuh

memancarkan cahaya kehidupan

Ayahku….

Berkat Sang Khalik ada di tanganmu untuk kami

Meskipun dalam suasana dan cuaca apapun

Engkau tetap setia untuk kami

Ayah.

kini kusadari bahwa engkaulah ceritera tentang kasih, iman dan setia

yang tak berujung

dengan berselimutkan sejuta mawar harum mempesona

dalam tidur abadimu kini

bersama Pencipta di tempatNya paling tinggi

Cahayamu memancar dalam kemilau cinta di bumi

tempatmu dahulu berpijak dalam alunan melodi indah

penuh makna

 

Ayah,

kini di pembaringan abadimu

Engkau tertidur lelap namun engkau tetap pancarkan cahayamu

Untuk menerangi hari-hari kami

Semoga berkat Tuhan melimpah atasmu

dari tempatNya yang tertinggi

 

Ayah,

kami tetap bersamamu dalam doa-doa

dalam menanti zaman akhir (endzeit), saat di mana kita bertemu muka dengan muka

dengan Sang Khalik, puncak pemenuhan janji Tuhan akan terlaksana

Semoga amal abdimu tetap dikenang dan terus hidup di dalam sanubari anak-cucumu

 

Sabtu, 28 September 2013

Foto: Dokumen Keluarga

Inm. Bapak Mathias Thomas Meko (1927-2002)

 Pengantar 

Sebagai anak-anaknya, pada 9 Mei 2013 yang lalu, kami memperingati dalam hati kami kepergian ayah kami yang terkasih Bapak Mathias Thomas Meko yang ke-11 tahun. Pada kesempatan seperti ini, kami: saya, mama, saudariku Yustina Meko, ke-3 putera saudara saya Fransiskus Pitang Meko berziarah dan hening di hadapan pusara ayah yang dibaringkan di atas sebuah bukit yang bernama bukit Kalvari, yang dahulu merupakan tempat perhentian terakhir jalan salib paroki Roh Kudus Halilulik. Kami mohon agar ayahku tetap bersama kami melalui doa-doanya di hadapan Allah di surga bagi kedamaian, keselamatan dan kebaikan kami semua keluarga yang ditinggalkannya. Selalu ada rasa kedamaian bathin bila berada di dekat pusara ayahku. Kami semua merelakan kepergian ayah tercinta dengan pasrah. Tuhan telah menghendaki hal terbaik buat ayah kami.

Bulan Juni 2013, seorang sepupuku Halehebing, kampung asal ayahku. Beliau datang untuk menghantar Frengki yang ingin melanjutkan sekolah di SMA HTM Halilulik. Terasa ada kedamaian bathin juga setiap kali keluarga ayahku berkunjung ke rumah kami, terlebih saudara sepupuku se-ayah di Halahebing, seorang guru. Beliau selau memberikan perhatian terhadap keluarga kami sepeningggalnya ayah sejak 9 Mei 2002. Tulisan ini hanya ingin mengetengahkan riwayat hidup ayah dan karya-karyanya di bumi Flores dan Timor. Semoga lewat tulisan ini, nama ayahku tetap terkenang dalam hati kami, sebagai prasasti yang abadi.

Riwayat Hidup dan Pendidikan

Ayahku lahir pada tahun 1927, sesuai dengan yang tertulis dalam KTP seumur hidupnya. Ia lahir di Hebing-Sikka-Flores-NTT. Ia merupakan anak ke-lima dan putera ke-2 dari alm. Moang Bapa Botha da Iry dan alm. Ina Dua Gokung Bully. Keduanya berasal dari Pedat, Hebing. Menurut bapakku, ayahnya, alm. Moang Bapa Botha da Iry pada masa itu berperanan sebagai seorang Pemangku Tuan Tanah Besar Hale-hebing, 2 kampung yang saat ini telah menjadi 2 desa. Sebagai Tuan Tanah Besar Halehebing, otomatis kakekku Alm. Moang Bapa Botha da Iry memiliki kekayaan besar pada masanya dan dianggap sebagai kepala adat. Pada masa itu, wilayah Halehebing masih masuk dalam wilayah Hindia-Belanda (wilayah jajahan kolonial Belanda). Sebagai pemuda terpandang, ayahku diperbolehkan mengecapi pendidikan, yang orang lain sulit dapatkan ketika itu. Dalam umur 12 tahun beliau masuk Vervolksschool di Watubaler dan berhasil menamatkannya dengan predikat juara pertama. Oleh karena kecerdasannya itu pula, ia dipilih bersama kerabatnya Andreas untuk melanjutkan ke Standardschool Lela-Sikka.  Iapun berangkat ke Lela dengan mengendarai kuda dan mulai belajar di sekolah itu hingga tahun 1942. Di Standardschool Lela. Ia belajar tentang matematika, membaca dan menulis, agama, dan perkebunan/pertanian.

Ia memperoleh pendidikan agama Katolik yang cukup bagus antara lain lewat penerimaan sakramen krisma oleh YM Mgr Heinricus Leven. Maka sejak saat itu, namanyapun ditambahkan Thomas, hingga lengkapnya Mathias Thomas Meko. Nama Thomas adalah nama yang diambil dari Bapa Krismanya yakni raja Don Thomas Ximenes da Silva yang saat itu sebagai raja Sikka. Namun dalam KTP di Belu, dia lebih suka namanya hanya Mathias Meko, tanpa Thomas. Nama Thomas baru saya tambahkan belakangan untuk mengenang sejarah penerimaan sakramen Krisma di Maumere yang diterimanya.

Pada tahun 1942, Standardschool Lela menghentikan kegiatan persekolahannya karena terjadi perang dunia ke-II. Jerman menyerbu Belanda dan tak lama kemudian Jepang menyerbu Hindia Belanda. Semua aktivitas sekolah di Hindia Belanda menjadi terhenti-total. Para misionaris asal Belanda diinternir oleh tentara Jerman dan Jepang. Pada masa perang dunia ke-2, Jerman dan Jepang dalam posisi melawan tentara sekutu. Belanda berpihak pada sekutu. Wilayah Flores dan sekitarnya juga menjadi sasaran serbuan imperialisme Jepang. Gereja Sikka, gereja Maumere, gedung Standardschool, Seminari Tinggi Ledalero juga diserbu dan dikuasai oleh tentara Jepang. Semua rakyat dipaksa untuk bekerja untuk Jepang demi memenangkan perang Asia Timur Raya. Ketika penyerbuan Jepang ke Flores khususnya wilayah Sikka sekarang ini, ayahku memutuskan untuk kembali ke Hebing, Flores untuk menghindari kerja samanya dengan Jepang. Ia tinggal di Hebing. Di Hebing, ia mengajar umat tentang pelajaran agama Katolik, doa-doa dan pelajaran lainnya. Semua itu dilakukannya karena ketiadaan para imam yang melayani umat karena diinterinir oleh Jepang. Ia bergiat demikian hingga masa akhir perang dunia ke-2 yakni ketika Hiroshima dan Nagasaki di bom atomi oleh sekutu pada bulan Agustus 1945. Akibat bom atom itu, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu.

Setelah semua tentara Jepang ditarik dari wilayah Flores, para misionaris SVD yang diinternir oleh tentara Jepang dan tentara Jerman kembali ke Paroki dan Seminari Tinggi Ledalero untuk bekerja seperti biasanya. Ayahkupun dimintakan untuk kembali bersekolah di Standardschool Lela. Semua pelajar Standardschool dimintakan untuk kembali belajar seperti biasa. Detik-detik itu memang sangat menegangkan karena Ir Soekarno dan Drs Mohamamd Hatta baru saja memproklamasikan kemerdekaan RI. Di Jakarta, kota-kota besar di Jawa, Bali dan Sumatra berita-berita tentang Proklamasi RI cepat tersiar.

