Category Archives: Serba-Serbi Budaya

Mithos dan Mantra Tetum, Analisis Atas 10 Karya Sastera Popular Tetum Timor-NTT

images (49)Berbekalkan 10 ceritera rakyat tetum yang beredar dalam lingkungan rumah adat tetum, saya melakukan kajian tentang mithos dan mantra Tetum. Terdapat begitu banyak ceritera lisan yang diceriterakan dalam kalangan masyarakat tetum sendiri yang memiliki makna religius. Tentu saja ceritera-ceritera lisan itu direkam secara baik oleh para pendengarnya yang mayoritas merupakan anak-anak atau remaja di sekitar rumah adat dalam bahasa tetum. Penggunaan bahasa Tetum sebagai bahasa ibu sendiri meliputi wilayah-wilayah bekas 2 kerajaan besar masa lampau yakni kerajaan Wesei-Wehali di Belu Selatan dan kerajaan Fialaran di Belu Utara. Sekarang ini, wilayah bekas kedua kerajaan besar itu meliputi 2 Kabupaten yakni Kabupaten Malaka dan lebih dari ¾ wilayah Kabupaten Belu.

Continue reading Mithos dan Mantra Tetum, Analisis Atas 10 Karya Sastera Popular Tetum Timor-NTT

Raisale: Pulanglah Lalu Mengambil Jalan Lain

Kuingat seorang tetangga kami terkena fenomena Raisale. Nama tetangga kami ialah Petrus Suri. Dia bekerja di kebun. Saat itu, keluarganya sedang memanen jagung. Sebagaimana pria-pria di Tasifeto, saat memanen jagung, tugas pria-pria ialah memikul panenan jagung dalam karung ke rumah untuk kemudian dikumpulkan dan diikat secara bergotong royong membentuk se-tali, se-knu dan se-kayu.

Acara mengikat jagung ialah sebuah seni-budaya sendiri dalam masyarakat Timor-NTT. Tak heran proses ikat jagung ialah pesta rakyat kampung, beberapa ekor hewan dipotong dan beberapa botol minuman arak kampung disiapkan.

Suatu sore, Suri memikul sekarung jagung menuju rumah. Ia berjalan kaki menyelusuri jalan setapak melewati kali dan hutan. Saat itu ia sendiri saja. Di tengah jalan itulah dia mengalami peristiwa aneh yang disebut Raisale.

Continue reading Raisale: Pulanglah Lalu Mengambil Jalan Lain

Pengalaman Mendaki Gua Maria Silawan-Belu

Pada 21 Desember 2014, Presiden Jokowi mengunjungi perbatasan Motaain-Silawan. Dengan 2 Helikopter TNI-AU, beliau bersama rombongan mendarat di bandara Haliwen. Satu jam setelah tiba di Perbatasan, saya sedang berjuang di jalan raya ke Motaain dari arah Atapupu. Praktis ketika tiba di Motaain, saya hanya mendengar ceritera dari beberapa penduduk yang menceriterakan bahwa mereka tadi baru saja berfoto bersama dengan Presiden Jokowi. Sialan.

Padahal saya ingin mengambil rekaman gambar ekslusif Presiden Jokowi di Motaain untuk nantinya di posting di Kompasiana. Namun melihat geliat pasar dan keramaian orang di pintu perbatasan Motaain yang tampak mulai ramai dengan orang yang hilir mudik melintasi perbatasan RI-Timorleste itu, hati saya jadi terhibur juga.

Continue reading Pengalaman Mendaki Gua Maria Silawan-Belu

Karnaval, Keindonesiaan Yang Menggeliat

Karnaval di Atambua pada tanggal 15 Agustus 2014 lalu telah menampilkan Keindonesiaan yang menggeliat. Dalam acara Karnaval, nilai-nilai seperti pluralisme semakin berkembang subur karena semua daerah di Indonesia diberikan kesempatan untuk bisa menampilkan berbagai ataraksi budaya. Karnaval yang ditampilkan secara rutin di setiap Kabupaten sebenarnya merupakan potensi ekonomi, sosial budaya dan ilmu pengetahuan yang besar.

