Category Archives: Politik

Mungkinkah Ada Ancaman Konservatisme Dalam Ruang Publik dan Digital Media?

Salah satu kemajuan yang menggembirakan dalam zaman digital ini ialah bertumbuh suburnya ruang-ruang publik dalam masyarakat. Dalam ruang-ruang publik itu masyarakat dapat berdiskusi dengan topik yang tak terbatas, teristimewa berdiskusi tentang keluhan-keluhan dan kesulitan-kesulitan mereka.

Jutaan grup Facebook yang di dalamnya berisi berbagai diskusi seru tentang kehidupan demokrasi saat ini telah menimbulkan kekuatan baru. Kritisisme masyarakat makin tinggi ketika lebih dari 150 juta penduduk Indonesia sudah bisa langsung  terkoneksi oleh Internet. Boleh dikatakan dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, hanya 100 juta yang belum terkoneksi dengan lebih banyak dari mereka ialah anak-anak dan para remaja serta para orang tua.

Continue reading Mungkinkah Ada Ancaman Konservatisme Dalam Ruang Publik dan Digital Media?

Menyimak Nilai-Nilai Positif dari Demo 4112016

Terus terang saya adalah salah satu generasi yang lahir ketika bangsa Indonesia mengalami rezim Orde Baru. Saat Rezim itu berkuasa, sistem informasi sangat dibatasi, sehingga hanya kelompok-kelompok elitis di Jawa yang secara sistematis melakukan gerakan reformasi untuk menumbang rezim Orba.

Meskipun sebagai kelompok mahasiswa dipelosok negeri, saat-saat kejatuhan rezim Orba tahun 1998, sebagai mahasiswa Filsafat, kelompok mahasiswa kami kebagian melakukan demo, beberapa jam sebelum sang penguasa Orba itu minta lengser. Saat itu hanya bermodalkan membaca koran-koran Kompas, Pos Kupang dan berbagai siaran radio. Ya, yang namanya membaca atau menonton atau mendengar, keterlibatan orang yang mengkonsumsi berita tidak ada sama sekali. Orang hanya menonton, mendengar  dan membaca lalu diam.

Continue reading Menyimak Nilai-Nilai Positif dari Demo 4112016

Cagub Agus Yudoyono dan Kiblat Baru Kebijakan Pertahanan Nasional

Penunjukan Mayor TNI Agus Yudoyono menjadi salah satu calon Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Sylviana Murni oleh Koalisi Cikeas masih menimbulkan pro-kontra. Umumnya yang menyatakan kontra berasal dari golongan lama elite TNI, salah satunya ialah Letjen (Pur) TNI Kiki Syahnakri. Dalam suatu pernyataan yang disiarkan Media Indonesiasatu.co, Kiki Syahnakri mengatakan, “Penunjukan Mayor TNI Agus Yodoyono menjadi Cagub DKI Jakarta menandakan preseden buruk bagi TNI karena menjadi contoh negatif yang bisa merusak atmosfir pembinaan di lingkungan TNI. Pasalnya pada awal pendidikan dan pembinaan hingga masa penugasan seorang prajurid ditempa untuk menjadi tentara sejati dan bukan politisi. Ini dapat membuat pimpinan TNI tidak dapat mencegah perwira-perwira muda untuk menceburkan diri dalam kolam-kolam politik praktis demi meraih kekuasaan politik. Meskipun menampakkan konseptual dan kecakapan berbicara seperti ayahnya namun pengalaman, kecakapan dan kepemimpinan Agus belum benar-benar diuji di militer. Dia masih membutuhkan waktu dan proses yang panjang agar menjadi pribadi, prajurid dan pemimpin yang matang”, tegas Letjen (pur) Kiki Syahnakri kepada Valens Daki Soo dan Redem Kono dari Indonesiasatu.co. 