Namun di NTT, khususnya di Flores berita proklamasi RI sangat lamban tiba karena sistem-sistem informasi dan komunikasi di wilayah Resident Timor een Oderhoorigedehen, khususnya di Flores ditutup oleh Belanda. Akibatnya banyak penguasa pribumi Flores ada yang masih bekerja sama dengan Belanda. Mereka mengira bahwa Indonesia belum merdeka. Hal itu terjadi oleh sebab kesulitan dan keterlambatan informasi tentang Proklamasi RI. Komunikasi pada masa itu memang sangat sulit dan terbatas sekali. Mungkin karena komunikasi kurang bagus pada masa itu sehingga pergerakkan kemerdekaan untuk mendukung RI mula-mula memang masih lamban. Namun akhirnya menjadi gegap gempita juga. Para pemuda mulai menghidupkan semangat Republik dalam seluruh aspek kehidupannya termasuk cara berpakaian ala Republik atau ala Soekarno. Mereka selain bergelora oleh semangat Proklamasi RI, juga mereka menirukan tokoh-tokoh pergerakan semisal, Bung Karno dan Bung Hatta yang tampil begitu ganteng dan menarik. Para pemimpin RI pada masa itu menjadi publik figur, dan tokoh panutan dalam berbicara, bersikap dan berbusana.

Pada awal tahun 1945- hingga tahun 1950, sekolah-sekolah dengan sistem Belanda masih tetap dijalankan di Sikka dan Maumere. Ayah dan kawan-kawan tetap bersekolah dalam sistem Belanda dengan pengawasan dari para imam misionaris Eropa. Pendidikan Standardschool Lela yang sedianya hanya 4 tahun, namun akhirnya ditambah 1 tahun lagi khusus untuk sekolah pertanian. Jadinya pendidikan Standardschool Lela yang menurut ayahku lamanya menjadi 5 tahun. Ayah berhasil tamat atau lulus Stadardschool 5 tahun Lela dengan hasil yang bagus.

Tamat Standardschool Lela merupakan sebuah prestasi besar pada masanya. Pada masa itu, orang bisa langsung menjadi guru sekolah rakyat 3 tahun. Namun ayahku tidak memilih langsung bekerja setelah tamat Standardschool Lela. Ia bersama kerabatnya Andreas memilih untuk tetap melanjutkan sekolah. Andreas memilih untuk menjadi guru dan berangkat ke Ndona-Ende untuk bersekolah pada sekolah guru, Schacelschool (Sekolah guru) di Ndona. Ia kemudian menjadi seorang guru di Hebing hingga masa pensiunnya dan juga ia telah berpulang bertahun-tahun sebelum ayahku berpulang. Al. Bapa Guru Andreas memiliki seorang puteri yang saat ini sebagai bidan/perawat di Hebing. Ibu bidan, puteri alm. Moat guru Andreas menikah dengan guru Bernadus Baba, BA, Kepsek SMPK PGRI Lerohae, Halehebing sekarang ini.

Setelah tamat Standardschool Lela 1946, ayah memilih masuk sekolah pertukangan di Maumere. Ini adalah sebuah sekolah pertukangan yang didirikan sejak masa Hindia Belanda, namanya Ambachtschool. Ayah melanjutkan studynya di Ambachtschool Maumere pada tahun 1949. Selama 3 tahun, beliau masih berada di kampung halamannya Hebing. Beliau masih bekerja di Hebing sebagai guru agama dan mengajar umat untuk berdoa bersama. Ia masuk Ambachtschool pada tahun 1949 hingga tahun 1952. Pendidikan Ambachtschool hanya diselesaikannya 3 tahun dari 5 tahun masa pendidikan. Menurut kepala sekolah Ambachtschool, ayahku diluluskan lebih awal karena kecerdasannya dan juga karena kebutuhan mendesak. Ia tamat Ambachtschool 3 tahun lebih awal. Namun Ijazah Ambachtschoolnya belum langsung diberikan kepadanya. Ia hanya diberikan sebuah catatan dari Kepala Sekolah Ambachtschool Maumere yang mengatakan bahwa ia boleh diperlakukan dan menerima gaji seperti tamatan Amabachtschool lainnya dan akan diberikan ijazah setelah 2 tahun bekerja di Misi Timor-Atambua.

Pada tahun 1952, atas permintaan YM Vikaris Apostolik Atambua, Mgr Jackobus Passers, SVD, tamatan tukang-tukang Ambachtschool Maumere dimintakan untuk datang dan membangun misi di Timor yakni gereja dan biara-biara SVD di Atambua, Timor. Pimpinan Ambachtschoolpun menetapkan 4 orang tamatan Ambachtschool Maumere untuk berangkat ke Atambua. Mereka ialah alm. Thomas Tety, Alm. Paulus Deong, Alm. Mathias Meko, Alm. Herman Sadipun. Keempat tukang ini disebut tukang inti atau tenaga trampil atau tukang halus. Sementara itu ikut juga bersama dengan ke-4 tukang inti itu banyak tukang gergaji, tukang batu, tukang cat, tukang las, dll yang bukan tamat Ambactschool Maumere namun mereka berasal dari masyarakat di wilayah Maumere timur. Tukang-tukang yang bukan inti ini bertugas mendukung dan membantu tukang-tukang trampil tamatan Ambachtschool Maumere, hal inilah yang menyebabkan gaji ayahku lebih banyak dari tukang-tukang bantu. ia memperoleh gaji yang cukup besar yakni sekitar 25 Gulden, sementara tukang-tukang bantu hanya sekitar 5 Gulden saja. Pada awal kemerdekaan, di Timor, mata uang Belanda Gulden masih terpakai baik untuk gaji mapun untuk perdagangan, adat dan perhiasan, sebelum digantikan dengan uang rupiah.

Ayah Menikah Dengan Ibuku

Ayahku menikah setelah kawan-kawan tukang inti dari Ambachtschool Maumere menikah. Jadi ia tergolong terlambat menikah. Hal itu disebabkan karena ayahku dan ibuku lama terikat dalam masa pertunangan. Selama bekerja di Misi Halilulik dan Besikama, ia berkenalan dengan mamaku. Mamaku pada waktu itu baru saja menginjak kelas 5 di Sekolah Dasar Kakuun, Kusa. Menurut ceritera ayah bahwa mamaku tinggal bersama kakek buyut kami alm. Stanislaus Mali, seorang Vetor Besar Nurobo. Ia tinggal bersama nenek buyut Rosina Aek di rumah adat Mamulak Slakwain Nurobo sekarang ini. Ketika itu, ayah setia mengunjung nenek buyut Rosina Aek pada setiap hari sabtu. Hingga sebelum tamat SD, ayah dan ibu telah terikat pertunanganan. Maka oleh karena umur ibu yang masih muda dan belum tamat SD, keluarga mamaku dan ayah sepakat untuk membiarkan mama melanjutkan sekolah SD di SD Atambua dan KRT Atambua. Selama 5 tahun bersekolah di KPR Atambua, ayah dan mama telah menjadi tunangan. Ini sebuah masa pertunangan yang lama. Setelah tamat KRT Atambua dan dianggap dewasa oleh para suster Eropa dan pastor Eropa barulah ayah dan mamaku melangsungkan perkawinan Katolik di Nurobo.