Continue reading Karnaval, Keindonesiaan Yang Menggeliat

Situs Ksadan di Kabupaten Belu-NTT

Penulis: Blasius Mengkaka
Posted:  22 February 2014 | 07:27  

 

fatulotufatulotu   

Ksadan Fatulotu di desa Lakan Mau, Tasifeto Timur, 30 km dari kota Atambua(Foto: Belukab.go.id)

 

     Sejak tahun 2003, ketika saya diberikan kepercayaan untuk mengajar bidang study Sejarah Budaya di SMAN 1 Atambua, saya merasa cukup antusias memahami bangunan Ksadan. Dalam pelajaran Sejarah Budaya itu disebutkan bahwa Ksadan merupakan sebuah bangunan megalitik yang menandakan tata cara dan kebiasaan manusia pada masa prasejarah dan hingga kini tetap dipakai sebagai tempat musyawarah adat orang Belu-Tetum. Continue reading Situs Ksadan di Kabupaten Belu-NTT

Lalian: Tungku Masak Kuno di Situs Lo’okeu-Fatumea

Penulis: Blasius Mengkaka

Posted: Senin, 4 November 2013

          

Foto Lali’an kuno sebagai salah satu wujud peradaban subbangsa tetum 

Kurang lebih 20 meter jaraknya dari pohon Beringin (Hali) dari arah jalan masuk ke pohon Beringin sebagai tempat di mana kami bermalam, melakukan musyawarah adat dan makan bersama, saya menemukan sebuah tungku kuno orang tetum yang disebut Lali’an. Lali’an merupakan tungku masak kuno bagi orang tetum yang tersusun dari 3 batu alam kokoh. Di atas ketiga bongkah batu kokoh itu, orang tetum melakukan aktivitas masak-memasak. Lali’an kuno yang tersusun dari 3 batuan kokoh ini lebih kuat dan bertahan lama dari pada Lali’an yang terbuat dari bongkahan batu bata, 2 tonggak kayu tegak atau Lali’an yang digali dalam tanah. Dengan adanya penemuan Lali’an yang tersusun dari 3 bongkah batu kokoh ini dapat diperkirakan bahwa peradaban Lali’an ini merupakan hasil asimilasi antara peradaban tetum berupa sastera, hukum dan tata organisasi dengan peradaban Hindu-Budha di mana sejak masa ini kebiasaan melakukan ritual adat-spritual orang tetum selalu dibarengi dengan acara makan bersama.

Acara makan bersama disuguhkan oleh para lelaki pembawa acara adat untuk masyarakat suku atau pengikutnya. Makan bersama bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan demi kelangsungan hidup manusia melainkan makan bersama demi keharmonisan relasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Dewata. Lali’an yang saya temukan ini berada terpisah dari Lali’an-Lali’an yang didirikan di dalam naungan pohon Beringin. Hal ini menimbulkan penafsiran bahwa markas aktivitas adat di Situs Lo’okeu-Fatumea rupanya mengambil tempat yang berbeda-beda.Peradaban besar subbangsa Tetum sebenarnya bermula dari peradaban membuat dan beraktivitas di Lali’an.

Lali’an merupakan sumber dari mana masyarakat tetum mendapatkan energi untuk memenuhi kebutuhannya akan makan dan minum yang dimasak dengan perapian. Peradaban mendirikan Lali’an menunjukkan kemajuan peradaban beberapa langkah lebih maju dari peradaban manusia sebelumnya yang menghuni kawasan yang sekarang ini didiami oleh orang tetum dan terus berlangsung selama berabad-abad bahkan hingga saat ini sebab di sekitar tungku kuno ini biasanya dibentangkan tikar sebagai tempat orang tetum bermusyawarah, mengambil keputusan, makan bersama dan merajut ikatan kekeluargaan yang kokoh. Menurut penelitian bahwa sebelum orang Tetum tiba, telah lebih dahulu tinggal masyarakat atoni yang kemudian terdesak ke arah bagian barat pulau Timor.

Oleh kemajuan peradaban orang tetum, Masyarakat tetum lalu mengambil alih daerah tetum yang sekarang ini, mendirikan tata pemerintahan yang meliputi wilayah seluruh Timor dan menganggap bahwa wilayah yang membentang dari daerah tetum Belu Selatan dan wilayah Tetum Tasifeto merupakan tanah air, tanah hak ulayat dan tanah terjanjian yang diberikan Dewata bagi orang tetum. Pendirian Lalian dibarengi dengan mulainya seni pembuatan alat-alat dapur yang terbuat dari tanah liat, kerajinan membuat logam tuangan. Singkatnya aktivitas masak-memasak menuntut orang tetum harus bekerja untuk membuat peralatan memasak baik dari tanah liat maupun dari logam.