Letnan Jenderal (Pur) Kiki Syahnakri ialah salah satu elite  TNI yang telah merasakan makan asam-garam pengalaman dalam dunia TNI. Beliau berdinas dari awal hingga umur pensiun. Sebagai seorang elite TNI dan prajurid TNI yang menjunjung tinggi sumpah prajurid TNI, beliau merasa ada sesuatu yang sangat tidak beres dalam TNI ketika Mayor TNI Agus Yudoyono memilih mengundurkan diri lalu menjadi Cagub DKI Jakarta atas dukungan dari Koalisi Cikeas. Sebagai orang awam, rasanya penunjukan Agus Yudoyono sebagai Cagub DKI Jakarta oleh koalisi Cikeas secara tak langsung berhubungan dengan kapasitasnya sebagai putera sulung Presiden RI ke-6 yakni Susilo Bambang Yudoyono dan juga suami dari seorang artis yang terkenal di Indonesia.

Khusus dalam posisi sebagai suami dari seorang artis terkenal membuat Agus Yudoyono merasa ikut demam para artis terkenal Indonesia yang ramai-ramai terjun ke dunia politik untuk meraih kekuasaan politik dalam jabatan-jabatan politis melalui jalur Parpol. Hampir semua Partai Politik selalu memanfaatkan keterkenalan seorang artis atau aktor yang memiliki banyak pendukung untuk kesuksesan meraih suara dalam Pemilu dan Pilkada. Hal ini sudah terbukti bahwa para artis dan para aktor dan penyanyi terkenal sukses meraup suara para pemilih lalu duduk dalam kursi kekuasaan politik.

Alternatif pemikiran berikut ialah bahwa dengan lebih banyak duduk dalam bangku pendidikan dan belum matang, Agus Yudoyono lebih banyak mengandalkan kemampuan intelektual dan gagasannya yang cemerlang seperti ayahnya sendiri. Tentu ini tidak menjadi jaminan kepopuleran, karena seperti yang dikatakan oleh Letjen Purn Kiki Syanakri, Agus Yudoyono belum matang baik secara pribadi, pengalaman sebagai militer dan kepemimpinan. Kecendrungan akan tampil seperti ayahnya tentu akan lebih banyak terjadi.

Alternatif yang lain dan ini yang utama bahwa tampilnya Agus Yudoyono sebagai Cagub DKI Jakarta memberikan pesan-pesan politik baik kepada militer maupun kepada masyarakat Indonesia bahwa secara garis besar telah terjadi perubahan radikal seputar kebijakan pertahanan nasional Indonesia.  Bahwa kebijakan pertahanan nasional harus mengikuti tuntutan zaman. Zaman kini pertahanan nasional bukan untuk mempertahankan kemerdekaan, namun kepada kebijakan untuk upaya mempertahankan Keindonesiaan. Kini Keindonesiaan sedang mengalami berbagai tantangan, menyangkut laju globalisasi yang semakin kuat melanda bangsa Indonesia.

Batas-batas antara negara menjadi semakin tipis. Salah satu gejalanya ialah kasus mantan menteri ESDM Arcandra yang memiliki dwi kewarganegaraan sebelum akhirnya memutuskan menjadi warga negara tetap RI. Batas-batas antara negara yang semakin tipis membuat banyak penduduk Indonesia sering memiliki persoalan menyangkut domisili dan kewarganegaraan ganda. Hal ini melanda semua kalangan, baik pejabat pemerintah, aktivis LSM, pengusaha hingga TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang meskipun banyak yang tidak memiliki dwi kewarganegaraan namun bermasalah dalam persoalan domisili atau tempat tinggal.

Seturut pandangan negara, warga yang memiliki pasport lalu sering melakukan perjalanan keluar negeri tidak akan memiliki kinerja yang bagus bagi pembangunan. Kini tantangan berat telah berada di depan mata. Beliau harus menandingi Cagub Pertahana sekaligus Gubernur DKI Jakarta saat ini, Basuki Cahya Purnama yang nota bene berasal dari etnis minoritas Cina dan kristen, yang dalam berbagai ucapan dan tindakannya amat membahayakan Keindonesiaan, apalagi dalam waktu akhir-akhir ini ada begitu banyak demonstrasi yang menolak Ahok karena dianggap memberikan pernyataan yang merugikan Islam. Pada titik ini terlihat bahwa kehadirannya sebagai Cagub masih mendapatkan tempat. 