Pada masa itu bertindak sebagai orang tua dekat dari pasangan ayah/mamaku ialah alm. Bapak Thomas Tety dan alm. Mama Florentina Lin. Diperoleh informasi bahwa alm. Mama Florentina Lin merupakan puteri raja Silawan, dari raja Aloysius Besin Manek. Raja Aloysius sendiri merupakan putera dari raja Silawan pertama raja Datuk Mauk yang dilantik kolonial Belanda menjadi raja Silawan pada tahun 1900. Ayahku menceriterakan kepada kami bahwa beliau sendiri – dengan gaji-gajinya yang cukup besar pada masa itu – berusaha melunasi tuntutan adat yang dituntut pihak keluarga mamaku. Ia berjuang mencari uang dari hasil gajinya untuk membayar biaya mas kawin yang tergolong besar pada masa itu, sesuai tuntutan feodalistis, sisa-sisa  warisan kolonial Belanda. Ia berhasil menuntaskan tuntutan adat, sehingga keluarga kami bisa diboyong untuk tinggal di Halilulik bersama keluarga Bapa Thomas Tety yang seterusnya biasa saya panggil bapa bot dan mama bot (bapak besar dan mama besar). Namun demikian kakek dan nenek kami di Nurobo selalu memperhatikkan kebutuhan mama mulai dari hal kecil hingga besar. Keluarga mama selalu mengunjungi kami di Halilulik.

Ketika  tinggal di Halilulik, mama membawa serta seorang bayi laki-laki yang bernama Ignatius Nana, saudara mama yang baru saja lahir. Itulah sebabnya Om Igantius Nana kami anggap sebagai kakak sulung kami hingga hari ini. Tahun 1967, saudari sulung saya Veronika Nurak Meko lahir. Ayah dan ibuku amat senang. Namun 3 tahun kemudian saudariku itu meninggal dunia. Ia dimakamkan di perkuburan di belakang gereja Halilulik. Anak kedua ialah Antonius Kasang Meko, kakak Anton lahir pada tahun 1967, namun ia meninggal dunia pada tahun 1977, beberapa bulan setelah saudariku Yustina Meko lahir. Kakak Anton meninggal sebelum ia menerima komunio pertama. Ia dimakamkan di pekuburan Katolik di samping kuburan biara para suster SSpS Timor.

Daftar lengkap nama-nama anak-anak kandung Bapak Mathias Meko dan Mama Yuliana Funan ialah sebagai berikut:

1. Veronika Nurak Meko (1965-1968)

2. Antonius Kasang Meko (1967-1977)

3. Bonifasius Moang Bapa Meko (1968- sekarang)

4. Fransiskus Pitang Meko (1971- sekarang)

5. Blasius Moang Kaka Meko (1973- sekarang)

6. Maria Yustina Meko (1977- sekarang)

Cucu-cucu: Even Pitang Meko, Roger Pitang Meko, Vinsensius Pitang Meko

Anak angkat: Ignatius Nana, dll

Beberapa Aktivitasnya

Sejak masa Ambachtschool, ayah merupakan pemain musik orkes yang handal. Ia menjadi anggota grup musik Fanfare Ambachtschool Maumere yang sering unjuk kebolehan dalam bermusik. Ia memiliki kelihaian bermusik seperti Okulele, gitar, harmonika dan alat-alat musik tiup. Ia juga memiliki kemampuan bernyanyi dengan suara yang bagus. Oleh karenanya ia terpilih menjadi anggota Coral gereja. Para anggota penyanyi Coral gereja merupakan penyanyi inti dalam liturgi gereja sebelum Konsili Vatikan II. Penyanyi Coral bertugas menyanyikan mazmur tanggapan dan jawaban nyanyian liturgis gereja selama perayaan ekaristi pada zaman gereja sebelum Konsili Vatikan II. Bakat musik seperti ini, terus ia bawaserta dalam pergaulan dan sosialisasi di Belu-Timor. Pada pesta perkawinan, ia bertugas dalam bidang musik untuk mengiringi acara dansa. Ia juga piawai dalam menari dansa. Keahlian ini, dia tularkan kepada para pemuda Belu pada masa itu. Bersama Pak Guru Mikhael Lopez, ia juga termasuk dalam grup pemusik yang sangat digemari.

Pada Pemilihan umum pertama di RI ini yakni tahun 1955, Bapak terpilih menjadi ketua TPS di sebuah kampung terpencil di wilayah Kenaian Naitimu. Dia merupakan pendukung Partai Kontas atau Partai Katolik yang menghadirkan sosok Drs Fransiskus Sedha. Ia berjuang agar Partai Kontas memenangkan Pemilu di Belu pada masa itu. Pemilu tahun 1955 memang berhasil memenangkan Partai Katolik di wilayah Belu. Dengan kemenangan Partai Katolik itu, maka otomatis pemimpin Partai Katolik, Drs Frans Sedha semakin kuat posisinya di tingkat pemerintahan pusat. Drs Frans Sedhapun terpilih menjadi menteri semasa Presiden Soekarno. Terpilihnya Drs Fransiskus Sedha sebagai Menteri dari Partai Katolik sangat membanggakan diri ayah. Maka dia menamakan salah seorang saudaraku bernama Fransiskus Pitang Meko. Nama Fransiskus konon diberikan kepada saudaraku, pada saat kunjungan Menteri Frans Sedha ke Flores pada tahun 1971, pada saat saudaraku itu lahir.

Pada tahun 1975, ketika pergolakan ke Timor-Timur, beliau dilatih menjadi TBO (Tentara Bantuan Operasi) oleh TNI. Ia menjadi pemimpin regu di kelompoknya. Tugas TBO ialah memberikan bantuan oprerasi tempur kepada TNI bila dalam masa kritis. TBO adalah salah satu unsur Pertahanan Sipil demi pembelaan negara. Meskipun menjadi anggota TBO namun beliau sendiri tidak dilibatkan di garis depan dalam pertempuran tersebut. Dan memang beliau belum pernah menginjakkan kakinya di bumi Lorosae sepanjang hidupnya hingga ajal menjemputnya pada 9 Mei 2002 yang lalu. Latihan militer ini memungkinkan ia terlihat berbicara tegas dan gertak. Ia cukup menjadi petugas jaga dalam ronda kampung saja. Itu sudah cukup baginya untuk berjaga-jaga hingga pagi bersama sahabat-sahabatnya di kampung Halibaurenes.

Sebuah pengalaman yang cukup berkesan baginya ketika beliau dipercayakan menjadi pembangun istana raja Insana di Oelolok. Desain koseng, pintu, jendela dan rumah itu dikerjakannya sendiri atas petunjuk raja Laurentius Taolin. Ia berceritera bahwa Ia dan raja Laurentius terlihat akrab, bahkan tidur sekamar dengan raja di Istana Oelolok ketika pembangunan istana raja Insana.

Selain itu, pembangunan desain lata seng gereja Halilulik yang rumit itu dikerjakannya sendiri. Ia ditunjuk oleh seorang bruder Jerman untuk sendiri mengerjakan lata seng dengan lengkungan yang rumit itu, seperti yang sekarang ini terlihat di gereja Halilulik. Untuk pemasangan lata seng dengan lengkungan yang rumit tersebut, beliau harus memanjat dan bergantungan pada ketinggian gedung yang membahayakan jiwanya bila tidak hati-hati. Kenyataan seperti itu merupakan sebuah kebanggaan yang dia ceriterakan kepada kami berkali-kali. Desain rumah murni yang sampai saat ini masih terlihat utuh dan masih dipakai dengan baik bisa terlihat dalam desain rumah pribadi kakek dan nenek Alexander Lalus Taekap di Nurobo. Rumah tersebut hampir desain dan pengerjaan lata seng, pintu jendela, dll dikerjakannya sendiri dengan tangannya.