Realitas pendirian Lali’an menunjukkan rasa kebanggaan orang tetum sebagai penemu api untuk kehidupannya. Api didapatkan melalui gesekan batu-batu api yang diperoleh manusia di sekitar Situs, juga melalui hasil gesekan 2 buah ruas bambu yang menghasilkan api untuk kebutuhan masak-memasak.Lali’an boleh dianggap merupakan pusat kehidupan masyarakat tetum, bukan hanya untuk kebutuhan hidup, kebutuhan berorganisasi, bertemu dan menjalin kekeluargaan namun merupakan pusat religi-spritual orang tetum baik dengan sesamanya, dengan alam dan dengan Sang Dewata Yang Maha Agung.

              ________________________________________________

Orang Yang Berbudi Luhur Akan Dikenang

Meneliti, mengikuti dan menyaksikan setiap pesta adat di Belu, saya mengambil kesimpulan bahwa pesta adat membawa nilai yang sangat patut dimiliki oleh generasi bangsa Indonesia zaman kini yakni upaya memupuk dan meningkatkan nilai-nilai luhur, berbudi mulia, rela berkorban dan murah hati. Setiap kali saya turun ke kampung sebagai pengamat dan peneliti budaya yang aktif, saya memiliki keyakinan bahwa di balik Situs-Situs adat yang telah didirikan telah membawa kehormatan bagi para pemimpin klan yang telah bermurah hati untuk mengorbankan sedemikian banyak hewan dan makanan selama pesta adat berlangsung berhari-hari. Mereka memiliki sikap murah hati dan berhati mulia. Oleh sikap murah hati, berhati mulia, suka membantu dan mencintai kehidupan manusia, para leluhur orang tetum selalu dikenang oleh anak cucunya.

Continue reading Orang Yang Berbudi Luhur Akan Dikenang

Santap Adat Bersama

Puncak acara adat klan tetum Lo’okeu di Fatumea ialah jamuan makan bersama. Makan bersama ala klan tetum Lo’okeu ini terasa unik karena dilakukan di bawah naungan pohon Beringin di kota tua (Altstadt). Tujuannya selain untuk bisa bertahan hidup, namun lebih dari itu ialah untuk meningkatkan persaudaraan, keutuhan, keakraban dan kebersamaan sesama anggota klan tetum Lo’okeu yang menghadiri acara adat. Para pria mempunyai tugas utama menyiapkan hidangan daging babi sedang ibu-ibu atau wanita menyiapkan hidangan nasi yang langsung disiapkan di dalam piring plastik. Uniknya para pelayan yang menghantar hidangan ke hadapan para tamu semuanya merupakan para pemuda tanggung. Para tamu duduk di dalam tikar atau langsung pada lantai tanah dalam formasi melingkar dan rapat.

Setiap orang mendapatkan jatah sepiring nasi dengan daging babi dan daging ayam rebus yang telah dipotong pendek, kuah daging babi atau ayam rebus, sepiring nasi tambahan dan garam-lombok. Setelah melalui tegur sapa adat maka acara makanpun dimulai. Sapaan tegur sapa adat sebelum makan ialah: “He’i…. mane merik no feto merik sia, ami hahuluk oanan eee” kontan para pelayan akan menjawab, “Heheheee….”, Artinya: “Wahai para pria dan wanita pelayan, kami minta ijin untuk mulai santap” lalu para pelayan menjawab, “Yaaaa, silahkan”.

Demikianpun setelah selesai makan perlu dilakukan sapaan adat yang menandakan bahwa acara makan selesai. Oleh karena jumlah peserta untuk acara makan lumayan banyak, maka perlu dibuatkan sekitar 4 kali rombongan makan. Rombongan pertama dan kedua ialah pria-pria. Rombongan ketiga ialah pria-pria penyiap daging hidangan yang disebut ema rasan sia. Sedangkan rombongan terakhir biasanya wanita-wanita. Setelah selesai acara makan, setiap orang yang ikut acara adat mendapatkan seikat daging babi yang telah dimasak untuk dibawa pulang ke rumah atau keluarganya. Penulispun mendapatkan seikat daging babi rebus kecil yang disebut na’an tatuk untuk dibawa pulang ke rumah. Oleh karena rasa lapar yang membuatku sedikit kepayahan maka hidangan ini terasa begitu nikmat untuk disantap hingga tandas.