Demonstrasi 4 November 2016 menujukan citra Ahok yang melorot. Ahok dianggap merugikan umat Muslim dengan pernyataan-peryataan yang meresahkan umat Islam. Di sini sisi Basuki Cahaya Purnomo sebagai Gubernur dan Cagub berbenturan dengan persoalan nilai-nilai dasariah yang dijunjung tinggi umat Muslim. Selain nilai-nilai adat Jawa yang berwatak halus, sopan santun dan mementingkan keharmonisan. Ahok dinilai bertabiat kasar dan kurang menjunjung etika saat berbicara baik dalam rapat-rapat resmi pemerintahan maupun ketika berbicara dengan berbagai Media.

Tampilnya Agus Yudoyono dalam kancah perpolitikan DKI Jakarta menunjukan bahwa kebijakan TNI mulai menjawabi realitas bangsa Indonesia saat ini. Realitas yang utama dan pokok bangsa ini, bukan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia seperti dahulu, namun mempertahankan nilai-nilai Keindonesiaan.  TNI sebagai alat pertahanan dan ketahanan negara harus bersatu dalam ketahanan rakyat semesta, yakni mempertahankan nilai-nilai bangsa yang terancam dalam era globalisasi informasi dan teknologi ini. Tantangan terbesar saat ini ialah upaya mempertahankan norma-norma kebangsaan, suatu hal yang tentu menjadi dasar dari penunjukan Mayor TNI Agus Yudoyono oleh Koalisi Cikeas untuk maju menjadi pesaing Ahok dalam Pilgub DKI Jakarta.

Meskipun mengorbankan karier demi politik bahkan meskipun kalah dalam Pilkada DKI Jakarta sekalipun, nama Agus Yodoyono tetap diapresiasi sebagai salah satu pejuang Keindonesiaan saat ini. Ia merupakan salah satu figur prajurid sejati dalam perannya sebagai politikus karena menjadi pesaing dari Cagub yang memiliki reputasi sebagai Gubernur DKI Jakarta paling kontroversial dalam ucapan dan tindakan. Dalam situasi ini Agus Yudoyono menampilkan sosok prajurid bela negara yang heroik dan berani merelakan kerier di TNI demi membela nilai-nilai Keindonesiaan. 

Continue reading Cagub Agus Yudoyono dan Kiblat Baru Kebijakan Pertahanan Nasional

Pilkades Naitimu, Nobertus Moa Kalahkan Incumben, Johny Lopez

     Kamis, 13 Oktober 2016, semua desa di kabupaten Belu menjalankan Pilkades secara serentak. Hari ini selaku warga Belu, saya pulang kampung untuk mengikuti Pilkades di desa kelahiran saya, desa Naitimu. Nama desa ini banyak diberitakan beberapa puluh tahun belakangan ini setelah Drs Joachim Lopez menjadi bupati Belu 2 Periode. Desa Naitimu merupakan desa kelahiran sang bupati Belu 2 periode itu. Di desa ini pula, hampir sepuluh tahun Johanes Lopez memimpin desa Naitimu sebagai kepala desa Naitimu sejak tahun 2003, saat itu dia mengalahkan beberapa calon antara lain: Nobertus Moa. Pilkades tahun ini Johanes Lopez kembali menjajagi kemampuannya dengan mencalonkan diri lagi. Pilkades Naitimu mencalonkan 5 orang calon kuat yakni: Johanes Lopez, Elphidus Lau, S.Fil, Gabriel Lisu, Nobertus Moa dan Sudirman.  Continue reading Pilkades Naitimu, Nobertus Moa Kalahkan Incumben, Johny Lopez