Ayahku Menjadi Tiang Pokok Keluarga dan Teladan Bagi Kami 

Riwayat pekerjaan ayah sebagai tenaga pembangun terdidik tamatan Ambachtschool Maumere selalu melekat dengan masa-masa kerjanya di Misi Maumere sebagai tenaga pembangunan yang menangani bagian halus. Ia bekerja membangun pastoran, paroki, kapela dan sekolah misi. Ia bekerja membangun perabot-perabot rumah tangga seperti meja,kursi, lemari pakaian, pintu, jendela, membangun rumah tinggal, dll. Baik sebagai seorang pembangun yang digaji misi semenjak ia bergabuing sebagai tenaga pembangun misi Katolik hingga beliau berhenti dari misi pada tahun 1982. Ia berhenti dari misi demi perhatiannya pada keluarga. Sebagai gaji terakhir ia mendapat gaji selama 5 bulan.

Selanjutnya sejak tahun 1982, beliau terlibat aktif dalam pembangunan rumah-rumah penduduk, perabot-perabor rumah penduduk di sekitar Halilulik hingga TTU. Ia juga terlibat dalam pekerjaan pembangunan sekolah-sekolah dasar di Belu. Mungkin ratusan rumah atau ribuan rumah telah dibangunnya baik di Flores, maupun di Timor bersama tukang-tukang lainnya.

Ia bekerja hingga masa pensiunnya. Selain bekerja sebagai pembangun, ia juga bekerja sebagai petani. Ia memiliki 2 bidang lahan yang diolahnya. Ia menanam jagung, kacang-kacangan, dll. Dengan bekerja demikian ia telah menghidupi kami anak-anaknya. Ia menjadi tiang pokok keluarga kami. Ia seorang yang sangat sabar, setia dan sangat dekat dengan kami semua. Ia bukan seorang pemabuk, bukan seorang penjudi, bukan seorang peminum. Ia telah menjadi teladan bagi keluarga yang luar biasa.

Ia selalu menasihati kami untuk bersikap sabar, jujur, lurus dan bekerja tanpa pamrih. Ini adalah teladan hidup yang diwariskannya kepada kami. Selain itu, ia juga seorang pendoa. Ia seorang yang setia pada imannya dan setia pada janji perkawinannya sampai ajal menjemputnya dengan sangat tenag dan damai pada 9 Mei 2002 ditemani mama dan adik Yus. Kini kami yakin bahwa ayah telah berbahagia di surga. Ayah telah menemukan rumah abadinya. Ayah telah beristirahat dalam damai setelah berjuang di bumi fana ini.

Penutup

Pada 9 Mei 2013 yang lalu, kami mengenangkan kepergian ayah ke hadirat Allah yang ke-11 tahun. Pada kesempatan seperti itu, perayaan misa menjadi sarana yang mempersatukan kami semua, baik kami yang masih berada di dunia fana ini maupun alm. bapa yang telah berada di surga. Teladan ayah semasa hidup telahmenjadi kekuatan bagi kami. Ayah menjadi tiang pokok keluarga baik di dunia ini maupun ketika dia meninggal. Kami percaya bahwa kami memiliki seorang pendoa di surga, dia adalah ayah kami. Kami juga selalu mendoakannya dan selalu berziarah di makamnya. Tuhan selalu mempertemukan kami lewat doa-doa. Kami masih tetap merasa satu dalam doa. Namun sebagai anak-anaknya, kami merasa masih memiliki hutang budi kepada ayah kami. Itulah hutang yang tak terbayarkan kepada ayah. Peribahasa mengatakan bahwa ‘hutang emas bisa dibayar namun hutang budi biarlah dibawah sampai mati’. Kami tetap berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan memberikan kami seorang ayah yang baik dan setiawan. Semoga Tuhan tetap memberkati, mengampuni dan menerima doa-doa ayah kami. Amin      

Foto Alm. Bapak Mathias Thomas Meko

  Foto Alm. Bapak Mathias Thomas Meko(Foto: Dokumen Keluarga Al. Mathias Meko)

Inm. Wolfgang Ndouk, SVD

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Selasa, 2 Oktober 2012

Melalui beberapa Media Online di Internet, saya membaca sebuah peristiwa yang sangat menggemparkan telah menimpah komunitas imam keuskupan Ruteng, bahwa Pastor Gun Ndouk, SVD, yang bertahun-tahun menjadi dosen mata kuliah Sejarah Gereja di STFK Ledalero, prefek para frater SVD dan Pembantu Ketua I STFK Ledalero ditemukan meninggal dunia di kamarnya di rumah penginapan para imam keuskupan Ruteng deng an kondisi jenasah yang saat itu mulai menghitam.

Berita ini menjadi buah bibir semua alumni SVD dan para frater SVD, keluarganya, semua umat dan handai taulannya di seluruh dunia. Ironisnya kematian telah menjemput imam berumur 59 tahun dan ditahbiskan imam pada tahun 1983 dengan cara yang sangat tragis. Beliau baru ditemukan setelah meninggal 4 hari di kamarnya yang terkunci. Beberapa Media Online sempat menulis dengan judul yang menggemparkan yakni: Pater Gun Ditemukan Membusuk di Kamarnya,sebuah judul yang sangat menggemparkan dan membuat rasa takut semua orang yang membaca judul itu.

Setelah membaca berita-berita dari beberapa Media Online, saya seperti kurang yakin akan kepergiannya yang mendadak dan akan kondisi mayat sang pastor dan dosenku yang sedemikian rusak seperti pemberitaan Media-Media Online tersebut. Maka secara tanpa sadar dan dalam rasa duka sayapun menulis tanggapan di Wall Facebookku dan di Wall komunitas Facebook Ikatan Alumni SVD (IAS) dengan ringkasan tulisan seperti ini: Media harap jangan terlalu menulis berita yang membuat panik dan ketakutan umat katolik. Cobalah merubah judul berita itu seperti: Setelah Tiga Hari, Tiga Malam, Pater Gun Ditemukan Meninggal Dunia diKamarnya. Dengan membuat judul demikian, kita bisa meredam kepanikan, ketakutan, kekecewaan dan keputusasaan umat beriman. Hal itu patut dimaklumi sebab bagaimanapun juga, beliau adalah seorang gembala umat katolik dan seorang dosen yang segala gerak-gerik dalam hidupnya selalu diteladani. Sambil saya menaruh hormat terhadap kerja keras sahabat-sahabat para wartawan yang secara teliti terus memberitakan peristiwa ini, sehingga kami yang jauh dari tempat kejadian dapat mengetahui secara benar peristiwa yang menggemparkan ini.

Tulisan ini saya goreskan untuk mengenang sang imam, biarawan, misonaris, pembantu ketua bidang akademik, dosen Sejarah Gerejaku dan pembina para frater SVD di Seminari Tinggi Ledalero, Flores. Saya mengenal almarhum dalam 2 periode hidup saya di Ledalero yakni periode ketika saya menjadi frater SVD selama 2 tahun di Seminari Tinggi Ledalero dari tahun 1996 hingga tahun 1998. Periode yang terakhir adalah ketika saya hidup sebagai mahasiswa ekstern setelah mengundurkan diri dari SVD tahun 1998 dan selanjutnya berkuliah filsafat pada STFK Ledalero sebagai mahasiswa nonfrater dari tahun 1998-2002.