Ibu-ibu dan para wanita muda menyiapkan nasi dalam piring-piring plastik

Ibu-ibu dan wanita muda menyiapkan hidangan nasi di dalam piring-piring

Para pria sedang memotong-motong daging mentah untuk direbus. Babi-babi yang dikorbankan adalah 26 ekor babi dan sekitar 18 ekor ayam dalam acara adat di Situs Lo’okeu-Fatumea

Para pria sedang memotong daging yang telah dimasak menjadi bagian kecil-kecil

Duduk melingkar untuk makan bersama menggalang persaudaraan klan

Makan bersama

Makan bersama

                                      _________________________

Adat: Harmonisasi Kehidupan

Penulis: Blasius Mengkaka

Posted: Selasa, 22 Oktober 2013

Ritus adat tetum merefleksikan kepada kita tentang upaya untuk membangun kembali keharmonisan antara manusia dengan alam, Dewata dan leluhur juga dengan sesamanya. Di tengah-tengah kemajuan ilmu dan teknologi yang kian pesat melanda dunia, manusia dihadapkan pada persoalan kerusakan alam, pengingkaran terhadap keberadaan Tuhan, pengingkaran terhadap keberadaan norma adat dan adanya permusuhan antara manusia. Justeru ritus adat mengingatkan kita untuk kembali ke akar peradaban manusia sendiri. Kembali ke akar peradaban berarti melihat kembali upaya manusia untuk menjaga keutuhan ciptaan Tuhan, memulihkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, leluhur dan sesamanya.Cinta yang dibangun dalam persaudaraan adat merupakan cinta yang memandang manusia sebagai sama saudara dalam iklim solidaritas. Solidaritas berarti memandang sesama sebagai saudara untuk saling menopang dan mendukung dalam suasana cinta persaudaraan itu sendiri sebab dalam ritus adat Timur di manapun, orang dituntut untuk tampil asli tanpa kepalsuan, orang perlu tampil mengejar nilai-nilai sambil memancarkan kebaikan dan keharmonisan yang dibangun dalam suasana keterbukaan dan kehangatan.

Dewasa ini kehadiran agama-agama teristimewa agama kristen dan muslim memberi tempat bagi adanya ritus adat. Adat melengkapi apa yang kurang pada agama dan juga pemerintah sebab orientasi adat adalah persaudaraan dan kekeluargaan. Justeru di dalam persaudaraan dan kekekeluargaan ini, Tuhan hadir dan menyapa manusia, juga pemerintah hadir untuk mendatangkan kesejahteraan. Keluarga atau kekeluargaan merupakan kesatuan masyarakat yang merupakan basis bagi agama dan pemerintah. Bila keluarga atau kekeluargaan kuat maka agama dan pemerintah akan kuat pula. Di dalam iklim kekeluargaan itu, kehendak Allah harus memancar secara merata dan sama, baik di dunia ini maupun juga di surga kelak. Bila kehidupan di surga dimengerti sebagai sebuah persukutuan yang di dalamnya ada persaudaraan, kekeluargaan dan solidaritas, demikianpun kehidupan di bumi harus juga menciptakan persekutuan antara manusia sendiri. Di dalam persekutuan antara manusia itu, kehendak Allah tinggal dan memancar penuh keadilan.

Di dalam norma adat, manusia harus kembali tertegun untuk mengingat kembali sejarah kehidupan leluhurnya sebab manusia adalah makluk yang dilahirkan dalam sejarah dan dalam silsilah sama seperti Kristus yang lahir dalam sejarah dan silsilah. Dengan demikian ia mengetahui dan menemukan siapakah sesungguhnya dirinya dan bagaimana dia dapat menempatkan dirinya di dunia (alam), bagaimana ia membangun relasinya dengan Dewata dan sesamanya.Dengan membangun keharmonisan dengan alam, sesama dan Dewata ekistensi manusia tetum terarah ke arah masa depan. Keasilan dan keharmonisan membawa manusia ke masa depan sebab dalam keaslian dan keharmonisan kehidupan akan muncul dan berlalu silih berganti dari generasi ke generasi. Di sana, Tuhan akan memandang mereka sebagai umatNya dan mereka akan memandang Tuhan sebagai Tuhan mereka

Acara adat hanaran ba beis sia sebelum berangkat menuju Situs (gambar 1)

Acara adat hanaran ba bei sia sebelum ke lokasi Situs (gambar 2)

_______________________________________________