Pendidikan Politik dan Politik Pendidikan

     Pasca reformasi, kehidupan politik Indonesia menunjukkan tensi tinggi, beberapa sebabnya ialah adanya Pemilu langsung multipartai, Pemilu langsung Presiden/Wakil yang memungkinkan tumbuhnya beragam Partai politik, juga dengan adanya UU Otonomi Daerah yang memungkinkan adanya otonomi yang besar di daerah-daerah, termasuk Pemilukada langsung untuk memilih Bupati/Wakil/Walikota/Wakil. Terakhir dengan adanya UU Desa yang memungkin Desa-Desa memiliki biaya pembangunan dan jaminan bagi perangkat desa yang cukup besar.

Continue reading Pendidikan Politik dan Politik Pendidikan

Menyimak Pengalihan Subsidi BBM 2015

        Blasius Mengkaka

Presiden Jokowi akhirnya menaikan harga BBM sesuai prakiraan banyak pengamat, sejak APBN tahun 2015 diajukan Presiden Susilo Bambang Yudoyono, harga premium sudah dipastikan akan naik. Kini benar-benar kenyataan. Postur anggaran negara APBN 2015 yang memuat porsi yang besar untuk subsidi BBM telah menandakan kekuatiran bahwa pemerintahan Jokowi-JK pastinya akan menaikan harga BBM. Dan kekuatiran akan adanya “pil pahit” untuk menghadapi demonstrasi besar para mahasiswa dan masyarakat kini menjadi kenyataan. Dalam pesannya kepada rakyat Indonesia setelah mengumumkan dengan resmi kenaikan harga BBM pada Selasa, 18/11/2014 atau 16 jam yang lalu Presiden Jokowi menulis dalam Beranda Facebooknya berikut:

Continue reading Menyimak Pengalihan Subsidi BBM 2015

Sulitnya Mencapai Konsensus Politik – Semoga Pemerintahan Presiden Jokowi/JK Tetap Bersih

Pemerintahan Presiden Jokowi/JK kini akan memasuki hitungan 1 bulan sejak dilantik menjadi menjadi Presiden/Wakil pada 20 Oktober 2014. Tujuh hari setelah pelantikan Presiden Jokowi/JK, pada tanggal 27 Oktober 2014 telah dilaksanakan pelantikan Kabinet Kerja oleh Presiden Jokowi. Belum sampai sebulan memerintah, “persoalan”pun muncul yakni munculnya dualisme kepemimpinan di Parlemen. Dualisme kepemimpinan di DPR, berawal dari ketidakpuasan Koalisi PDI P terhadap aksi memborong semua kepengurusan atau kepemimpinan DPR, MPR dan DPD oleh kubu Koalisi Merah Putih.

Continue reading Sulitnya Mencapai Konsensus Politik – Semoga Pemerintahan Presiden Jokowi/JK Tetap Bersih

Prediksi dan Analisis Hasil Pileg NTT 2014

Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil                                 Posted: Jumat, 09 Mei 2014

 

Artikel berikut ini berisi beberapa prediksi hasil Pileg NTT. Tidak semua hasil Pileg NTT 2014 dapat disampaikan melalui artikel ini. Namun kiranya beberapa informasi ini, berikut analisis atas persitiwa politik setelah Pileg 2014 bisa sedikit membantu pembaca untuk memahami realitas politik yang sedang hangat dibicarakan. Continue reading Prediksi dan Analisis Hasil Pileg NTT 2014

Pileg; Pesta Demokrasi Langsung Indonesia, Tetap Meriah

Penulis: Blasius Mengkaka                   Posted; Rabu, 9 April 2014 

 

     Sejak pagi tadi saya sudah terbangun, menanti saat untuk mencoblos di TPS Halilulik. Pukul 07.30 Wita, saya makan pagi lalu bergegas ke TPS Halilulik, tempat di mana saya bersama keluarga akan melakukan pencoblosan dalam pesta demokrasi Indonesia. Continue reading Pileg; Pesta Demokrasi Langsung Indonesia, Tetap Meriah