Apa yang saya kenangkan dari sang imam SVD ini? saya hanya mau sharingkan bahwa beliau adalah seorang imam SVD yang setiawan dan tegas pada prinsip hidupnya. Setelah berkaul pertama di Nenuk, kami berduapuluh satu pemuda generasi masa depan SVD bertolak dari Nenuk ke Ledalero, Flores untuk mulai belajar filsafat di STFK Ledalero sebagai seorang frater SVD yang baru saja berkaul pertama. Kegiatan awal di STFK Ledalero adalah penataran P4 yang diberikan oleh pemerintah kabupaten Sikka. Maklumlah bahwa pada saat itu adalah masa Orde Baru (Orba).

Peraturan Kopertis mengharuskan penataran P4 tersebut. Semua mahasiswa/i baru sebuah Perguruan Tinggi harus membuat Penataran P4 sebelum memulai kegiatan kuliah. Penataran P4 pun berlangsung sukses di mana pater Gun Ndouk, SVD termasuk salah seorang penatar kami ketika itu. Namun karena masih baru, saya sama sekali belum terlalu dekat dan mengenal beliau. Oleh para frater seangkatanku, beliau disapa sebagai Pater Gun atau Pater Puket 1 saja.

Setelah Penataran P4 selesai, kami para frater berkaul pertama dari SVD masih melaksanakan sebuah kegiatan yang cukup melelahkan yakni Grup Proses. Kegiatan ini berlangsung sesuai dengan program rumah Seminari Tinggi SVD Ledalero ketika itu. Dalam program itu dituliskan bahwa para frater berkaul pertama wajib mengikuti sebuah kegiatan yang bernama: Grup Proses. Kegiatan Grup Proses berlangsung di sebuah pantai yang bernama pantai Wairterang, sebuah pantai bertetangga dengan pantai Wodongbeach Kewapantai yang terkenal itu.

Pantai Wairterang merupakan sebuah pantai yang biasanya menjadi tempat dilangsungkan berbagai kegiatan para frater dan pater SVD dari Seminari Tinggi Ledalero. Dalam kegiatan yang bernama Grup Proses ini kami dibimbing oleh Pater Gun Ndouk dan Pater Yanuarius Lobo, SVD selama seminggu. Kegiatan kami di tempat itu adalah merenungkan tentang keluarga, kebudayaan, sifat dan adat istiadat yang mendukung dan tidak mendukung panggilan kami sebagai frater SVD. Dalam seminggu itu, kami makan dan tidur bersama di tepi pantai yang bila malam tiba, kami harus tahan dingin ditemani deburan ombak yang memecah pantai dalam keheningan malam dan di bawah terang rembulan.

Perayaan ekaristi bersama di pantai itu menjadi kenangan indah. Pada waktuitu Pater Gun rela duduk dengan kasulanya beralaskan tikar di tepi pantai Wairterang sambil beliau mempersembahkan misa bagi kami semua peserta Grup Proses yang merupakan frater berkaul pertama dari 2 novisiat SVD terbesar di SVD sejagat yakni novisiat SVD Nenuk dan novisiat SVD Kuwu, Ruteng, Manggarai. Bersama Pater Yan Lobo yang merupakan prefek para fater SVD dari unit St. Agustinus Wairpelit, prefekt para frater unit Gere ini menjadi pengkotbah dan pembimbing yang tenang.

Beliau sering-sering membubuhkan lelucon segar sehingga dalam kelelahan kegiatan Grup Proses tersebut, kami masih sempat tertawa lepas. Berbeda dengan Pastor Yan Lobo yang cenderung serius dan mahal senyum, sang imam Gun Ndouk selalu membuat kami merasa ad home, bersemangat dan selalu memotivasi keinginan untuk menjadi imam SVD.

Setelah Grup Proses selesai, kami kembali ke rumah Seminari Tinggi Ledalero dan beberapa hari berikutnyakami bertemu di aula para frater Seminari Tinggi Ritapiret dalam acara Lectio Brevis yang biasanya dilaksanakan pada awal perkuliahan di STFK Ledalero. Sesuai tradisi STFK Ledalero, Lectio Brevis akan dibawakan oleh Pembantu Ketua I (Puket I) STFK Ledalero yakni Pastor Wolfgang Ndouk, SVD.

Acara Lectio Brevis bersama Pater Gun selalu menarik karena beliau menjelaskan peraturan STFK Ledalero dengan jelas dan sering-sering membuat kami tertawa oleh kekhasnya. Kesan saya adalah beliau seorang yang teguh pada prinsip hidup dan memang hal itu dia buktikan hingga akhir hidupnya dalam kesendirian yang tragis di kamarnya.

Ketika kuliah memasuki semester VI, kelas kami bertemu lagi dengan Pater Gun Ndouk, SVD dalam Mata kuliah Sejarah Gereja I. Pater Gun selalu memberikan kuliah dengan suara yang jelas, keras, kalimat yang lancar serta dibumbuhi lelucon segar. Sesuatu hal yang sangat disukai oleh para mahasiswa/inya adalah bahwa Pater Gun lebih suka memberikan ujian herr secara lisan.

Ia gampang bermurah hati kepada para mahasiswa/inya dalam ujian lisan tersebut. Ini terjadi karena ia suka berjumpa dan menyapa dengan nama masing-masing para mahasiswa/inya. Meskpun nada suaranya sering terdengar tegas, melengking tinggi dan karena agak menakutkan kami. Namun dengan itu dia makin akrab dan mengenal dengan baik.

Bila beliau memberikan ujian lisan, maka semua peserta ujiannya selalu lulus meskipun hanya beberapa kalimat yang diucapkan benar. Para mahasiswa/inya mengatakan bahwa bukan mereka tidak tahu jawabannya, namun karena mereka merasa gugup dan segan terhadap Pater Gun. Terlihat di sini bahwa Pater Gun Ndouk, SVD menunjukan jati dirinya sebagai seorang yang murah hati dan menaruh kasihan terhadap kesulitan para mahasiswa/inya.

Pada awal tahun ajaran baru yaknitahun 1999, ketika mulai kuliah semester VII, saya mengalami peristiwa yang hampir membuat saya putus kuliah dari STFK Ledalero. Keterlibatanku di TRuK F (Team Relawan Kemanusiaan Wilayah Flores) untuk evakuasi para pengungsi atau korban politik dari eks propinsi Timor-Timur hampir mengakibatkan saya dikeluarkan sebagai mahasiswa filsafat pada STFK Ledalero, Flores.

Ceriteranya seperti ini: Ketika baru saja kuliah beberapa minggu sebagai mahasiswa semester VII, seorang aktivis mahasiswa mengajakku untuk bergabung dalam TruK F untuk evakuasi pengungsian eks propinsi Timor-Timur di wilayah Timor Barat, NTT. Maka tanpa sepengetahuan STFK Ledalero, saya meninggalkan kuliah bersama beberapa adik kelas lalu berangkat ke kamp-kamp pengungsian di Timor Barat. Di wilayah Timor Barat, NTT itu, kami bekerja untuk mendroping bantuan seperti membantu mengobati luka-luka dan penyakit-penyakit para pengungsi, membagikan tikar, bantal, makanan, minuman, pakaian dan obat-obatan dari kamp ke kamp pengungsian. Kami juga berdialog, menghibur dan berdoa bersama para penghuni kamp itu.

Menjelang akhir bulan Oktober 1999, saya memutuskan untuk kembali ke tempat kuliah saya di STFK Ledalero, Flores untuk mulai kuliah lagi. Namun aktivitasku telah diketahui pimpinan STFK Ledalero dan ketika hendak memasukan surat lamaran untuk ujian semester VII, saya mendapatkan SK pimpinan STFK Ledalero bahwa saya harus membatalkan lamaran ujian semester dan selanjutnya saya mendapatkan sanksi skorsing selama satu semester.

Dalam persoalanku ini, saya sering berurusan dengan Puket I yakni Pater Gun SVD untuk meminta keringanan hukuman.Sayapun berpendapat secara pribadi bahwa demi menegakan sebuah peraturan terlihat Pater Gun kurang mendengarkan pembelaan pribadi saya. Menurutnya keputusan pimpinan STFK Ledalero sudah final dan tidak bisa dibatalkan. Dialog saya bersama dengan Pater Gun selalu gagal karena terlihat beliau tetap kukuh dengan soal tata tertib STFK Ledalero. Segala persoalan menyangkut kegiatan perkuliahan tidak boleh dibicarakan di kamarnya di Ledalero.

Terlihat di sini bahwaberhadapan dengan soal peraturan dan kedisiplinan Pater Gun sungguh sangat tegas dan teguh pada pendirian. Beliau sadar bahwa kedisiplinan dalam ruang kuliah dan taat terhadap peraturan dan tata tertib Sekolah Tinggi merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian kualitas pendidikan tinggi pada STFK Ledalero yang sudah berusia lama dan kualitasnya telah mendunia ini.

Terhadap keputusan-keputusan pimpinan STFK Ledalero, beliau tak kenal kompromi dengan siapapun. Ketegasan sikapnya sungguh luar biasa. Ketika pada awal melaksanakan sanksi skorsing selama semester, saya sempat melayangkan secara tertulis surat permohonan maaf kepada pimpinan STFK Ledalero yang salah satunya adalah Pater Gun. Kesan saya ialah bahwa beliau menjalankan kepemimpinan dengan penuh disiplin, tegas, tanpa kompromi namun berhati lembut dan rendah hati. Permohonan maafku ditanggapinya dalam diam dan kedalaman jiwa pengampunannya.

Maka saya yakin Pater Gun telah memaafkanku. Itulah sebabnya pada tanggal 6 Juli 2000, saya dapat menyelesaikan ujian skripsiku di Ledalero dengan sukses. Selanjutnya pada bulan Desember 2001 saya menyelesaikan sisa kuliah mimbar saya pada semester VII dan seterusnya mengikuti ujian akhir pada bulan dan tahun itu juga. Pada tanggal 04 Maret 2002 saya telah dinyatakan lulus S1 dari STFK Ledalero dan selanjutnya diperbolehkan mengikuti wisuda S1 STFK Ledalero pada tanggal 07 Mei 2002.

Selamat jalan Pater Gun. Kami semua mendoakan istirahatmu yang abadi. Selamat jalan imam, misionaris dan biarawan SVD yang setiawan, teguh pada prinsip hidup, jujur, tulus dan berhati mulia. Kami memaafkan semua kekilafanmu bila mungkin telah Pater Gun lakukan bagi kami. Kami juga memohon maaf atas segala kesalahan yang telah kami lakukan pada Pater, baik dengan pikiran, perkataan maupun perbuatan. Marilah kita semua saling memaafkan.

Semoga Pater Gun dapat beristirahat dalam damai abadi bersama Tuhan yang pater imani seumur hidup. Semoga dari surga, Pater Gun tetap mendoakan kita yang masih berjuang dalam ziarah hidup di dunia ini. Amin.

Belu, 02 Oktober 2012

                              ___________________________________

RIP Guru Elias Mema Dari Pedat-Halehebing

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil

Posted: Senin, 12 Maret 2012

Mengenang seorang tokoh yang bertahun-tahun bekerja sebagai guru SRK Wairbleler dan SDK Wairbleler, Kec. Mapitara, Sikka, Propinsi NTT memiliki makna yang dalam bagi para siswa, para pendidik dan masyarakat semuanya. Maknanya adalah agar kita semua dapat meneladani sikap tokoh yang kita panuti dalam kehidupan kita setiap hari. Sikap-sikapnya adalah seperti rajin, tekun, terampil, tegas dan rendah hati.

Sabtu tengah malam, 10 Maret 2012, saya membaca sebuah Posting di Grup Mapitara-Halehebing yang ditulis oleh saudari Frida Danura, seorang wartawan asal Mapitara. Postingan itu memberitakan bahwa Ama Guru Elias Meme telah pergi untuk selamanya meninggalkan keluarga besar Pedat/Halehebing/Mapitara. Seketika saya merasakan kehilangan sangat besar. Saya terduduk, diam dan menangis dalam kesedihan. Sambil terisak saya pun berguman: Saudaraku guru Elias Mema, selamat berpisah untuk abadi. Semoga Tuhan mengampuni semua dosamu dan menerimamu dalam kebahagiaan abadi di Surga. Saya pastikan tidak bisa menghadiri pemakamanmu sebab hari selasa, 13 Maret 2012, saya ditugaskan negara untuk menjadi pengawas UAS SMA Kristen Atambua. Lagi pula situasi sekarang lagi musim bencana. Maka beresiko sangat fatal bila memaksakan diri untuk pergi ke Pedat sekarang ini.

Tulisan ini saya postingkan untukmu, meskipun kita hanya bertemu beberapa kali antara tahun 1998 sampai 2009, namun sebagai saudara sepupu kita sebenarnya telah saling kenal sejak dahulu. Saya mengenalmu sebagai sepupuku dan mantan guru SRK Wairbleler dan SDK Wairbleler. Semoga tulisan ini membuatmu tersenyum di dunia sana.

Saat-saat dilanda duka seperti ini, sangat sulit untuk bisa menuliskan data-data lebih rinci tentang riwayat hidup kakak Guru Elias Mema. Saya yakin panitia keluarga besar di Pedat tentu telah menyiapkan riwayat hidup bagi almarhum, seorang yang sederhana dan bersahaja ini. Ketika masih hidup, beliau adalah orang yang paling tua dari antara keluarga besar Pedat. Ayahku adalah putera Moang Bapa Botha da Iry dan Ina Dua Gokung Buly da Iry. Kakak Guru Elias Mema adalah cucu dari Moang Bawa. Moang Bawa adalah adik kandung dari Moang Bapa Botha da Iry. Itulah sebabnya saya memanggilnya sebagai kakak guru Elias Mema, meskipun perbedaan umur kami sangat jauh berbeda.

Rumah tinggal kami di kelilingi tanah pertanian yang cukup luas. Keluargaku di sini menanaminya dengan berbagai macam hasil pertanian dan hasil perdagangan atau komoditi seperti, kopi, kakao, fanili, dll. Lingkungan Pedat berbatasan langsung dengan lingkungan Gereja Halehebing. Tanah di mana gereja Halehebing berdiri konon merupakan tanah warisan leluhur kami yang kini digunakan oleh gereja Katolik berdasarkan kesepakatan tertentu, terlebih oleh keyakinan bahwa gereja adalah kita semua dan kita semua adalah gereja.

Pada tahun 1998, sebagai seorang frater muda SVD yang sedang kuliah Filsafat di STFK Ledalero, Flores, saya mengambil waktu sejenak untuk berlibur di rumah keluarga kami di kampung Pedat. Pedat adalah nama sebuah kampung tua di mana dimakamkan leluhur kami antara lain kakek dan nenekku, alm, Moang Bapa Botha da Iry dan Ina Dua Gokung Buly da Iry. Kedua leluhurku ini semasa hidupnya berperanan sebagai pemangku Tuan Tanah Besar Halehebing. Kakak Guru Elias Mema memanggil Ayahku sebagai Ama Doi yang artinya Bapa Kecil. Beliau lama bekerja sebagai guru dan kini pensiun dan sering sakit-sakitan di kediamannya dekat kompleks SMP PGRI Lerohae, Halehebing. Namun dia selalu berjuang untuk berdoa bersama bila tiba doa rosario bulanan.

Dia selalu mengingatkan kita bahwa sangat penting bagi kita untuk selalu berdoa bila waktu doa itu tiba dan tak lupa mengingat silsilah keluarga/leluhur agar kita dapat mengenal fitrah kita sendiri sebagai manusia yang utuh yang dilahirkan dari sebuah silsilah tertentu. Dalam pembicaraan kami, dia sangat jarang mengeluh tentang lamanya dia berkarya sebagai guru Sekolah Rakyat Katolik (SRK) Wairbleler dan kemudian Guru Sekolah Dasar Katolik Wairbleler (SDK Wairbleler). Sudah berapa ribu anak asuhannya kini telah menjadi orang. Sesuatu hal yang jarang diceriterakannya. Ini menunjukkan bahwa beliau orang yang rendah hati. Dia mengatakan bahwa dia telah berjuang sungguh-sungguh untuk menjadi guru yang baik bagi generasi kaum muda Halehebing. Dia berbicara dalam suara yang cukup keras dan penuh semangat hampir tak ada barang sekecil apapun yang luput dari pembicaraan.

Pada tahun 1998 saya menarik diri dari SVD dan tahun 2002 saya diwisuda menjadi Sarjana Filsafat di STFK Ledalero, Flores. Selanjutnya saya memulai kehidupan sebagai umat katolik biasa. Tahun 2002 saya masih sempat singgah lagi di Pedat-Halehebing. Ketika itu, kondisi kaka pensiunan guru ini masih segar, sehat dan selalu berbicara dalam nada yang semangat. Saya tidak mengangka bahwa itu adalah kebersamaan kami yang terakhir kalinya.

Dia berceritera tentang kesulitannya dan persoalannya dengan tanaman-tanaman perdagangan yang baru saja dia tanam di kebun miliknya seperti: kakao, Fanili, Kopi, dll. Tanaman-tanaman itu telah dirusakkan oleh para pekerja bahkan dicabut dengan paksa dalam pembukaan jalur jalan raya yang baru Pedat-Lere-Natakoli. Para pekerja itu telah melakukan banyak perusakkan terhadap tanaman-tanaman milik rakyat Pedat. Maka dia mengajak saya yang waktu itu sedang aktif mendirikan sebuah Lembaga Advokasi Masyarakat (LAM) untuk melakukan pembelaan terhadap hak-hak rakyat Pedat yang telah dicaplok dan dilanggar oleh pekerja dan pengusaha pembuka jalan raya Pedat-Lere-Natakoli.

Setelah mendata semua kerusakan tanaman dan memanggil semua petani yang tanamannya dirusakkan oleh para pekerja pembuka jalan tersebut, kami berusaha menghubungi camat Bola dan DPRD Kabupaten Sikka melalui sebuah surat pernyataan yang ditandatangani rakyat Pedat dipimpin oleh guru Elias Meme dan saya sebagai pimpinan dan sekretaris Lembaga Advokasi Masyarakat (LAM).

Tujuan dari surat kami adalah meminta agar pemerintah bertanggung jawab terhadap kerusakkan tanah dan tanaman milik rakyat pedat dalam peristiwa pembukaan jalur jalan raya yang baru Pedat-Lere-Natakoli. Kedua institusi ini kami minta untuk memikirkan secara serius persoalan pembayaran ganti kerugian kepada rakyat dan petani Pedat yang telah dilanggar hak-hak adat kepemilikannya oleh pengusaha.

Pertemuan pertama kami buat bersama camat Bola di kantornya. Namun hasilnya mengecewakan sebab beliau tidak bisa memberikan jawaban yang pasti terhadap pembayaran kembali kerugiaan petani Pedat karena tentang hal ini merupakan tanggung jawab kontraktor di Maumere.

Merasa belum puas atas jawaban-jawaban yang diberikan, kami sepakat untuk meneruskan persoalan ini kepada DPRD II Sikka. Surat kami diterima. Maka kami sempat berdialog dengan Waket DPRD II Sikka, OLM Gudipung di kantor DPRD II Sikka setempat. DPRD II Sikka diminta untuk secara serius memikirkan kembali kerugian para petani Pedat yang seluruhnya bernilai sekitar Rp 200.000.000 pada tahun 2002. Ketika pertemuan itu, Waket DPRD II Sikka, OLM Gudipung hanya berjanji untuk membicarakannya lagi dalam sebuah sidang Komisi DPRD II Sikka untuk membahas persoalan ganti rugi kepada rakyat/petani Pedat ini. Ketika keluar gedung saya diwawancara oleh media. Media memberitakan itu di kolom beritanya. Saya berpikir bahwa sampai di sini perjuangan kami berakhir. Saya yakin mereka tidak mungkin akan memberikan uang sebesar itu kepada masyarakat kampung Pedat.

Pada bulan Juni 2002. Masa liburanku di Pedat telah habis. Saya harus balik ke Belu. Ketika itu saya sedang diliputi oleh rasa duka yang mendalam atas meninggalnya ayahanku Bapa alm. Mathias Meko. Beliau meninggal dunia pada 9 Mei 2002 ketika saya sedang mengikuti acara wisuda S1 di aula STFK Ledalero. Saya berjuang untuk mengatakan persoalan kedukaan saya kepada keluarga di Pedat dan menagatakan bahwa saya tidak mungkin akan tetap berada di sini dalam jangka waktu yang panjang. Ayahku baru saja meninggal dunia, maka saya harus kembali ke Belu untuk bertemu dengan mamaku dan melihat makam ayahku alm. Bapak Mathias Meko. Ketika ayah meninggal aku masih berada di Wisma Wairpelit dalam rangka wisuda Sarjana Negara ini. Kemudian saya sempat ke Pedat. Komunikasi via HP belum ada ketika itu, Hal ini membuat orang kesulitan untuk melakukan kontak atau komunikasi. Teknologi komunikasi HP pada tahun 2002 di NTT belum semaju sekarang ini. Sehingga pada tahun 2002 komunikasi masih sangat terbatas.

Saya mengambil keputusan untuk kembali ke Wisma Waipelit dan beberapa hari kemudia kembali ke Belu, tanpa memneritahukannya kepada kaka Guru Elias Meme. Dia pasti tahu bahwa saya sementara dalam kondisi kesedihan yang mendalam. Ayahku baru saja meninggal maka saya harus kembali ke Belu untuk melawat makam ayahku, tentu dengan kesedihan yang luar biasa bila memandang foto-foto ayahku di album.

Kedatangan saya ke Belu, NTT rupanya menjadi akhir dari perjuangan masyarakat Pedat. Sebab sejak saat itu, tidak ada lagi yang menjadi penggerak perjuangan memperoleh keadilan. Saya yakin tidak mungkin para wakil rakyat itu mampu mengabulkan sedemikian banyak uang untuk masyarakat yang sederhana di Pedat, bila tanpa saya. Bagiku uang sebesar Rp 200.000.000 yang dijanjikan itu, bisa saja akan menghambat masa depan saya.

Namun, saya sendiri tidak bisa mengatakan bahwa setelah kedatangan saya ke Belu perjuangan masyarakat Pedat selesai. Justeru perjuangan untuk menuntut keadilan bagi masyarakat Pedat akan tetap ada hingga hari ini. Intisarinya jelas bahwa masyarakat Pedat menutut agar hak-hak ulayat dan hak-hak adatnya diakui oleh pemerintah RI. Hak-hak ulayat atau hak-hak adat masyarakat harus diutamakan. Pemerintah tidak boleh mengabaikan hak-hak adat masyarakat. Pemerintah tidak boleh selalu menuding dan mengkambinghitamkan bahkanmengkriminalisasikan masyarakat adat di kampung-kampung. Ini adalah pesan moral dari persoalan di Pedat tersebut.

Sebuah pertanyaan yang wajib saya ajukan adalah apakah setelah saya tiba di Belu telah mengakhiri perjuangan para petani Pedat tersebut? Tentu hal itu sangat saya sangsikan. Pada bulan Juli 2009, saya masih sempat kembali ke kampung Pedat sebelum membereskan segala persoalan mengenai Sertifikat Mengajar pada STFK Ledalero. Saya mengambil beberapa waktu sejenak untuk berziarah lagi ke kampung kakek dan Nenekku di Pedat. Selama beberapa hari di kampung itu, saya tidak semput bertemu kembali dengan beliau. Pada sat itu beliau sempat menikahkan puterinya yang sempat dihadiri saya. Saya mengalami kelelahan dan karena itu saya meminta seorang sepupuku yang lain, untuk menghadiri acara itu. Pada saat itu Guru Elias Mema mungkin sementara berjuang keras menghadapi sakitnya. Penyakitnya kambuh sewaktu-waktu. Meskipun demikian, dia selalu berjuang untuk bergerak dan bekerja sebisa mungkin di rumah.

Pada hari kamis, 8 Maret 2012, kaka Alm. Guru Elias Mema telah dipanggil oleh penciptanya dalam keadaan damai. Dia meninggalkan semua sanak famili, umat beriman, anak-anak bekas didikannya sejak SRK Wairbleler hingga menjadi SDK Wairbleler. Beliau adalah seorang pahlawan bagi rakyat Halehebing dan bagi semua orang yang mengenalnya. Daya ingatnya yang tajam, tenang, sopan, bersemangat, jujur, pintar dan terpandang dalam masyarakat. Beliau memang berasal dari kalangan saudara Pemangku Tuan Tanah Besar Halehebing dan karena itu dahulunya beliau seorang pemuda terpandang. Dia meninggalkan 4 orang anak putera dan puteri dan seorang isteri serta cucu-cucunya yang masih kecil. Namun terlebih dia telah meninggalkan semua keluarga besar Pedat, Halehebing.

Selamat jalan pahlawanku, saudaraku, keluargaku, penjasaku. Selamat beristirahat dalam damai abadi di surga. Saya berdoa semoga Tuhan mengampuni semua dosamu dan menganugerahkan hidup abadi untukmu. Saya dan keluarga besar yakin bahwa kaka Guru Elias Mema masih tetap berada bersama kami semua meskipun secara fisik telah berakhir. Kaka Guru masih bersama kami dalam suka dan duka. Kakak ybk, terima kasih atas bimbinganmu kepada kami saudara-saudaramui dan anak-anakmu hingga kami masih seperti sekarang ini.

Meskipun saya bersekolah di SDK Halilulik, namun saya merasa seperti alumnus SDK Wairbleler. Dengan semua Guru di Pedat ini, saya sangat akrab. Maka saya memutuskan untuk menjadi guru juga. Sekarang saya menjadi guru di SMA Kristen Atambua, Belu. Teladan dan kesaksian hidupnya membuat kita merasa bahwa dia masih tetap bersama kita. Meskipun kini kita telah berpisah secara fisik dengannya. Namun hati dan iman kita tetap bersatu.

Kutitipkan puisi ini untukmu di alam sana. Semoga engkau damai bersamaNya selalu.

KERINDUAN

Oleh: Blasius Mengkaka

Terlalu lama berandai-andai

dalam mimpi dan angan yang tak berkesudahan

Terlalu lama kita berharap

untuk bertemu dalam kepasrahan

di kalbu

yang penuh

tawa

Namun

hanya satu kata yang membuat kita berakhir: kepergian !!

selesaimu membuatku tak sanggup mengangkat kepala

hanya tetes demi tetes air mata dan peluh

mengalir dari ubun-ubun

wajah

dada

tangan

semuanya

Wahai semesta akankah kau bangkitkan dan kembalikan

ayahku dan kaka guruku ini seperti dahulu

ketika hari penghakiman tiba?

Sebab

kerinduan ini

hanyalah tinggal serpihan-serpihan yang kandas

bersama senja

dan berharap untuk bisa tersenyum dalam bayangan yang kuciptakan sendiri buat kami

dan kita akan memuaskan kerinduan ini

di sana

di surga,

Amin

Minggu, 11 Maret 2012

Penutup

Guru Elias Mema mungkin hanya seorang guru sederhana yang bagi kebanyakan orang di Indonesia belum dikenal. Ia guru yang sederhana. Tidak ada karya ilmiah dan tulisan berupa artikel-artikel yang telah dikerjakannya. Pendidikannya juga tidak terlalu tinggi. Mungkin hanya setingkat SMP. Bila dibandingkan dengan masa sekarang, beliau tidak layak sebagai guru.

Perbahasa Gajah mati meninggalkan gading manusia mati meninggalkan nama. Guru Elias Mema meninggalkan teladan kejujuran, pengabdian, kerja keras, disiplin, cinta tanah air dalam hidup bagi anak-anak didiknya.

Kepergian guru Elias Mema ke hadapan Allah telah sungguh-sungguh terjadi. Marilah kita mengenang segala jasa dan budi baik almarhum sebagai guru dan pendidik, serta tokoh guru selama puluhan tahun. Sebagai orang katolik yang setiawan dan warga Indonesia yang sukses. Dia telah memberikan seluruh kemampuannya untuk bekerja dan mengabdikan diri sebagai guru PNS untuk bangsa, tanah air, gereja dan untuk Indonesia.

Dia bukan seorang tokoh yang terkenal sekali. Namun dia jujur sekali. Dia telah sukses dalam panggilan hidupnya di dunia ini. Maka patutlah dia menjadi teladan bagi masyarakatnya. Semoga namanya selalu terkenang dalam keluarganya dan anak didikannya.

Perjuangan yang berat telah selesai dan finish. Ibarat pelari maraton, dia telah menyelesaikan finish dengan baik. Kini tibalah saatnya dia beristirahat dalam damai dan ketentraman bersama Allah selamanya.

SUMBER:

Tulisan ini diolah berdasarkan pengalaman dan pembicaraan serta kesaksian nyata. Pertemuanku dan karyaku bersama beliau dari tahun 1998- menjadi sebuah pengalaman untuk menuliskan opini ini. Opini ini sebagai jalan yang terbuka lebar bagi kita untuk mengenal karakter dan kehidupan masyarakat Halehebing, kec. Mapitara, Sikka, NTT.

                  ________________________________________